June 8, 2023

Muntah (8)

Sehari setelah berangkat ke Bandung, istri saya mengabari bahwa putra saya muntah beberapa kali bahkan dalam 3 jam sekali. Kemungkinan dia makan sesuatu yang tidak bersih sehingga semua isi perutnya keluar tak tertahankan. Saya yang jauh dari jangkauannya hanya merapalkan doa agar segera pulih.

Ini merupakan kesekian kalinya putra saya sakit ketika saya jauh, bahkan dulu saat masih bekerja sebagai seorang auditor di perusahaan swasta, putra saya seringkali sakit bertepatan ketika saya sedang tugas keluar daerah. Sepertinya dia sakit ketika saya tidak ada di rumah, mungkin merasakan bahkan ketika saya ada, toh yang mengurus segalanya ibunya.

Oh iya, kemarin saat sakit bertepatan juga dengan jadwal istri saya harus keluar kota dalam rangka tugas kantor, alhasil istri saya membatalkan tugasnya dan meminta dispensasi untuk tidak berangkat karena tidak ada yang mengurus putra saya.

Dua hari berlalu, mualnya belum jua berlalu bahkan untuk makan pun hanya sedikit sementara saat kondisi sehat, anak saya doyan makan apa saja. Saya menduga bahwa mungkin masih efek dari kondisi badannya minggu sebelumnya ketika dia diajak liburan ke Bandung dan berenang sepuasnya di kolam renang hotel.

Saat renang, dia beberapa kali dengan tidak sengaja menelan air kolam karena baru belajar renang. Saya kira air tersebut yang baru bereaksi sehingga pada akhirnya dia muntah ketika sudah tiba di rumah.

Mendengar anak sakit ketika jauh merupakan sesuatu yang yang menyiksa karena tidak bisa merawatnya atau sekadar menemaninya untuk memulihkan kondisinya. Jarak memang seringkali menyiksa ketika mengingat keluarga yang ada di rumah.

#8 2023

June 7, 2023

Hanya 1 Mahasiswi (7)

Hari ini saya hanya sekitar lima menit di kelas. Bukan karena malas namun karena hanya ada satu mahasiswa yang hadir di kelas dan itu mahasiswi. Ada rasa bersalah hanya mengajar di kelas 10 menit namun karena dengan pertimbangan yang lain, maka saya putuskan untuk mengakhiri kuliah lebih cepat. Seandainya yang datang seorang mahasiswa meskipun satu, mungkin saya akan tetap melanjutkan perkuliahan sampai selesai.

Memang seharusnya jadwal perkuliahan jam 1 siang namun inisiatif para mahasiswa untuk memajukan jadwal kuliah menjadi jam 10 pagi karena jadwal kuliah pagi hanya diberikan penugasan oleh dosennya. Saya menyepakati usulan mereka agar lebih efektif dan mereka tidak terlalu sore pulang kampus.

Saya tipe orang yang selalu berusaha untuk tepat waktu sehingga sebelum jam 10, saya sudah menunggu di kelas. Selang 10 menit berlalu, ada satu mahasiswi yang datang namun tidak ada tanda-tanda kedatangan mahasiswa lain. Saya menanyakan kepada si mahasiswi tetapi dia juga tidak dikabari oleh teman-temannya.

Saya memberikan kompensasi menunggu 10 menit lagi, jika tidak ada lagi yang datang maka saya hanya akan memberikan kisi-kisi UAS. Sesungguhnya saya ingin tetap mengajar namun pertimbangan hal yang kurang etis ketika hanya berdua dengan seorang mahasiswi di kelas maka saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kelas.

Saya juga berpatokan pada pedoman akademik yang sudah ditetapkan dan sudah disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa bahwa toleransi keterlambatan hanya 15 menit dari jadwal yang sudah disepakati sementara saya sudah menunggu hampir 30 menit.

#7 2023

June 6, 2023

Jodoh dan Harta (6)

Alkisah seorang ibu paruh baya berasal dari desa kecil di Jawa Timur, memiliki lima saudara kandung yang mayoritas dari mereka sukses dalam ukuran finansial. Kesuksesan tersebut membuatnya seperti kehilangan identitas ke-jawa-annya yang dikenal sederhana bahkan dalam memandang seseorang, patokannya adalah kesuksesan dalam hal materi.

Salah seorang keponakannya, putri bungsu dalam kakak sulungnya, menikah dengan seorang pria yang secara finansial berada di bawah level mereka. Pernikahan mereka sudah berlangsung sejak dua tahun lalu dan sudah dikaruniai seorang anak. Mereka hidup bahagia di kampung dengan seorang putri mereka. Meskipun pekerjaan mereka dianggap tidak selevel dengan saudara-saudaranya yang lain.

Ibu paruh baya yang tinggal di kota besar dengan harta yang melimpah, ternyata masih belum menerima kenyataan kenapa kakak sulungnya sudi menerima pinangan seorang pria yang tidak sederajat dengan mereka dalam hal materi. Dia memendam rasa tersebut dan diceritakan kepada kakak perempuannya yang lain tentang ketidaksetujuannya.

Si ibu paruh baya memang memiliki harta yang lumayan dapat memenuhi kebutuhan maupun keinginannya apalagi tanggungannya hanya satu anak sehingga tentu level ekonominya di atas rata-rata. Dia bisa membeli apa yang disukai tanpa harus mengkalkulasi kebutuhan lain. Mungkin apa yang dia rasakan menjadi standar bagi orang lain sehingga dia memandang orang lain berdasarkan kalkulasi materi sesuai dengan yang dia rasakan.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika si ibu menggunakan standar materi untuk memandang orang lain namun sudah menjadi persoalan ketika standarnya tersebut mulai dipaksakan kepada orang lain termasuk juga keponakannya. Semua orang memiliki standar hidup masing-masing sehingga kita tidak boleh memaksakan standar hidup kita pada kehidupan orang lain.

Semua orang menjalani hidupnya dengan kesunyian masing-masing serta menetapkan standar hidup yang dijalani. Alangkah piciknya kita jika memaksakan standar kita kepada orang lain.

#6 2023

June 5, 2023

Baca Buku (5)

Juni sudah memasuki minggu pertama dan bulan ini juga menandakan separuh tahun ini sudah terlewati dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kekhawatiran yang muncul di pikiran pada awal tahun ternyata tidak terjadi. Hidup berjalan dengan baik-baik saja. Kita terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum terjadi sehingga semua nampak seperti tragedi.

Namun demikian, jika tidak menetapkan sebuah target pada bulan yang akan dilalui maka nantinya waktu yang dijalani akan banyak tersita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Demikianlah di Juni ini, saya sangat ini memaksa diri saya untuk lebih giat lagi membaca buku karena minggu lalu, saya sudah membeli stok buku bacaan di pameran buku BBW.

Baca buku tentu hanya satu dari sebagian hal bermanfaat yang ingin saya capai di bulan ini, termasuk juga produktivitas dalam menulis. Saya masih punya janji pada diri sendiri untuk menyelesaikan buku mandiri yang merupakan kumpulan tulisan reflektif. Selain itu, penelitian saya juga masih dalam tahap awal dan belum ada progres sama sekali.

Saya pernah membaca sebuah cerita tentang seseorang yang mampu membaca sekitar 60 buku dalam setahun. Jumlah yang menurut saya sangat fantasis dan ingin saya tiru. Bukan untuk gaya-gayaan namun saya meyakini bahwa membaca buku pasti akan memberikan dampak positif terhadap seseorang meskipun mungkin hanya sendikit.

Tentu sumber pengetahuan tidak hanya dari buku namun setidaknya bagi saya yang tidak punya kelebihan apa-apa, harus lebih banyak berusaha untuk memperoleh pengetahuan salah satunya dengan membaca buku dan menulis. 

Di minggu pertama, saya sudah menyelesaikan buku berjudul "Dilarang Mengutuk Hujan." Tulisan ringan yang ditulis oleh mentor saya di sebuah kelas kepenulisan. Meskipun hanya sekitar 166 halaman namun setidaknya bisa jadi awal yang baik untuk menuntaskan beberapa buku yang sudah saya beli. Ada beberapa buku prioritas yang harus saya selesaikan seperti bukunya Jared Diamond.

Buku "Dilarang Mengutuk Hujan" merupakan kumpulan tulisan reflektif tentang kehidupan sehari-hari. Sebagian dari tulisan itu sudah saya baca sebelumnya namun ada beberapa tulisan yang belum saya baca. Saya akui kemampuan story telling si penulis mengagumkan. Dulu saat ikut di kelasnya, dia selalu menyarankan untuk membuka sebuah tulisan dengan bercerita karena mayoritas pembaca lebih suka membaca cerita kehidupan sehari-hari.

Selain kemampuan bercerita, sudut pandang yang disodorkan juga selalu tidak terduga. Saya rasa ini yang menjadi keunggulan tulisan-tulisannya sehingga laris manis karena pembaca suka dengan tulisan yang memuat sudut pandang berbeda dengan yang lain. Mungkin saya topik yang diangkat sama namun perbedaan sudut pandang dalam melihat masalah yang membedakannya.

Sudut pandang ini pula yang kemudian saya pelajari dan saya asah di setiap tulisan saya meskipun terkadang masih terjerat di sudut pandang common sense. Memang bukan pekerjaan mudah untuk menemukan novelty dalam menulis sudut pandang.

#5 2023

June 4, 2023

Keringat Bercucuran (4)

Sejak pagi, saya merasa sangat gerah sementara sudah di depan kipas angin. Rasanya angin yang dihembuskan dari kipas juga terasa panas. Ternyata memang Jakarta sedang panas hari ini. Ketika iseng mengecek suhu, ternyata mencapai 33°C di malam hari.

Saya membayangkan betapa tersiksanya masyarakat India beberapa bulan lalu ketika dilanda cuaca ekstrim yang mencapai suhu 47°C. Tidak mengherankan jika suhu bumi yang tidak bersahabat menyebabkan beberapa orang meninggal di India karena tidak kuat menahan panas matahari. Bahkan menurut berita detik.com yang dipublikasikan tanggal 26 April 2023 bahwa setidaknya korban gelombang panas mencapai sekitar 24 ribu jiwa. Sebuah angka kematian yang cukup tinggi.

Gelombang panas semacam itu juga sangat rawan menyebabkan kebakaran di mana saja termasuk di hutan yang ditumbuhi pepohonan. Suhu bumi yang panas tidak serta merta datang begitu saja dari tempat entah berantah namun ada hukum kausalitas yang terjadi antara aktivitas manusia dengan suhu bumi yang sekarang memasuki fase kritis.

Global Warming

Diskursus tentang pemanasan global sudah sangat familiar bagi saya sejak saya kuliah di tingkat sarjana. Global warming memang menjadi kajian paling populer bagi para aktivis lingkungan karena dampaknya yang cukup membahayakan bagi keberlanjutan hidup manusia. Namun tidak dengan kelompok antroposentris yang menganggap bahwa inti kehidupan itu ada pada manusia dan semua yang ada di bumi ini ditujukan untuk kebutuhan manusia.

#4 2023

June 3, 2023

Buku (3)

Entah sejak kapan saya benar-benar terobsesi atas buku-buku meskipun pada dasarnya saya bukan seorang yang kutu buku dan bisa duduk berjam-jam untuk menyelesaikan bacaan. Namun demikian buku selalu mendapat tempat paling utama di setiap prioritas saya sehingga jika ada pameran buku maka saya suka mengunjungi dengan melihat tumpukan buku yang selalu menyisakan pengalaman menyenangkan.

Jika sebagian orang lain menyenangi pakaian branded, handphone terbaru atau barang lain yang mendatangkan kebahagiaan ketika memilikinya, maka saya menaruh perasaan yang sama pada buku. Saya bisa menghabiskan uang untuk membeli buku meskipun nantinya buku tersebut akan berakhir di rak saya dan hanya sesekali disentuh.

Sejak minggu lalu sampai tanggal lima lusa, Book Bad Wolf kembali hadir di BSD Tangerang. Tentu pameran buku ini selalu menjadi tujuan wajib saya setiap tahun meskipun jarak tempuh dari rumah mencapai 30 km. Berbagai jenis buku baik impor maupun lokal berserakan di sana dengan harga yang jauh sangat murah dibandingkan ketika membeli di gramedia.

Pameran BBW merupakan pameran buku terbesar di Asia Tenggara yang diinisiasi oleh pasangan suami istri Andrew Yap dan Jacqueline Ng. Pameran ini pertama kali diadakan pada tahun 2009 di Malaysia. Pameran buku yang membantu pencinta buku untuk menambah koleksi buku mereka.

Entah sejak tahun berapa saya selalu setia mendatangi pameran buku ini setiap tahun dan tentu saya selalu membawa banyak buku sepulang dari sana. Buku-buku incaran saya tentu genre sosial politik yang cukup banyak menyediakan stok. Selain itu, saya selalu membeli buku impor sebagai koleksi dan sesekali untuk mengasah kemampuan literasi bahasa asing.

Tahun ini, BBW hadir lebih cepat karena seingat saya, tahun lalu diadakan pada bulan November artinya belum genap setahun. Tahun lalu, saya lupa membeli berapa buku namun seingat saya bahwa saya berhasil membeli dua buku sejarah Arab pra Islam dan buku impor yang cukup tebal, "Shadow War."

Kali ini, saya kembali ke sana dengan naik motor dengan perjalanan hampir sejam. Saat memasuki aula pameran, saya merasa bahwa suasananya tidak seramai tahun lalu. Saya mengitari setiap tumpukan buku selama hampir 3 jam sebelum membeli beberapa buah buku yang menurut saya menarik. Saya menghabiskan sekitar 475 ribu dengan berhasil membawa buku-buku pilihan. Tentu jauh lebih sedikit dari sebagian orang yang memborong buku dengan jumlah yang banyak.

Sejak pindah kerja dengan gaji yang jauh lebih rendah dari gaji di pekerjaan sebelumnya, saya selalu berusaha untuk berhemat karena tidak ada pemasukan tambahan namun ketika berkunjung ke pameran buku, hasrat membeli buku tidak bisa saya bendung. Saya selalu menghabiskan banyak uang untuk membayar buku-buku yang menarik perhatian saya.

Demikianlah persinggungan saya dengan buku-buku. Semoga tetap ada rezeki untuk melanjutkan membeli buku dan memenuhi rumah dengan tumpukan buku.

#3 2023

June 2, 2023

Goes to Bandung (2)

Libur panjang kali ini saya tidak pulang karena istri dan anak saya yang datang ke Bandung. Kami memang sudah merencanakan jauh hari untuk liburan bersama meskipun memang cuma sehari namun minimal menuntaskan janji kepada anak yang sudah diucapkan. Biasanya bukan pada durasi lama waktunya namun pada momen yang nantinya akan diingat olehnya. 

Kemarin pagi, istri dan anak berangkat dari Jakarta menggunakan travel langganan saya. Pertimbangannya karena pool travel tersebut sangat dekat dari rumah sehingga tidak terlalu tergesa-gesa ketika akan berangkat apalagi tidak ada saya yang menemani mereka. Selain itu, pengalaman saya selama menggunakan travel tersebut selalu berangkat on time karena unitnya banyak dan sudah terjadwal sehingga meskipun penumpang sedikit, tetap berangkat sesuai jadwal.

Perkiraan saya, perjalanan mereka di sepanjang jalan tol akan berjalan lancar karena berhubung hari libur yang tentunya orang-orang sudah berangkat malam sebelumnya. Namun ternyata tidak demikian adanya, mereka menghabiskan empat jam lebih di travel sementara normalnya tiga jam saja. 

Saya berangkat lebih awal ke tempat pemberhentian travel agar mereka tidak menunggu lama. Saat akan menutup pagar, jari saya kejepit pagar yang lumayan membuat jari manis saya menghitam dan nyeri. Saya bahkan harus mengatur nafas sebelum mengunci pagar karena sakitnya terasa di sekujur tubuh bahkan ngilunya seperti menular ke dada.

Setiba di pool travel, ternyata mereka masih di tol dan saat dicek di map, masih sekitar sejam lagi. Saya memutuskan untuk pergi ke Togamas terdekat untuk menunggu sambil melihat-lihat buku. Saya tertarik dengan bukunya Neil Postman yang berjudul "Matinya Pendidikan" sehingga saya memutuskan untuk membelinya dengan harga 65 ribu.

Sekitar sejam menunggu di Togamas, saya kemudian kembali ke pool travel dan menunggu sebentar kemudian travel yang mereka tumpangi tiba. Travel cukup penuh karena ada rombongan mahasiswa dari Jakarta ke Bandung.

Saya sengaja mengikuti jalur yang setiap minggu saya lewati agar istri dan anak saya tahu jalur yang selalu saya lewati. Sebelum ke hotel, kami melewati kos saya kemudian lewat di depan kampus lalu mampir di masjid tempat saya sering salat. Saya sengaja mengelilingi tempat-tempat itu agar istri dan anak tahu rutinitas saya setiap minggu.

Setelah salat zuhur, kami mengitari sepanjang jalan Palasari untuk mencari makan namun ternyata tidak ada yang pas. Kami memutuskan untuk menuju rumah makan ibu Imas yang menjadi favorit wisatawan lokal. Saya menduga bahwa kemungkinan besar akan ada antrian panjang karena biasanya, warung tersebut ramai di waktu makan siang.

Benar saja dugaan saya, jalan menuju warung padat merayap bahkan kendaraan tidak bisa bergerak. Saya memutuskan mengambil jalur trotoar untuk sampai di depan warung. Namun sialnya, ternyata warung penuh dan terlihat antrian pengunjung yang mengular. Kami memutuskan untuk makan di warung depan yang tidak terlalu ramai.

Setelah menuntaskan urusan perut, kami segera menuju hotel golden flower di kawasan jalan Asia Afrika. Dari luar terlihat hotel sudah tua dan kami sudah pesimis padahal harganya di atas standar. Ketika memasuki lobi hotel, kami baru sadar bahwa bangunan yang terlihat tua hanya bangunan samping dan hotelnya cukup baik.

Rutinitas anak saya jika di hotel apalagi kalau bukan renang. Dia sudah menagih janji untuk renang namun kami memutuskan untuk renang setelah salat asar. Selain agar tidak terpotong salat juga agar matahari tidak terlalu panas.

Di kolam renang, dia menemui dunianya dan semua beban hilang. Dia bisa berjam-jam di kolam renang jika dibiarkan apalagi ada kolam buat anak-anak yang tidak mengharuskan saya untuk terus memantaunya. Dia bisa bermain air sendiri sepuasnya.

Malam hari, kami keluar mencari makan dan ujung-ujungnya berakhir di mall tepatnya di TSM. Mereka makan ayam goreng sementara saya hanya makan kentang karena memang di malam hari, saya sudah lama tidak makan nasi. Setelah semua makan malam tandas, kami menyempatkan mampir di rumah salah seorang rekan saya yang dari minggu lalu tidak masuk karena sakit. Ternyata dia sudah mendingan dan sudah bisa duduk. Kami kembali ke hotel sekitar jam sembilan malam.

Rutinitas pagi tentu kembali ke kolam renang. cukup dingin namun karena ini hari terakhir di hotel maka anak saya tetap saja menikmati air yang dingin. Dia bahkan tidak mau berhenti padahal sudah berjam-jam berendam di air.

Setelah renang, kami menikmati sarapan pagi di hotel dengan makanan yang lumayan enak meskipun tidak terlalu variatif. Ada aneka roti dan buah-buahan. Namun lauknya hanya tersisa gorengan, capcay dan ayam kuah. Biasanya dengan harga hotel seperti itu, sarapannya lebih banyak dengan aneka makanan yang tersedia.

Setelah makan, kami kemudian cek out dan bersiap ke toko oleh-oleh untuk membeli beberapa makanan ringan. Jadwal travel pulang masih lama sehingga kami masih memiliki waktu luang untuk mengitari kota Bandung karena banyak spot tempat yang belum kami kunjungi. Tiga tahun lalu, kami pernah ke Bandung namun seingat saya hanya beberapa tempat yang kami datangi.

Setelah membeli oleh-oleh dan sandal untuk anak saya karena sebelumnya sandalnya hilang di hotel, istri saya memberikan ide untuk mereschedule jadwal kepulangan karena waktu masih lama sementara kami sudah tidak punya agenda lagi. Saya setuju dengan usulannya sehingga kami bergegas ke kantor travel untuk menanyakan kursi yang masih tersedia di keberangkatan jam 4 sore. Oh iya, sebelumnya jadwal keberangkatan kami jam setengah tujuh malam.

Ternyata masih ada kursi kosong sehingga kami memutuskan untuk pulang lebih awal. Perjalanan pulang relatif lancar dan kami tiba di rumah tepat jam setengah delapan malam.

#2 2023

June 1, 2023

1 Juni (1)

Pancasila disepakati sebagai dasar negara bangsa ini yang memuat lima poin penting sebagai bentuk kesepakatan bersama untuk menjalankan negara. Maknanya sangat filosofis sehingga jika tidak diseriusi untuk dikaji maka hanya sekadar lima tulisan biasa yang tertera di dengan burung Garuda yang biasanya dipasang di ruang kelas. 

Bicara tentang pancasila maka tidak bisa dilepaskan dari sosok Soekarno yang memang menjadi figur penting dalam meletakkan pancasila sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dalam beberapa literatur, disebutkan bahwa pidato Soekarno tentang pancasila terjadi spontan meskipun tentu tidak bisa divalidasi karena sosok pemimpin besar seperti Soekarno pasti sudah melakukan refleksi mendalam sebelumnya.

"Saudara-saudara, dasar-dasar negara telah saya usulkan. Lima bilangannya, inikah panca dharma? bukan! nama panca dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan."

Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila tersebut maka dibentuk suatu panitia yang dikenal dengan panitia sembilan beranggotakan golongan nasionalis antara lain Ir Soekarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Achmad Soebardjo, dan Mohammad Yamin. Sementara golongan Islam diwakili Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim dan  Abdul Kahar Muzakir.

Perdebatan tentang butir-butir pancasila menemui puncaknya ketika redaksi pada poin pertama yang menimbulkan perdebatan panjang, meskipun pada akhirnya kemudian disepakati untuk menghilangkan sebagian redaksi yang dianggap eksklusif terhadap salah satu agama mayoritas di negeri ini.

Sampai saat ini, dihapusnya sebagian redaksi di sila pertama masih menimbulkan perdebatan panjang antara kelompok Islam dan Nasionalis. Sebagian kelompok Islam yang skriptualis menganggap bahwa dihilangkannya redaksi tersebut merupakan upaya dari beberapa kelompok untuk mendelegitimasi peran umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan merugikan umat Islam karena tidak bisa menerapkan syariat Islam.

Sementara kelompok nasionalis sepakat dihapuskannya tujuh kata di sila pertama karena terkesan merupakan eksklusivitas bagi umat Islam dan dikhawatirkan akan menjadi alat untuk mendiskriminasi umat agama lain.

Terlepas dari itu, Pancasila sudah disepakati menjadi dasar negara yang kemudian akan selalu dijadikan rujukan meskipun mungkin masih ada kritikan dari kelompok yang tidak sepakat dengan beberapa poin yang ada di Pancasila.

Ada yang menarik tentang Pancasila bahwa kata tersebut muncul dari refleksi Soekarno di bawah pohon ketika diasingkan di Ende dalam kurun waktu 1934-1939, sementara burung Garuda yang dijadikan simbol Pancasila pada dasarnya merupakan hewan fiktif yang sebenarnya tidak pernah ada. Simbolis burung Garuda hanya sebagai sebuah bentuk keperkasaan negara melalui simbolis yang gagah.

Yudi Latif yang merupakan salah seorang pakar aliansi kebangsaan serta merupakan dosen saya di Paramadina, menjelaskan bahwa Pancasila merupakan titik temu antara semua identitas yang ada di Indonesia termasuk titik temu agama dan ideologi. Konsep titik temu sangat akrab di telinga saya sebagai salah seorang alumnus universitas Paramadina karena konsep tersebut sering digaungkan oleh almarhum Cak Nur.

Begitulah sebuah negara berjalan sesuai cerita masing-masing. Generasi muda harus paham bahwa niatan dari para pendiri bangsa adalah bagaimana melihat negeri ini maju sehingga ketika melontarkan kritikan bukan ditujukan kepada sosok namun lebih pada kebijakan publik yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati.

#1 2023

May 31, 2023

Curhatan Para Suami (31)

Di prodi saya, ada empat dosen laki-laki namun karena yang satu seorang dekan maka yang sering berinteraksi di ruangan dosen hanya saya dan dua rekan lain. Keduanya lebih senior dari saya baik dari segi umur maupun pengalaman mengajar di kampus. Meskipun demikian, mereka terbuka untuk semua hal termasuk tentang cerita masing-masing keluarga.

Kami terbiasa bersantai di meja rapat ketika jam sudah menunjukkan waktu pulang. Minum kopi dengan aneka cemilan sambil menatap kota Bandung yang sebentar lagi akan mendekap gelap. Bandung memang memiliki cerita tersendiri bagi saya sejak bekerja di sini.

Poligami menjadi bahan diskusi paling sering kami perbincangkan. Saya awalnya merasa hanya sekadar bercanda dan memilih topik yang bisa membangkitkan keakraban namun terjadi, pada akhirnya saya menyadari bahwa rekan saya benar-benar memiliki niat untuk poligami, bukan sebuah bualan semata. Dia berusaha mencari istri kedua yang menurutnya sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Saya sendiri tidak pernah berusaha untuk masuk dalam percakapan serius karena selain tidak memiliki ilmu tentang poligami, saya juga sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan hal yang sama dengan begitu banyak pertimbangan.

Mungkin jika ada terbersit sedikit niat untuk poligami, tidak lain karena nafsu belaka. Selain itu, saya sama sekali tidak punya proyeksi apa-apa karena merasa bahwa dengan satu istri dan sekarang memiliki anak, saya belum maksimal menjadi seorang suami dan ayah yang ideal.

Rekan tadi yang berniat poligami bahkan sudah pernah bertamu ke salah seorang perempuan yang diincar, namun si perempuan tidak sudi jika poligami. Saya salut atas keberanian rekan saya hanya saja sedikit yang tidak saya sepakati karena salah satu alasannya ingin poligami adalah ketidaksesuaian dengan istrinya.

Dia tidak sungkan untuk menceritakan persoalan keluarganya. Mungkin karena sudah tidak tahan dan sudah tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik maka semua uneg-uneg dikeluarkan dan apa yang dia rasakan di rumah. Mendengar curhatannya, saya berpikir bahwa masalah saya masih sedikit lebih ringan dari apa yang dialami oleh rekan saya.

Tipe suami berbeda-beda tergantung preferensi masing-masing pribadi. Rekan saya merupakan tipe suami yang ingin dilayani oleh istrinya termasuk ketika pulang, disambut dengan hangat dan ketika santai, dibuatkan segelas teh hangat. Perlakuan semacam itu yang tidak pernah dirasakan olehnya bahkan ketika pulang ke rumah, seringkali dia menjumpai istrinya sudah terlelap sementara dia tiba di rumah dengan energi yang terkuras.

Selain itu, dia benar-benar sangat merasa perih ketika dalam beberapa kali kejadian, istrinya tidak menghargai profesinya karena dianggap tidak mendatangkan uang yang cukup untuk memenuhi keinginan istrinya. Penghargaan itu yang membuatnya berpikir bahwa selama ini, dengan segala energi yang dikeluarkan di tempat kerja, seakan sia-sia ketika sampai di rumah.

Begitulah sedikit dari beberapa ceritanya yang membuat saya merasa bahwa meskipun saya juga memiliki segudang masalah namun setidaknya masih lebih ringan dari apa yang dialami oleh rekan saya.

***

Di suatu malam saat bersantai dengan istri, saya membisikkan satu pertanyaan yang sangat klises "rasa sayangmu semakin besar atau semakin berkurang sejak kita bersama?"

Saya sengaja memulai hal-hal kecil dengan istri saya untuk kemudian membangun semua rasa yang mungkin terkadang mulai terkikis. Meskipun kami bukan pasangan ideal ditambah lagi dengan saya yang terkadang emosi namun saya berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah saya peroleh dan apa yang sudah istri lakukan terhadap saya.

#31 2023

May 30, 2023

Kuliah Pakar (30)

Tadi pagi saya menjadi moderator pada kuliah pakar yang diadakan oleh prodi. Ini pengalaman pertama menjadi moderator sejak mengambil keputusan untuk terjun di dunia akademisi. Sebenarnya dulu saat sangat sering menjadi moderator namun sudah terlalu lama sehingga saya harus mengingat-ingat kembali semua hal yang harus dilakukan jika bertindak sebagai seorang moderator.

