Tidak bisa, kau harus menikah dengan Halimah,
gadis tetangga di kampung kita, dia gadis yang baik”, kata-kata itu terus
membayangiku, kata-kata yang meluncur deras dari mulut ibuku yang menohok
jantungku sesaat setelah kuutarakan niatku untuk menikahi seorang gadis yang
kukenal semasa kuliah dulu. Sejak menyelesaikan kuliahku di universitas merah
putih di kota ini, angin sejuk rasanya menghinggapiku karena aku langsung
diterima di salah satu perusahaan asing yang terkemuka di kota ini, beberapa
bulan setelah bekerja, aku memutuskan untuk mencari pendamping hidupku dan
pilihanku jatuh pada salah seorang mantan Mahasiswi di kampusku dulu, meskipun
sudah sejak lama aku suka padanya, namun selalu dia menampik ajakanku berpacaran
dengannya, entah dengan berbagai macam alasan namun dia tetap tak bergeming
dengan usahaku yang sangat gigih untuk mendapatkannya. Namun entah suara apa
yag membisikinya, sejak aku bekerja dan kembali mendekatinya dia pun menerima
pinanganku bahkan ajakanku untuk membawanya ke pelaminan pun diamininya.
Laras, begitulah sapaan akrab yang melekat pada
dirinya, gadis yang dulunya menjadi primadona kampus bukan saja karena Laras
berasal dari keluarga kelas atas namun wajahnya yang rupawan membuatnya sangat
sempurna, bahkan seorang temanberceloteh, meskipun laras tidak mandi dalam
seminggu, dia akan tetap terlihat cantik, yah, begitulah kenyataannya, laras
tampak sangat anggun, bahkan mungkin dia menyadari akan hal itu semua, laras
selalu tampil beda saat masuk ke kampus, itulah gambaran diri seorang Laras yang
memang cantik rupawan. Dibandingkan dengan Laras, Halimah yang menjadi pilihan
ibuku sangatlah jauh berbeda bagaikan bunga mawar dengan bunga bangkai. Halimah
tinggal di kampung kami, rumahnya hanya berjarak 1 Km dari rumahku, menurut
ibuku, kami masih memiliki hubungan keluarga. Halimah lebih muda 2 tahun
dariku, setamat SMA, halimah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya,
faktor utamanya adalah karena kekurangan dana. Memang sejak kelas 1 SMA ibunya
meninggal dunia karena kecelakaan sehingga sejak itu, Halimah menggantikan peran
ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil, sementara ayahnya bekerja di
sawah. Halimah memang termasuk gadis yang lumayan manis di kampung kami,
meskipun kulitnya agak kecoklatan disinari matarahari karena seringnya membantu
ayahnya di sawah, namun wajahnya tidak bisa menyembunikan pesona alaminya
sebagai seorang gadis yang manis. Tidak mengherankan sudah banyak pemuda di
kampung kami yang melamarnya namun ayahnya belum mengijinkan halimah untuk
menikah. Halimah memang seorang gadis yang sangat penurut terhadap apa yang
dikatakan ayahnya.
Pergolakan batin terus menggerogoti jiwaku saat
ini, saat keputusanku kontradiktif dengan
keputusan orang tuaku. Di satu sisi, aku sudah sangat gembira bisa mendapatkan Laras
yang dulunya menjadi wanita idamanku namun disisi lain keputusan ibuku tak bisa
pula diganggu gugat karena ibuku sudah tahu banyak tentang kepribadian Halimah dan
akupun mafhum bahwa Halimah adalah wanita yang baik. Keputusan ibuku tak juga
mencair, kekerasan hatinya tentang perjodohan tak bisa mengalahkan apapun,
kalau dia bisa bersikap moderat terhadap hal disi lain namun untuk masalah
perjodohan dia tak bergeming sekalipun. Begitulah akhirnya aku mengalah kepada
ibuku untuk yang satu ini, kuterima perjodohanku dengan Halimah.
Sejak kami berumah tangga, aku tak sedikit pun
memperlihatkan rasa sayangku terhadap Halimah, kesalahan sedikit yang
diperbuatnya terkadang kuungkit untuk menyinggung dan memarahinya, namun sering
kali aku berlaku seperti itu, tidak nampak rasa sedih maupun sikap melawan yang
ditunjukkan Halimah, yang diperlihatkan padaku hanyalah rasa patuh terhadapku
apapun yang kukatakan
Tak terasa, sudah sepuluh tahun kami bersama,
bahkan kini kami telah dikaruniai dua anak yang lucu, Halimah merawat anak
–anak kami dengan penuh kasih sayang, terkadang timbul penyesalan dalam hati
kecilku telah memperlakukannya dengan sangat kasar yang kemudian dia hanya
membalasnya dengan sebuah arti kepatuhan.
Hingga suatu ketika, tersibaklah rahasia langit
terhadapku, awalnya putraku yang sulung sering bergelagat aneh, setiap sore dia
diam-diam mengambil makanan yang sangat banyak kemudian dibawah entah kemana.
Awalnya aku tak peduli sedikitpun namun suatu ketika kuikuti juga karena rasa
penasaranku, dia menysuri lorong-lorong kecil dan sampai di rumah yang
berukuran kecil. Dia memberikan makanan itu kepada seorang anak yang sebaya
dengannya, saat dia akan beranjak pulang, aku menghampirinya dan anakku kaget
melihat keberadaanku yang tiba-tiba. Kutenangkan dia dengan berkata tidak
apa-apa. Aku lalu masuk menemui anak itu, ternyata dia tinggal bersama dengan
ayahnya.
Entah darimana awalnya, ayahnya bercerita tentang dia yang dulunya
pengusaha ternama di kota ini, namun yang membuat aku shock berat adalah saat
menyebut namanya isterinya ternyata Laras, wanita yang dulunya sangat
kuimpikan. Dia melanjutkan ceritanya bahwa yang membuat kehancuran usahanya adalah
akibat isterinya yang hidup mewah, bahkan sesaat setelah dia bangrut, isterinya
meninggalkannya dan menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Bahkan sekarang
Laras sudah 3 kali menikah dan pernikahannya yang terakhir adalah dengan seorang anggota DPR yang sudah beristeri,
Laras tak sedikitpun mengingat anaknya yang sekarang menjadi sahabat anakku.
Sesaat kemudian, pikiranku melayang ke rumah
mencari sesosok Halimah. Rasa bersalah menderaku memeperlakukan Halimah dengan
sewenang-wenang. Kulangkahkan kakiku menuju kerumah ingin menemuinya, sesampai
di rumah kami yang terbilang sangat mewah, kudapati rumah dalam keadaan kosong,
memang meskipun rumah kami sangat besar, kami tidak pernah menyewa pembantu
karena halimah lah yang selama ini mengurusi rumah kami. Saat berada di kamar,
kutemui sebuah pesan di secarik kertas, isinya sangat singkat, “maaf pak, saya
sudah tidak tahan lagi, saya sekarang balik ke rumah ayahku di kampung dan
jangan menyusulku lagi”. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi, memang
semalam, kami bertengkar hebat sampai aku menampar Halimah. Ternyata dia sudah
tidak menolerir sikapku yang telah menamparnya karena pesan ayahnya kepada Halimah
sebelum kami menikah adalah “ kau harus tetap setia pada suamimu sampai dia
melakukan kekerasan fisik kepadamu.
No comments:
Post a Comment