October 12, 2012

Selalu Kuingat

Selalu saja ada yang menarik ketika kami berdua dengan teman yang satu ini.  kebersamaan kami yang terjalin sejak 6 tahun lalu mungkin menjadi penyebab keintiman kami. Selalu saja kami dipertemukan dalam ruang dan waktu yang tidak disangka-sangka. ketika sudah tidak lagi bersama-sama di kampus sejak 2 tahun terakhir. Saat ini, kami dipertemukan lagi di Yogjakarta dalam kamar kosnya. Entah kebetulan atau memang sudah tertulis, tapi saya tidak membayangkan akan secepat ini kembali bertemu dengannya di sini, setelah dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di kota ini. Ceritanya begini, 2 bulan yang lalu, teman saya ini mengikuti tes di di salah satu kampus terbesar di kota Gudeg dan dinyatakan lulus sehingga dia harus hijrah ke kota yang kata orang-orang penuh dengan kenangan. Saya saat itu masih di kota asalku dan tak pernah terbersit dalam benakku untuk pergi melancong ke kota ini, namun cerita seakan menggoreskan sessuatu yang lain. saya kemudian juga mengikuti salah satu tes di ibu kota. beberapa minggu di sana, temanku menelpon saya untuk lanjut ke kota ini untuk sekedar jalan-jalan. kupikir bahwa kapan lagi kami bertemu, aku  kemudian mengiyakan ajakannya. sampailah saya di sini dan kembali bertemu dengannya meskipun dalam suasana yang berbeda.

Tadi malam, kami seakan mengulang kembali cerita-cerita kami di kota asal, meskipun dengan cerita yang berbeda, setelah dia selesai mengerjakan tugasnya, kami pun asyik dengan berbagai cerita masa lalu, cerita masa depan. dengan ciri khasnya yang kukenal selama ini, dia sekali-kali melontarkan guyonan menggangguiku dengan cerita masa lalu tentang seorang wanita yang tidak mungkin kuceritakan di sini. Meskipun dia sekarang sedang menggeluti pendidikannya sebagai mahasiswa S2 namun tidak ada perbedaan yang kemudian menjadi jurang ketika kami bercerita banyak hal.  Tentang kehidupan, tentang apa yang semestinya dilakukan bahkan tentang seseeorang yang kelak akan menjadi orang yang paling dekat.

Ada hal yang memang tidak pernah luntur dari guratan wajahnya, sesosok yang sangat kuat memegang apa yang dia pahami dan sangat peduli namun di lain waktu, terkadang sangat syahdu. Kuingat, kebersamaan kami saat masih duduk di bangku kuliah S1. Bahkan organisasi yang kami ikuti pun hampir sama. Kuingat pula bagaimana kegeramannya terhadap aparat, terhadap mereka yang kemudian mengenakan label coklat dan loreng. Bagaimana ketika kami bercerita, dia selalu bersemangat. 

Hal yang tak pernah lepas dari kebiasaannya ketika kami bertemu kembali adalah dia mengingatkan tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup.

Mungkin inilah yang paling kutakutkan ketika kutinggalkan hpku begitu saja. dia yang memang dari dulu kebiasaannya mengutak-atik hpku sampai membuka inboxku ternyata kembali dilakukannya, kali ini sangat parah karena ada hal yang sengaja kusimpan dan akhirnya dia tahu juga. Sudah kuduga, ketika dia tahu itu, beribu pertanyaan segera meluncur deras dari mulutnya menanyaiku lagaknya seorang detektif ulung yang sedang menanyai seorang tersangka. Namun kuyakin bahwa dia tidaklah sejahat itu. Tingkahnya memang seperti itu dan kuanggap hal yang biasa. Terpaksa saja malam itu kuceritakan semuanya, tentang kisah-kisahku yang selama ini kututup rapat-rapat, tentang sebuah kisah yang semestinya kunikmati sendiri namun tidak apalah untuk menceritakan dan membagi sedikit kisahku kepadanya.

Kami berdua sedang menjalani hidup kami masing-masing namun satu yang kuyakin bahwa dunia yang sedang kami jalani takkan mereduksi keakraban kami yang sudah terjalin selama ini karena dunia yang kami jalani hanyalah semu dan keakraban kami lebih intim dari dunia itu sendiri. Kami sedang merajut mimpi-mimpi kami yang dirangkai untuk masa depan kami, namun mimpi-mimpi tersebut takkan menggerogoti kebersamaan kami. Kami sedang dalam perjalanan ke sebuah titik pencarian yang sangat panjang nan melelahkan namun kelelahan tersebut takkan menghalangi kami untuk selalu mengingatkan. Kami sedang memacu adrenalin kami untuk mengisi hidup kami  masing-masing dengan sebuah cita-cita namun cita-cita itu takkan menghabiskan energi kami untuk saling menanyakan kabar. Kami sedang berjalan dengan jalan yang tak sama namun aku yakin bahwa arah yang kami tuju adalah sama. Kami sedang berusaha untuk mengartikan dunia namun itupun takkan menyita waktu kami untuk sekedar saling tegur sapa. 

Hidup yang sering kami diskusikan dulu adalah hidup yang sangat indah yang terhiasi dengan keadilan, hidup yang sedang kami artikan, sedang kami rangkai. Entah sampai kapan rajutan itu berhenti, apakah ketika rajutannya tersusun rapi atau bahkan baru sebagian, entahlah karena yang kami tahu adalah kami sedang berproses untuk itu, sedang meniti jalan. Kami tahu sekarang bahwa kami sedang hidup dalam dunia yang sebenarnya, dunia belantara yang kemudian setiap saat akan menenggelamkan kami ketika kami tidak awas. Kami tidak lagi hidup di dunia kampus dimana ruang kami dibatasi oleh pagar tembok yang mengungkung kami. Yah, di dunia yang sedang kami huni adalah dunianya para manusia, binatang dan semua yang sedang terdampar disini. Dunia yang mengajarkan kami sesuatu yang kelak akan membawa kami ke sudut kematian. 

Kearifan yang sering diceritakannya adalah hal yang baik selalu saja ada jalannya, hal yang baik selalu saja ada rejekinya, karena bumi ini selalu saja cukup bagi penghuninya, selama langit masih menggantung memayungi bumi selama itu pula, bumi akan selalu siap melayani para penghuninya, bahkan sampai manusia-manusia yang rakus pun masih selalu mendapatkan tempat di bumi ini. 

Kuyakin beban kami sangat berat bahkan untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri. Jalan yang kami pilih kemudian menggiring kami ke arah yang berbatu, berkelok, menanjak, curam bahkan sangat melelahkan namun jalan itu adalah jalan yang terbaik yang kemudian menghantarkan ke arah yang benar. 

Cerita yang takkan ada habisnya, kisah yang kunjung selesai karena kisah dan cerita yang sesungguhnya baru kami mulai, baru kami rangkai dalam kondisi serba terjepit dari segala arah, dari isi kepala yang sering kami cekoki dahulu dengan mimpi-mimpi manis hidup, bahkan dari realitas kehidupan itu sendiri yang ternyata sangat menakutkan dan sangat mengerikan.  Hal yang kemudian mencairkan kebekuan otak kami adalah kampung halaman dan keluarga, dimana kami bisa mengukir hidup dengan sesuka hati kami, dimana kami bisa mewarnai hidup kami, bisa menjadikan sesuatu yang kami pikirkan menjadi benar-benar ada. Namun itu tidak cukup, karena dunia bukan ruang itu saja, karena dunia punya ruang di sisi lain yang mestinya harus juga kami isi dengan berbagai kisah karena hidup terus berjalan dan kami pun harus berjalan meskipun sekali-kali berhenti sejenak menarik nafas melepas penat dan minum segelas air untuk melepas dahaga kemudian berjalan lagi dan lagi. 

Sampai jumpa di persimpangan jalan berikutnya setelah kita berjumpa di perempatan jogja. Kutunggu cerita-cerita selanjutnya. Kita harus berjalan kembali setelah sejenak melepas keletihan. Semoga cerita kita selanjutnya semakin berwarna. Karena hidup semestinya penuh warna agar tak mebosankan untuk dijalani.




Sesaat setelah begadang dan bercerita banyak dengan A di Jogjakarta saat mata kami tak jua terpejam dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. 9-9-2012

No comments: