January 8, 2023

Mulai Dari Titik O (8)

Sampailah akhirnya di kota ini seorang ini untuk memulai hal-hal baru, meninggalkan keluarga di rumah dan mengikhlaskan diri untuk kembali menjadi anak kos demi sebuah harapan yang berusaha untuk diwujudkan. Berat memang namun saya rasa hidup seharusnya seperti itu, memicu percikan yang tak terduga sehingga kita selalu berharap pada Sang Maha Segala.

Saya tiba di kota ini tadi sore sekitar setengah lima dengan menggunakan mode transportasi kereta. Kepala saya lumayan pusing karena tempat duduk saya berlawanan arah. Saya seringkali pusing jika naik kereta yang tempat duduknya menghadap berlawanan dengan laju kereta. 

Saya kemudian menggunakan transportasi online menuju penginapan yang sudah saya booking secara online sehari sebelumnya. Penginapan tersebut tidak terlalu jauh dari kampus. Kondisi penginapan sangat standar karena sesuai dengan harganya yang lumayan murah. Tidak ada air mineral maupun pemanas air di kamar. Saya harus ke warung jika ingin menikmati secangkir kopi.

Besok pagi saya sudah memulai aktivitas yang baru. Bidang yang benar-benar baru bagi saya dan menyisakan kekhawatiran dalam pikiran. Apakah saya mampu menjalani proses yang tentunya penuh dengan tantangan yang tentunya tidak ringan. Salah satu kekhawatiran yang memenuhi kepala saya bahwa apakah saya bisa mengajar dengan baik sedangkan pengalaman mengajar saya hanya ketika ikut menjadi tutor beberapa kali sebuah program english day beberapa tahun yang lalu.

Selain itu, jurusan ini tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Tentunya juga akan cukup menyulitkan karena harus memulai dari awal. Kenapa saya mendaftar di kampus ini jika tidak sesuai dengan jurusan saya? Alasan pragmatisnya karena pihak kampus menerima lulusan dari jurusan saya.

Momen awal yang seringkali menentukan dalam setiap peristiwa yang selanjutnya akan dilalui jadi saya pikir bahwa besok adalah penentuan apakah langkah saya akan mulus untuk hari ke depannya. Meskipun mungkin masih dalam proses perkenalan namun setidaknya bahwa saya harus menampilkan kesan pertama, bukan untuk pencitraan namun lebih pada sebuah penerimaan di tempat yang baru.

saya punya rencana jangka panjang jika proses yang akan saya jalani berjalan dengan baik. Saya rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya maksimal dua tahun untuk meniti karir dan menegaskan otoritas keilmuan saya di bidang yang saya tekuni. Tentunya tidak mudah karena banyak proses administrasi yang harus dijalani, namun saya harus merencakan dari awal sehingga waktu tidak terbuang dengan sia-sia mengingat usia saya sudah tidak muda lagi untuk memulai bidang yang baru.

Lihat bagaimana prosesnya besok. Semoga berjalan dengan lancar.

 #8 2023

January 7, 2023

Sehari Menjelang Keberangkatan (7)

Saya benar-benar akan meninggalkan rumah untuk waktu "mungkin" lama. Perasaan seperti ini terakhir saya rasakan ketika tamat SMA dan akan melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi. Ketika itu, ada rasa berat untuk meninggalkan rumah bukan hanya dalam artian bangunan, namun rumah dalam arti sebenarnya yaitu orang tua dan keluarga lain. Saya kira mayoritas orang yang akan merantau mengalami perasaan seperti yang saya rasakan.

Kali ini, momen seperti itu kembali berulang dengan konteks yang sedikit berbeda. Jika dulu saya sebagai anak yang harus meninggalkan orang tua, maka situasinya sekarang berbalik, saya sebagai seorang ayah harus meninggalkan putra saya yang baru berumur enam tahun. Paling cepat saya balik seminggu sekali sehingga momen ini menjadi salah satu momen tersulit dalam hidup saya sejak menikah.

Hari ini saya manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan anak isteri dengan makan di luar. Merayakan momen yang sebentar lagi akan tiba. Momen di mana kami harus berpisah selama seminggu dan hanya memungkinkan bertemu di akhir pekan atau bahkan mungkin bisa jadi sekali dalam dua minggu.

#7 2023

January 6, 2023

Pisah Sambut (6)

Setelah dua bulan lamanya memikirkan momen ini, akhirnya tiba juga dengan segala perasaan yang campur aduk. Hari ini benar-benar menjadi hari terakhir di tempat yang sudah mewadahi aktualisasi saya selama hampir 9 tahun. Cukup lama rasanya berada di tempat ini di mana ada banyak sekali pengalaman yang tentunya tidak bisa saya lupakan begitu saja.

Ada pernyataan yang cukup unik dari pimpinan saya saat memberikan pesan dan kesan. Pernyataan yang mungkin dianggap klise dalam ada yang menurut saya luput dari pernyataan tersebut. Pimpinan menyatakan dengan retoris bahwa "jika memang tidak ada masalah dan sudah senang dengan pekerjaan sekarang, kenapa harus resign?"

Memang hal yang lumrah ketika seseorang resign kemudian ditanya kesan terhadap suasana selama di pekerjaan sebelumnya, tentunya mereka akan mengatakan kesan yang baik karena bagaimana pun, perusahaan telah menjadi salah satu dari cerita hidup yang tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Resign dan kesan yang baik adalah persoalan berbeda. Setiap orang resign punya alasan yang tentunya itu tergantung terhadap prefensi pribadi. Ada yang resign karena gaji, lokasi kerja, bahkan nilai hidup yang diyakini. Begitulah lika-liku orang yang resign dengan berbagai alasannya, maka logikanya sedikit keliru ketika orang memberikan kesan yang baik terhadap perusahaan sebelumnya kemudian ditanya kenapa resign jika tidak ada masalah dan sudah senang di tempat sebelumnya.

Balik lagi ke cerita saya tentang hari terakhir menjadi bagian dari perusahaan ini. Saya menjumpai begitu banyak orang baik di perusahaan ini dengan berbagai ceritanya. Saya yang berasal dari kota nun jauh di sana dengan segala perbedaannya, selalu merasa inferior karena merasa berbeda namun orang-orang ini menerima saya dengan apa adanya. 

Salah satu persoalan yang sampai sekarang membuat saya merasa inferior adalah dialek yang tidak bisa saya samarkan. Saya tidak tahu pasti kenapa saya sangat sulit untuk sekedar menyamarkan dialek saya yang sangat kental. Namun ternyata perbedaan itu tidak menjadi persoalan berarti karena saya tetap diterima dengan baik.


#6 2023

January 5, 2023

Divorce (5)

Saya masih kaget mendengar cerita perceraian salah seorang teman lama yang berdomisili di Kota asal. Saya mengenalnya dengan cukup baik dan lumayan dekat sehingga saya tahu bagaimana kepribadiannya. Saya pun mengenal isterinya karena sebelumnya kami tergabung dalam sebuah organisasi. Keduanya dikenal sebagai orang baik yang kemudian menikah dan memiliki anak-anak yang lucu. 

Ternyata mereka sudah berpisah cukup lama, bahkan sebelum pandemi. Saya merasa bersalah karena dalam beberapa kali kesempatan saat teleponan, saya tidak sempat menanyakan kabar anak isterinya. Saya baru mengetahui kabar perpisahannya dari salah seorang teman yang lain.

Pada dasarnya, perceraian adalah hal yang seringkali terjadi dalam sebuah relasi pernikahan dengan berbagai alasan. Setiap orang punya strateginya untuk berdamai dengan relasi pernikahannya namun ada yang berhasil tetapi ada juga yang gagal dan berakhir perceraian.

Saya sendiri masih dalam proses berjuang untuk menjalani rumah tangga. Sebuah perjuangan abadi sampai pada titik akhir karena masalah akan selalu saja menghantui. Untuk saat ini, mungkin masalah ekonomi yang menjadi salah satu isu yang cukup signifikan dalam pernikahan saya meskipun masih dalam batas wajar. Apalagi bulan ini saya memutuskan untuk pindah kerja yang belum jelas bagaimana kondisinya dengan gaji yang tentunya turun dari gaji sebelumnya di perusahaan yang lama.

Hidup memang sangat misterius. Sesuatu yang terlihat tidak selalu sebagaimana adanya. Ada sisi yang tidak bisa dilihat dari setiap manusia. Mereka menyimpan banyak misteri tentang hidup ini. Maka benar adanya bahwa setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing. Kita tidak bisa menempatkan diri kita pada posisi orang lain dan itulah juga kita tidak boleh iri terhadap keberhasilan orang lain dan tidak merendahkan kegagalan orang lain.

Tetapi apapun itu, hidup terus berjalan dan kita dipaksa untuk tetap ikut dalam perjalanan itu. Apapun alasannya dan seberat apapun masalahnya, hidup terus mengalir dan menyeret semua orang di dalamnya.

I am still shocked to hear the divorce story of my friend who lives in our hometown. I know him well enough and close enough that I know what his personalities is like. I also know his wife because long time before, we joined in the same organization. Both of them are known as good people who later married and had cute children.

Turns out they had been apart for quite some time, even before the pandemic. I feel guilty because on several interaction when I called, I didn't have time to ask him what about his wife and children. I just found out the news of his separation from one of my other friends.

Basically, divorce is something that often happens in a marriage relationship for various reasons. Everyone has their own strategy for making peace with their marriage relationship, but some are successful but some fail and end in divorce.

I myself still in the process of struggling to live the household. An eternal struggle to the end because problems will always haunt. For now, maybe the financial aspect is one of the significant issues in my marriage even though it's still within reasonable limits. Moreover, this month I decided to resign from my previous job and start career in the new place where it is still mysterious how the conditions especially about the salary. The real fact about the salary that I will take home pay of course, less than the previous company.

Life is indeed very mysterious. Something that is seen is not always what it is. There is a side that cannot be seen from every human being. They keep many mysteries about this life. So it is true that every human being has their own problems. We cannot put ourselves in other people's positions and that is also why we must not be jealous of other people's successes and not despise other people's failures.

But whatever it is, life goes on and we are forced to stay along for the ride. Whatever the reason and no matter how serious the problem, life continues to flow and drags everyone in it.

 #5 2023

January 4, 2023

Kantin Kampus (4)

Hari ini saya memutuskan untuk mengambil cuti karena sisa jatah cuti tahunan masih sekitar lima belas hari. Sebenarnya saya memutuskan cuti karena ada janji dengan teman kuliah yang akan mengajukan jadwal sidang. Dia teman yang lumayan banyak membantu ketika saya menghadapi ujian akhir sehingga salah satu bentuk balas budi saya adalah menemaninya menghadap dosen pembimbing.

Selain itu, saya juga janjian dengan seorang teman dari pulau yang sama. Saya belum pernah bertatap muka dengannya karena interaksi kami selama ini melalui diskusi buku online. Dia salah satu anggota organisasi yang dulunya saya pernah menjadi ketua harian namun dia bergabung setelah satu sudah merantau, alhasil kami belum sempat bertatap muka.

Saya berangkat ke kampus setelah menikmati segelas kopi hitam dan beberapa potong kue. Selayaknya kebiasaan di pagi hari, saya lumayan sulit beraktivitas jika belum menyeruput segelas kopi hitam. Saya tiba di kampus lebih dulu karena teman saya masih harus mengurus dokumen untuk urusan sidang. 

Perpustakaan adalah spot paling asik untuk membunuh waktu di kampus jika tidak ada kegiatan. Selain bisa menikmati aneka buku, juga bisa menenangkan diri karena suasana perpustakaan pada umumnya hening. Semua pengunjung larut dalam samudera ide yang tertara dalam setiap lembaran buku.

Ternyata saya menunggu cukup lama karena teman saya baru tiba dua jam kemudian. Kami memutuskan untuk mengobrol di kantin samping fakultas. Obrolan kami tenggelam dalam suara obrolan mahasiswa lain yang sedang bercengkerama di kampus karena sedang jam istirahat. Kami bertiga karena salah seorang teman yang juga sudah wisuda, datang memberikan motivasi. 

Saya selalu menikmati suasana di kampus bahkan sejak kuliah di kampus terdahulu. Entah kenapa setiap berada di lingkungan kampus, ada perasaan bahagia dan tenang memandang semua sudut kampus  baik gerembolan mahasiswa maupun gedung-gedung kampus, entah itu perpustakaan, ruang kelas, fakultas bahkan kantin sekalipun.

Butuh waktu sekitar sejam kemudian dosen pembimbing teman saya muncul di kantin. Dia disuruh menunggu sampai selesai makan siang. Setelah agak lama menunggu, kami menyusulnya ke ruang fakultas, ternyata dia sedang bercengkerama dengan koleganya. Teman saya disuruh masuk ruangan kemudian saya juga pamit karena sudah janjian dengan teman lain yang dari kampung.

Saya menembus hujan deras menuju cikini karena sudah terlanjur janjian dengan teman yang dari kampung dan dia sudah menunggu di sana. Hujan yang cukup deras memaksaku mencopot sepatu supaya tidak basah. Tas kecil saya simpan di dalam baju karena berhubungan saya hanya punya jas hujan plastik tanpa celana.

Setiba di cikini, saya mengiriminya pesan melalui wa untuk janjian di perpustakaan. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung namun tidak ada perasaan canggung karena kami sudah terbiasa mengobrol via zoom.

Ada banyak hal yang kami perbincangkan termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang remeh namun saya baru mengetahui dari ceritanya bahwa salah satu teman karib saya di kota asal, ternyata sudah cerai dengan isterinya empat tahun lalu. Dia cerai tidak lama setelah anak bungsunya lahir. 

Saya benar-benar kaget mendengar beritanya karena sepengetahuan saya, dia salah seorang kawan yang sangat baik dan rendah hati meskipun dikenal sebagai salah satu orang yang cerdas. Saya ingat sepuluh tahun lalu ketika anak sulungnya lahir, dia sedang berada di luar negeri bahkan kelahiran anaknya saya abadikan di blog ini.

Mendengar cerita perceraian teman saya, sejurus kemudian muncul berbagai kesimpulan di kepala saya bahwa memang hidup tidak bisa diukur secara kalkulatif pada setiap orang. Semua orang punya persoalan masing-masing. Ada orang yang mampu menyimpan masalahnya namun ada pula orang yang sangat ekspresif ketika punya masalah. Hidup adalah pertarungan masing-masing manusia untuk mencapai garis finis. Kita tidak bisa memaksakan standar kita dengan kehidupan orang lain.

#4 2023

January 3, 2023

Sentimental (3)

This week is going to be one of the most sentimental weeks of my life. How could be, early next week, I will start my new job as lecturer and move to the other cities which require me to be away from my wife and child. A condition that was previously unimaginable would leave my son, who was going through his childhood. I can only go home on weekend.

This decision must have gone through careful and long consideration. The decision I made with the consent of my wife for the sake of a dream and a better possible future. There is no result of life that is not fought for and no struggle that does not result in at least some.

This afternoon while at the office, my wife sent me a photo of my son who was at school. His innocent face is able to make my heart touched because imagining that soon I can only kiss him once a week. It very a sentimental moment. I came in to rest room and started crying.

These challenges did not make me down but on the contrary, strengthened my desire to be even more active for them. It's a cliché to say that but that's how it is, they are the reason to survive in the hustle and bustle of this city, in the crazy world.

While on the motorbike from my office to home, my wife confirmed that she intended to move to a city that was a little quieter. He named two cities that he thought were pretty peaceful and they weren't cities I would be going to any minute. This means that I must have a big picture for the future to make my dreams come true, at least I have tried.

Arriving home, I found my son who was crying for some reason. I took him out to buy ice cream. I really want to leave a good impression before I leave him for another city.

I ask him a more times to know what his thinking about my decision. He said okay give me a permission move to another city for the future. He is trying to understand my decision even I don't really know that he understand what will happen or not in the next.

#3 2023

January 2, 2023

Senin Terakhir (2)

Hari ini adalah senin terakhir saya berkantor ini perusahaan ini. Ada perasaan sentimental yang merasuk di relung jiwaku. Perasaan yang menurut saya lazim terjadi pada semua orang yang akan meninggalkan sebuah tempat yang sudah lama ditinggali. Rasa haru yang saya rasakan tentunya bukan semacam penyesalan karena keputusan ini sudah saya pikirkan secara matang dan dengan pertimbangan yang prinsipil. Hanya sekadar rasa yang tersisa pada kebiasaan yang sudah dijalani bertahun-tahun.

Pagi ini seperti biasa, saya dan isteri berangkat berboncengan. Saya terus memikirkan momen yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Di sepanjang jalan, saya mengamati semua detail yang saya lewati. Menghirup aroma sudah tidak lagi segar karena sedari subuh sudah dicemari oleh kendaraan. 

Pagi ini tidak terlalu padat sebagaimana hari senin pada umumnya. Mungkin karena sebagian karyawan masih mengambil cuti awal tahun dan juga anak sekolah belum masuk. Jalan yang tidak terlalu padat membuat perjalanan kali ini cukup lancar meskipun di beberapa titik, terdapat kemacetan karena jalanan yang sedang diperbaiki.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kantor isteri. Mengantarnya sampai di parkiran kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya sedikit mengalami hambatan ketika tiba di jalan Tendean. Entah karena saya terlalu di tengah jalan dengan laju yang pelan, sebuah motor dari belakang menggedor gas yang menandakan bahwa jalanannya terhalangi oleh laju kendaraan saya yang pelan.
 
Saya sedikit terpengaruh dan mengamatinya dari belakang, namun kemudian saya sadar dan seketika mengingat cerita Buya Hamka saat beliau dipenjara. Di pengantar buku Tasawuf Modern, Buya Hamka menceritakan kisahnya di penjara yang dibentak oleh aparat dan dituduh menjual negara ini ke Malaysia. Hatinya mendidih namun kemudian beliau sadar bahwa dengan kemarahannya yang tak terkendali, hanya akan membuat aparat menang dan dirinya kalah. Jika beliau menyerang aparat karena emosi, maka aparat mempunyai alasan untuk membunuhnya kemudian menyebarkan berita bahwa Buya Hamka ditembak karena berniat melarikan diri. Buya Hamka kemudian mengendalikan emosinya.

Cerita buya Hamka menjadi pegangan saya ketika dalam situasi marah. Pengendalian emosi cukup penting untuk mengalahkan diri dalam rangka memenangkan pertarungan yang lebih besar.

saya tiba di kantor dengan selamat. Sesampai di kantor, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Saya berniat untuk merapikan semua pekerjaan seminggu ini sebelum meninggalkan perusahaan ini. Saya akan merampungkan setiap detail pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab saya.

Saat waktu azan dhuhur, saya memutuskan untuk salat di masjid. Ketika sedang dalam perjalanan ke masjid, saya berpapasan dengan satpam kompleks yang sedang memegang handphone. Secara tidak sengaja, tangannya menyenggol pinggangku sehingga handphonenya jatuh. Saya melihat dia memungut hp nya sambil saya sampaikan permintaan maaf. Mungkin dia juga merasa bersalah karena ketika berpapasan, dia sedang menengok ke arah yang berbeda.

Sepulang dari masjid, isteri saya menyampaikan bahwa dia diberikan uang dinas sebesar 2 juta. Saya bersepakat dengan isteri agar uang itu tidak diterima dan disumbangkan ke masjid karena pada saat kegiatan di Bandung, isteri saya sedang sakit dan tidak mengikuti kegiatan namun namanya sudah terlanjut dalam daftar pegawai yang berangkat.

Kami tidak memungkiri butuh uang namun minimal kami bisa mengukur mana yang bukan merupakan hak milik. Apalah artinya uang 2 juta jika bukan hak sehingga akan merusak prinsip yang sudah dipegang dengan kuat.

#2 2023

January 1, 2023

First Step (1)

I woke up in early morning exactly 02.30. I went to pick up my mother-in-law. She arrived from village by train and get off at senen. There was something trouble because of rain so that the train came late. 

I had to wait about an hour before the train came. The time for the dawn prayer was approaching when my mother-in-laws got off the station, so we decided to took a pray before going home. Shortly before finishing the prayer, it rained quite heavily, forcing us to wait a while on the mosque's porch. Several train passengers who had just arrived were seen taking a rest in the mosque.

It's about 15 minutes passed, we decided to go home because the rain started to let up even though there was still a drizzle that was quite wet. There was a raincoat on the motorbike seat but because there was only one so my mother-in-law wore it while I was wearing a jacket made of thick material so that it held the rain water pretty well if it was just a drizzle.

The chilly dawn wind blows to the bone with the weather that is cold because of the drizzle that doesn't stop. Along the way, I put close attention to see if there were any potholes because the roads were quite slippery, especially because I was riding with my mother-in-law who are so old already. Several times it was hit by water splashes from speeding vehicles.

It took about an hour to get home. The distance from the house to Senen Station is quite far. The distance is one hour in quiet conditions, for example at night, but if it is during the day when the roads are busy, it is likely that the distance can take about 2 hours.

When I got home, I decided to continue sleeping because it was still raining. In my opinion, the most pleasant sleep is in the morning when it is raining. Such as like romantic condition that accompanies and makes sleep more soundly. I woke up about two hours later to continue drinking my coffee with some slices of toast.

At noon, we went out to deliver packages as well as buy the food for lunch. When passing through the road in front of the Ragunan Zoo, We can see vehicles waiting in line for quite a long time, maybe because today is the last day of school holidays, that's why most of the parents took their children spending time in public sphere like Ragunan. Some views that attract attention are seen passing by parents carrying their children or holding their hands towards the entrance to Ragunan.

The first day of the year, there is nothing special other than repeating the routines of the previous days. The euphoria of humans celebrating the new year is over with all the stories then returning to normal thinking about each strategy to continue life. There are many who write down their resolutions this year even though in the end, humans just need to survive and live life happily. Dreams are just tomorrow that hasn't happened yet so it becomes a mystery that shouldn't ruin today's happiness.

I myself have high hopes for this year. Unlike previous years, this year has become a momentum to determine my steps forward because at the beginning of the year, I decided to change jobs that required greater attention and effort. Of course there are two possibilities, whether I succeed or fail to live it.

That's why at this New Year's moment, I full attention keep my finger up for a prayer by bowing my head with hope, the Almighty accompanies my steps and strengthens me through the process that I will go through. The process is still a mystery because it is really a new thing for my life journey.

That's it, I can only try my best and will see the results a few months later.


#1 2023

December 31, 2022

2023

Saya tidak punya banyak hal yang ingin saya refleksikan tentang 2022 selain beberapa momen yang cukup signifikan akan mengubah haluan hidupku di masa depan. Saya percaya bahwa setiap tahun akan berjalan sebagaimana adanya dalam suka dan duka, selalu seperti itu berganti dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Tidak ada hidup yang berjalan datar dan tak bergelombang.

Namun jika harus merefleksikan apa yang telah terjadi di tahun 2022, maka ada momen yang tidak terlupakan. Di awal 2022 ketika pandemi sedang memasuki gelombang ketiga, saya menjadi salah satu korban yang harus mendekam di kamar selama 2 minggu. Di satu sisi, terpapar covid merupakan musibah namun di sisi yang berbeda, ternyata membawa berkah karena saya punya waktu luang menyelesaikan tugas akhir saya dan saat isoman pun, saya akhirnya bisa ujian akhir dan berhasil menyelesaikan kuliahku.

Begitulah kehidupan dengan berbagai perspektif untuk satu kondisi. Tidak melulu tentang kesedihan namun selalu ada hikmah di dalam sebuah musibah yang diderita. Hanya saja bagaimana manusia memaksimalkan porsi yang ada di dalam jangkauannya tanpa memaki keadaan yang tidak bisa diubah dengan tangan sendiri.

Setelah melewati periode awal tahun 2022, bulan-bulan selanjutnya menjadi rutinitas sebagaimana adanya. Menggeluti rutinitas kantor sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Di pertengahan 2022, saya ikut wisuda online. Sedikit mengurangi euforia kelulusan namun setidaknya semua urusan kuliah akhirnya kelar.

Selanjutnya dengan bermodal selembar ijazah, saya mencari peluang lain untuk mengubah haluan profesi. Beberapa kesempatan saya coba namun belum berhasil. Saya memang berniat untuk mengubah profesi yang sedang saya jalani dengan berbagai pertimbangan, bukan hanya dari satu sudut pandang namun berbagai pertimbangan yang membawa saya sampai pada satu kesimpulan untuk berubah arah.

Sampai lah pada akhir 2022, saya akhirnya mendapat secercah titik terang untuk masuk dalam dunia akademisi. Tentunya sebuah peluang untuk mewujudkan keinginan berpindah bidang meskipun lumayan berat karena banyak pertimbangan namun jika tidak saya putuskan, bisa saja peluang yang sama akan sulit datang untuk kedua kalinya karena umur yang sudah tidak memungkinkan.

Akhirnya, di bulan akhir 2022, dengan meyakinkan diri dan minta pertolangan Sang Maha Pemilik, saya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan yang sudah saya tempati selama hampir sembilan tahun. Waktu yang tidak sebentar dalam sebuah karir yang menurut saya agak sedikit mandek namun ada life values yang menegaskan keputusan saya untuk meyakinkan diri bahwa cukup sampai di sini berada di tempat ini.

Minggu I Januari 2023, akan menjadi hari terakhir saya berkantor di perusahaan saya yang sebelumnya. Begitu banyak keresahan namun bagaimana pun, tetap harus dijalani karena saya sudah memutuskan saya mengambil jalan yang saya pilih.

2023 akan menjadi tahun percobaan dalam dunia yang baru. Proses adaptasi akan menjadi hal yang mencemaskan meskipun setelah itu, berbagai hal harus saya pelajari untuk bisa eksis di tempat yang baru. Tidak mudah memang namun bagaimana lagi. Mundur berarti pengecut jadi tetap harus maju dengan sedikit senyum supaya semesta merestui.

Akhirnya di 2023, saya tetap punya harapan-harapan yang saya rapalkan supaya bisa terjadi. Tidak muluk-muluk namun setidaknya harapan untuk saya bisa tetap bertahan. 

Semoga bisa beradaptasi di dunia akademisi dengan berbagai dinamikanya. Semoga saya bisa menemukan cara tersendiri untuk mengajar dalam berbagai hal, dalam berbagai ruang dan waktu. Semoga saya bisa konsisten di dunia akademisi yang sudah saya pilih. Semoga skill dalam bahasa Arab dan Inggris bisa meningkatkan baik lisan dan tulisan dan dengan ukuran bisa menjadi nilai yang memenuhi syarat untuk melanjutkan pendidikan baik di luar maupun dalam negeri. Semoga punya kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya dengan modal beasiswa. 

Selain itu, tentunya saya juga berharap kebaikan-kebaikan menghampiri keluarga saya. Anak saya tumbuh dengan sehat fisik dan batin. Semoga isteri saya lebih kuat dalam dinamika hidup ke depannya dan semoga kami dikarunia kasih saya lahir batin. Semoga ibadah bisa meningkat dan pengetahuan agama bisa lebih baik lagi. Semoga bisa konsisten membaca dan memahami buku minimal 4 buku sebulan.

Semoga kedua orang tua saya sehat selalu dan bisa mengunjungi mereka sesering mungkin minimal tiga kali setahun.

Terlepas dari semua itu, saya mengikhlaskan kepada Sang Maha Pemilik Semesta untuk semua urusan yang akan saya usahakan. Keputusan terbaik ada padaNya.

23:59
31.12.22

December 30, 2022

Being Human

 A Piece of life in Bumida


Good Evening Respected Managers and my dear Colleagues!

I never thought this moment would arrive in my life. Less than a week, I’m gonna out of my routine as an employee in this company. How is it hardly to imagine this moment after long time working here, but hope so my decision better than I thought. The universe more bigger than this space. But anyway, working here is my piece of life and I’m so grateful being here, but life must go on. I have so many things to do. 

I remember when the first time I came to this company. It is about 9 years ago. I joined this company as a beginner; full of theoretical knowledge and energy made me somewhat over-confident. Thankfully, my job role threw enormous challenges at me that not only taught me practical lessons of work and life but also made me compassionate and grounded. I am thankful to my respected manager who gave me several projects because of which I acquired vast knowledge and experience. I was a claim officer who did some jobs like survey, underwrite and so on. It was, of course I really enjoyed all of it until the management made a decision mutated me in to internal audit division. A new chapter of my journey was started at that time.

In early year, I spend so much time to stand on my job, try to understood all the detail of my job description. Being auditor means that I ensured the regulation of company running well. Here’s a particular example of my job in supporting the company namely consulting all the employee, checking their job, and evaluating.

After having in this position for almost seven years, finally the moment of farewell will make me go away, exactly the end of 2022. I had to take this difficult decision to leave this organization and pursuing something good ahead.

But not about farewell is obvious enough. It’s really hard because of some things, including I put about tomorrow. But I always keep what Dale Carnegie said “ Remember, today is the tomorrow you worried about yesterday.” I have been prepared what happens this moment from all sides. I have drawn on my earlier writing that it is hardly to think this moment. Life gives everyone several opportunities and it’s up to us to grab or leave that.

But anyway, I’m going to write some remarkables experience in this company. I am leaving with a wealth of knowledge that I’ll always treasure. Working with this organization has been an incredible learning expedition and I am thankful to everyone I met in this journey as each one of you have played a very important role in my life. I met so many marvelous people who working with me. Being a part of them not only as a colleagues but also as a family. It gives me all the more reasons to believe that a successful family life is also the result of good team-work. I am all set to accept the new and unforeseen challenges of my new life now.

There are so many lessons that I had learned here while I was an employee including things about life, being human, wisdom, controlling my emotion, enjoyed life with friends and so on. There were three things that I owe to this company, firstly, I get married. Secondly having a son and last, I completed my study as a master of IR.

Needless to say, I learned various skills being associated with this organization. I was not very good at time-management and decision-making abilities, but having associated with the company and the projects I was assigned, I became confident and a good decision-maker. I manage my time well and have always met my deliverables on time. I am certain that these skills would help me in my future endeavors too. I’ve also learned to take and give feedback with open-mindedness, to respect other’s opinions and to value other ideas too.

So, why I should resign when I have so many things here? I will answer it in some words even a classical reason and the other variable reason.

It’s not all about money because money will never solve everything. I’m thinking about my future and I can’t imagine what will happen when I will staying here in a long time. I always think my future as an academics one, conducting research, discussing with students, being lecturer, and so on. I will pursue it even I actually don’t know what will happen.

Then life values. I have some life values that I fight for it. It driving me on the way to out of this place. By having its values doesn’t mean I fell more better than others. It’s just about privacy and I quite believe that every single person has their own values that they living for that. On the other hand, my mind is always encourage me to do a great things. That’s why I couldn’t hold in.

Last but not least, is changing. Seven years isn’t a short time staying in one condition. I have to move in finding some lesson of life even if out of my comfort zone. It always hard to start something new but I have to.

Special thanks to Internal audit team for togetherness not only as a team but also as a family and friends. All the team know each other because being auditor isn’t about just working with colleagues in office but in we are conducting audit on the spot once in a month, it means that we always keep in touch 24 hours. According to Umar bin Khattab ra that you haven’t already known someone before three things, going on a journey in several days, having business together, and you give them trust in something. We always doing all three things in internal audit that’s why we know each other.

Maybe some misunderstandings occur in our interactions but it should be a dynamics of life and bring us very closer together. But life is about journey and it impossible to stay forever in this sphere, I have a dream that I wanna make it come true. There will be a farewell and continuing the life in the other story.

Finally, I don’t know how to use the words in closing my writing. Lots of things that I gonna write about the piece of life here. I’m so grateful having a chance to know all the person in this company. They gave me lots of positive energy. I couldn’t count one by one all the person that I met and having me grow in this company.

It’s been a wonderful experience working here and I am going to miss you all very much. I am taking along with me fond memories and I request all of you to stay connected with me.

Thank you once again for this wonderful moment and I hope Bumida being a great one in the future!
 
Become an outstanding general insurance company in this country.
Hope so...! 

December 30th, 2022

December 24, 2022

Sebuah Keputusan

Saya sudah berniat menulis tentang ini sejak seminggu lalu ketika sebuah keputusan hidup yang akhirnya saya ambil. Sebuah keputusa yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa saja namun bagi saya, keputusan ini lumayan krusial karena menyangkut beberapa hal dalam hidupku termasuk hidup keluargaku. Meskipun pada dasarnya, saya sudah membayangkan bahwa momen ini dari beberapa tahun yang lalu.

Yah, saya memutuskan untuk mengundurkan dari dari sebuah perusahaan tempatku bekerja selama lebih dari 8 tahun lamanya. Keputusan ini saya ambil dengan berbagai macam pertimbangan meskipun mungkin sebagian orang menganggap bahwa keputusan saya terlalu terburu-buru. 

Sebenarnya, bekerja di perusahaan ini sudah membuatku dalam zona nyaman. Gaji yang meskipun tidak belum dua digit namun sudah mencukupi untuk bayar cicilan dan kebutuhan lain, tinggal satu kota dengan keluarga dan jarak rumah ke kantor yang tidak terlalu jauh, pekerjaan yang sudah saya kuasai dan berbagai kondisi yang sudah stabil. Semua itu tentunya menjadi kenyamanan tersendiri yang harus saya tinggalkan setelah memutuskan untuk resign.

Lalu kemudian kenapa saya memutuskan untuk berani-beraninya keluar dari perusahaan dan melangkah ke bidang yang sangat berbeda dengan gaji yang jauhhhhh lebih kecil dari yang sudah saya dapatkan sekarang?


Life Values

Saya sedang tidak sok-sok an untuk mendeklarasikan bahwa alasan saya resign karena alasan prinsip, namun begitulah adanya. Salah satu alasan utama karena nilai yang mungkin saya anut namun saya tekankan bahwa bukan berarti saya merasa sok suci karena memutuskan keluar dengan alasan nilai hidup. Saya percaya bahwa semua orang mempunyai masing-masing prinsip dan tentunya bekerja di mana pun bukan menjadi soal karena semua manusia memiliki alasan dan jalan hidup masing-masing.

Alasan yang saya ceritakan di sini murni pertimbangan pribadi karena meskipun sudah stabil dalam beberapa hal namun adalah setitik nilai tidak menenangkan dan seringkali menghantui saya. Bekerja dengan hati yang tidak tenang akan mempengaruhi banyak aspek yang ujung-ujungnya menurunkan kualitas hidup.

Nilai yang saya anut bukan sesuatu yang given namun terbentuk secara sistematis dengan berbagai faktor misalnya lingkungan, relasi, bacaan, dan sumber ilmu lain yang mengristalkan menjadi sebuah nilai yang diyakini. Demikianlah nilai itu lahir dalam diri yang pada akhirnya menjadi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan.


Gambaran Masa Depan

Sebagai manusia pada umumnya yang selalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi, saya pun seringkali melakukan hal yang sama. Salah satu hal yang sangat sering saya pikirkan adalah gambaran saya di masa depan, seperti apa saya ketika sudah berumur sekian dan sekian. Ketika saya memikirkan potret kehidupan masa depan, saya selalu membayangkan berada di lingkungan akademisi yang tenggelam dalam bidang keilmuan, bergelut dengan hal-hal ideal. Itu gambaran saya meskipun mungkin bergelut di dunia akademisi pun akan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya pragmatis.

Usia saya yang sudah tidak muda lagi mengharuskan saya untuk segera mengambil keputusan jika ingin tetap menghidupkan impian masa depan yang hidup di lingkungan akademisi. Dunia yang selama ini saya impikan sebagai salah satu ruang kehidupan yang masih mampu memanusiakan manusia, tidak semua memang namun minimal kita bisa memilih menjadi manusia.

Apa yang kemudian membedakan jika saya tetap berada di perusahaan? aktualisasi diri, ya sangat klise namun begitulah adanya. Di manapun berada, semua orang bisa mengaktualisasikan diri namun tentunya ada perbedaan yang curam ketika berada di lingkungan perusahaan yang tentunya sangat terbatas.


Challenges

Salah satu tantangan terberat pindah bidang di usia yang sudah tidak muda tentunya seputar kekhawatiran akan banyak hal termasuk gaji dan karir yang tidak pasti. Selain itu, khawatir tidak mampu menjalani bidang yang baru dengan berbagai tantangan yang akan dihadapi dan begitu banyak lagi kekhawatiran lain yang silih berganti datang menghampiri selama proses peralihan yang sedang saya jalani.

Pertama, tentunya persoalan pendapatan. Saya masih punya cicilan rumah yang harus dilunasi sedangkan gaji yang ditawarkan di tempat baru cukup signifikan penurunannya dibandingkan di perusahaan yang lama.

Kedua, proses adaptasi di tempat baru yang belum pasti. Bagaimana kemudian saya harus menguasai teknik presentasi yang mungkin selama ini jarang saya asah karena keterbatasan ruang ditambah lagi dengan faktor non-teknis lainnya yang tentunya semakin menambah tantangan menjadi cukup berat.

Ketiga, karir yang masih menjadi misteri. Beberapa kisah tentang orang yang mencoba terjun di dunia yang akan saya hadapi, ternyata menelan pil pahit karena kenyataan jauh lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan, selain ini ada desas desus di tempat lain yang ternyata hanya dijadikan syarat administrasi. Selain itu keberlanjutan karir juga belum pasti seperti apa karena jurusan yang saya pilih tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Apalagi baru terbentuk dua tahun lalu yang tentunya masih sangat belia.


Expectations

Selain kekhawatiran yang menghampiri, saya juga menyimpan harapan agar semuanya bejalan sebagaimana adanya. Harapan yang akan menghidupkan semangat untuk memulai sesuatu yang baru di usia yang tentunya tidak muda.  

November 29, 2022

Perkara Makanan

Kemarin siang sesaat setelah tiba di kantor, saya menjumpai beberapa karyawan dengan mimik muka yang sedih. Rasa penasaran saya terjawab ketika salah satu dari mereka mengajak untuk berangkat melayat. Dalam hati saya bahwa ada karyawan yang meninggal, entah itu siapa. Dalam hati saya berpikir bahwa mungkin karyawan yang sudah pensiun.

Setelah itu, saya kaget ketika mendengar bahwa yang meninggal adalah salah satu anak mantan kabag SDM yang sekarang sudah bekerja di perusahaan lain. anaknya masih kelas 2 SMP artinya baru sekitar umur 13 atau 14 tahun.

Persoalannya tidak sampai di situ, mendengar penyebab kematiannya membuat saya agak gemeter, dia sakit dan saat diperiksa, gula darahnya mencapai 300 mg/dl. Saya tidak tahu pasti masalah perguladarahan namun dengan angka segitu, sudah termasuk cukup tinggi dengan batas maksimal di angka 240 mg/dl. 
 
Sekilas saya mendengar bahwa si anak sangat doyan dengan segala macam makanan maupun minuman yang mengandung gula buatan.
 
Penyebab itulah yang membuat hati saya terselip rasa bersalah ketika mengingat anak saya yang sangat doyan makan dan minum jajanan yang mengandung gula. Dia bisa menghabiskan begitu banyak cokelat, makanan ringan, minuman dengan gula tinggi dan apapun itu, alhasil beratnya sudah mencapai lebih 40 kg di usia yang baru menginjak 6 tahun lebih.
 
Malam hari saat pulang kantor, saya memberitahu beberapa hal terkait makanan termasuk harus mengurangi minuman yang mengandung gula ketika di sekolah. Kontrol saya hanya sebatas itu karena setiap harinya, dia bersama neneknya yang tentunya akan selalu memenuhi permintaannya.
 
Semoga setelah ini, dia sudah bisa mengetahui maksud nasehat saya untuk lebih mengontrol makanannya.

October 9, 2022

Bandara Kulon Progo

Saya sedang duduk di ruang tunggu kereta bandara di Kulon Progo. Kereta yang akan membawa saya ke Tugu masih sejam lagi sehingga saya punya banyak waktu untuk memandangi tanah kosong di depan saya yang masih dalam proses pembangunan.

Bandara ini cukup luas namun nampaknya belum selesai karena masih terlihat jejak pembangunan.

Setiap kali ada pembangunan bandara atau fasilitas umum dengan luas tanah yang besar, saya selalu membayangkan, apakah ada hak hak masyarakat yang belum ditunaikan atas pembebasan lahan?

Tanah menjadi hak dasar bagi bangsa yang hidup dalam negeri yang agraris. Akan menjadi persoalan jika akses terhadap tanah terbatasi dan dirampas oleh otoritas yang seharusnya menyediakan tanah untuk memenuhi hak dasar masyarakatnya.

Di kampung saya, Pemda dan PTPN merampas tanah masyarakat untuk lahan kelapa sawit.

Negeri ini memang seringkali menyisakan sejarah yang cukup kelam atas land grabbing dan itu sangat memilukan karena tanah adalah hak yang cukup mendasar apalagi bagi negeri yang mayoritas penduduknya adalah petani.

Oh iya, perjalanan saya kali ini ke kota pelajar karena ada tugas dari kantor. Terakhir kali saya keluar kota untuk tugas kantor pada Juni empat bulan yang lalu. 

Perjalanan seperti ini sudah saya jalani sejak enam tahun yang lalu. Saya seringkali memikirkan, kapan waktunya saya kemudian harus melangkah? 

Hidup memang adalah usaha untuk mensyukuri banyak hal.