December 6, 2012

Perjodohan


Tidak bisa, kau harus menikah dengan Halimah, gadis tetangga di kampung kita, dia gadis yang baik”, kata-kata itu terus membayangiku, kata-kata yang meluncur deras dari mulut ibuku yang menohok jantungku sesaat setelah kuutarakan niatku untuk menikahi seorang gadis yang kukenal semasa kuliah dulu. Sejak menyelesaikan kuliahku di universitas merah putih di kota ini, angin sejuk rasanya menghinggapiku karena aku langsung diterima di salah satu perusahaan asing yang terkemuka di kota ini, beberapa bulan setelah bekerja, aku memutuskan untuk mencari pendamping hidupku dan pilihanku jatuh pada salah seorang mantan Mahasiswi di kampusku dulu, meskipun sudah sejak lama aku suka padanya, namun selalu dia menampik ajakanku berpacaran dengannya, entah dengan berbagai macam alasan namun dia tetap tak bergeming dengan usahaku yang sangat gigih untuk mendapatkannya. Namun entah suara apa yag membisikinya, sejak aku bekerja dan kembali mendekatinya dia pun menerima pinanganku bahkan ajakanku untuk membawanya ke pelaminan pun diamininya.

Laras, begitulah sapaan akrab yang melekat pada dirinya, gadis yang dulunya menjadi primadona kampus bukan saja karena Laras berasal dari keluarga kelas atas namun wajahnya yang rupawan membuatnya sangat sempurna, bahkan seorang temanberceloteh, meskipun laras tidak mandi dalam seminggu, dia akan tetap terlihat cantik, yah, begitulah kenyataannya, laras tampak sangat anggun, bahkan mungkin dia menyadari akan hal itu semua, laras selalu tampil beda saat masuk ke kampus, itulah gambaran diri seorang Laras yang memang cantik rupawan. Dibandingkan dengan Laras, Halimah yang menjadi pilihan ibuku sangatlah jauh berbeda bagaikan bunga mawar dengan bunga bangkai. Halimah tinggal di kampung kami, rumahnya hanya berjarak 1 Km dari rumahku, menurut ibuku, kami masih memiliki hubungan keluarga. Halimah lebih muda 2 tahun dariku, setamat SMA, halimah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya, faktor utamanya adalah karena kekurangan dana. Memang sejak kelas 1 SMA ibunya meninggal dunia karena kecelakaan sehingga sejak itu, Halimah menggantikan peran ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil, sementara ayahnya bekerja di sawah. Halimah memang termasuk gadis yang lumayan manis di kampung kami, meskipun kulitnya agak kecoklatan disinari matarahari karena seringnya membantu ayahnya di sawah, namun wajahnya tidak bisa menyembunikan pesona alaminya sebagai seorang gadis yang manis. Tidak mengherankan sudah banyak pemuda di kampung kami yang melamarnya namun ayahnya belum mengijinkan halimah untuk menikah. Halimah memang seorang gadis yang sangat penurut terhadap apa yang dikatakan ayahnya. 

Pergolakan batin terus menggerogoti jiwaku saat ini, saat keputusanku kontradiktif  dengan keputusan orang tuaku. Di satu sisi, aku sudah sangat gembira bisa mendapatkan Laras yang dulunya menjadi wanita idamanku namun disisi lain keputusan ibuku tak bisa pula diganggu gugat karena ibuku sudah tahu banyak tentang kepribadian Halimah dan akupun mafhum bahwa Halimah adalah wanita yang baik. Keputusan ibuku tak juga mencair, kekerasan hatinya tentang perjodohan tak bisa mengalahkan apapun, kalau dia bisa bersikap moderat terhadap hal disi lain namun untuk masalah perjodohan dia tak bergeming sekalipun. Begitulah akhirnya aku mengalah kepada ibuku untuk yang satu ini, kuterima perjodohanku dengan Halimah.

Sejak kami berumah tangga, aku tak sedikit pun memperlihatkan rasa sayangku terhadap Halimah, kesalahan sedikit yang diperbuatnya terkadang kuungkit untuk menyinggung dan memarahinya, namun sering kali aku berlaku seperti itu, tidak nampak rasa sedih maupun sikap melawan yang ditunjukkan Halimah, yang diperlihatkan padaku hanyalah rasa patuh terhadapku apapun yang kukatakan
Tak terasa, sudah sepuluh tahun kami bersama, bahkan kini kami telah dikaruniai dua anak yang lucu, Halimah merawat anak –anak kami dengan penuh kasih sayang, terkadang timbul penyesalan dalam hati kecilku telah memperlakukannya dengan sangat kasar yang kemudian dia hanya membalasnya dengan sebuah arti kepatuhan.
Hingga suatu ketika, tersibaklah rahasia langit terhadapku, awalnya putraku yang sulung sering bergelagat aneh, setiap sore dia diam-diam mengambil makanan yang sangat banyak kemudian dibawah entah kemana. Awalnya aku tak peduli sedikitpun namun suatu ketika kuikuti juga karena rasa penasaranku, dia menysuri lorong-lorong kecil dan sampai di rumah yang berukuran kecil. Dia memberikan makanan itu kepada seorang anak yang sebaya dengannya, saat dia akan beranjak pulang, aku menghampirinya dan anakku kaget melihat keberadaanku yang tiba-tiba. Kutenangkan dia dengan berkata tidak apa-apa. Aku lalu masuk menemui anak itu, ternyata dia tinggal bersama dengan ayahnya.

Entah darimana awalnya, ayahnya bercerita tentang dia yang dulunya pengusaha ternama di kota ini, namun yang membuat aku shock berat adalah saat menyebut namanya isterinya ternyata Laras, wanita yang dulunya sangat kuimpikan. Dia melanjutkan ceritanya bahwa yang membuat kehancuran usahanya adalah akibat isterinya yang hidup mewah, bahkan sesaat setelah dia bangrut, isterinya meninggalkannya dan menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Bahkan sekarang Laras sudah 3 kali menikah dan pernikahannya yang terakhir adalah dengan  seorang anggota DPR yang sudah beristeri, Laras tak sedikitpun mengingat anaknya yang sekarang menjadi sahabat anakku.

Sesaat kemudian, pikiranku melayang ke rumah mencari sesosok Halimah. Rasa bersalah menderaku memeperlakukan Halimah dengan sewenang-wenang. Kulangkahkan kakiku menuju kerumah ingin menemuinya, sesampai di rumah kami yang terbilang sangat mewah, kudapati rumah dalam keadaan kosong, memang meskipun rumah kami sangat besar, kami tidak pernah menyewa pembantu karena halimah lah yang selama ini mengurusi rumah kami. Saat berada di kamar, kutemui sebuah pesan di secarik kertas, isinya sangat singkat, “maaf pak, saya sudah tidak tahan lagi, saya sekarang balik ke rumah ayahku di kampung dan jangan menyusulku lagi”. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi, memang semalam, kami bertengkar hebat sampai aku menampar Halimah. Ternyata dia sudah tidak menolerir sikapku yang telah menamparnya karena pesan ayahnya kepada Halimah sebelum kami menikah adalah “ kau harus tetap setia pada suamimu sampai dia melakukan kekerasan fisik kepadamu. 

No comments: