February 14, 2015

SURAT CINTA UNTUK JAKARTA

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagiku. Pukul 10.30 siang berangkat survey dan baru sampai di kamar kos pukul 23.00, itu berarti bahwa selama 12 jam aku memutari kota ini.

Namun ada hal yang kusyukuri hari ini. Tadi pukul 19.00 WIB menonton film surat cinta untuk jakarta di Taman Ismail Marzuki. Film yang terbagi dalam 3 segmen dan berdurasi hanya sekitar 20-30 menit laiknya film dokumenter. Pertama kalinya aku masuk di TIM dan menonton film bahkan gratis pula.
Suasana dalam ruang  menjelang film mau berakhir
 film sama halnya dengan musik yang menjadi representasi dari seseorang meluapkan semua emosi yang berkecamuk di  rongga otaknya, tentang apa saja yang dijumpai. berbeda dengan musik yang menyampaikan pesan lewat alunan suara dan musik yang mengalun lembut, film lebih hidup lagi karena audio visual dan penonton seringkali menempatkan diri dalam setiap peran. layaknya penonton ikut bersenyawa dalam cerita yang disampaikan oleh sutradara.



 Film Surat Cinta untuk Jakarta terbagi dalam 3 film pendek yang rata-rata berdurasi setengah jam. Ketiga film pendek tersebut benar-benar membawa spirit tentang kota Jakarta saat ini. Keren dan amat sangat menguras emosi bagi orang yang sudah merasakan tinggal di kota ini. jakarta memang telah menjadi representasi dari kehidupan mewah bagi setiap orang. semua bisa didapatkan di kota ini dengan cara apapun meski terkadang meninggalkan ruang hampa di sanubari. jakarta memberi pelajaran tentang banyak hal. 

Surat cinta untuk Jakarta

Film pertama "Mencari Sudirman". Awal dari film ini langsung mempesonaku karena bintang utamanya Leony. Artis yang seumuran denganku dan menjadi idolaku saat masih smp-sma. Di film ini, Leony menjadi tokoh utama yang mencari sudirman. Tidak diceritakan secara gamblang apakah sudirman itu adalah pacarnya ataupun teman dekat namun dari gambaran fiom tersebut bahwa sudirman adalah pacarnya.
Setiap sudut kota jakarta yang disusuri mencari sudirman menguak kebersamaan mereka, kerinduan akan sudirman benar-benar mencampakkannya dalam kondisi yang labil bahkan rumah kos, kantor dan warung langganan sudirman sudah didatanginya namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan sudirman. Pada akhirnya film ini berakhir begitu saja tanpa ada kesimpulan yang jelas. Film pertama ini benar-benar tidak mengesankan bagiku hanya saja karena Leony tokoh utamanya yang sedikit membuatku terhibur.

Film kedua "kok kemana" menceritakan tentang kehidupan masyarakat marginal ditengah kemewahan kota jakarta. Seorang bocah bernama Abang dan bapaknya yang diperankan oleh jonny iskandar.

Film ini dimulai saat abang sedang bermain di kasurnya kemudian seekor tikus jatuh tepat didepannya. Tikus yang masih merah tersebut diambil kemudian dinamai kok. Si bapak yang melihat anaknya memelihara tikus tidak setuju namun Abang tetap bersikeras memeliharanya dengan dalih bahwa tikus yang diberi nama kok tidak punya rumah. Alhasil ketika dia tidur, ayahnya mengambil tikus tersebut dan membuangnya jauh-jauh. Saat terbangun, Abang terperanjat mendapati "kok" sudah tidak ada di dalam kaleng tempat dia menaruh sebelum tidur. Dia kemudian mencari ke segala penjuru kota namun tidak ketemu.

Di akhir cerita, abang dan sang ayah digusur dari bangunan semi permanen yang selama ini ditempatinya. Mereka meninggalkan banyak kenangan di tempat itu.

Film kedua ini lumayan sarat makna. Laiknya film satir yang menceritakan tentang bagaimana susahnya menjadi proletar  di kota jakarta.

Aku teringat seorang kawan di kantor yang rumahnya di bilangan pedongkelan beberapa waktu lalu digusur oleh PT. pulomas. Hari-hari menjelang penggusuran dan setelahnya, wajah sang kawan mengguratkan kemarahan yang mendalam terhadap borjuasi di kota ini. Kerap kali dia bercerita kepadaku tentang kekesalanya terhadap borjuasi yang semena-mena kepada kaum proletar yang termarginalkan.

Film ketika "Rock n Roll. Film ini berkisah tentang dua sahabat semasa SMA, asty dan indra yang kembali bertemu di jakarta setelah asti kembali dari belanda. Mereka adalah sahabat semasa yang dulu bercita-cita melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah tamat SMA, asti benar-benar melanjutkan kuliahnya di Belanda sedangkan Indra kuliah di jakarta.

Mereka bertemu saat sudah begitu banyak yang berubah, entah di diri mereka maupun perubahan kota jakarta. Indra yang dulunya berkecimpung di dunia jurnalistik memilih banting stir menjadi seorang petani. Profesi yang menurut asti tidak banget buat indra namun indra tetap keukeuh dengan prinsipnya menjadi seorang petani. Menurutnya bahwa kerja di dunia jurnalistik memang menyenangkan namun pekerjaan yang sekarang dijalani lebih menyenangkan lagi.

Pertemuan mereka di hari pertama dihabiskan dengan mengelilingi koga jakarta memungut semua serpihan kenangan masa lalu mereka. Menemui semua tempat yang pernah mereka akrabi hingga pada akhirnya mereka mampir di sebuah warung cendol. Di tempat itu pertama kali indra menyatakan perasaan suka kepada asti. Di akhir film, asti bertanya kepada indra bahwa apakah dia masih mengingat di tempat ini indra pernah menyatakan cinta kepadanya. Indra kemudian dengan dingin dan tanpa ekspresi menganggukan kepala. Asti lalu menyatakan perasaan cintanya kepada indra dengan nada bertanya, "indra, bagaimana kalau sekarang sebaliknya aku yang menyatakan?".

film ini juga menceritakan tentang kerinduan terhadap kota Jakarta dengan semua kegaduhan, kemacetan, banjir dan plus minus jakarta.

Serial film ketiga ini lumayan menghibur ditambah dengan beberapa dialog diantara mereka dan beberapa jawaban maupun pernyataan indra yang keren


140215

No comments: