Libur panjang kali ini saya tidak pulang karena istri dan anak saya yang datang ke Bandung. Kami memang sudah merencanakan jauh hari untuk liburan bersama meskipun memang cuma sehari namun minimal menuntaskan janji kepada anak yang sudah diucapkan. Biasanya bukan pada durasi lama waktunya namun pada momen yang nantinya akan diingat olehnya.
Kemarin pagi, istri dan anak berangkat dari Jakarta menggunakan travel langganan saya. Pertimbangannya karena pool travel tersebut sangat dekat dari rumah sehingga tidak terlalu tergesa-gesa ketika akan berangkat apalagi tidak ada saya yang menemani mereka. Selain itu, pengalaman saya selama menggunakan travel tersebut selalu berangkat on time karena unitnya banyak dan sudah terjadwal sehingga meskipun penumpang sedikit, tetap berangkat sesuai jadwal.
Perkiraan saya, perjalanan mereka di sepanjang jalan tol akan berjalan lancar karena berhubung hari libur yang tentunya orang-orang sudah berangkat malam sebelumnya. Namun ternyata tidak demikian adanya, mereka menghabiskan empat jam lebih di travel sementara normalnya tiga jam saja.
Saya berangkat lebih awal ke tempat pemberhentian travel agar mereka tidak menunggu lama. Saat akan menutup pagar, jari saya kejepit pagar yang lumayan membuat jari manis saya menghitam dan nyeri. Saya bahkan harus mengatur nafas sebelum mengunci pagar karena sakitnya terasa di sekujur tubuh bahkan ngilunya seperti menular ke dada.
Setiba di pool travel, ternyata mereka masih di tol dan saat dicek di map, masih sekitar sejam lagi. Saya memutuskan untuk pergi ke Togamas terdekat untuk menunggu sambil melihat-lihat buku. Saya tertarik dengan bukunya Neil Postman yang berjudul "Matinya Pendidikan" sehingga saya memutuskan untuk membelinya dengan harga 65 ribu.
Sekitar sejam menunggu di Togamas, saya kemudian kembali ke pool travel dan menunggu sebentar kemudian travel yang mereka tumpangi tiba. Travel cukup penuh karena ada rombongan mahasiswa dari Jakarta ke Bandung.
Saya sengaja mengikuti jalur yang setiap minggu saya lewati agar istri dan anak saya tahu jalur yang selalu saya lewati. Sebelum ke hotel, kami melewati kos saya kemudian lewat di depan kampus lalu mampir di masjid tempat saya sering salat. Saya sengaja mengelilingi tempat-tempat itu agar istri dan anak tahu rutinitas saya setiap minggu.
Setelah salat zuhur, kami mengitari sepanjang jalan Palasari untuk mencari makan namun ternyata tidak ada yang pas. Kami memutuskan untuk menuju rumah makan ibu Imas yang menjadi favorit wisatawan lokal. Saya menduga bahwa kemungkinan besar akan ada antrian panjang karena biasanya, warung tersebut ramai di waktu makan siang.
Benar saja dugaan saya, jalan menuju warung padat merayap bahkan kendaraan tidak bisa bergerak. Saya memutuskan mengambil jalur trotoar untuk sampai di depan warung. Namun sialnya, ternyata warung penuh dan terlihat antrian pengunjung yang mengular. Kami memutuskan untuk makan di warung depan yang tidak terlalu ramai.
Setelah menuntaskan urusan perut, kami segera menuju hotel golden flower di kawasan jalan Asia Afrika. Dari luar terlihat hotel sudah tua dan kami sudah pesimis padahal harganya di atas standar. Ketika memasuki lobi hotel, kami baru sadar bahwa bangunan yang terlihat tua hanya bangunan samping dan hotelnya cukup baik.
Rutinitas anak saya jika di hotel apalagi kalau bukan renang. Dia sudah menagih janji untuk renang namun kami memutuskan untuk renang setelah salat asar. Selain agar tidak terpotong salat juga agar matahari tidak terlalu panas.
Di kolam renang, dia menemui dunianya dan semua beban hilang. Dia bisa berjam-jam di kolam renang jika dibiarkan apalagi ada kolam buat anak-anak yang tidak mengharuskan saya untuk terus memantaunya. Dia bisa bermain air sendiri sepuasnya.
Malam hari, kami keluar mencari makan dan ujung-ujungnya berakhir di mall tepatnya di TSM. Mereka makan ayam goreng sementara saya hanya makan kentang karena memang di malam hari, saya sudah lama tidak makan nasi. Setelah semua makan malam tandas, kami menyempatkan mampir di rumah salah seorang rekan saya yang dari minggu lalu tidak masuk karena sakit. Ternyata dia sudah mendingan dan sudah bisa duduk. Kami kembali ke hotel sekitar jam sembilan malam.
Rutinitas pagi tentu kembali ke kolam renang. cukup dingin namun karena ini hari terakhir di hotel maka anak saya tetap saja menikmati air yang dingin. Dia bahkan tidak mau berhenti padahal sudah berjam-jam berendam di air.
Setelah renang, kami menikmati sarapan pagi di hotel dengan makanan yang lumayan enak meskipun tidak terlalu variatif. Ada aneka roti dan buah-buahan. Namun lauknya hanya tersisa gorengan, capcay dan ayam kuah. Biasanya dengan harga hotel seperti itu, sarapannya lebih banyak dengan aneka makanan yang tersedia.
Setelah makan, kami kemudian cek out dan bersiap ke toko oleh-oleh untuk membeli beberapa makanan ringan. Jadwal travel pulang masih lama sehingga kami masih memiliki waktu luang untuk mengitari kota Bandung karena banyak spot tempat yang belum kami kunjungi. Tiga tahun lalu, kami pernah ke Bandung namun seingat saya hanya beberapa tempat yang kami datangi.
Setelah membeli oleh-oleh dan sandal untuk anak saya karena sebelumnya sandalnya hilang di hotel, istri saya memberikan ide untuk mereschedule jadwal kepulangan karena waktu masih lama sementara kami sudah tidak punya agenda lagi. Saya setuju dengan usulannya sehingga kami bergegas ke kantor travel untuk menanyakan kursi yang masih tersedia di keberangkatan jam 4 sore. Oh iya, sebelumnya jadwal keberangkatan kami jam setengah tujuh malam.
Ternyata masih ada kursi kosong sehingga kami memutuskan untuk pulang lebih awal. Perjalanan pulang relatif lancar dan kami tiba di rumah tepat jam setengah delapan malam.
#2 2023
No comments:
Post a Comment