Saya sedang membaca buku Erich Fromm yang berjudul "Lari dari Kebebasan." Buku yang mengulas tentang hakikat kebebasan dari sudut pandang psikoanalisis. Pada bab terakhir dengan judul "Kebebasan dan Demokrasi," saya merenungkan beberapa kalimat yang menurut saya masuk akal. Ada banyak ide yang dikemukan oleh Erich di bagian ini salah satunya tentang orisinalitas.
Konsep ini seringkali menjadi perdebatan dalam berbagai bidang termasuk ilmu pengetahuan. Beberapa kalangan menggugat orisinalitas dengan dalih bahwa segala sesuatu tentu pernah dipikirkan oleh manusia sebelumnya jadi tidak ada yang benar-benar orisinal.
Erich memberikan pandangannya bahwa orisinalitas itu bukan berarti ide itu tidak pernah dipikirkan oleh orang sebelumnya, tetapi orisinal dalam artian pikiran itu datang dari dalam individu itu sendiri, merupakan hasil dari aktivitasnya, dan merupakan buah pikirannya sendiri.
Saya sepakat atas konsep orisinal yang dikemukakan oleh Erich karena dalam beberapa kali kejadian, saya sendiri mengalaminya. Salah satu yang masih saya ingat adalah semua yang datang dari hati maka akan bisa menembus hati orang lain. Misalnya jika ketika menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang benar-benar berasal dari ketulusan hati kita maka pesan itu akan sampai ke hati orang lain. Kemudian beberapa tahun berlalu, ada beberapa orang yang menuliskan konsep itu persis dengan apa yang pernah saya pikirkan sebelumnya.
Pada bab ini, Erich juga menulis bahwa setiap aanak pasti memiliki ukuran kebencian dan tendensi memberontak tertentu sebagai imbas konflik mereka dengan dunia sekitar yang cenderung menghalangi perkembangan mereka. Tentu kita sebagai manusia pernah merasakan hal yang sama bahwa bagaimana kita seminimal mungkin pernah memberontak atas apa saja yang tidak disepakati bahkan kepada orang tua sekalipun.
Saya menyukai apa yang diutarakan oleh Erich bahwa semua masalah yang ada pada diri seseorang terlalu rumit untuk bisa diselesaikan oleh individu walau sesungguhnya mayoritas dari permasalahan mendasar dalam diri individu dan kehidupan sosial sesungguhnya sangat sederhana, manusia tak percaya atas kapasitas mereka sendiri untuk memikirkan jalan keluar dari suatu masalah sebab masyarakat dengan sengaja membentuk pandangan bahwa apa yang dihadapi sangat rumit sehingga hanya dapat dipahami oleh seorang spesialis.
Begitulah apa yang terjadi sekarang. Mayoritas dari kita terjebak dalam sudut pandang masyarakat sehingga membatasi ruang gerak kita yang sebenarnya sangat luas. Saat menghadapi sebuah masalah, hal yang pertama ada di benak kita adalah pandangan orang lain alih-alih berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tersebut untuk kepentingan dan kebaikan diri sendiri.
#27 2023
No comments:
Post a Comment