November 19, 2024

Digital Creative Preneurship

Jauh sebelum memilih menjadi seorang akademisi, saya membayangkan diri saya sibuk dengan berbagai riset dan diskusi publik. Sebuah potret diri yang dulu selalu membayangi kepala sehingga memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan dengan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan di kampus.
Tetapi apakah itu sebuah penyelesan?
Sesekali muncul rasa konyol kenapa mengambil keputusan yang nampaknya seperti bunuh diri karena pemasukan tidak mencukupi kebutuhan, tetapi kemudian ketika membayangkan bahwa jalan ini yang pernah saya bayangkan maka kemudian saya berpikir inilah yang menjadi langkah saya kali ini.
Minggu lalu, saya dihubungi oleh salah seorang rekan untuk menjadi narasumber di seminar terkait pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif di kota Bandung. Saya tentu saya merasa sangat senang karena mendapat kepercayaan namun kemudian ketika membaca ToR kegiatan, ada sedikit rasa ragu karena sadar diri bahwa apa yang harus saya sampaikan tidak sesuai dengan kompetensi yang selama ini saya jalani.
Setelah beberapa saat menakar diri dan memastikan bahwa materi terkait bisnis yang harus saya bawakan merupakan materi dasar, maka kemudian saya mengiyakan. Niat awal saya untuk memperbanyak sepak terjang sebagai pembicara publik yang nanti ketika sampai pada satu titik, saya merasa biasa saja ketika harus menjalani kegiatan yang sama.
Saya kemudian mempersiapkan segala hal yang harus saya sampaikan pada saat kegiatan khususnya materi terkait proses bisnis UMKM. Tentu karena secara praktikal tidak punya bisnis maka saya menguatkan pada poin-poin penting teoritis. Saya sedikit gelisah karena momen ini merupakan langkah awal untuk kemudian belajar banyak hal termasuk juga supaya bisa dipercaya oleh panitia pelaksana seminar agar selanjutnya tetap mendapat kepercayaan. Kegiatannya dua hari tetapi dengan materi yang sama karena dilaksanakan dalam dua batch.
Tiba lah hari pelaksanaan dan saya harus berangkat pagi hari karena mendapat giliran materi pertama di jam 10. Saya sengaja datang agak awal supaya bisa mempelajari suasana di ruangan seminar. Saat tiba, peserta masih persiapan dan melakukan ice breaking dengan panitia. Saya kemudian memilih untuk duduk di belakang sambil menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan.
Sekitar jam 10, saya dipersilakan MC kemudian mengambil alih forum. Tentu saya sudah memikirkan kalimat pembuka yang kira-kira membuat suasana agak santai. Kalimat pembuka saya lumayan berhasil dan selanjutnya saya membawakan materi dengan tenang. Hal ini juga sebenarnya juga didukung dengan audience yang memang sudah memiliki usaha dalam jangka waktu yang lama tetapi belum menerapkan proses bisnis secara sistematis.
Pada akhirnya, kegiatan selama 3 jam berlangsung dengan lancar. Saya merasa lega dengan apa yang saya lakukan. Hari kedua akan dilaksanakan rabu dengan materi yang sama tetapi perserta yang berbeda. Saya berharap semoga semua berjalan lancar.

Palasari, 19 Nov 2024
#Mulainulislagi

October 12, 2024

Jangan Merasa Sok Dekat

This morning, one of the people I consider a mentor because he had taught me in class and guided my final project, updated his WA status. He was attending a religious event and praying for ancestors who had passed away. I, who felt close to him, immediately responded to his status by wishing him good health because he was my mentor.

Of course, I didn't expect her to reply to my response at all but usually, such a response would be reciprocated with at least a thumbs up. But what happened was that she only read my message without any reply at all.

As an ordinary human being, I suddenly wondered if I was being too pretentious to get close to him because I knew his huge exposure. He is very often a resource person in national events and even various other activities that are quite large.

I then decided to delete my message to avoid being reminded of my mistake. It's not really a sin but for some reason, I sometimes feel inferior and think of myself as an idiot every time I try to get close to others. Perhaps this is inseparable from past experiences when at one time, I always tried to get close to people in my neighborhood but was rejected several times..

There are two experiences of rejection that really stick in my memory and both of them were during my undergraduate years. I was rejected by a friend who was even a classmate. She was known to be very friendly even with me in the beginning but I don't know exactly why so she didn't want to chat with me at all even years after we graduated.

The second incident was a rejection from a senior who I thought was quite close when I was in college. For some reason, he didn't want to interact with me and I don't even remember what I did wrong to him.

There are still many small rejections in my life that brought me to this point where I decided not to try to get close to people who don't want to interact with me.

Hence, what I did this morning was a decision that brought up a bad experience a few years ago.

Dua Kawan Menikah

Hari ini saya menghadiri pernikahan rekan kerja, baik dari pihak wanita maupun pria adalah rekan kerja saya. Mereka memang sudah mengingatkan diri sejak dua tahun belakang dan berkomitmen untuk bersama-sama menjalani hidup mereka.

Pernikahan ini membawa memori saya kembali ke 9 tahun lalu ketika saya memutuskan untuk menikah. Saya mencoba untuk mengingat apa yang sedang saya rasakan saat menikah dan memori saya buram. Hal yang muncul dalam ingatan saya hanya hal-hal teknis seperti menjemput keluarga yang datang dari kampung, mempersiapkan tetek bengek pernikahan, mengucapkan ijab kabul, menyalami setiap tamu yang datang kemudian malamnya istirahat.

Tidak ada perasaan asing yang hadir dalam relung hati saya kecuali ingatan tentang friksi yang terjadi pada beberapa hari di awal pernikahan. Saya merasa tidak dianggap sebagai keluarga sehingga perasaan tersebut mengganggu nuansa pernikahan yang seharusnya dinikmati.

Kawan yang menikah hari ini nampak bahagia, begitulah seharusnya yang dirasakan oleh pasangan karena naluriahnya, manusia ingin hidup dengan pasangan yang membuatnya bahagia. Setelah ini, mereka akan menjadi hidup sebagai pasangan suami istri dengan berbagai dinamika yang akan dihadapinya. 

Semua pasangan mempunyai strategi masing-masing untuk survive dalam segala hal keadaan. Setiap kita diberikan kemampuan untuk menemukan solusi dalam berbagai masalah yang dihadapi.

Demikianlah dua kawan yang sedang berbahagia hari ini.

October 3, 2024

3 Oktober

Sembilan tahun yang lalu, mengambil sebuah keputusan untuk menikah. Semua keputusan yang biasa-biasa saja karena semua orang bisa melakukannya dengan berbagai niat masing-masing. Pernikahan menjadi momentum untuk terus bersama dengan seseorang yang sudah dipilih sebagai pendamping. Tentu banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam pernikahan namun harus dilewati karena saya selalu menanamkan dalam diri bahwa saya yang memilih jadi sebisa mungkin saya menjalani dengan sebaik-baiknya.

Saya sepakat jika banyak orang mengatakan bahwa awal pernikahan merupakan cobaan yang berat. Selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau mungkin karena masih dalam proses adaptasi. Jika sebelumnya tidak ada yang harus dipikirkan sebagai sebuah tanggung jawab maka setelah menikah, ego masing-masing harus diturunkan.

Apakah menikah sesuatu yang wajib dalam hidup? 

Tidak juga. Siapapun bisa memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan masing-masing selama tidak merugikan orang lain. Ada yang menikah tetapi tidak bahagia di dalam hidupnya karena hanya menyisakan luka dan ada juga yang tidak menikah tetapi menikmati kebahagiaan. Menikah bukan untuk bahagia tetapi untuk bertumbuh bersama dengan pasangan.

Terlalu abstrak? Iya karena bertumbuh mempunyai banyak arti. Tujuan yang ideal memang harus abstrak yang bisa diartikulasikan dengan berbagai cara.

Apa sih konsep pernikahan yang sedang saya jalani? 

Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadikan pernikahan sebagai neraka bagi pasangan saya maka jadi dalam banyak hal, saya tidak menuntu banyak kepadanya. Meskipun terkadang dalam beberapa kali kesempatan, saya bilang ingi memiliki puteri tetapi nampaknya di keberatan dengan pertimbangannya sendiri.

Dua tahun terakhir merupakan tantangan yang cukup berat dalam dua hal; pertama dalam hal ekonomi karena saya merasa masih sangat kurang memberikan ekonomi kepada istri saya bahkan jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sialnya, belum ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat jelas. Bahkan jalannya masih saja menurun dan entah titiknya sampai di batas yang mana.

Kedua; jarak dengan pasangan. Saya sedang sangat jauh dari pasangan secara jarak minimal dalam lima hari karena dua tahun terakhir, saya memutuskan mengambil pekerjaan di kota yang berbeda tempat dia bekerja. Akhirnya kesepakatannya ada saya harus ngekos dan hanya bisa pulang ke rumah saat weekend. Menurut saya cukup berat tetapi keputusan sudah dibuat dan harus mulai lagi memetakan apa jalan yang akan diambil kemudian hari.

Setelah ini, masih banyak langkah yang harus diselesaikan untuk menunaikan janji di awal. Langkah yang mungkin lebih berat dari yang sebelumnya sudah dijejak.

Entahlah. Semua Tuhan menguatkan sendi-sendi ini untuk menunaikan tanggung jawab yang sedang saya emban.

#latepost

September 7, 2024

7 September

Tidak ada yang berbeda, semua terlewati sebagaimana lazimnya. Di hari yang biasanya orang-orang rayakan dalam suka cita, saya bahkan tidak melakukan selebrasi apa-apa, selain karena saya tidak punya kultur semacam itu, ini juga lebih pada keyakinan bahwa hidup akan berjalan sebagaimana adanya.

Satu-satunya hal yang berbeda adalah saya semakin sadar bahwa waktu terus menggerus kesempatan saya hidup di bumi ini. Saya semakin menua tetapi fokus hidup masih berganti-ganti. Di saat manusia lain di usia yang sama dengan saya, mereka sudah fokus dalam menjalani karir masing-masing tetapi alih-alih, saya bahkan masih menakar apa yang sedang saya lakukan di hidup ini.

Hari ini, tidak ada yang berbeda, semua berjalan sebagaimana mestinya. Saya bangun tepat jam 5, artinya saya melewatkan lagi salat subuh tepat waktu. Setelah itu semua berjalan normal. Saya menghabiskan waktu memegang HP kemudian menjelang jam 6 pagi, saya memaksakan diri mengenakan sepatu running, mulai menyetel smartwatch, lalu berlari kecil menyusuri rute yang sering saya tempuh.

Tentu bisa ditebak setelah itu, saya akan meracik kopi susu, menyiapkan beberapa potong jajanan sebagai teman ngopi kemudian buka laptop. Nonton youtube dan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak produktif.

Hari ini, sekeras apapun hati untuk memulai pola hidup yang baru tetapi ternyata tetap saja gagal. Saya kembali menjalani rutinitas yang membosankan tanpa ada perubahan apa-apa.

Di salah satu kuliahnya, Dr. Haryatmoko melontarkan lelucon yang bernuansa filosofis tetapi sebenarnya bisa juga dijadikan dasar untuk mengubah cara pandang terhadap hidup.

Alkisah, seorang anak trauma tidak di kamarnya karena dia meyakini ada hantu di bawah kolong ranjangnya. Selanjutnya, si anak kemudian mendatangi Psikolog untuk menghilangkan rasa takutnya. Sekian puluh kali mendatangi Psikolog tersebut, sang anak tidak kunjung sembuh, akhirnya berganti Psikolog. Hanya sekali saja dia mendatangi Psikolog kedua dan langsung sembuh.

Selang beberapa waktu, si anak bertemu dengan Psikolog yang pertama. Dia sangat senang karena mengetahui si anak sudah sembuh dari rasa takutnya. Si Psikolog kemudian bertanya kepada si anak, bagaimana anda bisa sembuh? 

"Saya berganti Psikolog." Jawab di anak singkat.

Ternyata Psikolog yang kedua memberikan solusi yang fungsional yaitu, orang tua si anak disuruh untuk memotong ranjang anaknya sehingga ranjangnya tidak memiliki lagi kolong. Akhirnya si anak tidak takut lagi karena tidak ada lagi hantu yang ada di bawah kolong ranjangnya.

Seringkali, mengubah hidup adalah dengan cara mengubah realitas kita. Solusi ini yang seharusnya saya lakukan dalam hidup saya yang sangat monoton dan tidak pernah berhasil fokus dalam berbagai hal yang saya lakukan. Memotong realitas saya merupakan salah satu cara yang harus saya tempuh.

Hari ini sama seperti hari-hari kemarin. Saya merasa tidak ada perubahan atas diri saya selain keyakinan bahwa waktu akan membawa saya pada titik akhir. Mungkin semua akan berjalan normal dan tiba-tiba pada suatu waktu, saya menyesali diri yang tidak mampu mengalahkan semua hal sia-sia.

Apa yang harus saya lakukan ke depan?

Kebagusan III, 

Sabtu, 7 September 2024

May 31, 2024

31 Mei

Tidak ada tulisan bulan ini yang ada hanya sumpah serapah yang bertebaran di setiap ruang waktu yang tersisa. Masih dalam masalah yang sama saat diri tidak mampu sama sekali lepas dari kesia-siaan. Waktu seakan terbuang begitu saja dan secara tidak sadar, sudah berjalan terlalu jauh.

Bulan ini, Palestina semakin merana dengan serang bertubi-tubi dari kaum penjajah. Namun demikian, negara-negara Arab seakan merasa bahwa kejadian itu hal yang lumrah karena sama sekali tidak ada langkah konkrit untuk mengadvokasi bangsa Palestina untuk lepas dari penjajahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Bulan ini juga, fakta persidangan mantan menteri Pertanian yang berasal dari Gowa, menunjukkan betapa mengerikannya realitas yang diuangkap. Aliran dana hasil korupsi dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang sangat memilukan, untuk membiayai apartemen seorang Biduan, uang bulanan istri, acara khitan, cucu, biaya dokter kecantikan anak, skincare puterinya, dan berbagai aliran dana yang membuat rakyat Indonesia miris menyaksikan apa yang dilakukan oleh seoran pejabat publik.

Bulan ini, saya sama sekali tidak menulis artikel yang biasanya saya publish di media online nasional. Saya sudah berusaha keras untuk menemukan serpihan ide tetapi selalu gagal dan hanya berakhir pada sebuah angan-angan semata.

April 21, 2024

Aku Menua Dalam Tangis

Aku menua dalam tangisan, tidak mampu berbuat banyak di masa remaja yang kata Rhoma merupkana masa muda yang berapi-api dan maunya menang sendiri. Aku tidak cukup nakal untuk menikmati hidup karena terlalu banyak pertimbangan moral, iya aku jenis anak penurut.

Tapi aku juga bukan manusia yang terlalu tekun dalam banyak hal bahkan sampai saat ini, aku tidak tau apa yang bisa kuandalkan.

Mengerikan,,,

Aku masih sama dengan aku beberapa puluh tahun silam, seorang pemimpi buruk yang tidak jua memulai mimpinya, memuakkan

Aku ingin menangis menumpahkan semua bebal di setiap urat nadiku tetapi sama saja, setelah itu semua akan kembali pada habitatku, 

Seorang pemimpi bajingan yang menghabiskan waktunya dengan angan-angan kemudian tidur dalam mimpi yang terus menerus dirawat tanpa pernah berjuang mewujudkannya.

Ini mungkin hukuman bagi seorang diriku yang tidak mengenal dirinya.

Sudahlah, setelah ini saya akan berlari menjauhi kenyataan, menghilang dari setiap kekecewaan dan kemudian larut dalam mimpi yang lain. 

Seringkali aku membenci diriku, benar-benar benci atas setiap ketidakmampuannya membuktikan kepada dunia bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan.

February 27, 2024

Februari Mencekam

Bulan ini benar-benar payah. Tidak ada satu pun buku yang saya selesaikan di bulan ini bahkan beberapa pekerjaan saya terbengkalai. Saya masih selalu menghabiskan waktu hanya menghayal tanpa melakukan keputusan-keputusan yang berbeda untuk mengubah keadaan.

Satu hal lagi yang sangat menyedihkan bahwa tidak ada tulisan yang sanggup saya selesaikan di bulan ini sementara lebih dari sepuluh draft sudah saya susun. Entahlah, untuk saya benar-benar buntu memikirkan dan menjalankan program pribadi.

Pekerjaan di kampus pun tidak kalah payahnya. Proposal penelitian tidak kunjung kelar sementara tugas mengajar masih juga terbengkalai bahkan di minggu ke-IV, masih ada target di minggu pertama yang belum kelar.

Saya juga merasa sangat tidak maksimal dalam proses mengajar karena kurang menyiapkan segalanya. Saya hampir saja putus asa dengan semua ini, dengan keputusan diri yang tidak jua berjuang untuk meningkatkan kualitas diri.

Pemimpi yang payah

27 Feb 2024

February 12, 2024

Bangkit Lagi

Satu setengah bulan berjalan di tahun 2024 tetapi saya sudah mulai layu mengejar resolusi. Ini tidak boleh dibiarkan karena hidup akan terus berjalan. Saya mempunyai segudang target yang harus saya tunaikan di tahun ini dengan segenap usaha maksimal.

Pertama tentu meningkatkan kualitas dan kuantitas membaca buku. Saya rutin membeli buku tetapi belum sejalan dengan kuantitas buku yang saya baca. Saya belum intens membaca buku sesuai target yang sudah saya canangkan.

Saya juga harus menulis minimal 1 buku di tahun ini, namun parahnya intensitas menulis saya malam menurun drastis di awal tahun ini. Saya punya segudang rencana penelitian yang harus saya selesaikan untuk meningkatkan karir saya sebagai dosen.

Saya juga harus meningkatkan kemampuan pedagogik dengan baik, begitulah kemampuan public speaking yang harus saya asah setiap saat. Saya tidak boleh lengah dengan hal-hal tidak berguna seperti main hp.

January 31, 2024

Sendal Jepit

Sudah hampir dua minggu, ada salah seorang penghuni kos baru di rumah kos tempat saya menginap. Dia menyewa persis di samping kamar saya dan tepat di ujung tangga sehingga setiap akan turun ke bawah, saya pasti melewati depan kamarnya. 

Tidak ada yang aneh namun demikian, saya sama sekali belum pernah bertegur sapa karena selama dia menyewa di sebelah kamar saya, hanya sekali saya berpapasan ketika hendak ke kamar mandi. Saya juga belum sempat menegurnya sekadar untuk menanyakan kabar.

Setelah beberapa hari, saya melihat bahwa di depan kamarnya hanya ada sepatu bahkan ketika ke kamar mandi, dia mengenakan sepatu yang juga digunakannya ketika keluar. Sifat gibah saya dengan diri mulai muncul. Beberapa kali saya membatin kenapa sih dia tidak membeli sendal jepit agar tidak merepotkan ketika masuk kamar mandi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut beberapa kali terbersit di dalam hati saya dan akhirnya karma kembali menghampiri diri yang hina ini.

Tadi pagi saat sedang di kamar mandi dan tidak sedang berjalan kaki, tiba-tiba saja sendal jepit saya putus tanpa sebab yang signifikan. Saya langsung merasa sangat bersalah telah membatin sesuatu yang negatif terhadap orang lain.

Kejadian tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dikuantifikasi bahkan saya yakin bahwa ada realitas metafisika. Persoalannya, kejadian-kejadian semacam itu seringkali terjadi kepada diri saya ketika berpikir negatif terhadap orang lain.

Bandung, 21 Januari 2024

January 22, 2024

Perjalanan Kali Ini

Perjalanan kali ini ke Bandung ditemani dengan tontonan debat Cawapres. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik namun tetap saja mengikuti jalannya debat.

Sesuai prediksi bahwa tidak ada hal substansial yang bisa dipelajari selain gimmick politik yang menggelikan.

January 5, 2024

Dosa di Awal Tahun

Keputusan untuk bekerja di luar kota menyisakan berbagai masalah, selain karena tidak setiap hari bertemu keluarga, saya juga harus mengeluarkan dana ekstra di setiap akhir pekan untuk membayar sewa travel.

Akhirnya untuk sedikit berhemat karena gaji yang saya dapatkan juga tidak besar, maka seringkali saya berburu diskon. Travel langganan saya memiliki banyak sekali pool di Jakarta sehingga memudahkan saya memilih harga yang lebih murah, tetapi saya seringkali memilih jurusan ke arah Lenteng Agung dan Depok karena lebih dekat dengan rumah.

Sebenarnya jurusan ke Lenteng Agung dan Depok Juanda satu arah. Jadi rutenya keluar dari tol Simatupang menuju arah Lenteng Agung, transit sebentar kemudian menuju pemberhentian terakhir di Depok-Juanda.

Nah entah kenapa, diskon di aplikasi travel tidak merata jadi ada beberapa rute yang diskon sementara rute yang lain tidak diskon. Perkiraan saya karena mungkin yang diskon sepi penumpang. Salah satu rute yang diskon adalah arah Depok sementara yang arah Lenteng Agung tidak diskon. Padahal sebenarnya rute dan mobilnya sama hanya transit di Lenteng Agung.

Saya kemudian memilih memesan pemberhentian Depok karena menganggap bahwa saya bisa turun di Lenteng Agung. selisih harganya cukup jauh ketika memilih pemberhentian Depok dengan Lenteng Agung, sekitar 70 ribu.

Semua berjalan lancar dan keberangkatan hanya telat 15 menit. Saya kemudian mengambil seat sesuai dengan yang sudah saya pesan via aplikasi.

Ketika berhenti di rest area KM 72, sopir menanyakan kepada saya bahwa apakah saya memilih rute Depok?

Saya menjawab bahwa memang saya memilih pemberhentian Depok tetapi biasanya saya turun tidak sampai di pool Depok. Saya baru tahu bahwa ketika tidak ada penumpang yang akan turun di Lenteng Agung maka rute mobil tidak akan mengambil arah Lenteng Agung tetapi langsung masuk ke tol menuju Depok.

Mengetahui hal tersebut, saya sedikit agak keberatan karena seharusnya rute mobil tetap harus mengikuti jalur yang sebelumnya. Sopir menjelaskan bahwa konsepnya memang seperti itu bahwa jika tidak ada penumpang memesan pemberhentian Lenteng Agung maka rutenya diarahkan langsung ke tol arah Depok.

Saya agak kesal dan menunjukkan rasa ketidaksenangan. Si sopir yang kelihatannya udah sepuh pun sedikit merasa bersalah dan mencoba untuk menenangkan saya.

Setelah sekian menit berlalu, saya merasa sangat bersalah bahwa pada dasarnya saya yang keliru karena memburu diskon dan memilih rute Depok tetapi ingin turun di Lenteng Agung. Saya kemudian memilih untuk menenangkan diri dan membiarkan si sopir mengambil jalur yang langsung ke Depok.

Kesalahan saya membuat mood si sopir yang sudah sepuh merasa bersalah.


Kamis, 4-1-2024

January 1, 2024

1 Januari 2024

Sekarang sudah 2024 dan saya bahkan masih mengingat dengan sangat jelas menjelang 2023, saya menulis beberapa resolusi salah satunya tantangan untuk menulis apapun setiap hari ini blog ini. Ikrar tersebut bertahan selama 7 bulan sebelum akhirnya saya menyerah karena kehabisan ide untuk ditulis.

Sekarang sudah 2024 yang artinya bahwa saya kembali menyusun resolusi di tahun ini. Semalam menjelang pergantian tahun, saya menulis beberapa catatan kecil yang merupakan target pribadi di tahun ini. Saya sengaja menulisnya di kertas menggunakan pulpen agar bisa saya simpan di dompet dan sewaktu-waktu bisa saya buka untuk sekadar mengingatkan saya akan ikrar kepada diri sendiri.

Di awal 2024, saya tidak banyak melakukan sesuatu kecuali menyelesaikan sebuah buku yang minggu lalu saya beli di Togamas Buah Batu. Setelah itu, saya dan keluarga ke Gramedia membaca komik.

#2024