Hari ini adalah senin terakhir saya berkantor ini perusahaan ini. Ada
perasaan sentimental yang merasuk di relung jiwaku. Perasaan yang
menurut saya lazim terjadi pada semua orang yang akan meninggalkan
sebuah tempat yang sudah lama ditinggali. Rasa haru yang saya rasakan
tentunya bukan semacam penyesalan karena keputusan ini sudah saya
pikirkan secara matang dan dengan pertimbangan yang prinsipil. Hanya sekadar rasa yang tersisa pada kebiasaan yang sudah dijalani bertahun-tahun.
Pagi ini seperti biasa, saya dan isteri berangkat berboncengan. Saya terus memikirkan momen yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Di sepanjang jalan, saya mengamati semua detail yang saya lewati. Menghirup aroma sudah tidak lagi segar karena sedari subuh sudah dicemari oleh kendaraan.
Pagi ini tidak terlalu padat sebagaimana hari senin pada umumnya. Mungkin karena sebagian karyawan masih mengambil cuti awal tahun dan juga anak sekolah belum masuk. Jalan yang tidak terlalu padat membuat perjalanan kali ini cukup lancar meskipun di beberapa titik, terdapat kemacetan karena jalanan yang sedang diperbaiki.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kantor isteri. Mengantarnya sampai di parkiran kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya sedikit mengalami hambatan ketika tiba di jalan Tendean. Entah karena saya terlalu di tengah jalan dengan laju yang pelan, sebuah motor dari belakang menggedor gas yang menandakan bahwa jalanannya terhalangi oleh laju kendaraan saya yang pelan.
Saya sedikit terpengaruh dan mengamatinya dari belakang, namun kemudian saya sadar dan seketika mengingat cerita Buya Hamka saat beliau dipenjara. Di pengantar buku Tasawuf Modern, Buya Hamka menceritakan kisahnya di penjara yang dibentak oleh aparat dan dituduh menjual negara ini ke Malaysia. Hatinya mendidih namun kemudian beliau sadar bahwa dengan kemarahannya yang tak terkendali, hanya akan membuat aparat menang dan dirinya kalah. Jika beliau menyerang aparat karena emosi, maka aparat mempunyai alasan untuk membunuhnya kemudian menyebarkan berita bahwa Buya Hamka ditembak karena berniat melarikan diri. Buya Hamka kemudian mengendalikan emosinya.
Cerita buya Hamka menjadi pegangan saya ketika dalam situasi marah. Pengendalian emosi cukup penting untuk mengalahkan diri dalam rangka memenangkan pertarungan yang lebih besar.
saya tiba di kantor dengan selamat. Sesampai di kantor, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Saya berniat untuk merapikan semua pekerjaan seminggu ini sebelum meninggalkan perusahaan ini. Saya akan merampungkan setiap detail pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab saya.
Saat waktu azan dhuhur, saya memutuskan untuk salat di masjid. Ketika sedang dalam perjalanan ke masjid, saya berpapasan dengan satpam kompleks yang sedang memegang handphone. Secara tidak sengaja, tangannya menyenggol pinggangku sehingga handphonenya jatuh. Saya melihat dia memungut hp nya sambil saya sampaikan permintaan maaf. Mungkin dia juga merasa bersalah karena ketika berpapasan, dia sedang menengok ke arah yang berbeda.
Sepulang dari masjid, isteri saya menyampaikan bahwa dia diberikan uang dinas sebesar 2 juta. Saya bersepakat dengan isteri agar uang itu tidak diterima dan disumbangkan ke masjid karena pada saat kegiatan di Bandung, isteri saya sedang sakit dan tidak mengikuti kegiatan namun namanya sudah terlanjut dalam daftar pegawai yang berangkat.
Kami tidak memungkiri butuh uang namun minimal kami bisa mengukur mana yang bukan merupakan hak milik. Apalah artinya uang 2 juta jika bukan hak sehingga akan merusak prinsip yang sudah dipegang dengan kuat.
#2 2023
No comments:
Post a Comment