Kunikmati
tetesan air hujan yang semakin deras disebuah rumah yang tergolong mewah di
kota ini. Dengan halaman yang sangat luas bahkan hampir seluas dengan satu
lapangan sepakbola membuatku sesuka hati untuk memandang lurus kedepan. 4 mobil
dengan mereka terkenal terparkir rapi di garasi sebelah kiri yang luasnya
setengah dari halaman rumah ini. Seorang perempuan paruh baya dengan muka yang
sangat manis sedang menggendong anak kecil berdiri di belakangku. Sambil ikut
menatap hujan yang membuat si anak kecil menangis. Pemilik semua itu adalah
aku.
Semua yang dulu kuanggap sekan utopis sekarang mampu kurengkuh semuanya.
Tak terbayangkan memang, apapun yang kuamu sekarang mampu kubeli dengan uang
yang aku punya, namun itu semua ternyata tidak cukup, ada ruang hampa dalam
jiwaku yang selalu menghantuiku mengikuti setiap jejak langkahku sedangkan
dulu, sudah sangat lama, saat aku belum memiliki ini semua, kuyakin bahwa
dengan menjadi seperti sekarang, aku akan bahagia, namun tidak, ini semua
menggiringku dalam kondisi mengerikan sebagai manusia yang hanya terkungkung
dalam baying-bayang kecemasan, kecemasan ditinggal isteri yang cantik,
kecemasan kehilangan semua harta benda.
Pikiranku
kembali menyusuri masa kecilku di sebuah desa kecil diujung pulau ini. Masa kecil
yang penuh kepolosan dan ketidaktahuan akan massa depan. Seakan tidak memperdulikan apa itu masa depan dimana
hidupku saat itu adalah bermain namun kebahagian sangat kunikmati saat itu. Kuingat
saat pulang sekolah di samping rumahku, sekolah yang tergolong sangat sederhana
dan kadang-kadang memprihatinkan karena dinding terbuat dari papan yang sudah
lapuk sedangkan atapnya terbuat dari atap ijuk yang sangat mudh dijumpai di
kampungku saat itu.
Jangan ditanya tentang buku, sangat susah untuk menjumpai buku-buku
di perpustakaan yang ada adalah buku tua yang sudah lapuk dimakan tikus dan
rayap. Sesaat sepulang sekolah, aku cuma mampir di rumah mengganti pakaian
seragam sekolahku yang sudah kusam, terkadang ketika malas pulang, aku langsung
menemui teman-temanku untuk bermain. Permainan apa saja yang kami lakoni pasti
mengasyikkan.
Sore
hari saat kembali pulang ke umah dengan baju berlumuran lumpur, kulit gelap
teerbakar matahari, ibuku sudah membuatkan segelas susu dengan pisang goreng
yang semakin membuatku sangat menikmati masa kecilku.
Desa
kecil yang terdapat dilereng gunung ujung pulau ini, menjadi saksi bisu
kebahagiaanku
saat bocah, tak ada fasilitas desa yang terlalu mewah bahkan di rumahku pun
tak ada tv yang seringkali membuat orang memimpikan hal yang tak ada,
memimpikan hal-hal utopis. Semuanya
berjalan seakan normal tanpa banyak permintaanku, tanpa ada cita-citaku menjadi
konglomerat, menjadi orang-orang yang bermukim di kota dan tenggelam
dalam kesibukan yang super duper sehingga terkadang hak mereka untuk bahagia
terlupakan dan mengeksploitasi diri mereka sendiri.
Namun
semuanya seakan berubah saat aku beranjak remaja dan menginjakkan kaki di SMA.
Perubahan di desaku semakin pesat, sebagian orang menganggapnya sebagai sebuah
kemajuan zaman namun menurutku bahwa banyak hal yang mengerikan yang berubah.
Anak-anak tak lagi bermain riang di setiap sudut lapangan karena waktu mereka
dihabiskan dengan bermain permainan model canggih, bermain-main dengan alat
elektronik.dunia anak-anak semakin direnggut oleh tv yang menawarkan berbagai
macam mimpi-mimpi yang melenakan. Tak ada lagi anak-anak yang kemudian bermain
lumpur di lapangan, tak ada lagi anak-anak yang tertawa riang saat bermain
layangan, bahkan dunia mereka tenggelam dalam kotak kaca yang menawarkan mimpi.
Dunia yang sebenarnya mereka jalani digeregoti dunia semu dalam tv.
Aku
tak bisa lagi membayangkan saat keadaan di desaku semakin sulit, berbagai macam
barang kebutuhan melonjak naik harganya bahkan sampai harga teempe pun
ikut-ikutan naik. Mau tidak mau, keadaan itu mengkontruksi pikiranku bahwa
kebahagian adalah bagaimana memperoleh banyak uang kemudian membeli apa yang
bisa dibeli. Sejak SMA, aku semain giat belajar namun tujuannya bukan supaya
mendapat ilmu namun tidak lebih supaya aku bisa sekolah tinggi.
Perjanalan waktu menggiringku sampai sekarang ini,
menggiringku pada kehidupan kelas atas yang semuanya harus diukur dengan uang,
kehidupan yang seringkali dipertontonkan oleh layar kaca saat aku masih kecil.
Kehidupan yang akhirnya berada dalam dekapanku, dalam rangkulanku, wanita yang
sangat kuidam-idamkan semasa aku kuliah pun sekarang menjadi isteriku, namun
apa yang terjadi keadaan seperti ini yang dulunya kuanggap akan membawa aku ke
puncak kebahagiaan ternyata malah menggiringku ke sudut jurang kehampaan. Tak
ada kebahagiaan yang abadi yang kurasakan saat ini, bahkan kesetiaanku terhadap
isteriku mulai terusik dengan kehadiran wanita lain. Itulah yang terjadi
sekarang pada kondisiku sekarang ini.
Setiap malam, aku tak bisa memejamkan mata sekalipun,
banyang-bayang akan perusahaanku selalu menghantui, tentang bagaimana caranya
mengembangkan lagi menjadi lebih besar, tentang kekhawatiranku tentang
kebangkrutanku, tentang kekhawatiranku akan dikhianati oleh kolega-kolegaku,
tentang mobil yang terparkir di bawah rumah jangan sampai dibobol maling.
Jogja-sby, akhir oktober 2012
No comments:
Post a Comment