Teruntuk jumat yang mungkin melelahkan. aku seringkali merindukan jumat dalam setiap perjalanan hari. entahlah, mungkin karena aku adalah bagian dari kaum urban mainstream merindukan setiap akhir pekan untuk merayakan hidup setelah 5 hari diracuni dengan berbagai aktivitas kantor yang hampir seperti robot. Terus menerus mengulang setiap pekerjaan dan kadang melupakan kebahagiaan hidup. Aku adalah bagian dari gerembolan masyarakat urban tersebut yang selalu memimpikan akhir pekan.
Entah bagaimana memulai cerita jumat kemarin. Setidaknya punya 2 kisah yang ingin kubagi dalam kotak ini. Sejatinya masih banyak kisah lain namun mungkin otakku terlalu penat sehingga alur hidup yang kulewati tidak mampu terekam baik dalam memori kepalaku.
Kumulai saja dari 2 orang kawan yang terakhir berkantor yang sama di kantorku karena dimutasi ke tempat lain. Sejujurnya aku membenci perpisahan, ataukah harusnya pertemuan yang salah karena selalu saja perpisahan menyisakan airmata bahkan ketika berpisah dengan masa sulit pun kita terkadang menyisakan begitu banyak haru apatahlagi perpisahan dengan kawan yang baik.
Dua kawan yang akan berpisah jumat kemarin adalah kawan baik. Kuceritakan saja dari kawan yang posisinya sudah pimpinan. Namanya mas d.d. Dia kaspem di kantorku dan kami masuk di kantor cabang hanya berselang seminggu. Aku harus mengamini ucapan ibu T kemarin bahwa meskipun mas d.d baru setengah tahun, namun rasanya sudah lama karena dia supel dan baik. Tidak ada cela bagiku untuk mengingkari pernyataan ibu T karena seperti itulah setiap hal yang aku temui dari pribadi mas d.d selama aku berinteraksi dengannya. tak sekalipun dia ngeyel dalam hal apapun meski dalam keadaan tertekan.
Dalam beberapa edisi interaksi kami, akan tidak salah kalau aku menyimpulkan bahwa mas d.d adalah orang yang suka berbagi. Ini bukan bualan atau omong kosong dariku tentangnya namun banyak indikatorku untuk mengatakan hal tersebut meski tidak harus kusebutkan satu persatu. Dia pun pribadi yang sabar. Sekalipun tak pernah kutemukan mas d.d mengumbar emosi dari setiap tingkahnya, sama sekali tidak.
Terakhir hal yang ingin kuceritakan tentang mas d.d adalah ketenangan dalam menghadapi setiap masalah. meski masih banyak hal baik darinya yang susah kugoreskan satu persatu. Aku beberapa kali melihat dia mungkin sedang punya masalah namun gerak-geriknya tetap tenang. Setiap orang yang mungkin bertemu dengannya pasti mafhum bahwa mas d.d orang baik. Bahkan dari rona wajahnya pun terpancar kebaikan. Aku sangat percaya bahwa orang yang tulus dan baik akan terpancar di wajahnya dan orang akan merasakannya.
Bahkan kemarin senja saat hendak beranjak pulang dari kantor, kami staff teknik, mas d.d dan ibu T masih sempat bercengkerama di lt 2. Jelas terlihat di wajah ibu T keharuan saat mengucapkan beberapa kata kepada mas d.d.
Bel, Kawan lain yang juga kemarin sudah terakhir di kantorku. Dia adalah staff teknik sama sepertiku. Meski dia lebih muda 3 tahun dariku namun dia lebih senior di kantor. Entah apa yang harus kuceritakan tentang bella karena begitu banyak hal dia ajarkan kepadaku. Salah satu kawan yang sering aku repotkan ketika mendapat kesulitan di awal-awal bekerja adalah bel.
Aku tidak berpetensi menceritakan bella karena dia terlalu baik. Bahkan di beberapa hal yang tidak disepakati akan diungkapkan. Aku tahu dia lebih tegas terhadap apa yang menjadi prinsipnya. Bel adalah kawan curhat sekaligus kawan bertanya tentang pekerjaan kantor yang belum kumengerti.
Kepekaannya kepada kawan pun tinggi bahkan kepada orang lain. Pernah suatu waktu, kami dan dua teman lain pulang makan siang. Tepat di pos satpam simpang jalan, ada maling tertangkap basah yang dikeroyok massa. Bel serta merta memaksaku untuk memanggil polisi karena kasihan kepada si maling. Rasa kepeduliaannya memang teramat tinggi.
Mungkin tidak ada habisnya ceritaku tentang bel. Hal lain yang aku tahu darinya adalah dia pekerja keras. Bahkan perjalanan hidupnya yang merantau harus kuakui lebih dari keberanianku. Aku bahkan baru berani memutuskan merantau setelah sarjana namun dia bahkan sudah merantau ke ujung timur pulau ini setelah tamat sma.
Di dua edisi perpisahan yang kemarin diadakan. Pertama kamis sore saat staff teknik mengadakan seremoni pelepasan bel yang akan dimutasi dan jumat siang saat tim marketing mengadakan pula seremoni pelepasan, tak satupun yang aku hadiri. Saat bel bertanya kok aku tidak tidak pernah menghadiri acara pelepasannya, aku hanya berujar singkat, aku tidak mau merasa dia berpisah denganku karena kami adalah kawan. Acara seremonial hanyalah simbol yang mungkin tidak pernah aku sukai sejak dulu ketika ada perpisahan dengan kawan. Begitulah caraku menghargai perkawanan.
Ah, terlalu sentimentil memang kalau mengisahkan setiap perpisahan. Aku yang sedari awal bertemu dengan kenalan baru selalu menancapkan dalam hati bahwa kesan baiklah yang akan aku tinggalkan karena bagaimanapun, semua akan berpisah, hanya persoalan waktu saja. Ketika berpisah itulah, hanya satu hal yang akan ditinggalkan, "kesan". Entah itu kesan baik ataupun buru.
Sukses selalu mas & mb
Keep in touch
Rwmngn 28.0215
No comments:
Post a Comment