May 31, 2023

Curhatan Para Suami (31)

Di prodi saya, ada empat dosen laki-laki namun karena yang satu seorang dekan maka yang sering berinteraksi di ruangan dosen hanya saya dan dua rekan lain. Keduanya lebih senior dari saya baik dari segi umur maupun pengalaman mengajar di kampus. Meskipun demikian, mereka terbuka untuk semua hal termasuk tentang cerita masing-masing keluarga.

Kami terbiasa bersantai di meja rapat ketika jam sudah menunjukkan waktu pulang. Minum kopi dengan aneka cemilan sambil menatap kota Bandung yang sebentar lagi akan mendekap gelap. Bandung memang memiliki cerita tersendiri bagi saya sejak bekerja di sini.

Poligami menjadi bahan diskusi paling sering kami perbincangkan. Saya awalnya merasa hanya sekadar bercanda dan memilih topik yang bisa membangkitkan keakraban namun terjadi, pada akhirnya saya menyadari bahwa rekan saya benar-benar memiliki niat untuk poligami, bukan sebuah bualan semata. Dia berusaha mencari istri kedua yang menurutnya sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Saya sendiri tidak pernah berusaha untuk masuk dalam percakapan serius karena selain tidak memiliki ilmu tentang poligami, saya juga sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan hal yang sama dengan begitu banyak pertimbangan.

Mungkin jika ada terbersit sedikit niat untuk poligami, tidak lain karena nafsu belaka. Selain itu, saya sama sekali tidak punya proyeksi apa-apa karena merasa bahwa dengan satu istri dan sekarang memiliki anak, saya belum maksimal menjadi seorang suami dan ayah yang ideal.

Rekan tadi yang berniat poligami bahkan sudah pernah bertamu ke salah seorang perempuan yang diincar, namun si perempuan tidak sudi jika poligami. Saya salut atas keberanian rekan saya hanya saja sedikit yang tidak saya sepakati karena salah satu alasannya ingin poligami adalah ketidaksesuaian dengan istrinya.

Dia tidak sungkan untuk menceritakan persoalan keluarganya. Mungkin karena sudah tidak tahan dan sudah tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik maka semua uneg-uneg dikeluarkan dan apa yang dia rasakan di rumah. Mendengar curhatannya, saya berpikir bahwa masalah saya masih sedikit lebih ringan dari apa yang dialami oleh rekan saya.

Tipe suami berbeda-beda tergantung preferensi masing-masing pribadi. Rekan saya merupakan tipe suami yang ingin dilayani oleh istrinya termasuk ketika pulang, disambut dengan hangat dan ketika santai, dibuatkan segelas teh hangat. Perlakuan semacam itu yang tidak pernah dirasakan olehnya bahkan ketika pulang ke rumah, seringkali dia menjumpai istrinya sudah terlelap sementara dia tiba di rumah dengan energi yang terkuras.

Selain itu, dia benar-benar sangat merasa perih ketika dalam beberapa kali kejadian, istrinya tidak menghargai profesinya karena dianggap tidak mendatangkan uang yang cukup untuk memenuhi keinginan istrinya. Penghargaan itu yang membuatnya berpikir bahwa selama ini, dengan segala energi yang dikeluarkan di tempat kerja, seakan sia-sia ketika sampai di rumah.

Begitulah sedikit dari beberapa ceritanya yang membuat saya merasa bahwa meskipun saya juga memiliki segudang masalah namun setidaknya masih lebih ringan dari apa yang dialami oleh rekan saya.

***

Di suatu malam saat bersantai dengan istri, saya membisikkan satu pertanyaan yang sangat klises "rasa sayangmu semakin besar atau semakin berkurang sejak kita bersama?"

Saya sengaja memulai hal-hal kecil dengan istri saya untuk kemudian membangun semua rasa yang mungkin terkadang mulai terkikis. Meskipun kami bukan pasangan ideal ditambah lagi dengan saya yang terkadang emosi namun saya berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah saya peroleh dan apa yang sudah istri lakukan terhadap saya.

#31 2023

No comments: