February 20, 2015

TUNGGU DI BLOG

kali ini aku ingin bercerita tentang penjual sendal keliling yang kutemui beberapa hari yang lalu namun aku khawatir tulisanku ini seperti menghakimi mereka. tetapi tak apalah, Tuhan selalu lebih tahu dari apa yang kita rasakan dan apa yang keluar dari mulut kita.

ceritanya seperti ini. senja di hari Imlek yang basah, aku dan windi menghabiskan waktu senja sambil melepas lelah setelah seharian survey di beranda Indomaret Pendurenan. seperti biasa, kami memperhatikan setiap orang yang lewat dan lalu lalang mobil mewah yang bergerak seakan tiada henti di jalanan tersebut. daerah pendurenan ini memang lumayan dipenuhi oleh orang yang berduit jadi tidak mengherankan jika para pengunjung di indomaret tersebut mayoritas yang dari kalangan atas.

saat sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba saja datang penjual aneka sendal dan menenteng tas besar berisi sendal. setelah mendekat, aku kemudian sadar bahwa dia penjual sendal keliling. sejurus kemudian dia menawarkan barang dagangannya namun ada yang aneh dari cara menawarkan barang dagangannya, dia seperti layaknya pengemis yang meronta sambil meringis seperti orang kelaparan. Bu, minta tolong dibeli sendalnya, saya lapar sudah seharian tidak makan" begitu rintihannya sambil memegang perutnya seperti orang yang sudah sebulan tidak makan. aku tiga kali menolak namun tetap saja dia tetap menawarkan sendalnya bahkan lebih mirip orang yang mengemis daripada orang jualan. aku kemudian melirik kepada windi dan kutahu dia tidak tega melihat orang seperti itu. alhasil windi mengeluarkan selembar uang dan menyodorkan kepadanya. si lelaki tersebut dengan basa basi yang amat basi mengatakan "Apa ini, makasih ibu, pak". dengan wajah yang amat memelas kemudian dia berlalu.

setelah berlalu, windi sempat ingin bertanya banyak hal kepadaku namun untuk menghindari Gibah maka kukatakan saja "tunggu di Blog." beginilah caraku menyampaikan semua kisah kepada windi tanpa harus berbicar panjang lebar yang berpotensi untuk menceritakan kejelekan orang lain.

akupun pernah menjumpai penjual seperti itu di lain waktu bersama windi yang layaknya pengemis daripada penjual namun dulu saaat kutolak, dia lalu beranjak pergi. aku tidak tahu harus menyikapi seperti apa namun terus terang aku kasihan dengan orang seperti itu yang berkedok penjual namun lebih mirip seperti pengemis yang memelas dan meminta-minta. ah, aku ini apa kenapa menceritakan hal yang buruk.

di lain waktu, ini juga berkenaan dengan penjual. pernah suatu waktu kacab ku bercerita bahwa dia melewati lampu merah di salah satu daerah di Jakarta Timur. saat melintas di lampu merah tersebut, beliau melihat seorang penjual tas yang menawarkan barang dagangannya kepada setiap pengendara yang berhenti di lampu merah. kacab ku bertutur bahwa penjual tersebut dengan tabahnya menawarkan barang dagangan tanpa sekalipun memelas bahkan lebih dari itu, dia hanya menawarkan dagangannya sekali saja, ketika pengendara menolak, dia langsung mencari pengendara lain tanpa lupa berterima kasih dan tersenyum. beberapa saat mengamati fenomena tersebut, kacab ku tergerak hatinya membeli dagangannya. dia kemudian memanggil pedagangan tersebut dan membeli 1 tasnya. tas itu akhirnya dihadiahkan kepada Mas Edi, salah satu OB di kantorku.

ada lagi seorang ibu yang dengan setianya selalu duduk di parkiran ITC Kuningan dengan barang rongsongan yang dia pungut sepanjang hari. setiap sore hari, para pengunjung Mall Ambassador dan ITC Kuningan akan menjumpai ibu itu jika mereka memarkir kendaraannya di samping.ibu yang sering dipanggil oleh windi dengan sebutan ibu kucing karena setiap harinya, ada seekor kucing yang menemaninya bahkan ketika ibu tersebut makan maka kucingnya pun akan dikasi makan. satu hal yang membuatku salut kepada ibu itu karena tidak pernah sekalipun aku melihat ibu itu mengemis kepada setiap pengunjung bahkan di beberapa kali kesempatan ketika windi memberinya makanan, dia selalu menolak dan mengatakan bahwa tidak usah repot karena rejekinya selalu ada.

begitulah potret penjual keliling yang berbeda. hidup ini memang tentang bagaimana kita menyikapinya. dua pedangan tersebut memberikan gambaran tentang dunia yang dijalani bahwa penentu dari hidup ini sebenarnya adalah tentang karakter. kalau mau membandingkan kedua penjual tersebut sama sekali tidak ada bedanya namun karakter merekalah yang membedakan mereka. penjual yang satu menjalani profesinya layaknya pengemis yang meminta belas kasihan dengan berkedok menawarkan barang dagangannya namun penjual yang satu menjalani profesinya dengan senang hati tanpa sekalipun memelas jika orang menolaknya untuk membeli barang dagangannya bahkan dengan kebesaran hatinya berterima kasih dan senyum kepada setiap orang.

ibu kota memang mengajarkan banyak hal. semua pelajaran terhampar di kota ini bahkan aku yakin jika ingin menguji kesabaran maka cobalah untuk sering berkendara di kota ini dan ketika engkau tidak pernah jengkel dan mampu bersabar terhadap semua hal yang engkau jumpai di jalanan kota ini maka kita bisa dimasukkan ke dalam orang yang sabar.

entah pelajaran apalagi yang akan kutemui nantinya di kota ini. semua masih akan berjalan seperti seharusnya dan setiap hal harus disikapi dengan pikiran yang tenang. aku tidak akan pernah menghujat penjual seperti yang kutemui di beranda Indomaret dan akupun tidak akan pernah mengabaikan ibu kucing yang selalu kujumpai di samping parkiran. mereka adalah makhluk semesta yang hadir mewarnai hidupku dan memberikanku pelajaran tentang cara seperti apa yang harusnya kutempuh untuk menyikapi hidup ini.

jika ingin menceritakan semua apa yang kujumpai maka bisa dipastikan setiap lembaran tidak akan memuatnya. cerita tentang ibu yang begitu keras terhadap anaknya. cerita tentang 3 bocah berusia belum genap 10 tahun saling menyuapi selepas maghrib di lampu merah menteng setelah mereka letih menawarkan tissue ke pengendara yang berhenti di lampu merah. cerita tentang orang-orang yang berkumpul di KPK mendukung pemberantasan korupsi, cerita tentang teman kantor dan cerita semua yang pernah kujumpai. ah hidup ini memang menawarkan aneka cerita yang tidak ada habisnya.

aku hanya ingin semua cerita tersebut abadi di dalam setiap tulisanku dan layak menjadi kebanggaanku setelah aku cukup membacakan dogeng kepada anak-anakku kelak. 

kantorbumidarawamangun.200215

No comments: