February 14, 2015

River's Note

Buku ini keren. Seperti itulah yang terlintas di kepalaku saat pertama kali membaca buku ini di kos salah seorang kawan karibku di jogja. Penulisnya adalah kakak kandungnya. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan tentang buku ini, tentang isi buku ini yang memungut semua serpihan kenangan masa kecilku, tentang keluarga penulisnya dan tentang adik penulis yang juga kawanku. Mungkin yang tertulis disini hanya sebagian refleksi dari isi kepalaku karena aku bukan seorang yang mampu menerjemahkan semua yang ada di otakku menjadi tulisan yang sedap dibaca.

Pertama aku ingin bercerita bagaimana buku ini bertakdir denganku. Ceritanya berawal di pertengahan 2012, aku merantau ke pulau jawa tepatnya di ibukota. Sebulan di ibukota, aku merasa sesak dengan denyut nadi kehidupan yang tidak pernah berhenti sedikitpun bahkan saat malam sudah menua, kota ini masih tetap saja berdengut tanpa mengenal lelah, mungkin hanya siluet jingga dan langit yang temara menjadi pembeda pergantian waktu. Saat puncak kejenuhan, aku memilih menyingkir ke ujur timur pulau jawa dengan kereta api. Itu pula perjalanan pertamaku naik kereta api. Sebelumnya aku memutuskan singgah di jogjakarta karena salah seorang kawan karib semasa kuliah melanjutkan pendidikannya di kota gudeg itu. Alhasil sebulan penuh aku menginap di kosnya tepat di belakangan pasar terban sambil merasakan denyut kehidupan orang jogja yang damai. Hampir tidak ada aktivitas yang signifikan kulakukan saat di jogjakarta, hanya mengunjungi beberapa tempat yang dulunya hanya bisa kubaca di buku-buku. 

Buku yang dijejer rapi di sudut kamar kosnya lumayan membuatku mengusir penat saat dia ke kampus dan aku sendirian di kos sekaligus juga membantu untuk tetap merawat melihat isi-isi buku. Deretan genre buku ada disana tetapi buku River' note tulisan Fauzan M.

Aku ingin bercerita tentang temanmu. kami sama-sama dari tanah sulawesi. Keakraban kami terus berlanjut karena minat kami yang hampir sama bahkan aku dan dia masuk di organisasi pergerakan yang sama meski pada akhirnya aku mengurangi intensitasku di organisasi tersebut namun tidak mereduksi jalinan perkawanan yang aku bangun dengannya.

Aku bahkan sudah mengenal semua keluarganya. Bahkan kalau tidak salah ingat, aku 2 kali makan bareng dengan ibu dan kakak-kakaknya di kosnya. Seingatku saat itu ada ibunya, aku sudah beberapa kali bertemu meski pertemuan yang hanya sekedar tatap mata dan itu terjadi di kosnya saat dia ke makassar. Setelah itu, kami pernah bertemu di kantornya saat aku mengantarnya. Sekilas memang di wajah dan kepribadiannya ada kemiripan. Melihat cara berpikir dan cara memperlakukan orang adalah bukan sesuatu yang given. Aku yakin bahwa kedua orang tuanya mendidik anak-anaknya dengan filosofi yang sederhana namun sangat bermakna.

Membaca isi dari buku river's note yang notabene kebanyakan refleksi kehidupan penulisnya di bone benar-benar menjadi sebuah jawaban bagaimana masa lalunya di keluarganya sehingga membentuk pribadinya seperti sekarang ini. Ada banyak edisi kebersamaan aku dengannya yang benar-benar membuatku kagum. Pernah suatu waktu, kami sedang aksi atas rencana penggusuran masyarakat pandang raya di depan kejaksaan samping karebosi. Sebelumnya aksi berjalan normal dan ditengah jalannya aksi, mulai ada gesekan dan salah seorang anggota aksi "kalau tidak salah ingat namanya rangga", ditangkap dan hendak dibawa oleh polisi. Kulihat dia langsung melompat dan menjadikan dirinya tameng supaya polisi tidak membawa Rangga. Dengan badan yang lumayan bongsor, dia lumayan bisa mendorong tubub si polisi. Aku ingat benar kejadian itu dan Rangga berhasil kabur.

Hal lain yang ingin kucatat tentang buku ini adalah isinya. Membaca buku ini serasa menempatkan kembali diriku saat masih bocah. Saat harus pulang ke rumah sebelum maghrib dan bersegera mandi dan shalat maghrib kemudian mengaji. Buku ini benar-benar memungut hikmah yang terkadang terlupa oleh kita yang beranjak dewasa dan mengacuhkan pelajaran-pelajaran kecil masa lampau.

Isi buku ini benar-benar menghempaskanku ke masa lalu. Bagaimana ibuku mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang yang maksimal bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah berhasil menggambarkan seperti apa kasih sayangnya kepada kami. Pun tentang ayahku yang membesarkan kami dengan ketegasan. Kutahu bahwa dalam setiap tingkah yang ditunjukkan kepada anak-anaknya, ayahku ingin berkata bahwa laki-laki harus kuat, dalam keadaan bagaimanapun, jangan pernah memperlihatkan kesusahan kepada orang lain. Dia menyimpan beribu sayangnya kepada kami dalam bentuk ketegasan yang tidak boleh ditawar.

Begitulah buku ini membawaku kembali ke masa lalu.

kata terakhir, buku ini memang keren.
150215

No comments: