November 17, 2014

Bersimpuh

aku memeluk bulan. mendekap dengan erat. aku mencium aroma yang begitu khas
aku mencumbu rembulan dan mengabaikan matahari
aku pencinta malam dan perindu senja
aku menyusuri semua lorong di setiap sudut bumi
entah sampai kapan?

namun aku selalu yakin bahwa perjalanan ini akan terhenti suatu saat
entah di mana dan entah kapan

apakah aku akan menjadi pengecut
menjadi bandit tak berguna
atau apalah istilahnya

satu hal yang kuyakini
Tuhanku selalu punya celah memaafkan makhlukNya

itu yang menguatkanku sampai saat ini
bahkan saat aku jauh berjalan

November 13, 2014

Anak Gadis Itu

Aku sedikit harus menyamarkan kejadian yang kutulis ini karena terlalu sensitif. Terlalu sensitif memang karena aku masih terkurung dalam kejadian yang membuat dilema. Setiap hari harus bergulat dengan kondisi ini dan tentunya aku pun merasa tidak nyaman meski kutahu bahwa orang-orang di sampingku menganggap bahwa aku cuek dengan keadaan sekarang namun tidak, tidak sama sekali. Aku pun terganggu dengan keadaan ini. 

Meski sebenarnya aku tidak punya urusan sama sekali dengan kondisi ini dan tidak tahu asal muasalnya namun bagaimana pun aku berada di lingkungan ini yang mungkin tidak sedang baik-baik saja. Masalah memang adalah hal niscaya yang muncul dalam hidup. Dalam artian bahwa ketika hidup maka
bersiaplah berkawan dengan masalah namun bukan berarti itu menjadi pembenaran bahwa ketika ada masalah maka kita mendiamkan begitu saja. Apatahlagi ketika masalah dengan orang lain maka seharusnya itu diselesaikan. 

Memang benar bahwa kita tidak akan pernah cocok dengan semua manusia di bumi ini karena perbedaan karakter namun pernyataan tersebut tidak cukup menjadi alasan itu berseteru. Perbedaan karakter tersebut tidak pernah membatasi kita untuk akur dan mungkin hanya sekedar untuk menyambung silaturahim. Hanya kita perlu sedikit menurunkan ego kita untuk tidak terlalu pongah dan merasa selalu benar. 

Mungkin yang membaca tulisan ini bingung apa hubungan anak gadis dengan tulisanku ini namun percayalah bahwa apa yang sedang kutulis ini adalah tentang seorang gadis yang amat sangat tidak merasa nyaman karena sebuah kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Aku mungkin orang yang amat sangat kompromistis dan menghindari konflik. 

Yah memang aku seperti itu bahwa ketika tidak bisa akrab dengan seseorang maka aku akan berusaha untuk tidak berkonflik setidaknya ketika berpapasan tidak ada rasa canggung. Coba bayangkan ketika ketika berkonflik dan harus bertemu setiap hari dan berada di tempat. Betapa canggungnya perasaan itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hal tersebut.

November 12, 2014

Puisi yang Tenggelam

aku dan kau adalah butirbutir waktu
berlalu dan tidak akan pernah berjalan mundur seperti pada puisi film itu
aku dan kau adalah kenangan suatu waktu
tentang cita dan cinta yang menyatu

lama tak menulis sebuah puisi.
membeku katakataku dalam setiap lembaran hari yang kujejak
aku sesekali menyadari namun tak kuasa untuk mengisinya dengan goresan panah yang mulai menyusut
aku dan kau akhirnya sampai disini
di ruang dan waktu yang sama sekali tidak pernah disadari
dulu hanyalah khayalan dan anganangan semata
namun tidakkah kita percaya bahwa pikiran selalu saja terbaca oleh semesta

aku ingin memelukmu malam ini
dengan bayangbayang hitam tersisa untukku
namun apa daya
hanya serpihan kasih yang terbentang kujumpai

aku hanyalah wajahwajah tak berbentuk
yang merindukan pelangi
aku hanyalah seonggok jasad tak berguna
yang merindukan hidup di istana
 

Gibah

Percayalah bahwa gibah itu tidak benar. Itu saja yang ingin kutulis hari ini. Mau penjelasan lebih lanjut yang subjektif atau pun objektif selalu saja kesimpulannya bahwa gibah itu sesuatu yang merusak. 

Mungkin di sepanjang hidupku selalu saja ditemui orang yang bergibah dan aku pun harus jujur dulu sering melakukan itu. Memang ada perasaan senang saat membicarakan kejelekan orang karena sejatinya manusia itu suka melebihkan dirinya dari orang lain meski di sisi lain manusia saat tidak ingin diremehkan. 

Dalam hal ini bahwa manusia suka bergibah dan sangat tidak suka ketika dibicarakan kejelekannya. Itulah yang sangat paradoksial bagi manusia.

Rumusnya bahwa hindari bergibah jika tidak mau dibicarakan kejelekan orang lain. Ketika ada teman bergibah, jangan sekali-kali untuk menambah-nambahi karena percayalah dengan sangat percaya ketika suatu waktu pun teman yang suka bergibah itu akan membicarakan kejelekanmu jadi diam saja.

Untuk beberapa hari ini aku harus bisa menahan diri untuk semua itu. Menahan untuk tidak mengotori hari-hariku dengan gibah makanya kupilih untuk diam seribu bahasa. Aku sampai sekarang percaya bahwa gibah akan menggerogoti pikiran sehat manusia dan aku tidak mau digerogoti oleh gibah.

Belajar menahan diri untuk meningkatkan kualitas diri tanpa harus menjatuhkan orang lain. Semakin kita menjatuhkan orang lain, semakin susah kita merangkak naik.

November 11, 2014

setia

seperti saat dulu kau mengecupku.
seperti saat dulu kau meminta untuk sekedar bersandar di bahuku
itu dulu
dan seperti saat ini saat kau masih meminta itu
kau mengajarkanku tentang kesetiaan.

Menulislah

Saya selalu mencoba untuk menulis komedi atau apalah yang berhubungan dengan hal-hal yang lucu namun selalu saja gagal. Payah memang isi kepala saya kalau mengenai hal yang lucu meski saya suka dengan hal yang lucu. 

mungkin juga sense of humor saya yang kurang karena tidak pernah sekalipun saya berhasil menulis hal yang lucu meski beberapa referensi saya lahap habis. Saya bahkan merasa masih lebih bisa menulis hal yang mengharu biru atau tentang renungan-renungan dan juga puisi karbitan. 

Entahlah namun saya merasa seperti itu. Saya bercita-cita membuat buku namun melihat track record saya dalam memulai sebagai penulis karbitan, mungkin hal yang kutulis nantinya yang bergenre renungan-renungan hidup karena menulis tentang politik pun saya takluk, meski secara empiris saya adalah alumni mahasiswa sosial politik. 

Banyak referensi memang untuk menulis segala sesuatu tentang passion kita hanya saja kita mau memulai atau tidak. Kalau ditanya apakah yang bisa saya tulis maka saya katakan adalah saya bisa menulis hal-hal yang sederhana dalam hidup. Realita yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain namun terkadang saya memperhatikannya karena sejatinya semua hal berkesan hanya saja kita sering menganggap remeh hal yang kita temui. 

Saya juga percaya bahwa setiap detik momen yang kita jumpai selalu punya makna dalam hidup kita. Saya percaya bahwa hidup bukan tentang kebetulan namun kehidupan ini adalah grand design by Sang Maha Pencipta yang tidak pernah mempertemukan kita dengan momen yang tidak ada manfaatnya. 

Manusia hanya butuh sedikit menurunkan ego untuk membaca setiap momen tersebut karena ketika manusia masih dikuasai oleh ego maka yakinlah semua akan berlalu dengan begitu saja tanpa bisa mengambil hikmah dalam setiap detik kehidupan yang dilalui dan nantinya bahwa keyakinan saya, akan ada buku renungan yang akan terbit dan dijual di gramedia yang penulisnya bernama sama dengan namaku. 

CAMKAN ITU BAIK_BAIK...!!!! 

Mentari selalu terbit di pemula hari acapkali berlalu di awal malam namun percaya, dia bukan yang kemarin, bukan pula seribu tahun lalu mentari hanya mengajarkan kepada kita bahwa setiap waktu selalu ada kesempatan dan sebelum kesempatan itu benar-benar menguap biarkan dirimu larut bersama keindahan senja mengukir pelangi bahkan saat hujan pergi. 

Rawamangun, 111114

November 10, 2014

Ini Tentang Hidup

Hidup adalah tentang suka duka, tentang cinta benci, tentang cocok dan ketidakcocokan. Hidup bagaikan pelangi dengan warna warni yang indah, itu hakekatnya. 

Ketika kita sudah menanamkan itu dalam hati yang paling dalam bahwa hidup itu adalah tentang keberagaman maka dengan sendirinya kita akan menikmati setiap perbedaan yang ada tanpa mencela satu sama lain. Aku tahu itu dan aku sudah mendapati beberapa momen seperti itu.

Aku sudah bekerja di tiga tempat yang berbeda. Ini bukan masalah gaji atau materi semata. ini tentang hati. Di setiap tempat aku mendapati manusia dengan berbagai macam karakter dan pastinya bahwa sebagian diantara mereka tidak cocok denganku, namun apakah aku akan mundur? 

Sama sekali tidak karena aku memang sudah mengetahui hakekatnya bahwa hidup tentang beberapa orang yang tidak cocok denganku, bukan berarti konflik namun sejatinya tidak bisa sejalan

Ajaran Tentang Ibu

Sedih juga mendengar alasan kenapa adikku yang ada di kalimantan jarang menelepon orang tua di kampung. Sedih dan amat sangat menyesakkan mendengar alasannya yang cuma sepele. Aku yang bahkan hampir setiap kali menelepon orang tua terkadang harus menahan rindu yang tertinggal di wajah mereka. Aku bahkan tidak punya alasan apapun untuk tidak menelepon mereka dalam seminggu apatahlagi untuk marah kepada mereka, tidak ada alasan untuk itu.

Kemarin malam saat menelepon adikku tersebut, kutanya kepada jarang menelepon ke kampung, dia jawab dengan singkat, "karena saat menelepon, seringkali baru sekitar beberapa menit menelepon, ibu sudah mengatakan tidak tahu lagi apa yang mau dibicarakan.

Sebegitu piciknya alasan untuk tidak mengabari keadaan kita kepada orang tua di kampung. Sebegitu picik dan sesederhana itu kita tidak mau untuk menelepon mereka hanya untuk mengabari keadaan kita meski harus disadari bahwa orang tua itu hanya ingin mendengar suara anaknya dan itu cukup bagi mereka, tidak perlu panjang lebar untuk bercerita apa saja namun ternyata adikku yang di kalimantan mengartikan salah. 

Ah, sesak dada ini mendengar alasannya untuk tidak menelepon orang tua di kampung.

Beberapa waktu lalu, w dinas di Semarang selama dua hari. ibunya mengirimiku sms bahwa dia meminta w mampir di Madiun beberapa hari namun ternyata w tidak mau mampir. Sesak rasanya mengingat hal itu. Permintaan ibu untuk bertemu anaknya ditolak. 

Aku bahkan harus meneteskan air mata saat membaca sms ibunya. Bagaimana tidak, pikiranku langsung tertuju saat ibunya ke Jakarta hanya untuk bertemu anaknya, beberapa kali bahkan harus bolak balik tanpa memperdulikan kesehatannya dan sedihnya lagi, terakhir kali ibunya ke Jakarta, dia dijambret di kereta dan semua isi tas amblas. 

Itu demi apa? Hanya ingin melihat anak gadisnya, merangkul anak gadisnya dan bercerita banyak tentang kehidupan baru anak gadisnya, tidak lebih dari itu. Namun sebegitu susah kah kita memenuhi permintaan ibu kita.

Aku tidak sedang meracu namun sampai saat ini, aku bahkan selalu memenuhi permintaan ibuku. Aku tidak ingin menyesal suatu saat nanti. Apapun itu bahkan jika seandainya ibuku memintaku untuk pulang menjaganya maka itu pun yang akan aku lakukan. 

Aku bertahan disini karena kemauan ibuku. Dia tidak mau kalau aku pulang dan tidak ada aktifitas di kampung. Dia rela aku jauh demi aku bukan demi dirinya. 

Betapa tidak disadari saat masih kecil, pernahkah mereka mengabaikan kita saat kita nakal, pernahkah mereka berhenti mendoakan kita hanya karena kita tidak mematuhi aturannya ataukah pernahkah mereka merasa letih saat harus bangun dini hari hanya untuk menyiapkan adonan kue untuk dijual di pasar demi kebutuhan sehari-hari kita. 

Pernahkah kita memikirkan itu semua? kasih orang tua tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kita sama sekali tidak punya alasan untuk mengabaikan mereka meski hanya sekadar memberi kabar kepada mereka bahwa kita baik-baik saja di perantauan, itu saja.

Aku juga bukan anak yang terlalu penurut, bukan anak seperti anak lain yang begitu amat berbakti kepada orang tua namun aku berusaha untuk itu. Terbentang ruang dan waktu dengan orang tua menyadarkanku bahwa kasih mereka tidak akan pernah putus. air mataku sering menetes dengan hangat ketika beberapa kali ibu meneleponku saat dia memasak makanan enak dan berkata "apakah aku sudah makan?" Kemudian dengan kata yang terbata dia mengatakan bahwa ini banyak masakan ibu di sini namun engkau jauh. 

Momen seperti itu seringkali dia ungkapkan terkhusus saat hari raya lebaran. Apakah aku pernah mengingatnya saat aku sedang makan makanan enak? jarang sekali mungkin.

Ibu mengajarkanku kasih yang tak berbalas, ibu mengajarkanku bagaimana caranya mencintai. Hal yang kutahu sekarang adalah mengabarkan keadaanku setiap saat tanpa harus punya alasan apa-apa. 

Ibu, aku sayang engkau, saat ini dan selamanya
engkau mengajarkanku kasih Tuhan yang tulus

Rawamangun, 10-Nov-2014

Amarah

Aku bukanlah orang yang terlalu sosial. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan sesama bahkan aku menyadari bahwa seringkali aku tidak sabaran dalam segala hal. Aku pun seringkali marah pada apa saja yang tidak sesuai keinginanku namun aku masih bisa memilih hal apa yang harus membuatku marah. Ketika marah maka logika dan rasionalitas otak tidak berjalan dengan baik maka yang ada hanyalah ego yang ingin menang. Ini yang seringkali merusak.

Aku bahkan terkadang menganjurkan untuk sesekali marah kepada apapun yang bertentangan dengan prinsip namun bukan marah yang merusak. Aku selalu menyesali setiap hariku dimana ada amarah yang keluar. Aku selalu membenci diriku yang marah tanpa sebab hanya karena suasana hati yang tidak stabil. Aku memang seperti itu meski aku terkadang mencoba untuk selalu menenangkan diriku.

Kemarin saat kembali dari pengajian Aa gym di Istiqlal, aku berputar melewati kantor pos di depan masjid tersebut, oleh sebab ada sedikit keperluan di ATM. Maka aku memarkir kendaraanku di depan kantor pos dan masuk ke dalam dimana ATM berada. Berselang beberapa saat aku setelah urusan mengenai ATM selesai, aku keluar menuju tempat parkir motor. Tepat di depan pagar kantor pos, aku mendengar ada ribut-ribut, seorang yang bermata sipit sedang mengertak pesuruh kantor pos tersebut. 

Aku memperhatikan adegan tersebut di atas motor sambil sesekali melirik HP supaya tidak dianggap kepo. Lama-lama aku mengerti akar masalahnya bahwa si pria paruh baya yang menurut tebakanku adalah orang Tionghoa amat sangat murka karena pesuruh kantor pos tersebut melarang masuk dengan alasan kantor sedang tutup karena memang pada saat itu hari minggu. si pria tersebut tidak terima dan terus saja meracu tanpa jelas dengan muka yang menahan amarah.

Sebelumnya aku mencoba untuk fair masalah tersebut namun benar-benar aku tidak bisa menahan amarah melihat si pesuruh tersebut dimaki dengan segala macam kata-kata dan tangan yang ditunjuk-tunjuk ke mukanya.

Rawamangun, 9 nov 2014

November 7, 2014

Aku Menangisi Rindu

Aku menangisi rindu. meratapi yang datang tiba-tiba. Menyesakkan dada, membuncah dan hampir pasti pergi tak berjejak. Aduh betapa perih luka ini. Merobek sukma yang menahan semua rindu yang tersisa. 

Aku berjalan sepanjang jalan setapak yang berdebu. menghitung jejak langkah yang keluar dari jalurnya. Aku bersedih dan tersungkur melihat begitu banyak jejak hitam yang tak berada di jalan yang kutuju. Haruskah aku berlari dan terus melanjutkan perjalanan ini? 

Tidak, tidak sama sekali. Aku sesekali menatap kebelakang, memandang lurus dan mencoba untuk kembali ke jalur yang kujejak, kemudian melangkah pelan menuju Cahaya Ilahi.

Terkadang aku merasa hampa, untuk apa sebenarnya aku di dunia ini? 

Kenapa tiba-tiba aku ada dan bertumbuh di tempat yang sama sekali tidak kukenali. Perih teramat dengan semua dosa yang melumuri perjalananku, ah, Tuhan, sampai kapan rindu untukMu ini berhenti? 

Sampai kapan Engkau menjadikan hatiku tenang mengingatmu. Jikalau memang harus ada dosa, tetapi apakah Engkau akan mengampuniku, meski aku dengan amat sangat yakin bahwa KasihMu meliputi segala dan Maha Besar atas semua dosa yang diperbuat oleh manusia bahkan aku percaya bahwa jika semua dosa-dosa manusia dikumpulkan maka KasihMu masih lebih besar dari itu semua namun aku tidak ingin menjadikan itu sebagai alasan untuk selalu berdosa dan mengulangi kesalahanku. 

Aku tidak tahu kapan waktu yang Engkau titipkan kepadaku berlalu dan kapan aku harus mengakhiri perjalanan panjang di dunia ini.

Aku tersungkur menangisi rindu ini. rindu yang sublim terhadapMu.

November 5, 2014

Policy

Aku mendapati diriku melongo di depan PC. tak kukenali karena mukanya yang sudah mulai memudar bahkan wajahnya yang dulu memperlihatkan keceriaan sepanjang hari sudah tertutupi oleh keriput di jidat dan dahinya. 

Entahlah apa yang dia pikirkan namun diriku tetap terpaku memandang dalam PC di depannya dengan sebuah tulisan yang tak kumengerti. Berkali-kali kusapa dia namun diabaikan bahkan tidak lebih seperti aktor di film horor yang diam dengan wajah yang memerah. aku berlalu dan kubiarkan diriku dengan aktivitas yang sedang dijalaninya karena kutahu mungkin saja dia sedang sibuk dengan aktivitasnya di depan komputer.

Aku bertemu dengan diriku di bantaran kali samping rumahnya. Aku mengenalinya dengan baik, dia yang menyapaku lebih dulu. Wajahnya amat berseri, entahlah aku tiba-tiba saja merindukan masa lalu di mana kami menikmati hidup dengan cara kami sendiri tanpa memperdulikan masa yang belum datang, bagi kami hidup itu adalah hari ini maka bercanda dan keceriaanlah yang selalu menghiasi hari-hari kami.

Tentang Rezeki

Beberapa waktu lalu, aku ikut tes pegawai pemerintah. Bukan sendirian bahkan ribuan orang yang mendambakan pekerjaan tersebut. Tidak ada yang salah, yah memang sama sekali tidak ada yang salah dari itu semua. Mendaftar pns adalah salah satu usaha untuk mendapatkan pekerjaan dan tidak merepotkan keluarga bahkan mungkin semua orang sepakat dengan hal tersebut. 

Bejibun orang setiap harinya selama hampir dua bulan di berbagai penjuru nusantara berseragam hitam putih antri panjang mengikuti tes pns di semua instansi. Pemandangan itu nyata di negeri ini, fenomena tentang pekerjaan favorit di negeri ini dan dianggap sebagai pekerjaan paling aman. 

Bagaimana tidak, menjadi pns berarti hidup kita sudah safe, tidak gampang di PHK, kerjaan tidak terlalu bejibun, gaji tetap jalan, pulang tepat waktu dan pada suatu nanti saat sudah pensiun pun masih dapat uang pensiunan setiap bulan. siapa yang tidak tertarik dengan pekerjaan itu dan mungkin orang yang mendaftar pns paling tidak memiliki salah satu alasan yang aku sebutkan di atas. Aku mafhum dengan semua itu.

Terlepas dari apa yang saya utarakan di atas. Ada satu hal yang selalu mengganggu kepalaku, selalu berkecamuk dan terkadang aku berpikir tentang fenomena tersebut. kegilaan menjadi pns sudah sebegitu mengerikan bahkan beberapa oknum berani menyogok dalam jumlah yang amat besar bahkan perlu bertahun-tahun untuk menutupi uang tersebut dari gaji pns. Pekerjaan ini bahkan sudah menghilangkan akal sehat dengan melakukan segala cara untuk itu.

Hal yang lain yang menggangu pikiranku adalah adanya kekhawatiran bahkan ini untuk diriku sendiri, jangan sampai pekerjaan ini di dewakan melebihi Tuhan. Kita sudah merasa bahwa rezeki hanya dari pekerjaan ini dan tidak percaya bahwa sebenarnya pekerjaan itu hanyalah fasilitas atau wadah namun sesungguhnya rejeki itu dari Allah. 

Ketika sudah mendewakan pekerjaan maka sesungguhnya kita telah mengurangi porsi Tuhan di dalam hati kita. Kita telah menghilangkan kepercayaan akan kuasa Tuhan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Aku hanya berusaha agar semua hal yang berhubungan dengan duniawi tidak mereduksi kepercayaanku terhadap Tuhan. Bahkan dalam pekerjaan pun harus tetap percaya bahwa Tuhan lah yang memberikan rezeki.

October 24, 2014

meracu

seminggu lalu. bertemu dengan keluarga W. layaknya sebuah lamaran
seminggu lalu, aku dengan lantang berbicara banyak di keluarganya
tak ada ragu, aku memang sudah memutuskan untuk berkomitmen
apapun resikonya jika itu memang yang terbaik

entahlah apa yang akan terjadi
namun begitulah
aku sudah berjalan di sebuah jalan yang telah kuputuskan

27 Oktober 2014