Saya sudah berniat menulis tentang ini sejak seminggu lalu ketika sebuah keputusan hidup yang akhirnya saya ambil. Sebuah keputusa yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa saja namun bagi saya, keputusan ini lumayan krusial karena menyangkut beberapa hal dalam hidupku termasuk hidup keluargaku. Meskipun pada dasarnya, saya sudah membayangkan bahwa momen ini dari beberapa tahun yang lalu.
Yah, saya memutuskan untuk mengundurkan dari dari sebuah perusahaan tempatku bekerja selama lebih dari 8 tahun lamanya. Keputusan ini saya ambil dengan berbagai macam pertimbangan meskipun mungkin sebagian orang menganggap bahwa keputusan saya terlalu terburu-buru.
Sebenarnya, bekerja di perusahaan ini sudah membuatku dalam zona nyaman. Gaji yang meskipun tidak belum dua digit namun sudah mencukupi untuk bayar cicilan dan kebutuhan lain, tinggal satu kota dengan keluarga dan jarak rumah ke kantor yang tidak terlalu jauh, pekerjaan yang sudah saya kuasai dan berbagai kondisi yang sudah stabil. Semua itu tentunya menjadi kenyamanan tersendiri yang harus saya tinggalkan setelah memutuskan untuk resign.
Lalu kemudian kenapa saya memutuskan untuk berani-beraninya keluar dari perusahaan dan melangkah ke bidang yang sangat berbeda dengan gaji yang jauhhhhh lebih kecil dari yang sudah saya dapatkan sekarang?
Life Values
Saya sedang tidak sok-sok an untuk mendeklarasikan bahwa alasan saya resign karena alasan prinsip, namun begitulah adanya. Salah satu alasan utama karena nilai yang mungkin saya anut namun saya tekankan bahwa bukan berarti saya merasa sok suci karena memutuskan keluar dengan alasan nilai hidup. Saya percaya bahwa semua orang mempunyai masing-masing prinsip dan tentunya bekerja di mana pun bukan menjadi soal karena semua manusia memiliki alasan dan jalan hidup masing-masing.
Alasan yang saya ceritakan di sini murni pertimbangan pribadi karena meskipun sudah stabil dalam beberapa hal namun adalah setitik nilai tidak menenangkan dan seringkali menghantui saya. Bekerja dengan hati yang tidak tenang akan mempengaruhi banyak aspek yang ujung-ujungnya menurunkan kualitas hidup.
Nilai yang saya anut bukan sesuatu yang given namun terbentuk secara sistematis dengan berbagai faktor misalnya lingkungan, relasi, bacaan, dan sumber ilmu lain yang mengristalkan menjadi sebuah nilai yang diyakini. Demikianlah nilai itu lahir dalam diri yang pada akhirnya menjadi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan.
Gambaran Masa Depan
Sebagai manusia pada umumnya yang selalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi, saya pun seringkali melakukan hal yang sama. Salah satu hal yang sangat sering saya pikirkan adalah gambaran saya di masa depan, seperti apa saya ketika sudah berumur sekian dan sekian. Ketika saya memikirkan potret kehidupan masa depan, saya selalu membayangkan berada di lingkungan akademisi yang tenggelam dalam bidang keilmuan, bergelut dengan hal-hal ideal. Itu gambaran saya meskipun mungkin bergelut di dunia akademisi pun akan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya pragmatis.
Usia saya yang sudah tidak muda lagi mengharuskan saya untuk segera mengambil keputusan jika ingin tetap menghidupkan impian masa depan yang hidup di lingkungan akademisi. Dunia yang selama ini saya impikan sebagai salah satu ruang kehidupan yang masih mampu memanusiakan manusia, tidak semua memang namun minimal kita bisa memilih menjadi manusia.
Apa yang kemudian membedakan jika saya tetap berada di perusahaan? aktualisasi diri, ya sangat klise namun begitulah adanya. Di manapun berada, semua orang bisa mengaktualisasikan diri namun tentunya ada perbedaan yang curam ketika berada di lingkungan perusahaan yang tentunya sangat terbatas.
Challenges
Salah satu tantangan terberat pindah bidang di usia yang sudah tidak muda tentunya seputar kekhawatiran akan banyak hal termasuk gaji dan karir yang tidak pasti. Selain itu, khawatir tidak mampu menjalani bidang yang baru dengan berbagai tantangan yang akan dihadapi dan begitu banyak lagi kekhawatiran lain yang silih berganti datang menghampiri selama proses peralihan yang sedang saya jalani.
Pertama, tentunya persoalan pendapatan. Saya masih punya cicilan rumah yang harus dilunasi sedangkan gaji yang ditawarkan di tempat baru cukup signifikan penurunannya dibandingkan di perusahaan yang lama.
Kedua, proses adaptasi di tempat baru yang belum pasti. Bagaimana kemudian saya harus menguasai teknik presentasi yang mungkin selama ini jarang saya asah karena keterbatasan ruang ditambah lagi dengan faktor non-teknis lainnya yang tentunya semakin menambah tantangan menjadi cukup berat.
Ketiga, karir yang masih menjadi misteri. Beberapa kisah tentang orang yang mencoba terjun di dunia yang akan saya hadapi, ternyata menelan pil pahit karena kenyataan jauh lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan, selain ini ada desas desus di tempat lain yang ternyata hanya dijadikan syarat administrasi. Selain itu keberlanjutan karir juga belum pasti seperti apa karena jurusan yang saya pilih tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Apalagi baru terbentuk dua tahun lalu yang tentunya masih sangat belia.
Expectations
Selain kekhawatiran yang menghampiri, saya juga menyimpan harapan agar semuanya bejalan sebagaimana adanya. Harapan yang akan menghidupkan semangat untuk memulai sesuatu yang baru di usia yang tentunya tidak muda.
No comments:
Post a Comment