December 6, 2012

Dia dan bahkan bukan Aku

Aku kembali ke desa ini, desa yang berada diujung  pulau. Banyak kenangan yang kutinggalkan di desa ini, kenangan masa kecil yang tak pernah tergantikan. Selaksa peristiwa terukir manis di desa ini. Bahkan terkadang dalam beberapa momen kehidupanku, aku selalu ingin kembali ke masa itu. Masa dimana ketulusan anak-anak yang tak terbandingkan, masa kanak-kanak dimana kemunafikan tak pernah mendapat ruang sekalipun untuk menampakkan batang hidungnya dan kepolosan dan kejujuranlah yang selalu nampak. Hal yang sangat sulit ditampakkan ketika sudah beranjak dewasa.

Sesaat setelah sampai di desa ini, aku mengitari tempat yang dulu menjadi kenanganku, tepat dimana aku menghabiskan masa kecilku, tak ada yang berubah dari konfigurasi desa ini, hanya ada beberapa bangunan pertokoan yang mulai berdiri berjejeran di pinggir jalan. Sungai tempat kami memancing dan mandi setiap pagi dan sore masih seperti dulu, hanya airnya yang sudah mulai keruh, konon katanya karena di hulu sungai ini, penebangan liar sudah sangat meluas bahkan dulu, banjir jarang terjadi namun sekarang ketika awal musim hujan saja banjir sudah meluap kemana-mana. Salah satu tempat yang menjadi favoritku menghabiskan waktu soreku adalah lapangan sepakbola, lapangan itu masih seperti yang dulu hanya sudah diratakan dan diperluas. Kenangan masa lalu seakan menyeruak kedalam pikiranku dan menggiringku kembali kemasa lalu.

Aku juga mengunjungi  bekas perumahanku yang berada di persimpangan jalan. Beberapa tahun yang lalu, sejak aku diterima bekerja di salah satu instansi pemerintahan di negeri ini, aku memutuskan untuk memboyong orang tuaku pindah ke kota, sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki ku di desa ini sampai sekarang. Bekas perumahan kami sudah berubah menjadi toko bangunan yang memang dibeli oleh salah satu jurang sayur dulu namun ternyata dia sudah beralih profesi menjadi pedangan bahan bangunan.

Kuhabiskan hari pertamaku di desa ini untuk bernostalgia dengan tempat –tempat yang kuakrabi pada masa kecilku. Dulu aku punya dua ekor sapi yangs setiap sore hari kuberi makan, dulu saat melakukan rutinitas tersebut, aku sering merasa kelelahan namun sekarang bahakan aku baru merasakan nikmatnya mengembala sapi dan serasa ingin kembali ke masa itu. Terkadang memang, hidup ini akan terasa indah saat sudah menjadi kenangan. Semua yang sedang dijalani terasa begitu sangat berat, namun setelah semuanya berlalu dan menjadi kenangan, barulah hal tersebut menjadi sangat indah. Terkadang aku berfikir bahwa kunci dari kehidupan ini adalah bersabar dan bersyukur, semua hal yang dijalani dengan dua sikap tersebut akan menjadi ringan karena semuanya akan menjadi kenangan pada akhirnya.

Sore harinya, kukunjungi seorang sahabat bahkan sudah menjadi saudaraku, Abd Khodir. Kami berdua seumuran, bahkan sejak SD sampai SMP, kami selalu bersama-sama dan sekolah kami selalu sama. Hanya saja saat masuk di SMA, Khodir melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren sedangkan aku melanjutkan sekolah umum di kota. Senja itu, kami menghabiskan waktu kami berdua di beranda rumahnya sambil mengingat kembali masa kecil kami dahulu. Dulu, saat masih SD, aku sering nginap di rumah khodir bahkan terlampau sering setiap minggunya. ayahnya adalah guru mengaji kami dan dia sangat baik. Seringkali akau diajak ke sawah miliknya bersama-sama khodir. Sore hari saat pulang dari sawah dengan berlumuran lumpur, ibu khodir sudah menyiapkan teh hangat dan pisang goreng, momen inilah yang sangat aku rindukan.

Ada suatu saat yang membuat aku sangat yakin bahwa ayah khodir punya hati yang sangat tulus, hari itu bertepatan dengan hari libur sekolah, aku diajak kesawah menjaga padi dari serangan burung pipit, pagi-pagi aku sudah berangkat bersma-sama dengan khodir, sampai disawah kami langsung berbagai tugas mengusir burung pipit, saat siang hari ketika burung pipit sudah terbang ke sarangnya, aku iseng bermain di pematang sawah, saat keasikan melompat-lompat, pematang sawah yang terhubung dengan kali jebol, sontak saja aku kaget, alhasil ikan mas yang memang dipelihara oleh ayah khodir yang jumlahnya sangat banyak berenang keluar dari area persawahan ke kali, aku berteriak memanggil khodir namun saat dia sampai di tempatku, hanya ada beberapa ekor ikan mas yang bisa diselamatkan. Khodir memang bertugas menjaga burung pipit di pojok sawah yang berjauhan denganku.

Rasa bersalah yang sangat amat menderaku dan sangat pedih kurasakan, saat ayah khodir menegtahui akan hal itu, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa ikan mas yang lepas ke kali bukan rejeki kita, betapa tidak aku mengatakan bahwa ayah khodir punya hati yang sangat bersih, ikan mas yang terlepas tersebut rencananya akan di panen 3 hari lagi yang lebih tragisnya adaalah hasil dari panen penjualan ikan mas tersebut akan dipakai untuk membayar uang sekolah khodir yang sudah menunggak beberapa bulan. Namun Tuhan memang selalu punya rencana terbaik untuk manusia yang berhati mulia. Seminggu setelah kejadian itu, khodir yang memang jago mengaji mewakili sekolah kami lomba mengaji tingkat provinsi dan Dia berhasil meraih juara I dengan hadiah uang yang kira-kira dua kali llipat lebih banyak dari hasil penjaualan ikan mas yang lepas.

Setelah puas dengan khodir mengenang masa lalu, dia kemudian berbagi cerita tentang masalah yang dihadapinya kini,  khodir dianggap sebagai salah satu gembong teroris paling berbahaya di  pulau ini. Dulu setamat dari pesantren, khodir melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi agama IAIN  di kota, setelah menyelesaikan studinya, khodir kembali kekampung ini dan menjadi Muballiq, guru ngaji serta guru agama di sebuah sekolah Madrasah. Bahkan bebrapa kelompok kajian keagamaan mulai kembali aktif di desa ini atas inisiatif khodir. salah satu yang paling menonjol  dari khodir disamping kegiatan-kegiatannya adalah dia sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat bahkan di kelompok kajian yang dibentuknya, ada jadwal khusus untuk membahas dan mendisikusikan masalah kebijakan pemerintah. Seringkali, bersama anggota kajiannya, beberapa proyek Pemerintah yang ingin dilaksanakan di desa ini mendapat rintangan dari mereka karena dinilai akan merugikan warga desa ini, memang desa ini termasuk salah satu desa yang alamnya mengandung minyak bumi yang sangat banyak. Inilah yang membuat khodir begitu populer sampai di kota dimana Aku bekerja. Khodir mengakhiri ceritanya dengan berkata “ kebenaran tetaplah akan menjadi kebenaran meskipun ia terjebak dalam kegelapan dan begitupun sebalikya”.

Saat mendengar kat-kata terakhir dari khodir, hatiku terenyuh, bahkan khodir tidak tahu sama sekali bahwa akulah salah satu dari sekian banyak pejabat pemerintah yang menjastifikasinya sebagai gembong teroris. Aku adalah anggota intelejen yanga datang khusus ke desa ini dan memata-matai kegiatannya yang meskipun sebelumnya sudah kuketahui dengan pasti bahwa kegiatan khodir sama sekali tidak bersinggungan dengan aksi-aksi teroris. Laporan-laporanku lah yang menyatakan seperti itu, mungkin sebentar lagi aku akan meringkusnya dan kemudian aku diproyeksikan sebagai kepala intelejen karena telah berhasil meringkus salah satu gembong teroris. Hatiku berdebat untuk mengurungkan niatku bahkan ketika kulihat kedua anak khodir yang sedang lucu-lucunya menononton TV di dalam rumahnya, selintas kuingat kedua putraku yang hampir sebaya dengan kedua anaknya. Memang saya dan khodir sama-sama sudah mempunyai dua orang anak. Namun pada akhirnya kuputuskan untuk melaksanakan rencana awalku demi sebuah jabatan pimpinan

No comments: