December 6, 2012

Sudut Kematian

Kunikmati tetesan air hujan yang semakin deras disebuah rumah yang tergolong mewah di kota ini. Dengan halaman yang sangat luas bahkan hampir seluas dengan satu lapangan sepakbola membuatku sesuka hati untuk memandang lurus kedepan. 4 mobil dengan mereka terkenal terparkir rapi di garasi sebelah kiri yang luasnya setengah dari halaman rumah ini. Seorang perempuan paruh baya dengan muka yang sangat manis sedang menggendong anak kecil berdiri di belakangku. Sambil ikut menatap hujan yang membuat si anak kecil menangis. Pemilik semua itu adalah aku. 

Semua yang dulu kuanggap sekan utopis sekarang mampu kurengkuh semuanya. Tak terbayangkan memang, apapun yang kuamu sekarang mampu kubeli dengan uang yang aku punya, namun itu semua ternyata tidak cukup, ada ruang hampa dalam jiwaku yang selalu menghantuiku mengikuti setiap jejak langkahku sedangkan dulu, sudah sangat lama, saat aku belum memiliki ini semua, kuyakin bahwa dengan menjadi seperti sekarang, aku akan bahagia, namun tidak, ini semua menggiringku dalam kondisi mengerikan sebagai manusia yang hanya terkungkung dalam baying-bayang kecemasan, kecemasan ditinggal isteri yang cantik, kecemasan kehilangan semua harta benda.

Pikiranku kembali menyusuri masa kecilku di sebuah desa kecil diujung pulau ini. Masa kecil yang penuh kepolosan dan ketidaktahuan akan massa depan. Seakan tidak memperdulikan apa itu masa depan dimana hidupku saat itu adalah bermain namun kebahagian sangat kunikmati saat itu. Kuingat saat pulang sekolah di samping rumahku, sekolah yang tergolong sangat sederhana dan kadang-kadang memprihatinkan karena dinding terbuat dari papan yang sudah lapuk sedangkan atapnya terbuat dari atap ijuk yang sangat mudh dijumpai di kampungku saat itu. 

Jangan ditanya tentang buku, sangat susah untuk menjumpai buku-buku di perpustakaan yang ada adalah buku tua yang sudah lapuk dimakan tikus dan rayap. Sesaat sepulang sekolah, aku cuma mampir di rumah mengganti pakaian seragam sekolahku yang sudah kusam, terkadang ketika malas pulang, aku langsung menemui teman-temanku untuk bermain. Permainan apa saja yang kami lakoni pasti mengasyikkan.

Sore hari saat kembali pulang ke umah dengan baju berlumuran lumpur, kulit gelap teerbakar matahari, ibuku sudah membuatkan segelas susu dengan pisang goreng yang semakin membuatku sangat menikmati masa kecilku. 

Desa kecil yang terdapat dilereng gunung ujung pulau ini, menjadi saksi bisu kebahagiaanku saat bocah, tak ada fasilitas desa yang terlalu mewah bahkan di rumahku pun tak ada tv yang seringkali membuat orang memimpikan hal yang tak ada, memimpikan hal-hal utopis.  Semuanya berjalan seakan normal tanpa banyak permintaanku, tanpa ada cita-citaku menjadi konglomerat, menjadi orang-orang yang bermukim di kota dan tenggelam dalam kesibukan yang super duper sehingga terkadang hak mereka untuk bahagia terlupakan dan mengeksploitasi diri mereka sendiri.

Namun semuanya seakan berubah saat aku beranjak remaja dan menginjakkan kaki di SMA. Perubahan di desaku semakin pesat, sebagian orang menganggapnya sebagai sebuah kemajuan zaman namun menurutku bahwa banyak hal yang mengerikan yang berubah. Anak-anak tak lagi bermain riang di setiap sudut lapangan karena waktu mereka dihabiskan dengan bermain permainan model canggih, bermain-main dengan alat elektronik.dunia anak-anak semakin direnggut oleh tv yang menawarkan berbagai macam mimpi-mimpi yang melenakan. Tak ada lagi anak-anak yang kemudian bermain lumpur di lapangan, tak ada lagi anak-anak yang tertawa riang saat bermain layangan, bahkan dunia mereka tenggelam dalam kotak kaca yang menawarkan mimpi. Dunia yang sebenarnya mereka jalani digeregoti dunia semu dalam tv. 

Aku tak bisa lagi membayangkan saat keadaan di desaku semakin sulit, berbagai macam barang kebutuhan melonjak naik harganya bahkan sampai harga teempe pun ikut-ikutan naik. Mau tidak mau, keadaan itu mengkontruksi pikiranku bahwa kebahagian adalah bagaimana memperoleh banyak uang kemudian membeli apa yang bisa dibeli. Sejak SMA, aku semain giat belajar namun tujuannya bukan supaya mendapat ilmu namun tidak lebih supaya aku bisa sekolah tinggi.

Perjanalan waktu menggiringku sampai sekarang ini, menggiringku pada kehidupan kelas atas yang semuanya harus diukur dengan uang, kehidupan yang seringkali dipertontonkan oleh layar kaca saat aku masih kecil. Kehidupan yang akhirnya berada dalam dekapanku, dalam rangkulanku, wanita yang sangat kuidam-idamkan semasa aku kuliah pun sekarang menjadi isteriku, namun apa yang terjadi keadaan seperti ini yang dulunya kuanggap akan membawa aku ke puncak kebahagiaan ternyata malah menggiringku ke sudut jurang kehampaan. Tak ada kebahagiaan yang abadi yang kurasakan saat ini, bahkan kesetiaanku terhadap isteriku mulai terusik dengan kehadiran wanita lain. Itulah yang terjadi sekarang pada kondisiku sekarang ini.

Setiap malam, aku tak bisa memejamkan mata sekalipun, banyang-bayang akan perusahaanku selalu menghantui, tentang bagaimana caranya mengembangkan lagi menjadi lebih besar, tentang kekhawatiranku tentang kebangkrutanku, tentang kekhawatiranku akan dikhianati oleh kolega-kolegaku, tentang mobil yang terparkir di bawah rumah jangan sampai dibobol maling.

Jogja-sby, akhir oktober 2012

No comments: