December 6, 2012

Sudut Kematian

Kunikmati tetesan air hujan yang semakin deras disebuah rumah yang tergolong mewah di kota ini. Dengan halaman yang sangat luas bahkan hampir seluas dengan satu lapangan sepakbola membuatku sesuka hati untuk memandang lurus kedepan. 4 mobil dengan mereka terkenal terparkir rapi di garasi sebelah kiri yang luasnya setengah dari halaman rumah ini. Seorang perempuan paruh baya dengan muka yang sangat manis sedang menggendong anak kecil berdiri di belakangku. Sambil ikut menatap hujan yang membuat si anak kecil menangis. Pemilik semua itu adalah aku. 

Semua yang dulu kuanggap sekan utopis sekarang mampu kurengkuh semuanya. Tak terbayangkan memang, apapun yang kuamu sekarang mampu kubeli dengan uang yang aku punya, namun itu semua ternyata tidak cukup, ada ruang hampa dalam jiwaku yang selalu menghantuiku mengikuti setiap jejak langkahku sedangkan dulu, sudah sangat lama, saat aku belum memiliki ini semua, kuyakin bahwa dengan menjadi seperti sekarang, aku akan bahagia, namun tidak, ini semua menggiringku dalam kondisi mengerikan sebagai manusia yang hanya terkungkung dalam baying-bayang kecemasan, kecemasan ditinggal isteri yang cantik, kecemasan kehilangan semua harta benda.

Pikiranku kembali menyusuri masa kecilku di sebuah desa kecil diujung pulau ini. Masa kecil yang penuh kepolosan dan ketidaktahuan akan massa depan. Seakan tidak memperdulikan apa itu masa depan dimana hidupku saat itu adalah bermain namun kebahagian sangat kunikmati saat itu. Kuingat saat pulang sekolah di samping rumahku, sekolah yang tergolong sangat sederhana dan kadang-kadang memprihatinkan karena dinding terbuat dari papan yang sudah lapuk sedangkan atapnya terbuat dari atap ijuk yang sangat mudh dijumpai di kampungku saat itu. 

Jangan ditanya tentang buku, sangat susah untuk menjumpai buku-buku di perpustakaan yang ada adalah buku tua yang sudah lapuk dimakan tikus dan rayap. Sesaat sepulang sekolah, aku cuma mampir di rumah mengganti pakaian seragam sekolahku yang sudah kusam, terkadang ketika malas pulang, aku langsung menemui teman-temanku untuk bermain. Permainan apa saja yang kami lakoni pasti mengasyikkan.

Sore hari saat kembali pulang ke umah dengan baju berlumuran lumpur, kulit gelap teerbakar matahari, ibuku sudah membuatkan segelas susu dengan pisang goreng yang semakin membuatku sangat menikmati masa kecilku. 

Desa kecil yang terdapat dilereng gunung ujung pulau ini, menjadi saksi bisu kebahagiaanku saat bocah, tak ada fasilitas desa yang terlalu mewah bahkan di rumahku pun tak ada tv yang seringkali membuat orang memimpikan hal yang tak ada, memimpikan hal-hal utopis.  Semuanya berjalan seakan normal tanpa banyak permintaanku, tanpa ada cita-citaku menjadi konglomerat, menjadi orang-orang yang bermukim di kota dan tenggelam dalam kesibukan yang super duper sehingga terkadang hak mereka untuk bahagia terlupakan dan mengeksploitasi diri mereka sendiri.

Namun semuanya seakan berubah saat aku beranjak remaja dan menginjakkan kaki di SMA. Perubahan di desaku semakin pesat, sebagian orang menganggapnya sebagai sebuah kemajuan zaman namun menurutku bahwa banyak hal yang mengerikan yang berubah. Anak-anak tak lagi bermain riang di setiap sudut lapangan karena waktu mereka dihabiskan dengan bermain permainan model canggih, bermain-main dengan alat elektronik.dunia anak-anak semakin direnggut oleh tv yang menawarkan berbagai macam mimpi-mimpi yang melenakan. Tak ada lagi anak-anak yang kemudian bermain lumpur di lapangan, tak ada lagi anak-anak yang tertawa riang saat bermain layangan, bahkan dunia mereka tenggelam dalam kotak kaca yang menawarkan mimpi. Dunia yang sebenarnya mereka jalani digeregoti dunia semu dalam tv. 

Aku tak bisa lagi membayangkan saat keadaan di desaku semakin sulit, berbagai macam barang kebutuhan melonjak naik harganya bahkan sampai harga teempe pun ikut-ikutan naik. Mau tidak mau, keadaan itu mengkontruksi pikiranku bahwa kebahagian adalah bagaimana memperoleh banyak uang kemudian membeli apa yang bisa dibeli. Sejak SMA, aku semain giat belajar namun tujuannya bukan supaya mendapat ilmu namun tidak lebih supaya aku bisa sekolah tinggi.

Perjanalan waktu menggiringku sampai sekarang ini, menggiringku pada kehidupan kelas atas yang semuanya harus diukur dengan uang, kehidupan yang seringkali dipertontonkan oleh layar kaca saat aku masih kecil. Kehidupan yang akhirnya berada dalam dekapanku, dalam rangkulanku, wanita yang sangat kuidam-idamkan semasa aku kuliah pun sekarang menjadi isteriku, namun apa yang terjadi keadaan seperti ini yang dulunya kuanggap akan membawa aku ke puncak kebahagiaan ternyata malah menggiringku ke sudut jurang kehampaan. Tak ada kebahagiaan yang abadi yang kurasakan saat ini, bahkan kesetiaanku terhadap isteriku mulai terusik dengan kehadiran wanita lain. Itulah yang terjadi sekarang pada kondisiku sekarang ini.

Setiap malam, aku tak bisa memejamkan mata sekalipun, banyang-bayang akan perusahaanku selalu menghantui, tentang bagaimana caranya mengembangkan lagi menjadi lebih besar, tentang kekhawatiranku tentang kebangkrutanku, tentang kekhawatiranku akan dikhianati oleh kolega-kolegaku, tentang mobil yang terparkir di bawah rumah jangan sampai dibobol maling.

Jogja-sby, akhir oktober 2012

Perjodohan


Tidak bisa, kau harus menikah dengan Halimah, gadis tetangga di kampung kita, dia gadis yang baik”, kata-kata itu terus membayangiku, kata-kata yang meluncur deras dari mulut ibuku yang menohok jantungku sesaat setelah kuutarakan niatku untuk menikahi seorang gadis yang kukenal semasa kuliah dulu. Sejak menyelesaikan kuliahku di universitas merah putih di kota ini, angin sejuk rasanya menghinggapiku karena aku langsung diterima di salah satu perusahaan asing yang terkemuka di kota ini, beberapa bulan setelah bekerja, aku memutuskan untuk mencari pendamping hidupku dan pilihanku jatuh pada salah seorang mantan Mahasiswi di kampusku dulu, meskipun sudah sejak lama aku suka padanya, namun selalu dia menampik ajakanku berpacaran dengannya, entah dengan berbagai macam alasan namun dia tetap tak bergeming dengan usahaku yang sangat gigih untuk mendapatkannya. Namun entah suara apa yag membisikinya, sejak aku bekerja dan kembali mendekatinya dia pun menerima pinanganku bahkan ajakanku untuk membawanya ke pelaminan pun diamininya.

Laras, begitulah sapaan akrab yang melekat pada dirinya, gadis yang dulunya menjadi primadona kampus bukan saja karena Laras berasal dari keluarga kelas atas namun wajahnya yang rupawan membuatnya sangat sempurna, bahkan seorang temanberceloteh, meskipun laras tidak mandi dalam seminggu, dia akan tetap terlihat cantik, yah, begitulah kenyataannya, laras tampak sangat anggun, bahkan mungkin dia menyadari akan hal itu semua, laras selalu tampil beda saat masuk ke kampus, itulah gambaran diri seorang Laras yang memang cantik rupawan. Dibandingkan dengan Laras, Halimah yang menjadi pilihan ibuku sangatlah jauh berbeda bagaikan bunga mawar dengan bunga bangkai. Halimah tinggal di kampung kami, rumahnya hanya berjarak 1 Km dari rumahku, menurut ibuku, kami masih memiliki hubungan keluarga. Halimah lebih muda 2 tahun dariku, setamat SMA, halimah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya, faktor utamanya adalah karena kekurangan dana. Memang sejak kelas 1 SMA ibunya meninggal dunia karena kecelakaan sehingga sejak itu, Halimah menggantikan peran ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil, sementara ayahnya bekerja di sawah. Halimah memang termasuk gadis yang lumayan manis di kampung kami, meskipun kulitnya agak kecoklatan disinari matarahari karena seringnya membantu ayahnya di sawah, namun wajahnya tidak bisa menyembunikan pesona alaminya sebagai seorang gadis yang manis. Tidak mengherankan sudah banyak pemuda di kampung kami yang melamarnya namun ayahnya belum mengijinkan halimah untuk menikah. Halimah memang seorang gadis yang sangat penurut terhadap apa yang dikatakan ayahnya. 

Pergolakan batin terus menggerogoti jiwaku saat ini, saat keputusanku kontradiktif  dengan keputusan orang tuaku. Di satu sisi, aku sudah sangat gembira bisa mendapatkan Laras yang dulunya menjadi wanita idamanku namun disisi lain keputusan ibuku tak bisa pula diganggu gugat karena ibuku sudah tahu banyak tentang kepribadian Halimah dan akupun mafhum bahwa Halimah adalah wanita yang baik. Keputusan ibuku tak juga mencair, kekerasan hatinya tentang perjodohan tak bisa mengalahkan apapun, kalau dia bisa bersikap moderat terhadap hal disi lain namun untuk masalah perjodohan dia tak bergeming sekalipun. Begitulah akhirnya aku mengalah kepada ibuku untuk yang satu ini, kuterima perjodohanku dengan Halimah.

Sejak kami berumah tangga, aku tak sedikit pun memperlihatkan rasa sayangku terhadap Halimah, kesalahan sedikit yang diperbuatnya terkadang kuungkit untuk menyinggung dan memarahinya, namun sering kali aku berlaku seperti itu, tidak nampak rasa sedih maupun sikap melawan yang ditunjukkan Halimah, yang diperlihatkan padaku hanyalah rasa patuh terhadapku apapun yang kukatakan
Tak terasa, sudah sepuluh tahun kami bersama, bahkan kini kami telah dikaruniai dua anak yang lucu, Halimah merawat anak –anak kami dengan penuh kasih sayang, terkadang timbul penyesalan dalam hati kecilku telah memperlakukannya dengan sangat kasar yang kemudian dia hanya membalasnya dengan sebuah arti kepatuhan.
Hingga suatu ketika, tersibaklah rahasia langit terhadapku, awalnya putraku yang sulung sering bergelagat aneh, setiap sore dia diam-diam mengambil makanan yang sangat banyak kemudian dibawah entah kemana. Awalnya aku tak peduli sedikitpun namun suatu ketika kuikuti juga karena rasa penasaranku, dia menysuri lorong-lorong kecil dan sampai di rumah yang berukuran kecil. Dia memberikan makanan itu kepada seorang anak yang sebaya dengannya, saat dia akan beranjak pulang, aku menghampirinya dan anakku kaget melihat keberadaanku yang tiba-tiba. Kutenangkan dia dengan berkata tidak apa-apa. Aku lalu masuk menemui anak itu, ternyata dia tinggal bersama dengan ayahnya.

Entah darimana awalnya, ayahnya bercerita tentang dia yang dulunya pengusaha ternama di kota ini, namun yang membuat aku shock berat adalah saat menyebut namanya isterinya ternyata Laras, wanita yang dulunya sangat kuimpikan. Dia melanjutkan ceritanya bahwa yang membuat kehancuran usahanya adalah akibat isterinya yang hidup mewah, bahkan sesaat setelah dia bangrut, isterinya meninggalkannya dan menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Bahkan sekarang Laras sudah 3 kali menikah dan pernikahannya yang terakhir adalah dengan  seorang anggota DPR yang sudah beristeri, Laras tak sedikitpun mengingat anaknya yang sekarang menjadi sahabat anakku.

Sesaat kemudian, pikiranku melayang ke rumah mencari sesosok Halimah. Rasa bersalah menderaku memeperlakukan Halimah dengan sewenang-wenang. Kulangkahkan kakiku menuju kerumah ingin menemuinya, sesampai di rumah kami yang terbilang sangat mewah, kudapati rumah dalam keadaan kosong, memang meskipun rumah kami sangat besar, kami tidak pernah menyewa pembantu karena halimah lah yang selama ini mengurusi rumah kami. Saat berada di kamar, kutemui sebuah pesan di secarik kertas, isinya sangat singkat, “maaf pak, saya sudah tidak tahan lagi, saya sekarang balik ke rumah ayahku di kampung dan jangan menyusulku lagi”. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi, memang semalam, kami bertengkar hebat sampai aku menampar Halimah. Ternyata dia sudah tidak menolerir sikapku yang telah menamparnya karena pesan ayahnya kepada Halimah sebelum kami menikah adalah “ kau harus tetap setia pada suamimu sampai dia melakukan kekerasan fisik kepadamu. 

Dia dan bahkan bukan Aku

Aku kembali ke desa ini, desa yang berada diujung  pulau. Banyak kenangan yang kutinggalkan di desa ini, kenangan masa kecil yang tak pernah tergantikan. Selaksa peristiwa terukir manis di desa ini. Bahkan terkadang dalam beberapa momen kehidupanku, aku selalu ingin kembali ke masa itu. Masa dimana ketulusan anak-anak yang tak terbandingkan, masa kanak-kanak dimana kemunafikan tak pernah mendapat ruang sekalipun untuk menampakkan batang hidungnya dan kepolosan dan kejujuranlah yang selalu nampak. Hal yang sangat sulit ditampakkan ketika sudah beranjak dewasa.

Sesaat setelah sampai di desa ini, aku mengitari tempat yang dulu menjadi kenanganku, tepat dimana aku menghabiskan masa kecilku, tak ada yang berubah dari konfigurasi desa ini, hanya ada beberapa bangunan pertokoan yang mulai berdiri berjejeran di pinggir jalan. Sungai tempat kami memancing dan mandi setiap pagi dan sore masih seperti dulu, hanya airnya yang sudah mulai keruh, konon katanya karena di hulu sungai ini, penebangan liar sudah sangat meluas bahkan dulu, banjir jarang terjadi namun sekarang ketika awal musim hujan saja banjir sudah meluap kemana-mana. Salah satu tempat yang menjadi favoritku menghabiskan waktu soreku adalah lapangan sepakbola, lapangan itu masih seperti yang dulu hanya sudah diratakan dan diperluas. Kenangan masa lalu seakan menyeruak kedalam pikiranku dan menggiringku kembali kemasa lalu.

Aku juga mengunjungi  bekas perumahanku yang berada di persimpangan jalan. Beberapa tahun yang lalu, sejak aku diterima bekerja di salah satu instansi pemerintahan di negeri ini, aku memutuskan untuk memboyong orang tuaku pindah ke kota, sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki ku di desa ini sampai sekarang. Bekas perumahan kami sudah berubah menjadi toko bangunan yang memang dibeli oleh salah satu jurang sayur dulu namun ternyata dia sudah beralih profesi menjadi pedangan bahan bangunan.

Kuhabiskan hari pertamaku di desa ini untuk bernostalgia dengan tempat –tempat yang kuakrabi pada masa kecilku. Dulu aku punya dua ekor sapi yangs setiap sore hari kuberi makan, dulu saat melakukan rutinitas tersebut, aku sering merasa kelelahan namun sekarang bahakan aku baru merasakan nikmatnya mengembala sapi dan serasa ingin kembali ke masa itu. Terkadang memang, hidup ini akan terasa indah saat sudah menjadi kenangan. Semua yang sedang dijalani terasa begitu sangat berat, namun setelah semuanya berlalu dan menjadi kenangan, barulah hal tersebut menjadi sangat indah. Terkadang aku berfikir bahwa kunci dari kehidupan ini adalah bersabar dan bersyukur, semua hal yang dijalani dengan dua sikap tersebut akan menjadi ringan karena semuanya akan menjadi kenangan pada akhirnya.

Sore harinya, kukunjungi seorang sahabat bahkan sudah menjadi saudaraku, Abd Khodir. Kami berdua seumuran, bahkan sejak SD sampai SMP, kami selalu bersama-sama dan sekolah kami selalu sama. Hanya saja saat masuk di SMA, Khodir melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren sedangkan aku melanjutkan sekolah umum di kota. Senja itu, kami menghabiskan waktu kami berdua di beranda rumahnya sambil mengingat kembali masa kecil kami dahulu. Dulu, saat masih SD, aku sering nginap di rumah khodir bahkan terlampau sering setiap minggunya. ayahnya adalah guru mengaji kami dan dia sangat baik. Seringkali akau diajak ke sawah miliknya bersama-sama khodir. Sore hari saat pulang dari sawah dengan berlumuran lumpur, ibu khodir sudah menyiapkan teh hangat dan pisang goreng, momen inilah yang sangat aku rindukan.

Ada suatu saat yang membuat aku sangat yakin bahwa ayah khodir punya hati yang sangat tulus, hari itu bertepatan dengan hari libur sekolah, aku diajak kesawah menjaga padi dari serangan burung pipit, pagi-pagi aku sudah berangkat bersma-sama dengan khodir, sampai disawah kami langsung berbagai tugas mengusir burung pipit, saat siang hari ketika burung pipit sudah terbang ke sarangnya, aku iseng bermain di pematang sawah, saat keasikan melompat-lompat, pematang sawah yang terhubung dengan kali jebol, sontak saja aku kaget, alhasil ikan mas yang memang dipelihara oleh ayah khodir yang jumlahnya sangat banyak berenang keluar dari area persawahan ke kali, aku berteriak memanggil khodir namun saat dia sampai di tempatku, hanya ada beberapa ekor ikan mas yang bisa diselamatkan. Khodir memang bertugas menjaga burung pipit di pojok sawah yang berjauhan denganku.

Rasa bersalah yang sangat amat menderaku dan sangat pedih kurasakan, saat ayah khodir menegtahui akan hal itu, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa ikan mas yang lepas ke kali bukan rejeki kita, betapa tidak aku mengatakan bahwa ayah khodir punya hati yang sangat bersih, ikan mas yang terlepas tersebut rencananya akan di panen 3 hari lagi yang lebih tragisnya adaalah hasil dari panen penjualan ikan mas tersebut akan dipakai untuk membayar uang sekolah khodir yang sudah menunggak beberapa bulan. Namun Tuhan memang selalu punya rencana terbaik untuk manusia yang berhati mulia. Seminggu setelah kejadian itu, khodir yang memang jago mengaji mewakili sekolah kami lomba mengaji tingkat provinsi dan Dia berhasil meraih juara I dengan hadiah uang yang kira-kira dua kali llipat lebih banyak dari hasil penjaualan ikan mas yang lepas.

Setelah puas dengan khodir mengenang masa lalu, dia kemudian berbagi cerita tentang masalah yang dihadapinya kini,  khodir dianggap sebagai salah satu gembong teroris paling berbahaya di  pulau ini. Dulu setamat dari pesantren, khodir melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi agama IAIN  di kota, setelah menyelesaikan studinya, khodir kembali kekampung ini dan menjadi Muballiq, guru ngaji serta guru agama di sebuah sekolah Madrasah. Bahkan bebrapa kelompok kajian keagamaan mulai kembali aktif di desa ini atas inisiatif khodir. salah satu yang paling menonjol  dari khodir disamping kegiatan-kegiatannya adalah dia sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat bahkan di kelompok kajian yang dibentuknya, ada jadwal khusus untuk membahas dan mendisikusikan masalah kebijakan pemerintah. Seringkali, bersama anggota kajiannya, beberapa proyek Pemerintah yang ingin dilaksanakan di desa ini mendapat rintangan dari mereka karena dinilai akan merugikan warga desa ini, memang desa ini termasuk salah satu desa yang alamnya mengandung minyak bumi yang sangat banyak. Inilah yang membuat khodir begitu populer sampai di kota dimana Aku bekerja. Khodir mengakhiri ceritanya dengan berkata “ kebenaran tetaplah akan menjadi kebenaran meskipun ia terjebak dalam kegelapan dan begitupun sebalikya”.

Saat mendengar kat-kata terakhir dari khodir, hatiku terenyuh, bahkan khodir tidak tahu sama sekali bahwa akulah salah satu dari sekian banyak pejabat pemerintah yang menjastifikasinya sebagai gembong teroris. Aku adalah anggota intelejen yanga datang khusus ke desa ini dan memata-matai kegiatannya yang meskipun sebelumnya sudah kuketahui dengan pasti bahwa kegiatan khodir sama sekali tidak bersinggungan dengan aksi-aksi teroris. Laporan-laporanku lah yang menyatakan seperti itu, mungkin sebentar lagi aku akan meringkusnya dan kemudian aku diproyeksikan sebagai kepala intelejen karena telah berhasil meringkus salah satu gembong teroris. Hatiku berdebat untuk mengurungkan niatku bahkan ketika kulihat kedua anak khodir yang sedang lucu-lucunya menononton TV di dalam rumahnya, selintas kuingat kedua putraku yang hampir sebaya dengan kedua anaknya. Memang saya dan khodir sama-sama sudah mempunyai dua orang anak. Namun pada akhirnya kuputuskan untuk melaksanakan rencana awalku demi sebuah jabatan pimpinan

October 19, 2012

Liburan

kawan, tawa lepas tak jua hilang dari canda kita, bergurau bersama saat orang-orang sibuk dengan dunia mereka masing-masing, seakan tak peduli, tak hirau bahkan diam untuk mereka sendiri. tawa lepas tak jua sirna dari gurau kita, saat orang-orang melangkah gontai dalam kehidupan mereka, dalam September penuh cerita, saat semua seakan tak lagi terberikan

tawa lepas tak jua hilang, saat duduk bersamamu, bercerita tentang orang-orang di depan kita, yang anehnya mereka tidak pernah mendengar. tawa bahkan kadang-kadang terbahak, saat berada di dalam keriuhan orang-orang ini, tapi tak satupun dari mereka yang senyum lalu memberi kita uang

senyum sumringah dalam masa itu, ketika orang-orang tertawa dengan benda, larut dalam pergulatan, dalam masa itu, saat mereka tak sakit walau terlindas. saat itu, saat semua bercerita dalam sebuah pengakuan hidup, bahwa mereka-mereka sering menangis sambil senyum bahkan airmata tak muncul dari sudut mata mereka hanya saja merah.


Akhir September 2012 saat akan meninggalkan jkt menuju jogja

October 12, 2012

Renungkan

Engkau yang sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, pengharapan sedang dipikulkun buatmu, begitu banyak orang yang berharap padamu, berharap akan engkau bisa memenuhi hari-hari depanmu yang cemerlang karena sebenarnya pengharapan-pengharapan mereka tidak lain adalah untuk dirimu sendiri. Engkau yang sedang memasuki masa remaja, masa dimana darah muda sedang bergejolak, mencari jati diri, penuh aktualisasi yang tinggi bahkan semua dilakukan untuk memperlihatkan prestise

Tak salah aku mengingatkanmu beberapa hal, karena akupun dulu pernah melalui hal yang sama yang sedang engkau jalani, masa kuliah, masa penuh dinamika bahkan sering kali dijalani dengan penuh emosi tanpa pertimbangan yang pasti. Kau yang sekarang menjalani masa studimu di sebuah kampus di Makassar. Aku tak meragukanmu dan tak ingin mengekangmu namun keadaan harus membuatku untuk mengingatkanmu beberapa hal. Dunia kampus adalah dunia semu, hanyalah persinggahan untuk merangkai asa dan kerja menuju dunia yang sebenarnya, ego manusia-manusia di kampus sangatlah tinggi dan inilah inti yang ingin kusampaikan kepadamu

Kabar sampai di telingaku, bahwa manusia-manusia di kampus semakin tak terkendali, mereka seakan tak mempertimbangkan moral ketika melakukan sesuatu bahkan harus merengggut nyawa orang lain, itu tidak lain karena keakuan yang amat sangat tinggi. Ketika tawuran terjadi, hakekatnya bahwa tidak ada yang benar, hanya karena persoalan arogansi saja. Bayangkan, ketika itu terjadi untuk merusak, apa akibat yang akan engkau usung? Saat engkau melempar dan temanmu dari fakultas lain pun melempar kea rah kalian, apa bedanya kalian dengan mereka kalau situasinya seperti itu? Dimana letak nilainya? Dan sesungguhnya ketika kita melakukan sesuatu tanpa ada nilainya maka itu adalah sebuah hal yang absurditas.

Dik,,,
Bayangkan temanmu yang harus merenggut nyawa saat itu, apa yang akan terjadi, akan banyak orang-orang di belakangnya yang kemudian akn merasa kehilangan. Kemudian setelah merefleksi kembali, apa sebenarnya yang akan dicari dalam sebuah tindakan yang bar-bar seperti itu. Hanya karena ingin dikatakan jago, atau hanya karena ingin dikatakan pemberani bahkan ingin dikatakan punya solidaritas tinggi terhadap teman. Itu hal yang sangat menggelikan, mungkin adanya benarnya tetapi  tempatnya bukan disitu, bukan dalam perkara tindakan bar-bar. Banyak sekali cara lain yang bisa ditempuh untuk menyalurkan hasrat diatas tanpa harus ikut-ikutan dalam tindakan bar-bar yang merugikan orang lain.

Biarkan orang bicara apa tentangmu, mulai saat ini, tetapkan tujuanmu untuk merangkai asa masa depanmu, pikirkan harapan-harapan orang tua di kampung yang senantiasa sibuk mendoakan dan menyokongmu untuk menggapai masa depanmu.

Saat engkau akan melakukan hal yang salah, bayangkan kembali wajah ibu yang dengan susah payah menjual aneka adonan kue di pasar. Yang kesemua hasilnya akan dikirimkan buatmu. Bayangkan ketika dengan susahnya ibu membuat aneka kue kemudian menjajakannya di pasar namun tak ada yang laku, apa engkau tak punya lagi rasa kasihan membayangkan itu semua. Kuyakin bahwa itu semua akan terbalas ketika engkau mendengarkan nasehat-nasehatnya dan kemudian belajar dengan baik-baik.

Bayangkan ketika bapak setiap subuh berangkat ke kebun untuk mencari sedikit rezeki, tak dihiraukannya panas, hujan bahkan apapun yang menghalanginya, dia tetap melakukannya dengan pengharapan mendapat sedikit uang untuk di bayarkan uang sppmu. Bayangkan itu semua.

Ketika engkau di kota hanya main-main, ikut-ikutan dalam tindakan yang tak berguna buat masa depanmu, bahkan ketika nasehat-nasehatnya tak lagi engkau hiraukan, apa lagi yang sebenarnya engkau pikirkan dan apa pula sebenarnya yang menjadi tujuanmu kuliah? Mungkin saja tetesan air mata ibu di tengah malam terus bercucuran saat engkau tak mau dinasehati, apakah engkau ingin seperti itu. Mana janjimu yang ingin membahagiakan kedua orang tua? Apakah tekadmu itu hanyalah retorika belaka yang muncul saat ingin menunjukkan eksistensimu sebagai orang yang baik-baik, namun ternyata tidak ada yang bisa engkau lakukan.

Kuharap tidak, kuharap engkau tulus dan benar-benar ingin membahagiakan orang tua, saat ini, mulailah mendengarkan nasehat-nasehatnya, mulailah untuk lebih bersabar,jangan meminta sesuatu yang memberatkan mereka, jangan sekali-kali membuat mereka bersedih karena ulah, jangan ikut dalam tindakan yang dapat mebahayakan dirimu dan orang lain. Mulai untuk lebih banyak belajar karena ketika engkau tidak lebih banyak belajar, apa bedanya engkau dengan mereka yang tidak kuliah.

Semoga hatimu tergugah, semoga engkau mulai lebih bersabar dan bersyukur atas apa yang ada, tidak meminta yang lebih karena banyak orang yang mau kuliah namun tidak mampu sedangkan engkau masih mampu kuliah meskipun dengan keadaan seperti ini.

Jogja, 12-9-2012

Selalu Kuingat

Selalu saja ada yang menarik ketika kami berdua dengan teman yang satu ini.  kebersamaan kami yang terjalin sejak 6 tahun lalu mungkin menjadi penyebab keintiman kami. Selalu saja kami dipertemukan dalam ruang dan waktu yang tidak disangka-sangka. ketika sudah tidak lagi bersama-sama di kampus sejak 2 tahun terakhir. Saat ini, kami dipertemukan lagi di Yogjakarta dalam kamar kosnya. Entah kebetulan atau memang sudah tertulis, tapi saya tidak membayangkan akan secepat ini kembali bertemu dengannya di sini, setelah dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di kota ini. Ceritanya begini, 2 bulan yang lalu, teman saya ini mengikuti tes di di salah satu kampus terbesar di kota Gudeg dan dinyatakan lulus sehingga dia harus hijrah ke kota yang kata orang-orang penuh dengan kenangan. Saya saat itu masih di kota asalku dan tak pernah terbersit dalam benakku untuk pergi melancong ke kota ini, namun cerita seakan menggoreskan sessuatu yang lain. saya kemudian juga mengikuti salah satu tes di ibu kota. beberapa minggu di sana, temanku menelpon saya untuk lanjut ke kota ini untuk sekedar jalan-jalan. kupikir bahwa kapan lagi kami bertemu, aku  kemudian mengiyakan ajakannya. sampailah saya di sini dan kembali bertemu dengannya meskipun dalam suasana yang berbeda.

Tadi malam, kami seakan mengulang kembali cerita-cerita kami di kota asal, meskipun dengan cerita yang berbeda, setelah dia selesai mengerjakan tugasnya, kami pun asyik dengan berbagai cerita masa lalu, cerita masa depan. dengan ciri khasnya yang kukenal selama ini, dia sekali-kali melontarkan guyonan menggangguiku dengan cerita masa lalu tentang seorang wanita yang tidak mungkin kuceritakan di sini. Meskipun dia sekarang sedang menggeluti pendidikannya sebagai mahasiswa S2 namun tidak ada perbedaan yang kemudian menjadi jurang ketika kami bercerita banyak hal.  Tentang kehidupan, tentang apa yang semestinya dilakukan bahkan tentang seseeorang yang kelak akan menjadi orang yang paling dekat.

Ada hal yang memang tidak pernah luntur dari guratan wajahnya, sesosok yang sangat kuat memegang apa yang dia pahami dan sangat peduli namun di lain waktu, terkadang sangat syahdu. Kuingat, kebersamaan kami saat masih duduk di bangku kuliah S1. Bahkan organisasi yang kami ikuti pun hampir sama. Kuingat pula bagaimana kegeramannya terhadap aparat, terhadap mereka yang kemudian mengenakan label coklat dan loreng. Bagaimana ketika kami bercerita, dia selalu bersemangat. 

Hal yang tak pernah lepas dari kebiasaannya ketika kami bertemu kembali adalah dia mengingatkan tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup.

Mungkin inilah yang paling kutakutkan ketika kutinggalkan hpku begitu saja. dia yang memang dari dulu kebiasaannya mengutak-atik hpku sampai membuka inboxku ternyata kembali dilakukannya, kali ini sangat parah karena ada hal yang sengaja kusimpan dan akhirnya dia tahu juga. Sudah kuduga, ketika dia tahu itu, beribu pertanyaan segera meluncur deras dari mulutnya menanyaiku lagaknya seorang detektif ulung yang sedang menanyai seorang tersangka. Namun kuyakin bahwa dia tidaklah sejahat itu. Tingkahnya memang seperti itu dan kuanggap hal yang biasa. Terpaksa saja malam itu kuceritakan semuanya, tentang kisah-kisahku yang selama ini kututup rapat-rapat, tentang sebuah kisah yang semestinya kunikmati sendiri namun tidak apalah untuk menceritakan dan membagi sedikit kisahku kepadanya.

Kami berdua sedang menjalani hidup kami masing-masing namun satu yang kuyakin bahwa dunia yang sedang kami jalani takkan mereduksi keakraban kami yang sudah terjalin selama ini karena dunia yang kami jalani hanyalah semu dan keakraban kami lebih intim dari dunia itu sendiri. Kami sedang merajut mimpi-mimpi kami yang dirangkai untuk masa depan kami, namun mimpi-mimpi tersebut takkan menggerogoti kebersamaan kami. Kami sedang dalam perjalanan ke sebuah titik pencarian yang sangat panjang nan melelahkan namun kelelahan tersebut takkan menghalangi kami untuk selalu mengingatkan. Kami sedang memacu adrenalin kami untuk mengisi hidup kami  masing-masing dengan sebuah cita-cita namun cita-cita itu takkan menghabiskan energi kami untuk saling menanyakan kabar. Kami sedang berjalan dengan jalan yang tak sama namun aku yakin bahwa arah yang kami tuju adalah sama. Kami sedang berusaha untuk mengartikan dunia namun itupun takkan menyita waktu kami untuk sekedar saling tegur sapa. 

Hidup yang sering kami diskusikan dulu adalah hidup yang sangat indah yang terhiasi dengan keadilan, hidup yang sedang kami artikan, sedang kami rangkai. Entah sampai kapan rajutan itu berhenti, apakah ketika rajutannya tersusun rapi atau bahkan baru sebagian, entahlah karena yang kami tahu adalah kami sedang berproses untuk itu, sedang meniti jalan. Kami tahu sekarang bahwa kami sedang hidup dalam dunia yang sebenarnya, dunia belantara yang kemudian setiap saat akan menenggelamkan kami ketika kami tidak awas. Kami tidak lagi hidup di dunia kampus dimana ruang kami dibatasi oleh pagar tembok yang mengungkung kami. Yah, di dunia yang sedang kami huni adalah dunianya para manusia, binatang dan semua yang sedang terdampar disini. Dunia yang mengajarkan kami sesuatu yang kelak akan membawa kami ke sudut kematian. 

Kearifan yang sering diceritakannya adalah hal yang baik selalu saja ada jalannya, hal yang baik selalu saja ada rejekinya, karena bumi ini selalu saja cukup bagi penghuninya, selama langit masih menggantung memayungi bumi selama itu pula, bumi akan selalu siap melayani para penghuninya, bahkan sampai manusia-manusia yang rakus pun masih selalu mendapatkan tempat di bumi ini. 

Kuyakin beban kami sangat berat bahkan untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri. Jalan yang kami pilih kemudian menggiring kami ke arah yang berbatu, berkelok, menanjak, curam bahkan sangat melelahkan namun jalan itu adalah jalan yang terbaik yang kemudian menghantarkan ke arah yang benar. 

Cerita yang takkan ada habisnya, kisah yang kunjung selesai karena kisah dan cerita yang sesungguhnya baru kami mulai, baru kami rangkai dalam kondisi serba terjepit dari segala arah, dari isi kepala yang sering kami cekoki dahulu dengan mimpi-mimpi manis hidup, bahkan dari realitas kehidupan itu sendiri yang ternyata sangat menakutkan dan sangat mengerikan.  Hal yang kemudian mencairkan kebekuan otak kami adalah kampung halaman dan keluarga, dimana kami bisa mengukir hidup dengan sesuka hati kami, dimana kami bisa mewarnai hidup kami, bisa menjadikan sesuatu yang kami pikirkan menjadi benar-benar ada. Namun itu tidak cukup, karena dunia bukan ruang itu saja, karena dunia punya ruang di sisi lain yang mestinya harus juga kami isi dengan berbagai kisah karena hidup terus berjalan dan kami pun harus berjalan meskipun sekali-kali berhenti sejenak menarik nafas melepas penat dan minum segelas air untuk melepas dahaga kemudian berjalan lagi dan lagi. 

Sampai jumpa di persimpangan jalan berikutnya setelah kita berjumpa di perempatan jogja. Kutunggu cerita-cerita selanjutnya. Kita harus berjalan kembali setelah sejenak melepas keletihan. Semoga cerita kita selanjutnya semakin berwarna. Karena hidup semestinya penuh warna agar tak mebosankan untuk dijalani.




Sesaat setelah begadang dan bercerita banyak dengan A di Jogjakarta saat mata kami tak jua terpejam dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. 9-9-2012

Kawan

Kawan, Engkau sedang berjalan jauh. bahkan sangat jauh dari orang-orang yang engkau cintai dan engkau sayangi. Engkau sedang berbalik arah, tepat saat engkau menggenggam sebuah kebahagiaan bersama teman hidupmu. Engkau tinggalkan mereka. Namun kutahu bahwa itu untuk mereka, buat mereka yang engkau cintai.

Kawan, Saat itu, saat engkau akan melangkahkan kakimu, Kutahu itu sangat berat buatmu, bahkan langkahmu sangat gontai, bagaimana tidak, teman hidupmu sedang memeluk buah cinta kalian. Kawan, Kuingat saat itu, engkau ceritakan kepadaku, tentang kegelisahanmu, tentang semua kegundahanmu, tentang bagaimana engkau sudah rindu saat semuanya baru akan dimulai, saat langkah pertamamu baru saja akan engkau ayun.

Kawan, Yakinlah bahwa ini hanyalah persoalan ruang dan waktu, Kalian tetap sedang dalam kebersamaan. Yakinlah bahwa kepergianmu tidak berarti engkau melupakan mereka, bahkan sebaliknya, kepergianmu adalah tanda cinta buat teman hidupmu, karena kepergianmu adalah buatnya, buat si calon juniormu yang mungkin saja sudah merasakan cinta kalian berdua. Kawan, Hidup sedang engkau jalani, hidup yang kan mengajarkan setiap orang bagaimana caranya menjalani hidup itu sendiri karena hidup datang bersama dengan ceritanya

Perjalananmu akan menemukan arahnya dan waktu sendirilah yang kan menjawab itu semua. Kepergian bukanlah berarti sebagai sebuah perpisahan tapi bermakna pertemuan yang indah yang sedang di rangkai dengan waktu.

Kawan, Terlihat jelas dalam guratan wajahmu saat kita bersama, saat kutemani engkau di tempat itu, terlihat ketulusan kasihmu buat teman hidupmu buat orang yang engkau kasihi. Kau ceritakan si juniormu yang sedang dalam kandungannya. Takkan ada yang kan menghalangi kasih kalian bahkan cerita hidup ini sekalipun. Kawan, aku berhutang ilmu padamu yang telah mengajarkanku banyak hal, tentang diriku dan tentang kehidupanku bahkan tentang semua hal yang tak pernah terpikirkan olehku Bahkan disaat engkau jauh, engkau masih sempat menyapaku.
 
kawan, kuingat lagi. tentang semua angan-angan kita, bagaimana melihat dunia yang lebih baik lagi,dunia yang berada dalam kondisi yang adil untuk setiap makhluk, namun itu tidak terjadi sekarang karena bumi sedang dalam masalah dan semoga kita bukan bagian dari masalah bumi

Kawan, dalam kondisi raga yang terpisah oleh ruang dan waktu. semoga pertemuan kelak tetap seperti dulu. saat engkau bercerita banyak tentang hidup ini. Tentang sebuah mimpi-mimpi indah. Tentang jalan berbeda yang kita pilih dari kebanyakan orang. tentang kita yang kemudian tidak bersepakat dengan keadaan dunia sekarang. tentang semua ketidakadilan yang semakin memuakkan kita

Kawan, Pada akhirnya, Hidup akan bercerita. Menjelaskan makna dari semua ini, dari apa yang sedang terjadi, dan langkahmu kan tercatat sebagai sejarah perjuanganmu buat orang yang engkau kasihi. namun pada akhirnya, seperti yang sering kita diskusikan berdua, bahwa semuanya kan menuju ke Dzat yang satu, yang abadi, Sang Ilahi karena semua yang sedang kita cintai hanyalah suplemen untuk mencapai cinta yang hakiki cinta dan rindu kepada Sang PemilikNYA

Di suatu malam tetap pukul 01.00, 11-9-2012.

October 11, 2012

Ulang Tahun Adik


Kado di ulang tahunmu yang hanya berupa tulisan tak jelas, tulisan yang kubuat saat mengingat bahwa engkau berulang tahun hari ini. Tak ada yang special dari tulisan ini, namun kupikir daripada aku tak mempersembahkan sesuatu buatmu, lebih baik kutulis saja sesuatu yang menurutku baik untukmu. Entah engkau akan membacanya atau tidak karena tulisan kado ulang tahunmu ini akan kusimpan sendiri. Buatmu adik sekaligus kawan yang sudah memasuki umur 23 th, usia yang kuanggap sangat matang dan mampu melakukan sesuatu yang menurutku bisa berdampak baik kepada keluarga atau orang lain.
Tulisan ini akan kumulai dengan quote yang engkau cantumkan di facebookmu “
 
HASRAT UNTUK BERUBAH


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal .......aku bermimpi ingin mengubah DUNIA seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku........kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.......maka cita-cita itu pun ku persempit lalu kuputuskan untuk mengubah NEGERIKU
Ketika usia masih senja, dengansemangat kuyang masih tersisa kuputuskan untuk mengubah KELUARGAKU orang-orang yang paling dekat dengan ku tetapi celakanya mereka pun tidak mau diubah, dan kini sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama yang kuubah adalah DIRIKU, maka dengan menjadikandirikuteladan. mungkin aku bisa mengubah KELUARGAKU. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi pun aku mampu memperbaiki NEGERIKU. kemudian siapa tau, aku bahkan bisa mengubah DUNIA.

Kuyakin bahwa jika seandainya engkau benar-benar ada dalam kutipan di atas, itu akan mengarahkanmu kepada sesuatu yang paling tidak membawa kebaikan bagi semua orang. Jika engkau benar-benar ada dalam tulisan itu, kuyakin pula bahwa hidupmu akan menjadi lebih terarah karena akupun yakin bahwa dalam melakukan sebuah perubahan maka yang menjadi fokus utama adalah sesuatu yang bisa kita capai dan berada dalam jangkauan kita. Bertolak dari kutipan di atas bahwa yang sangat memungkinkan dalam melakukan perubahan adalah merubah diri kita sendiri, yakinlah bahwa untuk merubah makrokosmos, maka yang pertama kali harus dirubah adalah mikrokosmos itu sendiri (diri kita).

Dalam masa ini, saat kita sudah berjauhan, saat kita sama-sama menjalani hidup kita masing-masing, saat kita sedang merangkai langkah-langkah menuju masa depan, saat semua yang kita lakukan tak lagi bersama-sama, saat aku dan kau hanya bisa berhubungan lewat alat-alat elektronik, saat kita jarang sekali bertatapan, saat semuanya itu berlangsung karena hidup memang begitulah adanya, kemudian pada akhirnya aku sadar bahwa kebersamaan bukanlah mengenai ruang dan waktu namun kebersamaan kita ada dalam hati kita masing-masing, kuharap juga bahwa semoga semua ketidakbersamaan kita hanyalah persoalan ruang dan waktu dan kita akan selalu menyapa satu sama lain meskipun hanya dalam hati.

Perjalanan masih panjang, hidup tak akan berhenti sampai disini, tak boleh juga kita menoleh kebelakang terlalu lama karena yang akan kita hadapi dan dunia yang sebenarnya ada di depan kita. Buat sesuatu yang akan mengantarkan kita ke masa depan yang lebih baik,masa depan yang dipenuhi beribu asa yang lebih baik lagi.

Apa kabarmu hari ini, saat engkau sedang memperingati hari kelahiranmu? Tak ada kado baju, tak ada kado celana, tak ada kado apapun yang akan kuberikan, hanya tulisan ini yang kan mengingatkanku suatu saat nanti bahwa saat engkau ulang tahun yang ke 23 th, aku masih mengingatnya.

Sebelumnya, akan kukenang dulu masa-masa ketika kita masih bersama di kampung dengan ayah ibu, karena engkau dan aku hanya terpaut 2 th, kuingat masa itu kita sering sekali bertengkar, mulai dari hal-hal yang sangat kecil, kadang karena makanan, kadang karena engkau disuruh ke kebun kemudian saya hanya di rumah saja atau apapun itu yang membuat kita selalu bertengkar. Pertengkaran yang di kemudian menjadi hal pengingat bagi kita berdua untuk saling merindukan.

Sepertinya aku tidak boleh terlalu lama mengenang masa yang telah lalu karena itu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang kita jadikan sebagai sejarah persaudaraan kita. Hari ini, saat ini, ruang dan waktu telah memisahkan kita, telah menjauhkan kita, bahkan pertemuan kita sangat jarang, engkau saat ini masih kuliah namun kau sudah selesai. Kutahu memang kita sering tenggelam dalam kesibukan kita masing-masing, sering terlupa untuk saling menyapa bahkan mungkin hanya melalui sms. Semua karena kita sedang menjalani dunia kita masing-masing.

Sudah seharusnya engkau  menentukan arahmu, sudah seharusnya engkau melangkah dengan penuh kepastian apa yang kan menjadi tujuanmu. Pastikan bahwa engkau mampu membedakan hal-hal yang absurditas dan apa yang benar-benar engkau perlukan, pastikan bahwa setiap langkah yang engkau ambil adalah langkah menuju kebenaran, pastikan bahwa dalam setiap gerak tanganmu, engkau takkan melukai sesuatu apapun, pastikan bahwa nafasmu adalah refleksi rendah hati. Semua yang kan menggerakkanmu adalah hal yang baik

Jangan engkau tertidur saat ini, jangan engkau memicingkan matamu terhadap apa yang ada di depanmu, cobalah untuk mengerti dunia yang sedang kita hadapi, sadarlah bahwa kita sedang berada dalam dunia yang penuh dengan absurditas, dunia  yang harusnya kita jalani dengan penuh keberanian, karena dunia sekarang adalah dunia yang penuh dengan onak berduri, tetaplah awas dalam melangkah meretas dunia ini.

Saat engkau gontai, saat begitu banyak yang engkau lihat di dunia ini, saat itulah engkau mengerti bahwa dunia ini adalah dunia penuh asa yang hampa.belajar banyaklah dari kehidupan ini, perbanyaklah untuk menutup mulutmu dan membuka lebar telinga, jangan engkau biarkan dirimu hina Karena dirimu, yakinlah bahwa dunia ini akan berjalan sesuai dengan cerita langit namun sekali lagi bahwa itu bukan berarti untuk membuatmu berhenti duduk dan melihat hidup ini.

Tetaplah melangkah dengan kaki, tetaplah memegang dengan tanganmu, tetaplah mendengar dengan kupingmu, pergunakanlah setiap apa yang engkau punya pada apa yang seharusnya, jangan sekali-kali engkau berjalan dengan tanganmu karena akan membuatmu tak mampu bergerak, tegakkan kepalamu saat menghadapi masalah dan jangan sekali-kali memalingkan badan kemudian berlari menjauhi masalah karena saat engkau lakukan itu, maka masalah akan terus mengerjarmu sampai mendapatimu di sudut kegelisahan kemudian menenggelamkanmu. Ketahuilah bahwa saat engkau hidup, saat engkau masih menarik nafas, saat itu pulalah, masalah kan selalu ada. Tidakkah engkau sadar bahwa tarikan nafasmu pun kan menjadi masalah saat itu tak tercatat sebagai ibadah, tidakkah engkau tahu bahwa keberadaanmu di dunia pun sudah menjadi masalah saat engkau tak melakukan sesuatu yang berguna.

Sekali-kali berdiam dirilah engkau, ajaklah dirimu bercakap-cakap, hilangkan egomu dan temukan semua yang ada pada dirimu, hilangkan kesedihanmu di hari kemarin dan hilangkan pula kecemasanmu terhadap hari esok yang kau kan lalui. Kesedihan dan kecemasan hanya akan mengurungmu dalam penjara kegelapan yang tak berarti apa-apa buat dirimu. Hilangkan semua itu, bahkan hilangkan pula dirimu, kemudian mulai untuk hanyut dalam ketiadaan sampai engkau tahu bahwa segalanya adalah absurd dan hanya satu yang benar-benar ada yaitu Sang Pencipta.

Hidup bukan untuk kita sendiri, hidup kita buat orang lain, buat lingkungan bahkan buat semua penghuni bumi, saat semua orang sadar itu, bumi akan merestui keberadaan kita. Jangan selalu merasa inferior, jangan selalu membuat dirimu tak bisa melakukan apa-apa, ingatlah bahwa kita harus selalu rendah hati tapi bukan merasa rendah diri. Selalu sajalah untuk bergerak, selalu saja untuk mengambil setiap pelajaran dari hidup bahkan jangan lewatkan sedetikpun waktumu tanpa mengambil pelajaran darinya. Ketahuilah bahwa pelajaran ada dimana-dimana, tercerer di setiap sudut kehidupan dan pandai-pandailah untuk mengambilnya.

Ingin kukatakan yang terakhir ini bahwa tujuan hidup adalah Allah, ketika engkau melakukan sesuatu tanpa ujung-ujungnya untuk menuju Allah, maka sesuatu yang engkau kerjakan akan sia-sia, bahkan saat menarik nafaspun harus karena Allah. Apa yang engkau lihat di dunia ini perlahan lahan akan berlari menjauhimu, semakin engkau mengejar sesuatu yang selain Allah, maka semakin engkau akan teresesat jauh dan yang engkau kejar pun semakin menjauh namun sebaliknya semakin engkau mencari jalan dan berusaha untuk mengejar keridhaan Allah maka Dia akan menjemputmu, membawamu kedalam pangkuannya.

Selamat memperingati ulang tahunmu, selamat bermain dengan kehidupan, selamat berusaha menuju ketitik kesempurnaan untuk menjemput ridha Allah


Jogjakarta, 21 oktober 2012

October 9, 2012

Penat

Penat, itulah yang mungkin tergurat di wajahku. Berjalan dan tetap berjalan dalam keriuhan segerembolan manusia manusia dengan aktivitas tak berakhir. Namun kutahu, aku bergulat dengan pikiranku sendiri. Bahkan berpikir untuk menyendiri menikmati duniaku sendiri. Lepas dari semua bayang banyang kecemasan akan masa depan yang selalu menghantuiku dalam setiap usaha yang kulakukan

Bahkan kini, Ketika matahari hampir tepat di atas kepalaku setelah seharian menempuh jalan yang meletihkan. aku masih tetap menggoreskan cerita yang hampir sama dengan hari kemarin. Tak terbayangkan memang, dalam langkah langkahku yang semakin gontai dengan peluh yang tak henti hentinya menetes dari ubun ubunku. aku bahkan masih sempat memikirkan semua itu. Semua yang mungkin saja tidak ada artinya. seringkali masih kupikir ocehan ocehan manusia yang kerap kutemuai di jalanan, di got got, di emperan sungai, di gunung gunung. pernah sekali

Kucoba untuk berhenti sejenak, meluapkan perasaan kekesalanku dan tak lagi memperdulikan mereka. namun apa, semua seakan sia sia. setelah melanjutkan perjalanan panjang mengerikan. Mereka selalu saja menggelontoriku dengan pernyataan pernyataan yang kusadari hanya akan menghancurkanku, namun itulah aku. Manusia yang masih lugu, masih tegoda dengan sesuatu yang absurd, masih terkungkung pada hal hal indrawi. Di saat kusering berkata bahwa aku hanya mau yang hakekat. namun tidak buat hatiku, masih terpenuhi oleh rongga rongga ego yang semakin hari semakin memperparah kondisiku.

Kondisi yang semakin sekarat yang hampir saja membawaku ke pinggir kuburan. Mengubur diriku meskipun bukan jasadku. Namun ketika semua itu benar benar terjadi padaku, terjadi dalam hidupku atau bahkan mungkin dalam mimpiku.

Maka, akan seperti apa diriku, aku sendiri tak mampu membayangkannya karena sangat menakutkan bahkan hanya untuk di bayangkan. meskipun begitu, kutahu bahwa perjalanan ini belum sampai disini, Bahkan permepatan jalan belum kujumpai dan persinggahan sesungguhnya masih jauh di depan. Kuputuskan untuk tetap melangkah meskipun kadang merangkaka karena kuyakin bahwa masih banyak kesempatan untuk itu, untuk meluruskan otot ototku yang dibengkokkan oleh sesuatu yang tidak perlu. Hingga mungkin, tibalah saatnya nanti kau penat, tersungkur kemudian tertidur dan tak bangkit lagi.

Jogja, 9-9-2012

June 22, 2012

Semesta Bercerita

Bianglala menampakkan wajahnya
semesta menyambutnya dengan riang
tets hujan mulai bersembunyi di pori pori bumi
binatang melata muncul menari nari
                        keriuhan penghuni bumi terdengar
                        menghantar sejuta harapan
                        berjalan mengikuti setiap alurnya
                        dan langit menyaksikan itu
semua mengalun dengan indahnya
bagai sebuah pertunjukkan orkes tunggal
berirama merdu dalam keheningan
dan tangis bayi pun jadi melodi
           semua mendendang cinta
           semua menabur asa
           dalam bingkai penuh cerita
           tak tergerus oleh getir tragedi
oh, engkau Sang Pencipta
biarkan lakon ini berjalan
dan kusaksikan semua keagunganMu
tak noda setitik
       kisah itu,
       lakon lakon tak bersuara
       namun semesta telah beercerita
       atas segala keagunganMu

March 16, 2012

Mengurai Rantai Masalah Negeri BBM


MKS,  16.3.2012 ;  10:00
Di sebuah rumah di BTP,
 2 minggu menjelang naikknya harga BBM.

 
Dua minggu terakhir sejak isu kenaikan BBM diwacanakan, lagu Iwan Fals menjadi favorit yang salah satu baitnya berbunyi “BBM naik tinggi, susu tak terbeli, anak kami kurang gizi”. Lagu tersebut diciptakan beberapa tahun lalu, namun tetap relevan dengan keadaan sekarang. Bisa dibayangkan bahwa permasalahan BBM di negeri ini tidak pernah selesai mulai dari rezim orde lama kemudian semakin memburuk pada rezim orde baru dan bahkan tetap berlanjut sampai sekarang. BBM menjadi isu yang paling hangat karena sumber daya tersebut sangat vital bagi kehidupan manusia, tidak mengherankan jika ketika harga BBM naik, maka setiap harga-harga ikut naik. Fenomena inilah ang menajdi sorotan paling tajam bagi Pemerintah sejak mewacanakan untuk menaikkan kembali harga BBM misalnya premium yang semula Rp 4.500/liter menjadi Rp. 6000/liter. Kenaikan Harga yang kelihatan sangat murah bagi kolongan menengah keatas namun tidak untuk golongan rakyat jelata.

Ada satu pernyataan yang sangat sering di lontarkan oleh presiden ketika dikonfirmasi mengenai kenaikan BBM bahwa “kebijakan menaikkan harga BBM adalah salah satu upaya dari Pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian bangsa”. Pernyataan ini tdak hanya dikeluarkan oleh bapak presiden namun juga oleh ketua umum PAN, Hatta Rajasa bahkan seperti sudah diformulasikan, pernyataan ini dilontarkan oleh semua pejabat baik yang duduk sebagai menteri maupun yang bertindak sebagai wakil rakyat yang pro terhadap kebijakan Presiden. Tidak ada satu pun yang mencoba untuk menerangkan lebih lanjut bahwa penyelamatan perekonomian seperti apa yang mereka maksud ataukah bahkan mencoba untuk mencari alternatif lain untuk menyelamatkan perekonomian bangsa tanpa harus menaikkan harga BBM karena secara umum, rakyat tahu bahwa bangsa ini kaya raya akan sumber daya minyak, kemudian hal yang tidak rasional bagi rakyat Jelata ketika sebuah bangsa yang kaya akan minyak kemudian menaikkan harga minyak setiap tahunnya dimana minyak tersebut sangat vital akan kelangsungan hajat hidup mereka.

Pertanyaan yang muncul kemudian ketika pemerintah beralasan untuk menaikkan harga BBM demi untuk menyelamatkan perekonomian bangsa adalah menyelamatkan siapa? Ketika rakyat menjerit dengan naiknya BBM, sisi perekonomian bangsa yang mana yang ingin diselamatkan oleh pemerintah? Ataukah mereka ingin menyelamatkan kepentingan mereka sendiri dan para pengusaha? Kemudian sisi itulah yang mereka sebut ingin diselamatkan karena mereka berpendapat bahwa kedua pihak tersebut juga adalah bagian bangsa. Entahlah, tetapi sampai sekarang dan bahkan sampai kapanpun, logika-logika orang cerdas tidak akan mampu diterima oleh akal sehat rakyat kecil untuk menaikkan harga BBM. 

Ketika Pemerintah asyik dengan budaya korupsi dengan jumlah yang fantastis mulai dari menggelapkan uang Rakyat 6,7 triliun sampai pada korupsi-korupsi yang jumlahnya milliaran, kemudian isu naikkan harga BBM membuat rakyat menjadi semakin jengah dengan perilaku-perilaku publik figur yang semakin tidak masuk akal. Bahkan bukan menuduh, namun ada kemungkinan bahwa dengan dicabutnya subsidi oleh pemerintah dan naikknya harga BBM tersebut, hasil dari pencabutan subsidi kemudian dialokasikan untuk menutupi kerugian Negara yang telah dikorupsi oleh pejabat Negara ataukah bahkan hasil subsidi tersebut dimasukkan dalam APBN yang kemudian menjadi dana segar bagi koruptor-koruptor yang masih dahaga untuk kembali dikorup?

Ada wacana lain yang kemudian muncul setelah naiknya harga BBM. Opsi untuk menyelamatkan Rakyat menengah kebawah adalah dengan kembali menyalurkan BLT. Dengan jumlah Rp. 150.000,- jumlah yang sangat begitu  rendah untuk menutupi kekurangan ketika nantinya harga BBM dinaikkan. Opsi BLT semakin tidak rasional karena hanya menambah masalah bagi Rakyat di negeri ini. 

Hemat saya bahwa negara tidak adil dalam memperlakukan semua pihak dalam negara, lihatlah bahwa ketika terjadi kolaps di salah satu Bank di Negeri ini yang dimiliki oleh pengusaha, apakah pemerintah berpikir beberapa kali untuk memberikan bailout dengan jumlah yang sangat besar? Kan tidak, tanpa banyak pertimbangan dari pemerintah, dana bailout dikuncurkan begitu saja kepada Bank tersebut dengan jumlah yang begitu besar yang notabene dimiliki oleh Pengusaha yang sudah sangat kaya raya. Lalu kemudian apa Pendapat Pemerintah ketika dikonfirmasi mengenai masalah tersebut? Hal yang lucu kemudian dilontarkan oleh pihak Pemerintah adalah kucuran dana Bailout tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian Bangsa ( Pernyataan Sri Mulyani, mantan menteri Perekonomian yang sangat berperan dalam kucuran dana Bailout kepada Bank Century 6,7 triliyun).  Lagi-lagi alasan yang dikeluarkan adalah untuk menyelamatkan perekonomian Bangsa. Hal yang sebenarnya membingungkan terhadap kedua masalah tersebut adalah dua masalah yang terjadi kemudian solusi yang diberikan berbeda namun alasan pemberian solusinya tetap sama. Gambaran singkatnya begini, “Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM dengan alasan untuk menyelamatkan Perekonomian Bangsa namun ternyata Rakyat menjerit, kemudian masalah yang kedua. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengucurkan dana 6,7 Trilliun untuk membailout Bank Century yang sedang bermasalah dengan alasan ingin menyelamatkan perekonomian Bangsa karena berdampak sistemik ketika dibiarkan, kemudian Pemilik Bank Century bernafas lega karena kebijakan tersebut. 

Hal yang sangat menggelikan sekaligus membingungkan, dua kebijakan yang berbeda kemudian dengan alasan yang sama namun objeknya menyikapi dengan ekspresi yang berbeda yang satunya menangis akan kebijakan tersebut (rakyat) kemudian yang lainnya tertawa (pihak Bank century). 

Permasalahan tentang naikknya BBM dan perilaku korup yang semakin menggila adalah dua dari beratus-ratus masalah di negeri ini. Nampaknya bahwa butuh kerja keras untuk lepas dari jeratan masalah yang sedang dialami negeri ini yang konon kabarnya terkenal di seantero Dunia bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam bahkan menurut dongeng yang menjamur, tongkat pun akan tumbuh ketika ditancapkan di bumi pertiwi ini. Itulah sekelumit masalah yang ada di negeri ini.  

Spekulan paling wahid George Soros (2000) “kapasitas negara untuk mengelola urusan bersama kita sesungguhnya sudah dilucuti oleh kepentingan privat kelompok-kelompok bisnis.Pernyataan tersebut sanagt menohok kepada kondisi kebangsaan negara Indonesia saat ini, negara yang seharusnya mengurusi setiap hajat hidup orang banyak ternyata berubah haluan untuk mengurusi hajat hidup sebagian orang yaitu elit-elit bangsa ini. Bahakan ada beberapa orang yang memplesetkan PANCASILA (5) “  Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia menjadi keadilan sosial bagi seluruh korporatokrasi ( Pengusaha dan Pejabat Pemerintah ) Indonesia.” Tidak salah memang, dengan berbagai fenomena yang muncul di negeri kolam susu ini, salah satu yang mungkin paling sering dijumpai adalah berkuasanya uang sebagai salah satu kekuatan yang paling besar, mulai dari akar rumput sampai pejabat teras. Budaya sogok menjamur dimana-mana, kebiasaan korup adalah hal yang biasa, bahkan mungkin di negeri ini, budaya-budaya tersebut telah dihalalkan ataukah bahkan diharuskan? Yah, diharuskan dalam artian ketika seseorang tidak melakukan korup ketika yang lainnya terlibat, maka orang yang tidak terlibat akan diasingkan, sungguh ironi dan menyedihkan.

Saya kemudian teringat kembali ketika beberapa bulan yang lalu saya menjual di sebuah counter HP di bilangan jalan Urip Sumiharjo di dekat jembatan penyeberangan. Counter tersebut berdekatan dengan pangkalan tukang becak yang sedang mangkal menunggu para penumpang, ketika mereka sedang asyik bercengkrama dan tidak tahu pasti topiknya apa, namun ditengah-tengah perdebatan, salah satu dari mereka berceloteh “ketika kita bermasalah dengan orang kaya, lebih baik mati saja.” Kalimat itu yang selalu terngiang-ngiang di benakku bahwa sampai tukang becak pun sudah sadar bahwa kekuatan uang telah merajai negeri ini, bahkan hukum di negeri ini pun sudah terkalahkan oleh uang itu sendiri.

Ketika keadaan suatu bangsa yang sudah mencapai klimaks keresahan, maka suatu hal yang menjadi sebuah solusi adalah resistensi dari setiap elemen bangsa, penderitaan yang selama ini belum mencapai klimaksnya menjadikan semua orang masih merasa baik-baik saja sehingga mereka belum tergerak untuk merubah keadaan meskipun dalam bentuk yang terkecil, namun pada dasarnya bahwa rakyat Indonesia sedang dalam penindasan yang hebat dimana aktor dibalik penindasan tersebut adalah persekongkolan korporatokrasi di Negeri ini. 

Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) sebagai konstitusi dan pedoman berjalannya Negara ini seakan dicampakkan begitu saja. Konsitusi hanya dijadikan legitimasi untuk mengelurkan kebijakan-kebjakan, bahkan hal yang paling sering dilakukan akhir-akhir ini oleh pemerintah yang sebenarnya tidak rasional dan sangat membingungkan adalah mengamandemen pasal-pasal dan ayat-ayat undang-undang. Salah satu tujuan menurut pemerintah adalah mengkondisikan negara dengan kondisi sekarang ini, namun kebijakan mengamandemen UU tersebut kelihatan seperti mengakali konstitusi untuk menyesuaikan dengan kepentingan pribadi sehingga ketika mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan pribadi, kebijiakan tersebut akan dianggap legitimate yang sebenarnya adalah untuk kepentingan pribadi.

Konstitusi yang paling sering dijadikan referensi ketika membicarakan masalah kerakyatan Indonesia adalah UUD 1945 pasal 33 ayat 3, “Bumi, Air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dimiliki oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Konstitusi yang sebenarnya sudah sangat ideal yang bisa dijadikan alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang sudah dijadikan referensi selama bertahun-tahun namun hasilnya masih sangat minim. Apa yang sebenarnya telah terjadi bagi Indonesia? Tidak ada yang salah pada tataran konsep karena sudah sangat ideal namun dalam pengaplikasian konsep-konsep tersebut, terdapat beberapa kekeliruan yang kemudian tidak sesuai lagi dengan konsep yang dijadikan rujukan, salah satunya adanya perilaku korupsi yang telah hampir-hampir sudah menjadi budaya. 

Satu hal lagi yang sedang menjamur di tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya di kalangan para Pejabat Pemerintah adalah kecanduan berdebat. Tercatat, ada dua stasiun TV yang secara reguler mengadakan acara debat dalam kemasan yang sangat rapi dimana topik-topik yang dipilih adalah yang sedang menghangat kemudian mengundang beberapa ahli, seniman, pejabat pemerintah, politisi, mahasiswa dan kalangan lain yang dianggap kapabel. Hanya satu kalangan dalam masyarakat yang tidak pernah diundang sepengetahuan saya adalah rakyat biasa (Nelayan, Petani, tukang Batu, Buruh dan profesi semacamnya yang mungkin dianggap oleh mereka sebagai profesi orang bawah). Hal yang paling menjengahkan dari perdebatan mereka adalah setelah berjam-jam berdebat tentang sebuah kasus yang terjadi, tidak ada satupun solusi yang kemudian diwacanakan, ataupun mungkin ada solusi maka solusi tersebut hanya sebatas wacana. Ataukah bahkan debat tersebut tidak lain hanya untuk meningkatkan rating dari stasiun TV tersebut? Entah. 

Hal lain yang terjadi adalah ada juga beberapa kelompok yang berdiri sebagai kelompok yang kontra sama Pemerintah, namun pada kenyataannya mereka tidak bisa berbuat banyak, bahkan tidak lepas dari kepentingan politik mereka. Pihak yang lain yang sering muncul, ada orang-orang yang dahulu menjadi aktivis pada zamannya namun kemudian mereka datang di acara debat tersebut hanyalah membangga-banggakan bahwa mereka dulu mantan tahanan politik (tapol) dan kemudian beretorika kemudian diredam juga oleh suara mayoritas.

Negeri ini seharusnya sudah mulai kembali membangun kepercayaan diri Bangsa. Setelah diobok-obok bertahun-tahun oleh krisis kepercayaan, maka sepantasnyalah untuk kemudian mencoba sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan dengan jalan mengurai satu persatu masalah kebangsaan yang telah menggurita. Bangsa ini harus bangkit untuk menemukan identitas diri yang kemudian akan menjadi pegangan menuju arah yang lebih baik. 

Ketika Jepang dikenal dengan etos kerja yang tinggi serta kedisiplinan yang kuat serta China yang dikenal dengan keuletan rakyatnya dalam bidang wiraswasta dan keseriusannya dalam membasmi budaya korupsi di negerinya, lalu Indonesia apa? apa yang harus di tunjukkan kepada Dunia bahwa Indonesia ini loh? Ataukah budaya gotong royong yang selama ini dianggap budaya asli Indonesia masih relevan untuk dijadikan tameng? Kalau iya, sudah seharusnya bangsa Indonesia kembali menggali budaya tersebut karena tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan budaya gotong royong di tengah-tengah masyarakat Indonesia sudah mulai tergerus oleh budaya asing yang dianggap paling baik dan modern. 

Namun sebelum beranjak ke solusi tersebut, bangsa ini terlebih dulu harus mampu mengurai masalah yang sedang menjerat. Tanpa mengurai masalah dan menuntaskan permasalahan yang ada, maka sangat mustahil untuk melihat bangsa ini dalam sebuah kemandirian. resistensi Rakyat sangat dibutuhkan untuk menjadi kontrol bagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Lembaga resmi yang notabene disebut sebagai perwakilan rakyat yang diharapkan berfungsi untuk mewakili kepentingan-kepentingan rakyat ternyata hanya mewakili diri mereka sendiri. Ada sebuah anekdot yang menyatakan bahwa “anggota Dewan adalah perwakilan dari semua Rakyat maka sepantasnyalah kalau mereka sejahtera karena mereka mewakili begitu banyak kesejahteraan Rakyat.”

Inilah kenyataan Bangsa Indonesia. Bangsa yang didirikan dengan begitu banyak pengorbanan dan perjuangan yang begitu hebat dari pejuang-pejuang dahulu ternyata tidak mampu menemukan jati dirinya yang bisa dibanggakan. Ketika negara-negara lain dengan bangganya menunjukkan identitas bangsanya terhadap dunia, bangsa Indonesia masih terseok-seok dengan permasalahan internal yang semakin memburuk. Namun saya yakin bahwa momentum kebangkitan itu segera akan datang, ketika semua permasalahan sampai pada klimaksnya dan kejengahan massa rakyat sudah sampai pada ubun-ubun terhadap tingkah pongah sebagian besar pejabat pemerintah, maka dengan sendirinya rakyat akan berusaha untuk membebaskan diri mereka dengan cara-cara mereka sendiri dan akan mengabaikan semua peraturan-peraturan yang merupakan rekayasa dari Pemerintah untuk membungkam mulut rakyatnya.