Engkau yang
sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, pengharapan sedang
dipikulkun buatmu, begitu banyak orang yang berharap padamu, berharap akan engkau
bisa memenuhi hari-hari depanmu yang cemerlang karena sebenarnya
pengharapan-pengharapan mereka tidak lain adalah untuk dirimu sendiri. Engkau yang
sedang memasuki masa remaja, masa dimana darah muda sedang bergejolak, mencari
jati diri, penuh aktualisasi yang tinggi bahkan semua dilakukan untuk
memperlihatkan prestise
Tak salah aku
mengingatkanmu beberapa hal, karena akupun dulu pernah melalui hal yang sama
yang sedang engkau jalani, masa kuliah, masa penuh dinamika bahkan sering kali
dijalani dengan penuh emosi tanpa pertimbangan yang pasti. Kau yang sekarang
menjalani masa studimu di sebuah kampus di Makassar. Aku tak meragukanmu dan
tak ingin mengekangmu namun keadaan harus membuatku untuk mengingatkanmu
beberapa hal. Dunia kampus adalah dunia semu, hanyalah persinggahan untuk
merangkai asa dan kerja menuju dunia yang sebenarnya, ego manusia-manusia di
kampus sangatlah tinggi dan inilah inti yang ingin kusampaikan kepadamu
Kabar sampai
di telingaku, bahwa manusia-manusia di kampus semakin tak terkendali, mereka
seakan tak mempertimbangkan moral ketika melakukan sesuatu bahkan harus
merengggut nyawa orang lain, itu tidak lain karena keakuan yang amat sangat
tinggi. Ketika tawuran terjadi, hakekatnya bahwa tidak ada yang benar, hanya
karena persoalan arogansi saja. Bayangkan, ketika itu terjadi untuk merusak,
apa akibat yang akan engkau usung? Saat engkau melempar dan temanmu dari
fakultas lain pun melempar kea rah kalian, apa bedanya kalian dengan mereka
kalau situasinya seperti itu? Dimana letak nilainya? Dan sesungguhnya ketika
kita melakukan sesuatu tanpa ada nilainya maka itu adalah sebuah hal yang
absurditas.
Dik,,,
Bayangkan
temanmu yang harus merenggut nyawa saat itu, apa yang akan terjadi, akan banyak
orang-orang di belakangnya yang kemudian akn merasa kehilangan. Kemudian setelah
merefleksi kembali, apa sebenarnya yang akan dicari dalam sebuah tindakan yang
bar-bar seperti itu. Hanya karena ingin dikatakan jago, atau hanya karena ingin
dikatakan pemberani bahkan ingin dikatakan punya solidaritas tinggi terhadap
teman. Itu hal yang sangat menggelikan, mungkin adanya benarnya tetapi tempatnya bukan disitu, bukan dalam perkara
tindakan bar-bar. Banyak sekali cara lain yang bisa ditempuh untuk menyalurkan
hasrat diatas tanpa harus ikut-ikutan dalam tindakan bar-bar yang merugikan
orang lain.
Biarkan orang
bicara apa tentangmu, mulai saat ini, tetapkan tujuanmu untuk merangkai asa
masa depanmu, pikirkan harapan-harapan orang tua di kampung yang senantiasa
sibuk mendoakan dan menyokongmu untuk menggapai masa depanmu.
Saat engkau
akan melakukan hal yang salah, bayangkan kembali wajah ibu yang dengan susah
payah menjual aneka adonan kue di pasar. Yang kesemua hasilnya akan dikirimkan
buatmu. Bayangkan ketika dengan susahnya ibu membuat aneka kue kemudian
menjajakannya di pasar namun tak ada yang laku, apa engkau tak punya lagi rasa
kasihan membayangkan itu semua. Kuyakin bahwa itu semua akan terbalas ketika
engkau mendengarkan nasehat-nasehatnya dan kemudian belajar dengan baik-baik.
Bayangkan ketika
bapak setiap subuh berangkat ke kebun untuk mencari sedikit rezeki, tak
dihiraukannya panas, hujan bahkan apapun yang menghalanginya, dia tetap
melakukannya dengan pengharapan mendapat sedikit uang untuk di bayarkan uang
sppmu. Bayangkan itu semua.
Ketika engkau
di kota hanya main-main, ikut-ikutan dalam tindakan yang tak berguna buat masa
depanmu, bahkan ketika nasehat-nasehatnya tak lagi engkau hiraukan, apa lagi
yang sebenarnya engkau pikirkan dan apa pula sebenarnya yang menjadi tujuanmu
kuliah? Mungkin saja tetesan air mata ibu di tengah malam terus bercucuran saat
engkau tak mau dinasehati, apakah engkau ingin seperti itu. Mana janjimu yang
ingin membahagiakan kedua orang tua? Apakah tekadmu itu hanyalah retorika
belaka yang muncul saat ingin menunjukkan eksistensimu sebagai orang yang
baik-baik, namun ternyata tidak ada yang bisa engkau lakukan.
Kuharap tidak,
kuharap engkau tulus dan benar-benar ingin membahagiakan orang tua, saat ini,
mulailah mendengarkan nasehat-nasehatnya, mulailah untuk lebih bersabar,jangan
meminta sesuatu yang memberatkan mereka, jangan sekali-kali membuat mereka
bersedih karena ulah, jangan ikut dalam tindakan yang dapat mebahayakan dirimu
dan orang lain. Mulai untuk lebih banyak belajar karena ketika engkau tidak
lebih banyak belajar, apa bedanya engkau dengan mereka yang tidak kuliah.
Semoga hatimu
tergugah, semoga engkau mulai lebih bersabar dan bersyukur atas apa yang ada,
tidak meminta yang lebih karena banyak orang yang mau kuliah namun tidak mampu
sedangkan engkau masih mampu kuliah meskipun dengan keadaan seperti ini.
Jogja, 12-9-2012
No comments:
Post a Comment