October 12, 2012

Renungkan

Engkau yang sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, pengharapan sedang dipikulkun buatmu, begitu banyak orang yang berharap padamu, berharap akan engkau bisa memenuhi hari-hari depanmu yang cemerlang karena sebenarnya pengharapan-pengharapan mereka tidak lain adalah untuk dirimu sendiri. Engkau yang sedang memasuki masa remaja, masa dimana darah muda sedang bergejolak, mencari jati diri, penuh aktualisasi yang tinggi bahkan semua dilakukan untuk memperlihatkan prestise

Tak salah aku mengingatkanmu beberapa hal, karena akupun dulu pernah melalui hal yang sama yang sedang engkau jalani, masa kuliah, masa penuh dinamika bahkan sering kali dijalani dengan penuh emosi tanpa pertimbangan yang pasti. Kau yang sekarang menjalani masa studimu di sebuah kampus di Makassar. Aku tak meragukanmu dan tak ingin mengekangmu namun keadaan harus membuatku untuk mengingatkanmu beberapa hal. Dunia kampus adalah dunia semu, hanyalah persinggahan untuk merangkai asa dan kerja menuju dunia yang sebenarnya, ego manusia-manusia di kampus sangatlah tinggi dan inilah inti yang ingin kusampaikan kepadamu

Kabar sampai di telingaku, bahwa manusia-manusia di kampus semakin tak terkendali, mereka seakan tak mempertimbangkan moral ketika melakukan sesuatu bahkan harus merengggut nyawa orang lain, itu tidak lain karena keakuan yang amat sangat tinggi. Ketika tawuran terjadi, hakekatnya bahwa tidak ada yang benar, hanya karena persoalan arogansi saja. Bayangkan, ketika itu terjadi untuk merusak, apa akibat yang akan engkau usung? Saat engkau melempar dan temanmu dari fakultas lain pun melempar kea rah kalian, apa bedanya kalian dengan mereka kalau situasinya seperti itu? Dimana letak nilainya? Dan sesungguhnya ketika kita melakukan sesuatu tanpa ada nilainya maka itu adalah sebuah hal yang absurditas.

Dik,,,
Bayangkan temanmu yang harus merenggut nyawa saat itu, apa yang akan terjadi, akan banyak orang-orang di belakangnya yang kemudian akn merasa kehilangan. Kemudian setelah merefleksi kembali, apa sebenarnya yang akan dicari dalam sebuah tindakan yang bar-bar seperti itu. Hanya karena ingin dikatakan jago, atau hanya karena ingin dikatakan pemberani bahkan ingin dikatakan punya solidaritas tinggi terhadap teman. Itu hal yang sangat menggelikan, mungkin adanya benarnya tetapi  tempatnya bukan disitu, bukan dalam perkara tindakan bar-bar. Banyak sekali cara lain yang bisa ditempuh untuk menyalurkan hasrat diatas tanpa harus ikut-ikutan dalam tindakan bar-bar yang merugikan orang lain.

Biarkan orang bicara apa tentangmu, mulai saat ini, tetapkan tujuanmu untuk merangkai asa masa depanmu, pikirkan harapan-harapan orang tua di kampung yang senantiasa sibuk mendoakan dan menyokongmu untuk menggapai masa depanmu.

Saat engkau akan melakukan hal yang salah, bayangkan kembali wajah ibu yang dengan susah payah menjual aneka adonan kue di pasar. Yang kesemua hasilnya akan dikirimkan buatmu. Bayangkan ketika dengan susahnya ibu membuat aneka kue kemudian menjajakannya di pasar namun tak ada yang laku, apa engkau tak punya lagi rasa kasihan membayangkan itu semua. Kuyakin bahwa itu semua akan terbalas ketika engkau mendengarkan nasehat-nasehatnya dan kemudian belajar dengan baik-baik.

Bayangkan ketika bapak setiap subuh berangkat ke kebun untuk mencari sedikit rezeki, tak dihiraukannya panas, hujan bahkan apapun yang menghalanginya, dia tetap melakukannya dengan pengharapan mendapat sedikit uang untuk di bayarkan uang sppmu. Bayangkan itu semua.

Ketika engkau di kota hanya main-main, ikut-ikutan dalam tindakan yang tak berguna buat masa depanmu, bahkan ketika nasehat-nasehatnya tak lagi engkau hiraukan, apa lagi yang sebenarnya engkau pikirkan dan apa pula sebenarnya yang menjadi tujuanmu kuliah? Mungkin saja tetesan air mata ibu di tengah malam terus bercucuran saat engkau tak mau dinasehati, apakah engkau ingin seperti itu. Mana janjimu yang ingin membahagiakan kedua orang tua? Apakah tekadmu itu hanyalah retorika belaka yang muncul saat ingin menunjukkan eksistensimu sebagai orang yang baik-baik, namun ternyata tidak ada yang bisa engkau lakukan.

Kuharap tidak, kuharap engkau tulus dan benar-benar ingin membahagiakan orang tua, saat ini, mulailah mendengarkan nasehat-nasehatnya, mulailah untuk lebih bersabar,jangan meminta sesuatu yang memberatkan mereka, jangan sekali-kali membuat mereka bersedih karena ulah, jangan ikut dalam tindakan yang dapat mebahayakan dirimu dan orang lain. Mulai untuk lebih banyak belajar karena ketika engkau tidak lebih banyak belajar, apa bedanya engkau dengan mereka yang tidak kuliah.

Semoga hatimu tergugah, semoga engkau mulai lebih bersabar dan bersyukur atas apa yang ada, tidak meminta yang lebih karena banyak orang yang mau kuliah namun tidak mampu sedangkan engkau masih mampu kuliah meskipun dengan keadaan seperti ini.

Jogja, 12-9-2012

No comments: