Penat, itulah
yang mungkin tergurat di wajahku. Berjalan dan
tetap berjalan dalam keriuhan segerembolan manusia manusia dengan aktivitas tak
berakhir. Namun kutahu, aku bergulat
dengan pikiranku sendiri. Bahkan berpikir
untuk menyendiri menikmati duniaku sendiri. Lepas dari semua bayang
banyang kecemasan akan masa depan yang selalu menghantuiku dalam setiap usaha
yang kulakukan
Bahkan kini, Ketika matahari hampir
tepat di atas kepalaku setelah seharian menempuh jalan yang meletihkan. aku masih tetap
menggoreskan cerita yang hampir sama dengan hari kemarin. Tak terbayangkan
memang, dalam langkah
langkahku yang semakin gontai dengan peluh yang tak henti hentinya menetes dari
ubun ubunku. aku bahkan masih
sempat memikirkan semua itu. Semua yang
mungkin saja tidak ada artinya. seringkali masih
kupikir ocehan ocehan manusia yang kerap kutemuai di jalanan, di got got, di
emperan sungai, di gunung gunung. pernah sekali
Kucoba untuk
berhenti sejenak, meluapkan perasaan kekesalanku dan tak lagi memperdulikan
mereka. namun apa, semua seakan sia
sia. setelah
melanjutkan perjalanan panjang mengerikan. Mereka selalu
saja menggelontoriku dengan pernyataan pernyataan yang kusadari hanya akan
menghancurkanku, namun itulah aku. Manusia yang
masih lugu, masih tegoda dengan sesuatu yang absurd, masih terkungkung pada hal
hal indrawi. Di saat kusering
berkata bahwa aku hanya mau yang hakekat. namun tidak buat
hatiku, masih terpenuhi oleh rongga rongga ego yang semakin hari semakin
memperparah kondisiku.
Kondisi yang
semakin sekarat yang hampir saja membawaku ke pinggir kuburan. Mengubur diriku
meskipun bukan jasadku. Namun ketika
semua itu benar benar terjadi padaku, terjadi dalam hidupku atau bahkan mungkin
dalam mimpiku.
Maka, akan
seperti apa diriku, aku sendiri tak mampu membayangkannya karena sangat
menakutkan bahkan hanya untuk di bayangkan. meskipun begitu, kutahu bahwa
perjalanan ini belum sampai disini, Bahkan permepatan jalan belum kujumpai dan
persinggahan sesungguhnya masih jauh di depan. Kuputuskan untuk
tetap melangkah meskipun kadang merangkaka karena kuyakin
bahwa masih banyak kesempatan untuk itu, untuk meluruskan otot ototku yang
dibengkokkan oleh sesuatu yang tidak perlu. Hingga mungkin,
tibalah saatnya nanti kau penat, tersungkur kemudian tertidur dan tak bangkit
lagi.
Jogja, 9-9-2012
No comments:
Post a Comment