Saya pertama kali bergabung di lembaga Makes sekitar bulan Januari 2006. bermula ketika saya kursus di lembaga Britania Raya yang berlokasi di Benteng Rotterdam. saya bertemu dengan salah seorang member Makes, kalau saya tidak salah ingat, namanya Kiki. belakang setelah aktif di Makes, saya tidak pernah bertemu dengannya.
Ketika hendak pulang dari Benteng Rotterdam, saya menyempatkan diri duduk di taman Benteng. Kiki duduk di sampingku yang entah bagaimana mulanya, kami bercakap-cakap tentang apa saja tentunya tentang tujuan saya ke Benteng Rotterdam dalam rangka kursus bahasa inggris. mengetahui hal tersebut, Kiki merekomendasikan lembaga Makes sebagai alternatif tempat mengasah kemampuan bahasa inggris. dia menyarankan saya ikut dengan segala informasi detail tentang Makes, tentang waktu meeting, no charge dan suasana dalam meeting. lembaga tersebut berlokasi di teras masjid Al Markaz Makassar.
Berbekal informasi dari Kiki, saya kemudian memberanikan diri ikut di lembaga Makes dan tekad yang kuat untuk belajar bahasa inggris. setibanya di Makes, saya ingat masih ingat Adnan yang pertama kali mengajak ngobrol, belakangan saya akrab dengannya, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa saya ke Makes atas rekomendasi Kiki.
Pada permulaan meeting, member baru disuruh memperkenalkan diri di forum besar dalam bahasa inggris. meski perkenalan hanya seputar hal sederhana tentang diri namun keder juga di tengah orang yang belum dikenal apatahlagi menggunakan bahasa inggris.
Setidaknya kesan pertama saya lalui dengan sukses di Makes. saya punya pertalian yang kuat dan merasa akan betah belajar di tempat tersebut. tempat yang menurutku ideal untuk belajar banyak hal bahkan belajar tentang kehidupan.
Oh iya, rentang waktu tersebut, saya tidak punya kegiatan di Makassar karena pada tes SPMB 2015, saya tidak lulus dan memutuskan untuk mengikuti kursus sambil menunggu tes PT tahun berikutnya. hal tersebut pula yang membuat seringnya intesitas kedatangan saya di Makes.
Seringnya saya datang di Makes membuat saya semakin akrab dengan orang-orang yang aktif di lembaga tersebut. saya mengikuti banyak kegiatan di Makes selain diskusi rutin yang diadakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.
Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.
Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.
Dua atau tiga tahun di Makes, saya sudah akrab dengan para senior yang rata-rata sudah sukses. mayoritas dari mereka adalah berprofesi sebagai Dosen. saya tidak membuang kesempatan untuk berguru dari mereka. dari beberapa pengalaman, saya pernah berdiskusi panjang dengan salah seorang senior yang juga merupakan Dosen Universitas Bosowa. Saya pernah beberapa malam berkhidmat dengan Dosen Unhas yang juga lulusan Belanda. masih banyak dari senior yang pernah saya punguti ilmunya.
Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Saya mengikuti perjalanan beberapa anggota Makes yang awalnya sangat minim kemampuan bahasa inggrisnya namun beberapa tahun kemudian, mampu meraih beasiswa ke luar negeri. bukan hanya satu tetapi banyak dari mereka.
Salah satu hal yang kusesali adalah di tahun-tahun akhir ikut di Makes, saya tidak terlalu disiplin mengikuti kursus bahasa inggris termasuk latihan toefl yang diadakan di luar meeting rutin sehingga membuat kemampuan bahasa inggris saya jauh tertinggal dari teman-teman. ketika mereka sudah sibuk mengurus berkas mendaftar beasiswa S2, saya masih berkutat pada hal-hal remeh temeh. mungkin dari member Makes yang aktif sejak 2006, saya adalah satu dari sedikit yang tidak mampu memperoleh beasiswa S2. namun terlepas dari itu, saya tetap bangga menjadi bagian dari Makes.
Di tahun 2010, saya terpilih sebagai Daily Chairman. posisi yang mengurusi tetek bengek keseharian Makes karena di tataran konsep dan hubungannya dengan pihak eksternal, diemban oleh Chairman. di posisi ini, saya punya wewenang yang lebih dalam menentukan warna Makes seperti apa. meski tetap berada pada koridor yang sudah digariskan oleh para pendiri lembaga.
Warna Makes sering berubah tergantung bagaimana pengurus yang menjalankannya. Satu waktu Makes berubah menjadi forum kajian yang disiplin namun di lain waktu fokusnya hanya terkait wacana belajar bahasa inggris, sekali lagi tergantung mereka yang sedang menakhodai Makes.
Saya pun sudah melihat banyak friksi antar individu dalam tubuh Makes, dari yang mulai debat mulut sampai pada yang hampir kontak fisik. Perbedaan muncul lebih pada cara pandang yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana.
Bulan Agustus lalu, saya seminggu tugas di Makassar membuat Saya punya tiga kali kesempatan mengunjungi lembaga Makes. organisasi yang sering dianggap punya daya tarik bagi Para Mahasiswa Makassar atau siapapun yang punya hasrat diskusi yang tinggi dengan menggunakan kanal bahasa Inggris.
saat bercerita dengan ketua Makes periode 2016, dia banyak bercerita tentang perkembangan Makes yang mutakhir. dia bercerita tentang banyak senior yang sudah enggan datang ke Makes karena merasa sudah tidak dikenal. menurut Narsul bahwa bagaimana mereka dikenal kalau tidak pernah datang silaturrahim.
Makes mungkin akan selalu berubah sesuai zamannya namun saya yakin lembaga ini akan tetap eksis sampai beberapa tahun ke depan selain anggapan mitos bahwa Makes ini terjaga karena kegiatannya di teras masjid.
Draft tulisan dua bulan yang lalu
21 11 17
No comments:
Post a Comment