Selalu saja ada yang menarik ketika kami berdua dengan teman yang satu ini. kebersamaan kami yang terjalin
sejak 6 tahun lalu mungkin menjadi penyebab keintiman kami. Selalu saja kami
dipertemukan dalam ruang dan waktu yang tidak disangka-sangka. ketika sudah
tidak lagi bersama-sama di kampus sejak 2 tahun terakhir. Saat ini, kami
dipertemukan lagi di Yogjakarta dalam kamar kosnya. Entah kebetulan atau
memang sudah tertulis, tapi saya tidak membayangkan akan secepat ini kembali
bertemu dengannya di sini, setelah dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya
di kota ini. Ceritanya begini, 2 bulan yang lalu, teman saya ini mengikuti tes di di salah satu kampus terbesar di kota Gudeg dan
dinyatakan lulus sehingga dia harus hijrah ke kota yang kata orang-orang penuh dengan kenangan. Saya
saat itu masih di kota asalku dan tak pernah terbersit dalam benakku untuk pergi
melancong ke kota ini, namun cerita seakan menggoreskan sessuatu yang lain. saya
kemudian juga mengikuti salah satu tes di ibu kota. beberapa minggu di sana, temanku menelpon
saya untuk lanjut ke kota ini untuk sekedar jalan-jalan. kupikir bahwa kapan lagi kami bertemu, aku kemudian mengiyakan ajakannya. sampailah saya
di sini dan kembali bertemu dengannya meskipun dalam suasana yang berbeda.
Tadi malam, kami seakan mengulang kembali cerita-cerita
kami di kota asal, meskipun dengan cerita yang berbeda, setelah dia selesai mengerjakan tugasnya, kami pun asyik dengan berbagai cerita masa lalu,
cerita masa depan. dengan ciri khasnya yang kukenal selama ini, dia sekali-kali
melontarkan guyonan menggangguiku dengan cerita masa lalu tentang seorang
wanita yang tidak mungkin kuceritakan di sini. Meskipun dia sekarang sedang
menggeluti pendidikannya sebagai mahasiswa S2 namun tidak ada perbedaan yang
kemudian menjadi jurang ketika kami bercerita banyak hal. Tentang kehidupan, tentang apa yang
semestinya dilakukan bahkan tentang seseeorang yang kelak akan menjadi orang
yang paling dekat.
Ada hal yang memang tidak pernah luntur dari guratan
wajahnya, sesosok yang sangat kuat memegang apa yang dia pahami
dan sangat peduli namun di lain waktu, terkadang sangat syahdu. Kuingat,
kebersamaan kami saat masih duduk di bangku kuliah S1. Bahkan organisasi yang
kami ikuti pun hampir sama. Kuingat pula bagaimana kegeramannya terhadap
aparat, terhadap mereka yang kemudian mengenakan label coklat dan loreng.
Bagaimana ketika kami bercerita, dia selalu bersemangat.
Hal yang tak pernah lepas dari kebiasaannya ketika kami
bertemu kembali adalah dia mengingatkan tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan
hidup.
Mungkin inilah yang paling kutakutkan ketika
kutinggalkan hpku begitu saja. dia yang memang dari dulu kebiasaannya
mengutak-atik hpku sampai membuka inboxku ternyata kembali dilakukannya, kali
ini sangat parah karena ada hal yang sengaja kusimpan dan akhirnya dia tahu
juga. Sudah kuduga, ketika dia tahu itu, beribu pertanyaan segera meluncur
deras dari mulutnya menanyaiku lagaknya seorang detektif ulung yang sedang
menanyai seorang tersangka. Namun kuyakin bahwa dia tidaklah sejahat itu.
Tingkahnya memang seperti itu dan kuanggap hal yang biasa. Terpaksa saja malam
itu kuceritakan semuanya, tentang kisah-kisahku yang selama ini kututup
rapat-rapat, tentang sebuah kisah yang semestinya kunikmati sendiri namun tidak
apalah untuk menceritakan dan membagi sedikit kisahku kepadanya.
Kami berdua sedang menjalani hidup kami masing-masing
namun satu yang kuyakin bahwa dunia yang sedang kami jalani takkan mereduksi
keakraban kami yang sudah terjalin selama ini karena dunia yang kami jalani
hanyalah semu dan keakraban kami lebih intim dari dunia itu sendiri. Kami
sedang merajut mimpi-mimpi kami yang dirangkai untuk masa depan kami, namun
mimpi-mimpi tersebut takkan menggerogoti kebersamaan kami. Kami sedang dalam
perjalanan ke sebuah titik pencarian yang sangat panjang nan melelahkan namun
kelelahan tersebut takkan menghalangi kami untuk selalu mengingatkan. Kami
sedang memacu adrenalin kami untuk mengisi hidup kami masing-masing dengan sebuah cita-cita namun
cita-cita itu takkan menghabiskan energi kami untuk saling menanyakan kabar. Kami
sedang berjalan dengan jalan yang tak sama namun aku yakin bahwa arah yang kami
tuju adalah sama. Kami sedang berusaha untuk mengartikan dunia namun itupun
takkan menyita waktu kami untuk sekedar saling tegur sapa.
Hidup yang sering kami diskusikan dulu adalah hidup yang
sangat indah yang terhiasi dengan keadilan, hidup yang sedang kami artikan,
sedang kami rangkai. Entah sampai kapan rajutan itu berhenti, apakah ketika
rajutannya tersusun rapi atau bahkan baru sebagian, entahlah karena yang kami
tahu adalah kami sedang berproses untuk itu, sedang meniti jalan. Kami tahu
sekarang bahwa kami sedang hidup dalam dunia yang sebenarnya, dunia belantara
yang kemudian setiap saat akan menenggelamkan kami ketika kami tidak awas. Kami
tidak lagi hidup di dunia kampus dimana ruang kami dibatasi oleh pagar tembok
yang mengungkung kami. Yah, di dunia yang sedang kami huni adalah dunianya para
manusia, binatang dan semua yang sedang terdampar disini. Dunia yang
mengajarkan kami sesuatu yang kelak akan membawa kami ke sudut kematian.
Kearifan yang sering diceritakannya adalah hal yang
baik selalu saja ada jalannya, hal yang baik selalu saja ada rejekinya, karena bumi ini selalu saja cukup bagi penghuninya, selama langit masih menggantung
memayungi bumi selama itu pula, bumi akan selalu siap melayani para
penghuninya, bahkan sampai manusia-manusia yang rakus pun masih selalu
mendapatkan tempat di bumi ini.
Kuyakin beban kami sangat berat bahkan untuk
mempertanggungjawabkan diri sendiri. Jalan yang kami pilih kemudian menggiring kami
ke arah yang berbatu, berkelok, menanjak, curam bahkan sangat melelahkan namun
jalan itu adalah jalan yang terbaik yang kemudian menghantarkan ke arah yang
benar.
Cerita yang takkan ada habisnya, kisah yang kunjung
selesai karena kisah dan cerita yang sesungguhnya baru kami mulai, baru kami rangkai
dalam kondisi serba terjepit dari segala arah, dari isi kepala yang sering kami
cekoki dahulu dengan mimpi-mimpi manis hidup, bahkan dari realitas kehidupan
itu sendiri yang ternyata sangat menakutkan dan sangat mengerikan. Hal yang kemudian mencairkan kebekuan otak
kami adalah kampung halaman dan keluarga, dimana kami bisa mengukir hidup
dengan sesuka hati kami, dimana kami bisa mewarnai hidup kami, bisa menjadikan
sesuatu yang kami pikirkan menjadi benar-benar ada. Namun itu tidak cukup,
karena dunia bukan ruang itu saja, karena dunia punya ruang di sisi lain yang
mestinya harus juga kami isi dengan berbagai kisah karena hidup terus berjalan
dan kami pun harus berjalan meskipun sekali-kali berhenti sejenak menarik nafas
melepas penat dan minum segelas air untuk melepas dahaga kemudian berjalan lagi
dan lagi.
Sampai jumpa di persimpangan jalan berikutnya
setelah kita berjumpa di perempatan jogja. Kutunggu cerita-cerita selanjutnya. Kita
harus berjalan kembali setelah sejenak melepas keletihan. Semoga cerita kita
selanjutnya semakin berwarna. Karena hidup semestinya penuh warna agar tak
mebosankan untuk dijalani.
Sesaat setelah begadang dan bercerita banyak dengan A di Jogjakarta saat mata kami tak jua terpejam dan waktu sudah
menunjukkan pukul 01.00. 9-9-2012
No comments:
Post a Comment