Alkisah seorang ibu paruh baya berasal dari desa kecil di Jawa Timur, memiliki lima saudara kandung yang mayoritas dari mereka sukses dalam ukuran finansial. Kesuksesan tersebut membuatnya seperti kehilangan identitas ke-jawa-annya yang dikenal sederhana bahkan dalam memandang seseorang, patokannya adalah kesuksesan dalam hal materi.
Salah seorang keponakannya, putri bungsu dalam kakak sulungnya, menikah dengan seorang pria yang secara finansial berada di bawah level mereka. Pernikahan mereka sudah berlangsung sejak dua tahun lalu dan sudah dikaruniai seorang anak. Mereka hidup bahagia di kampung dengan seorang putri mereka. Meskipun pekerjaan mereka dianggap tidak selevel dengan saudara-saudaranya yang lain.
Ibu paruh baya yang tinggal di kota besar dengan harta yang melimpah, ternyata masih belum menerima kenyataan kenapa kakak sulungnya sudi menerima pinangan seorang pria yang tidak sederajat dengan mereka dalam hal materi. Dia memendam rasa tersebut dan diceritakan kepada kakak perempuannya yang lain tentang ketidaksetujuannya.
Si ibu paruh baya memang memiliki harta yang lumayan dapat memenuhi kebutuhan maupun keinginannya apalagi tanggungannya hanya satu anak sehingga tentu level ekonominya di atas rata-rata. Dia bisa membeli apa yang disukai tanpa harus mengkalkulasi kebutuhan lain. Mungkin apa yang dia rasakan menjadi standar bagi orang lain sehingga dia memandang orang lain berdasarkan kalkulasi materi sesuai dengan yang dia rasakan.
Sebenarnya tidak ada yang salah ketika si ibu menggunakan standar materi untuk memandang orang lain namun sudah menjadi persoalan ketika standarnya tersebut mulai dipaksakan kepada orang lain termasuk juga keponakannya. Semua orang memiliki standar hidup masing-masing sehingga kita tidak boleh memaksakan standar hidup kita pada kehidupan orang lain.
Semua orang menjalani hidupnya dengan kesunyian masing-masing serta menetapkan standar hidup yang dijalani. Alangkah piciknya kita jika memaksakan standar kita kepada orang lain.
#6 2023
No comments:
Post a Comment