Kuliah pakar tersebut diadakan sebagai salah satu pengganti mata kuliah yang saya ampu. Sebenarnya saya juga sangat awam di dunia ekspor impor karena rumpun ilmu saya bukan spesifik di ekspor impor namun lebih pada kajian hubungan internasional. Kenapa saya mengampu mata kuliah ini, tidak lain karena tidak ada dosen yang bersedia mengajar mata kuliah ini.

Menjadi bagian pengajar di prodi perdagangan internasional seperti mencari celah agar saya tetap dapat porsi mengajar mengingat corak kurikulum perdagangan internasional di kampus saya lebih cenderung ke ekonomi khususnya manajemen, sementara porsi untuk rumpun ilmu hubungan internasional sangat kurang bahkan saat melihat kurikulum, hanya 1 mata kuliah yang benar-benar murni kuliah hubungan internasional yaitu politik luar negeri.

Kuliah pakar tadi berlangsung dengan baik dan lancar sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan meskipun saya merasa belum terlalu maksimal. Narasumber membawakan materi dengan sangat baik tetapi saya merasa bahwa peserta termasuk mahasiswa perdagangan internasional tidak terlalu antusias, mungkin karena bekal mereka yang tidak terlalu memadai.

Kuliah pakar tersebut tentu sebagai langkah awal untuk membangun relasi dengan pihak luar dalam hal kolaborasi dalam bentuk magang, PKL, dan berbagai kegiatan lain yang memungkinkan untuk melibatkan mahasiswa. Tentu itu sangat diperlukan di prodi kami karena baru berumur tiga tahun dan diperlukan usaha yang keras untuk membangun reputasi dan branding yang matang.

#30 2023

May 29, 2023

Masuk Angin (29)

Tubuh memiliki mekanismenya sendiri. Kita tidak bisa melawan hukum alam terkait keseimbangan tubuh bahwa jika capek sebaiknya istirahat, jika lapar maka solusinya makan dan hukum alam lain yang harus dijalani. Hanya sebagian orang yang benar-benar menekuni tirakatnya yang mampu melampaui hukum alam yang sudah ditetapkan.

Minggu lalu, badan saya sudah memberikan tanda-tanda bahwa saya akan mengalami sakit, mulai dari gigi yang ngilu sampai ke ubun-ubun kemudian badan mulai terasa seperti akan demam. Saya minum obat sebagai ikhtiar untuk sembuh dan benar saja, dua kali minum obat, tubuh saya mulai agak ringan dan hanya tersisa gigi yang masih sedikit ngilu namun sudah tidak mengganggu.

Saya balik ke Jakarta malam hari dan sampai di rumah menjelang jam 11 malam. Saya terbiasa mandi sebelum tidur karena jika langsung tidur, biasanya tidak nyenyak. Saya lupa bahwa dua hari sebelumnya badan saya minta jatah untuk diperhatikan namun ternyata saya ceroboh dan mengguyurnya dengan air dingin di malam hari.

Di pagi hari, saya dan keluarga naik motor ke GBK yang berjarak sekitar lebih dari 10 km dari rumah. Saya hanya mengenakan jaket olahraga yang sangat tipis dan tidak layak digunakan ketika naik motor. Badan saya belum merasakan apa-apa pada saat itu. Saya masih tetap dengan santainya jogging.

Esok hari ketika keluar lagi mengantar istri belanja tanpa mengenakan jaket, badan saya benar-benar sudah mulai berontak. Saat berada di mall, saya hampir jatuh karena merasa seperti agak pusing. Saya mencoba bertahan dan kemudian kembali ke rumah. Setiba di rumah, benar saja perut saya bunyi tanpa henti kemudian buang air besar yang keluar hanya air.

Saya masuk angin karena tidak memperhatikan bahwa tubuh butuh penjagaan yang lebih. 

#29 2023

May 28, 2023

Senior (28)

Di sepanjang tol layang MBZ perjalanan berangkat dari Jakarta ke Bandung, saya mengikuti bedah buku karya kak Nur Ana Sejati. Buku yang dibahas berjudul "Hening di 9 Kilometer." Sebuah buku yang menceritakan perjalanan panjang penulis dan suaminya dalam melawan penyakit kanker. Penyakit yang masih menjadi momok bagi umat manusia karena merupakan penyakit sistematik yang membuat seluruh fungsi tubuh berkurang dan perlahan-lahan membunuh manusia.

Kak Ana merupakan salah satu senior saya yang ada di "english club," namun saya tidak mengenalnya secara personal karena kami berbeda generasi. Beliau merupakan generasi awal di organisasi tersebut sementara saya bergabung ketika beliau sudah berkarir di instansi pemerintahan. Saya mengenal beliau dari tulisannya di blog yang saya ikuti dan semua cerita tentangnya saya ketahui dari blog tersebut.

Kabar sakitnya pun ditulis di blog sehingga saya tahu bahwa beberapa tahun yang lalu, beliau menderita penyakit yang kemudian menjadi penyebab beliau menemui ajal. Meskipun sedang sakit namun tidak mengurangi produktivitasnya dalam menulis bahkan serasa bahan bakar, beliau semakin sering menulis ketika sakit.

Kak Ana aslinya dari Jawa dan merantau ke Sulawesi tanpa ada sanak saudara. Beliau kuliah di PTN terbesar di Makassar yang pada akhirnya menjadi jalan untuk menemukan banyak kebaikan. Beliau juga bertemu dengan suaminya.

Begitulah perjalanan hidup umat manusia. Kita sama sekali tidak mengetahui apa yang akan dihadapi ke depan. Serasa bermain dadu yang dilemparkan ke atas dan jatuhnya tidak ada yang bisa menentukan, hanya bisa diprediksi dengan beberapa kemungkinan saja tanpa kita sama sekali mempunyai kuasa untuk menentukan apa yang kita inginkan dalam hidup.

Saya mempunyai saudara sepupu yang juga pernah mengalami penyakit yang hampir serupa. Beliau berjuang sekitar 4 tahun kemudian akhirnya harus berpulang. Beliau meninggalkan 4 orang anak yang masih butuh sosok seorang ibu namun semesta memiliki cerita yang berbeda, beliau harus melepaskan semua untuk segera balik arah.

Saya pernah menyaksikan betapa beliau sama sekali tidak mampu berdiri dan hanya berbaring bahkan saat hendak salat pun. Meskipun demikian, dia tetap bercerita dengan ceria dan jika hanya mendengarkan dari suaranya maka kita tidak akan mengira bahwa beliau sedang menderita penyakit yang parah.

Bicara tentang penyakit, saya juga pernah mengalami fase di mana merasakan penyakit menahun yang benar-benar membuat saya harus treatment secara rutin dengan minum obat. Selain rasa sakit di badan, psikologis seseorang yang sakit juga sangat terpengaruh bahkan berbagai bayang-bayang hal yang buruk selalu dibayangkan seperti kematian.

#28 2023

May 27, 2023

Kebebasan dan Demokrasi (27)

Saya sedang membaca buku Erich Fromm yang berjudul "Lari dari Kebebasan." Buku yang mengulas tentang hakikat kebebasan dari sudut pandang psikoanalisis. Pada bab terakhir dengan judul "Kebebasan dan Demokrasi," saya merenungkan beberapa kalimat yang menurut saya masuk akal. Ada banyak ide yang dikemukan oleh Erich di bagian ini salah satunya tentang orisinalitas. 

Konsep ini seringkali menjadi perdebatan dalam berbagai bidang termasuk ilmu pengetahuan. Beberapa kalangan menggugat orisinalitas dengan dalih bahwa segala sesuatu tentu pernah dipikirkan oleh manusia sebelumnya jadi tidak ada yang benar-benar orisinal. 

Erich memberikan pandangannya bahwa orisinalitas itu bukan berarti ide itu tidak pernah dipikirkan oleh orang sebelumnya, tetapi orisinal dalam artian pikiran itu datang dari dalam individu itu sendiri, merupakan hasil dari aktivitasnya, dan merupakan buah pikirannya sendiri. 

Saya sepakat atas konsep orisinal yang dikemukakan oleh Erich karena dalam beberapa kali kejadian, saya sendiri mengalaminya. Salah satu yang masih saya ingat adalah semua yang datang dari hati maka akan bisa menembus hati orang lain. Misalnya jika ketika menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang benar-benar berasal dari ketulusan hati kita maka pesan itu akan sampai ke hati orang lain. Kemudian beberapa tahun berlalu, ada beberapa orang yang menuliskan konsep itu persis dengan apa yang pernah saya pikirkan sebelumnya.

Pada bab ini, Erich juga menulis bahwa setiap aanak pasti memiliki ukuran kebencian dan tendensi memberontak tertentu sebagai imbas konflik mereka dengan dunia sekitar yang cenderung menghalangi perkembangan mereka. Tentu kita sebagai manusia pernah merasakan hal yang sama bahwa bagaimana kita seminimal mungkin pernah memberontak atas apa saja yang tidak disepakati bahkan kepada orang tua sekalipun.

Saya menyukai apa yang diutarakan oleh Erich bahwa semua masalah yang ada pada diri seseorang terlalu rumit untuk bisa diselesaikan oleh individu walau sesungguhnya mayoritas dari permasalahan mendasar dalam diri individu dan kehidupan sosial sesungguhnya sangat sederhana, manusia tak percaya atas kapasitas mereka sendiri untuk memikirkan jalan keluar dari suatu masalah sebab masyarakat dengan sengaja membentuk pandangan bahwa apa yang dihadapi sangat rumit sehingga hanya dapat dipahami oleh seorang spesialis.

Begitulah apa yang terjadi sekarang. Mayoritas dari kita terjebak dalam sudut pandang masyarakat sehingga membatasi ruang gerak kita yang sebenarnya sangat luas. Saat menghadapi sebuah masalah, hal yang pertama ada di benak kita adalah pandangan orang lain alih-alih berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tersebut untuk kepentingan dan kebaikan diri sendiri.

#27 2023