Pancasila disepakati sebagai dasar negara bangsa ini yang memuat lima poin penting sebagai bentuk kesepakatan bersama untuk menjalankan negara. Maknanya sangat filosofis sehingga jika tidak diseriusi untuk dikaji maka hanya sekadar lima tulisan biasa yang tertera di dengan burung Garuda yang biasanya dipasang di ruang kelas.
Bicara tentang pancasila maka tidak bisa dilepaskan dari sosok Soekarno yang memang menjadi figur penting dalam meletakkan pancasila sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dalam beberapa literatur, disebutkan bahwa pidato Soekarno tentang pancasila terjadi spontan meskipun tentu tidak bisa divalidasi karena sosok pemimpin besar seperti Soekarno pasti sudah melakukan refleksi mendalam sebelumnya.
"Saudara-saudara, dasar-dasar negara telah saya usulkan. Lima bilangannya, inikah panca dharma? bukan! nama panca dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan."
Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila tersebut maka dibentuk suatu panitia yang dikenal dengan panitia sembilan beranggotakan golongan nasionalis antara lain Ir Soekarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Achmad Soebardjo, dan Mohammad Yamin. Sementara golongan Islam diwakili Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim dan Abdul Kahar Muzakir.
Perdebatan tentang butir-butir pancasila menemui puncaknya ketika redaksi pada poin pertama yang menimbulkan perdebatan panjang, meskipun pada akhirnya kemudian disepakati untuk menghilangkan sebagian redaksi yang dianggap eksklusif terhadap salah satu agama mayoritas di negeri ini.
Sampai saat ini, dihapusnya sebagian redaksi di sila pertama masih menimbulkan perdebatan panjang antara kelompok Islam dan Nasionalis. Sebagian kelompok Islam yang skriptualis menganggap bahwa dihilangkannya redaksi tersebut merupakan upaya dari beberapa kelompok untuk mendelegitimasi peran umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan merugikan umat Islam karena tidak bisa menerapkan syariat Islam.
Sementara kelompok nasionalis sepakat dihapuskannya tujuh kata di sila pertama karena terkesan merupakan eksklusivitas bagi umat Islam dan dikhawatirkan akan menjadi alat untuk mendiskriminasi umat agama lain.
Terlepas dari itu, Pancasila sudah disepakati menjadi dasar negara yang kemudian akan selalu dijadikan rujukan meskipun mungkin masih ada kritikan dari kelompok yang tidak sepakat dengan beberapa poin yang ada di Pancasila.
Ada yang menarik tentang Pancasila bahwa kata tersebut muncul dari refleksi Soekarno di bawah pohon ketika diasingkan di Ende dalam kurun waktu 1934-1939, sementara burung Garuda yang dijadikan simbol Pancasila pada dasarnya merupakan hewan fiktif yang sebenarnya tidak pernah ada. Simbolis burung Garuda hanya sebagai sebuah bentuk keperkasaan negara melalui simbolis yang gagah.
Yudi Latif yang merupakan salah seorang pakar aliansi kebangsaan serta merupakan dosen saya di Paramadina, menjelaskan bahwa Pancasila merupakan titik temu antara semua identitas yang ada di Indonesia termasuk titik temu agama dan ideologi. Konsep titik temu sangat akrab di telinga saya sebagai salah seorang alumnus universitas Paramadina karena konsep tersebut sering digaungkan oleh almarhum Cak Nur.
Begitulah sebuah negara berjalan sesuai cerita masing-masing. Generasi muda harus paham bahwa niatan dari para pendiri bangsa adalah bagaimana melihat negeri ini maju sehingga ketika melontarkan kritikan bukan ditujukan kepada sosok namun lebih pada kebijakan publik yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati.
#1 2023
No comments:
Post a Comment