Hari ini saya memutuskan untuk mengambil cuti karena sisa jatah cuti tahunan masih sekitar lima belas hari. Sebenarnya saya memutuskan cuti karena ada janji dengan teman kuliah yang akan mengajukan jadwal sidang. Dia teman yang lumayan banyak membantu ketika saya menghadapi ujian akhir sehingga salah satu bentuk balas budi saya adalah menemaninya menghadap dosen pembimbing.
Selain itu, saya juga janjian dengan seorang teman dari pulau yang sama. Saya belum pernah bertatap muka dengannya karena interaksi kami selama ini melalui diskusi buku online. Dia salah satu anggota organisasi yang dulunya saya pernah menjadi ketua harian namun dia bergabung setelah satu sudah merantau, alhasil kami belum sempat bertatap muka.
Saya berangkat ke kampus setelah menikmati segelas kopi hitam dan beberapa potong kue. Selayaknya kebiasaan di pagi hari, saya lumayan sulit beraktivitas jika belum menyeruput segelas kopi hitam. Saya tiba di kampus lebih dulu karena teman saya masih harus mengurus dokumen untuk urusan sidang.
Perpustakaan adalah spot paling asik untuk membunuh waktu di kampus jika tidak ada kegiatan. Selain bisa menikmati aneka buku, juga bisa menenangkan diri karena suasana perpustakaan pada umumnya hening. Semua pengunjung larut dalam samudera ide yang tertara dalam setiap lembaran buku.
Ternyata saya menunggu cukup lama karena teman saya baru tiba dua jam kemudian. Kami memutuskan untuk mengobrol di kantin samping fakultas. Obrolan kami tenggelam dalam suara obrolan mahasiswa lain yang sedang bercengkerama di kampus karena sedang jam istirahat. Kami bertiga karena salah seorang teman yang juga sudah wisuda, datang memberikan motivasi.
Saya selalu menikmati suasana di kampus bahkan sejak kuliah di kampus terdahulu. Entah kenapa setiap berada di lingkungan kampus, ada perasaan bahagia dan tenang memandang semua sudut kampus baik gerembolan mahasiswa maupun gedung-gedung kampus, entah itu perpustakaan, ruang kelas, fakultas bahkan kantin sekalipun.
Butuh waktu sekitar sejam kemudian dosen pembimbing teman saya muncul di kantin. Dia disuruh menunggu sampai selesai makan siang. Setelah agak lama menunggu, kami menyusulnya ke ruang fakultas, ternyata dia sedang bercengkerama dengan koleganya. Teman saya disuruh masuk ruangan kemudian saya juga pamit karena sudah janjian dengan teman lain yang dari kampung.
Saya menembus hujan deras menuju cikini karena sudah terlanjur janjian dengan teman yang dari kampung dan dia sudah menunggu di sana. Hujan yang cukup deras memaksaku mencopot sepatu supaya tidak basah. Tas kecil saya simpan di dalam baju karena berhubungan saya hanya punya jas hujan plastik tanpa celana.
Setiba di cikini, saya mengiriminya pesan melalui wa untuk janjian di perpustakaan. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung namun tidak ada perasaan canggung karena kami sudah terbiasa mengobrol via zoom.
Ada banyak hal yang kami perbincangkan termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang remeh namun saya baru mengetahui dari ceritanya bahwa salah satu teman karib saya di kota asal, ternyata sudah cerai dengan isterinya empat tahun lalu. Dia cerai tidak lama setelah anak bungsunya lahir.
Saya benar-benar kaget mendengar beritanya karena sepengetahuan saya, dia salah seorang kawan yang sangat baik dan rendah hati meskipun dikenal sebagai salah satu orang yang cerdas. Saya ingat sepuluh tahun lalu ketika anak sulungnya lahir, dia sedang berada di luar negeri bahkan kelahiran anaknya saya abadikan di blog ini.
Mendengar cerita perceraian teman saya, sejurus kemudian muncul berbagai kesimpulan di kepala saya bahwa memang hidup tidak bisa diukur secara kalkulatif pada setiap orang. Semua orang punya persoalan masing-masing. Ada orang yang mampu menyimpan masalahnya namun ada pula orang yang sangat ekspresif ketika punya masalah. Hidup adalah pertarungan masing-masing manusia untuk mencapai garis finis. Kita tidak bisa memaksakan standar kita dengan kehidupan orang lain.
#4 2023
No comments:
Post a Comment