Aku
kembali ke desa ini, desa yang berada diujung
pulau. Banyak kenangan yang kutinggalkan di desa ini, kenangan masa
kecil yang tak pernah tergantikan. Selaksa peristiwa terukir manis di desa ini.
Bahkan terkadang dalam beberapa momen kehidupanku, aku selalu ingin kembali ke
masa itu. Masa dimana ketulusan anak-anak yang tak terbandingkan, masa
kanak-kanak dimana kemunafikan tak pernah mendapat ruang sekalipun untuk
menampakkan batang hidungnya dan kepolosan dan kejujuranlah yang selalu nampak.
Hal yang sangat sulit ditampakkan ketika sudah beranjak dewasa.
Sesaat
setelah sampai di desa ini, aku mengitari tempat yang dulu menjadi kenanganku,
tepat dimana aku menghabiskan masa kecilku, tak ada yang berubah dari
konfigurasi desa ini, hanya ada beberapa bangunan pertokoan yang mulai berdiri
berjejeran di pinggir jalan. Sungai tempat kami memancing dan mandi setiap pagi
dan sore masih seperti dulu, hanya airnya yang sudah mulai keruh, konon katanya
karena di hulu sungai ini, penebangan liar sudah sangat meluas bahkan dulu,
banjir jarang terjadi namun sekarang ketika awal musim hujan saja banjir sudah
meluap kemana-mana. Salah satu tempat yang menjadi favoritku menghabiskan waktu
soreku adalah lapangan sepakbola, lapangan itu masih seperti yang dulu hanya
sudah diratakan dan diperluas. Kenangan masa lalu seakan menyeruak kedalam
pikiranku dan menggiringku kembali kemasa lalu.
Aku
juga mengunjungi bekas perumahanku yang
berada di persimpangan jalan. Beberapa tahun yang lalu, sejak aku diterima
bekerja di salah satu instansi pemerintahan di negeri ini, aku memutuskan untuk
memboyong orang tuaku pindah ke kota, sejak saat itu, aku tidak pernah lagi
menginjakkan kaki ku di desa ini sampai sekarang. Bekas perumahan kami sudah
berubah menjadi toko bangunan yang memang dibeli oleh salah satu jurang sayur
dulu namun ternyata dia sudah beralih profesi menjadi pedangan bahan bangunan.
Kuhabiskan
hari pertamaku di desa ini untuk bernostalgia dengan tempat –tempat yang
kuakrabi pada masa kecilku. Dulu aku punya dua ekor sapi yangs setiap sore hari
kuberi makan, dulu saat melakukan rutinitas tersebut, aku sering merasa
kelelahan namun sekarang bahakan aku baru merasakan nikmatnya mengembala sapi
dan serasa ingin kembali ke masa itu. Terkadang memang, hidup ini akan terasa
indah saat sudah menjadi kenangan. Semua yang sedang dijalani terasa begitu
sangat berat, namun setelah semuanya berlalu dan menjadi kenangan, barulah hal
tersebut menjadi sangat indah. Terkadang aku berfikir bahwa kunci dari
kehidupan ini adalah bersabar dan bersyukur, semua hal yang dijalani dengan dua
sikap tersebut akan menjadi ringan karena semuanya akan menjadi kenangan pada
akhirnya.
Sore
harinya, kukunjungi seorang sahabat bahkan sudah menjadi saudaraku, Abd Khodir.
Kami berdua seumuran, bahkan sejak SD sampai SMP, kami selalu bersama-sama dan
sekolah kami selalu sama. Hanya saja saat masuk di SMA, Khodir melanjutkan
sekolahnya di pondok pesantren sedangkan aku melanjutkan sekolah umum di kota.
Senja itu, kami menghabiskan waktu kami berdua di beranda rumahnya sambil
mengingat kembali masa kecil kami dahulu. Dulu, saat masih SD, aku sering
nginap di rumah khodir bahkan terlampau sering setiap minggunya. ayahnya adalah
guru mengaji kami dan dia sangat baik. Seringkali akau diajak ke sawah miliknya
bersama-sama khodir. Sore hari saat pulang dari sawah dengan berlumuran lumpur,
ibu khodir sudah menyiapkan teh hangat dan pisang goreng, momen inilah yang
sangat aku rindukan.
Ada
suatu saat yang membuat aku sangat yakin bahwa ayah khodir punya hati yang
sangat tulus, hari itu bertepatan dengan hari libur sekolah, aku diajak kesawah
menjaga padi dari serangan burung pipit, pagi-pagi aku sudah berangkat bersma-sama
dengan khodir, sampai disawah kami langsung berbagai tugas mengusir burung
pipit, saat siang hari ketika burung pipit sudah terbang ke sarangnya, aku
iseng bermain di pematang sawah, saat keasikan melompat-lompat, pematang sawah
yang terhubung dengan kali jebol, sontak saja aku kaget, alhasil ikan mas yang
memang dipelihara oleh ayah khodir yang jumlahnya sangat banyak berenang keluar
dari area persawahan ke kali, aku berteriak memanggil khodir namun saat dia
sampai di tempatku, hanya ada beberapa ekor ikan mas yang bisa diselamatkan.
Khodir memang bertugas menjaga burung pipit di pojok sawah yang berjauhan
denganku.
Rasa
bersalah yang sangat amat menderaku dan sangat pedih kurasakan, saat ayah
khodir menegtahui akan hal itu, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa ikan mas
yang lepas ke kali bukan rejeki kita, betapa tidak aku mengatakan bahwa ayah
khodir punya hati yang sangat bersih, ikan mas yang terlepas tersebut
rencananya akan di panen 3 hari lagi yang lebih tragisnya adaalah hasil dari
panen penjualan ikan mas tersebut akan dipakai untuk membayar uang sekolah
khodir yang sudah menunggak beberapa bulan. Namun Tuhan memang selalu punya
rencana terbaik untuk manusia yang berhati mulia. Seminggu setelah kejadian
itu, khodir yang memang jago mengaji mewakili sekolah kami lomba mengaji
tingkat provinsi dan Dia berhasil meraih juara I dengan hadiah uang yang
kira-kira dua kali llipat lebih banyak dari hasil penjaualan ikan mas yang
lepas.
Setelah
puas dengan khodir mengenang masa lalu, dia kemudian berbagi cerita tentang
masalah yang dihadapinya kini, khodir
dianggap sebagai salah satu gembong teroris paling berbahaya di pulau ini. Dulu setamat dari pesantren,
khodir melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi agama IAIN di kota, setelah menyelesaikan studinya,
khodir kembali kekampung ini dan menjadi Muballiq, guru ngaji serta guru agama
di sebuah sekolah Madrasah. Bahkan bebrapa kelompok kajian keagamaan mulai
kembali aktif di desa ini atas inisiatif khodir. salah satu yang paling
menonjol dari khodir disamping kegiatan-kegiatannya
adalah dia sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak
berpihak kepada rakyat bahkan di kelompok kajian yang dibentuknya, ada jadwal
khusus untuk membahas dan mendisikusikan masalah kebijakan pemerintah.
Seringkali, bersama anggota kajiannya, beberapa proyek Pemerintah yang ingin
dilaksanakan di desa ini mendapat rintangan dari mereka karena dinilai akan
merugikan warga desa ini, memang desa ini termasuk salah satu desa yang alamnya
mengandung minyak bumi yang sangat banyak. Inilah yang membuat khodir begitu
populer sampai di kota dimana Aku bekerja. Khodir mengakhiri ceritanya dengan
berkata “ kebenaran tetaplah akan menjadi kebenaran meskipun ia terjebak dalam
kegelapan dan begitupun sebalikya”.
Saat
mendengar kat-kata terakhir dari khodir, hatiku terenyuh, bahkan khodir tidak
tahu sama sekali bahwa akulah salah satu dari sekian banyak pejabat pemerintah
yang menjastifikasinya sebagai gembong teroris. Aku adalah anggota intelejen
yanga datang khusus ke desa ini dan memata-matai kegiatannya yang meskipun
sebelumnya sudah kuketahui dengan pasti bahwa kegiatan khodir sama sekali tidak
bersinggungan dengan aksi-aksi teroris. Laporan-laporanku lah yang menyatakan
seperti itu, mungkin sebentar lagi aku akan meringkusnya dan kemudian aku
diproyeksikan sebagai kepala intelejen karena telah berhasil meringkus salah
satu gembong teroris. Hatiku berdebat untuk mengurungkan niatku bahkan ketika
kulihat kedua anak khodir yang sedang lucu-lucunya menononton TV di dalam
rumahnya, selintas kuingat kedua putraku yang hampir sebaya dengan kedua
anaknya. Memang saya dan khodir sama-sama sudah mempunyai dua orang anak. Namun
pada akhirnya kuputuskan untuk melaksanakan rencana awalku demi sebuah jabatan
pimpinan
No comments:
Post a Comment