Di sepanjang tol layang MBZ perjalanan berangkat dari Jakarta ke Bandung, saya mengikuti bedah buku karya kak Nur Ana Sejati. Buku yang dibahas berjudul "Hening di 9 Kilometer." Sebuah buku yang menceritakan perjalanan panjang penulis dan suaminya dalam melawan penyakit kanker. Penyakit yang masih menjadi momok bagi umat manusia karena merupakan penyakit sistematik yang membuat seluruh fungsi tubuh berkurang dan perlahan-lahan membunuh manusia.
Kak Ana merupakan salah satu senior saya yang ada di "english club," namun saya tidak mengenalnya secara personal karena kami berbeda generasi. Beliau merupakan generasi awal di organisasi tersebut sementara saya bergabung ketika beliau sudah berkarir di instansi pemerintahan. Saya mengenal beliau dari tulisannya di blog yang saya ikuti dan semua cerita tentangnya saya ketahui dari blog tersebut.
Kabar sakitnya pun ditulis di blog sehingga saya tahu bahwa beberapa tahun yang lalu, beliau menderita penyakit yang kemudian menjadi penyebab beliau menemui ajal. Meskipun sedang sakit namun tidak mengurangi produktivitasnya dalam menulis bahkan serasa bahan bakar, beliau semakin sering menulis ketika sakit.
Kak Ana aslinya dari Jawa dan merantau ke Sulawesi tanpa ada sanak saudara. Beliau kuliah di PTN terbesar di Makassar yang pada akhirnya menjadi jalan untuk menemukan banyak kebaikan. Beliau juga bertemu dengan suaminya.
Begitulah perjalanan hidup umat manusia. Kita sama sekali tidak mengetahui apa yang akan dihadapi ke depan. Serasa bermain dadu yang dilemparkan ke atas dan jatuhnya tidak ada yang bisa menentukan, hanya bisa diprediksi dengan beberapa kemungkinan saja tanpa kita sama sekali mempunyai kuasa untuk menentukan apa yang kita inginkan dalam hidup.
Saya mempunyai saudara sepupu yang juga pernah mengalami penyakit yang hampir serupa. Beliau berjuang sekitar 4 tahun kemudian akhirnya harus berpulang. Beliau meninggalkan 4 orang anak yang masih butuh sosok seorang ibu namun semesta memiliki cerita yang berbeda, beliau harus melepaskan semua untuk segera balik arah.
Saya pernah menyaksikan betapa beliau sama sekali tidak mampu berdiri dan hanya berbaring bahkan saat hendak salat pun. Meskipun demikian, dia tetap bercerita dengan ceria dan jika hanya mendengarkan dari suaranya maka kita tidak akan mengira bahwa beliau sedang menderita penyakit yang parah.
Bicara tentang penyakit, saya juga pernah mengalami fase di mana merasakan penyakit menahun yang benar-benar membuat saya harus treatment secara rutin dengan minum obat. Selain rasa sakit di badan, psikologis seseorang yang sakit juga sangat terpengaruh bahkan berbagai bayang-bayang hal yang buruk selalu dibayangkan seperti kematian.
#28 2023
No comments:
Post a Comment