February 15, 2015

KAFE PHOENAM

Mendengar kata kafe Phoenam serasa bahwa kafe tersebut adalah milik orang vietnam bahkan ketika kita berkunjung ke kafe maka akan dijumpai suasana seperti kafe orang China pada umumnya. Seperti itulah gambaran yang pertama ketika mendengar dan berkunjung ke kafe tersebut.

Sisi dalam kafe phoenam
Namun jangan salah karena pendiri kafe tersebut berasal dari makassar, memang sih orang Makassar namun keturunan Tionghoa meski demikian, kafe tersebut amat sangat indentik dengan orang Makassar apatahlagi cabang yang ada di Jln Ky Wahid Hasyim Jakarta. Beberapa perantau dari makassar sering melepasa rindu di kafe teraebut karena saat berada di dalamnya, serta merta kita akan mendapatkan suasana seperti di makassar. Orang-orang  yang bercerita tanpa harus basa-basi, logat makassar yang khas dan cara mereka bercengkerama.

Itupun yang mendorongku semalam itu memungut serpihan rinduku akan kota daeng di kafe tersebut. Awal cerita aku mengetahui kafe Phoenam saat tak sengaja membaca status bang Tole di FB. Dia bercerita panjang lebar tentang perantau makassar di jakarta kemudian salah satu kalimatnya kurang lebih seperti ini mengatakan bahwa belum syah jadi perantau makassar di jakarta kalau belum berkunjung ke kafe Phoenam. 

Alhasil semalam saat selesai menonton film gratis di TIM "Surat Cinta Untuk Jakarta", aku mengajak dedi ke bilangan kafe tersebut. Pertama kali masuk memang terasa seperti kafe orang china namun saat di dalam dan mendengar para pengunjung bercengkerama, maka kekhasan perkawanan orang-orang  makassar  sangat terasa bahkan saat itu Ali muchtar ngabalin ada di kafe tersebut bercerita sama kawan-kawannya.

Untuk sekedar melepas rindu terhadap kota makassar memang kafe tersebut tempatnya namun harus kuakui bahwa harganya mahal. Semalam aku memesan susu madu jahe dan dedi memesan mie rebus serta air mineral. Kami laiknya sok berkantong tebal santai sambil menikmati hidangan, sekitar sejam kemudian kami memutuskan untuk pulang dan membayar di kasir, aku terperangah saat melihat strucknya. 46 ribu. Ckckc. Aku dengan santai sama dedi membayar dan sok tidak peduli dengan harga meski mengelus dada.

Segelas susu madu jahe ini harganya 36 ribu
Yah, mungkin kelas sosialku yang belum mencapai strata orang-orang makassar yang sering melepas kerinduan mereka dengan kota daeng di kafe tersebut yang harus merogoh isi saku 50 ribu hanya untuk segelas kopi. Aku masih sangat merasa sayang dengan uang segitu hanya untuk segelas kopi padahal di sekitar kita uang "sebanyak" itu bisa makan bagi orang-orang yang kurang mampu bahkan bisa makan untuk 4-5 orang di warteg. Ah, mungkin jadi aku belum mengerti esensi mereka.

entahlah namun yang pastinya malam itu aku melepas rindu tentang suasana makassar di kafe tersebut. mendengar orang-orang bercengkerama dengan logat makassar dan suara yang membahana lumayan menyicil sedikit kerinduan akan kota tersebut. kota yang tidak akan pernah alpa dalam memoriku karena terlalu banyak cerita masa muda yang bergelora di kota tersebut. berkawan, belajar dan semua dinamika masa muda telah aku lewatkan di kota daeng. kerinduan akan kota makassar tetap akan terjaga.

160215

No comments: