October 9, 2012

Penat

Penat, itulah yang mungkin tergurat di wajahku. Berjalan dan tetap berjalan dalam keriuhan segerembolan manusia manusia dengan aktivitas tak berakhir. Namun kutahu, aku bergulat dengan pikiranku sendiri. Bahkan berpikir untuk menyendiri menikmati duniaku sendiri. Lepas dari semua bayang banyang kecemasan akan masa depan yang selalu menghantuiku dalam setiap usaha yang kulakukan

Bahkan kini, Ketika matahari hampir tepat di atas kepalaku setelah seharian menempuh jalan yang meletihkan. aku masih tetap menggoreskan cerita yang hampir sama dengan hari kemarin. Tak terbayangkan memang, dalam langkah langkahku yang semakin gontai dengan peluh yang tak henti hentinya menetes dari ubun ubunku. aku bahkan masih sempat memikirkan semua itu. Semua yang mungkin saja tidak ada artinya. seringkali masih kupikir ocehan ocehan manusia yang kerap kutemuai di jalanan, di got got, di emperan sungai, di gunung gunung. pernah sekali

Kucoba untuk berhenti sejenak, meluapkan perasaan kekesalanku dan tak lagi memperdulikan mereka. namun apa, semua seakan sia sia. setelah melanjutkan perjalanan panjang mengerikan. Mereka selalu saja menggelontoriku dengan pernyataan pernyataan yang kusadari hanya akan menghancurkanku, namun itulah aku. Manusia yang masih lugu, masih tegoda dengan sesuatu yang absurd, masih terkungkung pada hal hal indrawi. Di saat kusering berkata bahwa aku hanya mau yang hakekat. namun tidak buat hatiku, masih terpenuhi oleh rongga rongga ego yang semakin hari semakin memperparah kondisiku.

Kondisi yang semakin sekarat yang hampir saja membawaku ke pinggir kuburan. Mengubur diriku meskipun bukan jasadku. Namun ketika semua itu benar benar terjadi padaku, terjadi dalam hidupku atau bahkan mungkin dalam mimpiku.

Maka, akan seperti apa diriku, aku sendiri tak mampu membayangkannya karena sangat menakutkan bahkan hanya untuk di bayangkan. meskipun begitu, kutahu bahwa perjalanan ini belum sampai disini, Bahkan permepatan jalan belum kujumpai dan persinggahan sesungguhnya masih jauh di depan. Kuputuskan untuk tetap melangkah meskipun kadang merangkaka karena kuyakin bahwa masih banyak kesempatan untuk itu, untuk meluruskan otot ototku yang dibengkokkan oleh sesuatu yang tidak perlu. Hingga mungkin, tibalah saatnya nanti kau penat, tersungkur kemudian tertidur dan tak bangkit lagi.

Jogja, 9-9-2012

No comments: