July 12, 2020

Tulus

Saya random menonton youtube di setiap waktu senggang yang saya punya. saya sadari bahwa kebiasaan tersebut tidak berdampak baik terhadap peningkatan kapasitas diri saya. alih-alih belajar untuk mengisi masa senggang, saya malah asik menonton youtube dan menghabiskan bergiga-giga paket data saya.

Di sela-sela menonton youtube, saya mendapati sedikit pelajaran yang menurut pengamatan saya sesuai dengan apa yang saya lihat. jadi salah seorang publik figur diwawancarai kisah hidupnya yang berasal dari 0. dia seorang tukang bersih jalanan kemudian pindah menjadi OB di sebuah kantor media dan jalan hidup membawanya menjadi publik figur. dari kisahnya tersebut, dia menceritakan bagaimana dia tulus menjalani semua pekerjaan yang mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa pekerjaan tersebut untuk kaum proletar. ketulusan lah yang memperkuat takdirnya menggapai hal-hal baik yang sekarang berada di tangannya. ketulusan yang dapat diartikan juga sebagai keikhlasan dalam menjalani hidup seringkali mempertemukan kita dengan hal-hal baik. ketulusan dalam hal ini bahwa menjalani profesi dengan hati yang senang tanpa berkeluh kesah.

Saya pribadi sedang dalam masa yang bisa dianggap demotivasi. saya terlalu sering mengeluh tentang pekerjaan saya sekarang padahal di awal-awal bekerja, saya mampu mengatasinya dengan mengatakan bahwa ini pilihan sadar saya dan saya sendiri yang memilih untuk mendaftar kemudian memutuskan bekerja di sini, lalu kenapa kemudian saya harus menghabiskan energi saya dengan berkeluh kesah tak berujung. Sampai kapan saya harus mengeluhkan apa yang saya pilih sebagai sebuah pilihan sadar. 

Saya sedang berusaha untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab ini semua. mungkinkah perasaan pride terhadap diri yang terlalu tinggi atau mungkin juga keinginan-keinginan yang tidak tercapai sehingga begitu sulitnya berdamai dengan diri dalam masa seperti ini. bahkan jika terlepas dari lingkaran pekerjaan ini dengan perasaan insecure pun berarti saya telah gagal dalam satu momen hidup. seharusnya ketika berpisah dari satu potongan hidup seharusnya dengan hati yang senang bukan semacam pelarian karena tidak mampu berdamai dengan apa yang sedang dihadapi.

benar-benar hidup yang membingungkan.

July 11, 2020

Wabah Covid-19

wabah virus ini yang tak kunjung berakhir membuat sebagian orang frustrasi bahkan saya sendiri dalam beberapa momen bersikap pesimis dan frustrasi. bayangan akan rencana-rencana ke depan seakan tiba-tiba buram tak berbentuk apatahlagi tidak ada yang bisa memprediksi kapan wabah ini berakhir. sebuah kondisi di mana semua orang tidak mampu berjalan dengan keinginan mereka sendiri.

Saya teringat kembali ajaran agama saya bahwa di masa ketika dunia sebentar lagi akan musnah, akan banyak fenomena yang membuat manusia tidak mengenal dirinya dan bingung mau mengikut yang mana. semua manusia menjadi sangat bingung tentang apa yang terjadi, mana yang benar dan harus bersikap seperti apa.

Saya tidak sedang berpendapat bahwa fenomena sekarang adalah tanda kiamat namun setidaknya bahwa gambaran bagaimana manusia-manusia yang tidak mengenal dirinya akan menjadi bimbang dan bingung apa yang harus dilakukan. manusia yang tujuannya berhenti pada hal-hal material akan sangat frustrasi karena semua nampak tidak jelas saat ini.

11 Juli 2020

July 10, 2020

Hidup di Jakarta

Entah beberapa tahun yang lalu, sebagai seorang bocah yang belum mengerti apa-apa secara hakekat dan menilai sesuatu yang kasat mata, saya pernah memimpikan hidup di Jakarta atau minimal di kota besar. sebuah impian yang nampaknya menghantui mayoritas bocah di kampung karena pengaruh TV yang sangat kuat. kemewahan-kemewahan yang ditampilkan di media menjerumuskan sebagian dari pemuda desa untuk rela berpindah ke kota dengan apa yang disebut sebagai kehidupan yang layak, meski pada akhirnya saat sudah tiba di kota, mereka dan termasuk saya, menyadari bahwa kehidupan kota bukanlah sebuah surga yang selalu ditampilkan di TV namun tidak lebih dari sebuah zona antah berantah yang buas. 

Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa kehidupan di kota khususnya di Jakarta adalah sebuah dosa namun saya hanya merefleksikan apa yang saya rasakan selama sekian tahun menetap di ibu kota. 

Di kota ini, segala macam tersaji di depan hidung kita. tidak ada yang luput satu pun. di sini malaikat bertebaran di mana-mana namun juga setan-setan mengisi setiap ruang kosong. jika ingin menjadi orang yang sabar maka cobalah hidup di Jakarta dan sekalipun jangan mengeluh atas semua hal yang tidak disukai di kota ini. seseorang yang ingin mencoba menguji kesyukurannya maka datanglah di kota ini dan rasakan sendiri seperti apa seharusnya kita bersyukur. 

Orang yang ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang, di pagi hari bisa menikmati udara segar sambil bercengkerama dengan alam, di siang hari beristirahat dengan tenang dan di sore hari merasakan desiran angin yang sepoi-sepoi dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan sedikit polusi maka saya sarankan untuk tidak mencoba-coba ke Jakarta karena kondisi tersebut tidak bakalan ada di kota ini. 

Kota ini adalah arena bertarung. bertarung dengan diri dan saling mengalahkan segala nafsu yang meronta melihat dinamika kehidupan kota ini. nafsu ingin mewah dengan tawaran kemewahan setiap detik di setiap kedipan mata, nafsu seksual dengan makhluk-makhluk yang dipermak tanpa noda sedikit pun baik yang jantan maupun yang betina dan nafsu apapun dengan godaan yang begitu besar. 

Pada akhirnya, saya kemudian menghel nafas panjang. menyadari bahwa semesta telah menakdirkan saya di kota ini dengan kehidupan yang ironi. saya harus ke kantor pagi hari kemudian pulang ke rumah menjelang maghrib. sabtu dan minggu dihabiskan dengan tidur atau sesekali liburan di mall yang memamerkan kemewahan. saat bertemu tetangga, hanya saling senyum dan jarang bercerita. hakekat kemanusiaan sepertinya sudah tercerabut satu persatu. 

Ingatan saya kembali ke masa lalu di kampung. semua hari di kampung saling kenal dan hidup bersama. jika saya tidak punya makanan, saya bisa numpang makan di tetangga, hidup dihabiskan dengan bersenda gurau dan kesepian seakan tidak ada. mungkin benar lirik lagu Dewa, 
"di dalam keramaian aku masih merasa sepi"

Saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah, menjadi sangat ironi. saya menangis namun tidak meneteskan air mata. jiwaku gersang. 

Apakah hidup seperti ini yang kucari? 

entahlah...!!!


10 Juli 2020

July 9, 2020

Buku Bekas

Membeli buku adalah salah satu kegemaranku meskipun saya sadari bahwa dari sekian buku yang saya beli, beberapa diantara hanya terdampar rapi di rak buku dalam waktu lama dan biasanya saya baca ketika pikiran sedang tenang. 

Kebiasaan membeli buku saat ini menjadi menjadi sebuah ajang balas dendam terhadap masa lalu saya di mana ada momen-momen ketika saya menginginkan beberapa buku yang tidak bisa saya beli karena masalah keuangan. ketika saya sudah bisa memperoleh uang sendiri, saya sepertinya ingin menunjukkan pada diriku bahwa sekarnag saya bisa membeli buku apa saja yang saya senangi meskipun saya terkadang menyadari bahwa libido membacaku tidak sekuat dulu. 

Sangat paradoks bukan? ketika dulu saya masih gemar membaca, saya tidak bisa dengan bebasnya membeli buku sehingga terkadang tidak tersalurkan namun saat ini, ketika saya bisa menyisihkan uang untuk membeli buku apa saja, minat membaca saya yang mulai mengalami degradasi yang massif. dunia memang absurd, kata Camus.

Minggu lalu saya membeli buku bekas di kawasan blok M. ini kali pertama saya ke blok M melakukan pencarian buku ketika tiga bulan berdiam diri di rumah karena Covid-19 yang tak kunjung minggat. saya menyenangi belanja di basement Blok M karena selain bukunya murah, terkadang menemukan buku-buku langka, namun tetap harus tekun karena buku-buku tersebut ditumpuk tak beraturan. 

Meskipun buku-buku di blok M murah, tetap aja menyimpan masalah karena mayoritas buku tersebut bajakan dan saya sadar bahwa buku bajakan merupakan pencurian hak cipta namun di sisi lain, buku-buku bajakan tersebut menghidupi banyak pedagang buku. butuh diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. hal lain adalah buku asli namun merupakan buku-buku yang illegal karena terkadang merupakan koleksi perpustakaan.

Kemarin saat memilih buku, saya melihat buku agak tipis namun menarik perhatianku karena berkaitan dengan kuliah saya. pada saat penjual menawarkan bukti tersebut kepada saya, sudah terbersit kecurigaan melihat buku tersebut sedikit usang dan ada bekas copotan cap di lipatan bawah buku tersebut. saya tidak sempat membukanya karena adzan ashar sudah berkumandang dan si penjual sudah gelisah ingin segera ke musala. melihat gelagatnya, saya segera membayar buku tersebut.

benar saja, beberapa hari setelah buku tersebut akhirnya saya baca, saya menemukan stempel perpustakaan salah satu kampus swasta di kawasan Lenteng Agung. saya amat yakin bahwa buku tersebut merupakan koleksi kampus namun saya tidak berani menduga bagaimana bisa buku tersebut bisa sampai di lapakan blok M.

Saya belum tahu hukumnya membeli buku yang seperti itu dan apakah ilmunya bisa diserap

9 Juli 2020

July 8, 2020

Makanan

Sudah menjadi kebiasaan di kantor Isteri saya bahwa ketika mereka lembur sampai malam, biasanya akan disiapkan makan malam beserta makanan pelengkap lainnya entah kue, buah-buahan atau apapun. hal yang sama kemarin malam ketika saya menjemput isteri saya. sesaat sebelum naik ke motor, dia memberitahu bahwa ada dua nasi kotak dan kemungkinan yang satu tidak dimakan karena mama sudah makan. biasanya jika seperti itu, kami memberikan ke siapa saja yang kami temui di jalan yang kami anggap layak dan biasanya para orang tua sepuh yang mendorong gerobak.

entah apa yang dipikiran saya saat itu, saya jawab bahwa bawa saja ke rumah dan besok saya mau bawa ke kantor sebagai bekal. biasanya kalau seperti itu, tidak bakalan menjadi rezeki.

Esok hari, makanan tersebut dipanasi di ricecooker beserta lauknya. saya masukkan ke tempat makan sebagai bekal makan siang di kantor. 

Seharian di kantor, ada hidangan cemilan sehingga perut saya tidak terasa lapar sampai siang. akhirnya saya tidak menyentuh makanan tersebut sampai sore. menjelang pulang, saya membuka bekal tersebut karena merasa bersalah jika tidak dimakan meskipun dengan perut yang tidak terlalu lapar. dugaanku benar, nasinya sudah keras dan sudah tidak enak dikonsumsi. akhirnya saya hanya memakan lauknya dan nasinya berakhir di tempat sampah. 

Saya sering mengalami hal-hal seperti itu bahwa dalam berbagai kondisi, jika keinginan yang mendominasi maka hasilnya tidak sesuai harapan. kasus di atas contohnya, saya sudah kenyang namun tetap saja pikiranku ingin memakan makanan yang seharusnya bukan rezekiku. 

8 Juli 2020

July 7, 2020

Meluangkan Waktu untuk Hal yang Diprioritaskan

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah video yang lumayan menarik perhatianku, meski sebenarnya begitu banyak video yang menginsprirasi namun sebatas dalam niatku, video yang menceritakan tentang bagaimana seorang karyawan kantoran yang memiliki tekad untuk mengejar apa yang dia sukai dan menjadi prioritasnya. meskipun masih bekerja sebagai seorang karyawan, dia memutuskan untuk meluangkan waktu 1-2 jam setiap malam sepulang dari kantor untuk mengerjakan hal yang menyenangkan baginya. hal tersebut dijalani dalam rentang waktu yang lama dan tetap menjaga konsistensinya. 

Pada akhirnya, dia sampai pada satu titik di mana apa yang dia senangi dan menjadi prioritasnya sudah bisa dijadikan sumber penghasilan. dia kemudian memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan immerse dirinya dalam bidang tersebut. meskipun pada awalnya, dia masih menyimpan kekhawatiran-kekhawatiran namun tetap dijalani dan menjadi sebuah kesenangan yang juga menghidupinya. sebuah bukti bahwa konsistensi dalam suatu hal menjadi kunci bagi keberhasilan. 

Kenapa video tersebut menarik perhatian saya? 

Satu hal yang pasti bahwa saya dan mungkin sebagian besar karyawan, memiliki sesuatu yang menyenangkan hati dan menjadi prioritas namun tetap bertahan sebagai seorang karyawan karena 1 hal, pertimbangan tentang uang khususnya mereka yang sudah berkeluarga seperti saya. 

Banyak karyawan yang ingin keluar dari rutinitas yang menjemukan untuk menemukan diri mereka namun tidak pernah berhasil karena kekhawatiran tentang kekurangan uang selalu menghantui, sehingga video di atas menjadi inspirasi yang cukup sahih bagaimana keluar dari rutinitas yang sebenarnya tidak menarik perhatian kita namun tetap dijalani karena masalah perut. 

Luangkan waktu sejam dua jam sepulang kantor untuk melalukan apa saja yang menjadi kesenangan kita yang bisa diprioritaskan sebagai karya di masa depan sambil tetap bekerja sebelum benar-benar yakin bahwa hal tersebut sudah bisa menjadi pegangan..

kuncinya ada pada satu kata "konsisten"

7 Juli 2020

July 6, 2020

Kompromi terhadap Idealisme

Di awal menjadi karyawan di kantor sekarang, saya membangun beberapa idealisme mengenai irisan kepentingan kantor dengan kepentingan pribadi. sebuah sikap yang saya mulai cicil sejak dulu dan diperkuat dengan lingkaran pertemanan saya di Makassar yang lumayan idealis untuk hal-hal yang prinsipil. sebenarnya pelajaran-pelajaran yang semacam itu sudah diajarkan oleh orang tua saya sejak kecil namun terkadang atau bahkan seringkali terlupa jika tidak dikuatkan dengan tekad yang bulat. ada banyak faktor yang membuat pelajaran-pelajaran semacam itu luntur, salah duanya adalah lingkungan pertemanan dan kebutuhan hidup. 

Prinsip sederhana yang coba saya bangun adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak saya. contoh sederhananya di kantor adalah tidak menggunakan barang-barang kantor untuk kepentingan pribadi dalam bentuk apapun itu, atau tidak menggunakan jam kantor untuk hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan kantor. sebenarnya amat sangat sulit untuk batasan-batasan ini karena selalu ada waktu senggang dalam jam kantor meski sering dilakukan pembenaran bahwa terkadang juga ada jam di luar kantor yang digunakan untuk pekerjaan kantor ketika ada pekerjaan-pekerjaan yang mendesak.

Di beberapa kesempatan, saya menjumpai teman kantor yang melakukan sesuatu hal yang menurutku di luar batas idealismeku misalnya print sesuatu yang merupakan kepentingan pribadinya, download vidio untuk anak ataupun untuk dia tonton dan beberapa potongan-potongan tindakan yang menurutku tidak seharusnya. sesuatu yang juga terkadang saya lakukan untuk kesenangan saya. hal sepele yang saya sadari ketika orang lain yang melakukan namun abai ketika saya sendiri yang menjadi pelakunya. mungkin seperti pribahasa klise bahwa gajah di depan mata tidak terlihat namun semut di seberang nampak.

Sebenarnya mungkin hal yang sepele lagian pengandaian-pengandaian seperti itu sering muncul dalam pertanyaan psikotes saat tes kerja namun menurut saya bahwa seringkali kita melupakan hal yang seperti itu.

saya akhirnya beberapa kali kompromi terhadap hal yang di luar batas idealismeku. saya juga sadar bahwa banyak hal yang menurutku tidak seharusnya saya lakukan di kantor namun jebol dengan berbagai pembenaran salah satunya karena sudah jenuh dengan pekerjaan yang sama ditambah lagi dengan pimpinan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah bahkan hanya melakukan penekanan-penekanan dengan pekerjaan rutinitas dan tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari pekerjaan itu sendiri, akhirnya hanya menjadi rutinitas harian dan tidak pernah ada dialog dalam pengembangan diri. 

Salah satu horor paling menakutkan dalam sebuah pekerjaan rutinitas ketika di dalam pekerjaan itu sudah tidak ada lagi proses pengembangan diri bagi siapa pun. tidak ada dialog atau pun diskusi yang tercipta baik antar atasan dan bawahan maupun sesama jenjang jabatan, yang terjadi hanya instruksi yang satu arah dengan dalih bahwa kita bawahan dan kita harus patuh karena kita digaji sebagai bawahan tanpa mempertimbangankan sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan atau ada sisi yang butuh pengembangan diri. 

Ketika hal semacam ini yang terjadi, maka ujungnya adalah demotivasi atau bahkan di level stress paling akut, mengajukan resign. 

Kompromi-kompromi kecil terhadap kehidupan perkantoran mempertimbangkan banyak hal yang butuh penalaran lebih jauh. idealisme adalah sesuatu yang mewah namun terkadang tergadaikan oleh hal-hal yang menjadi pelampiasan seseorang. idealisme tidak berdiri sendiri namun diiringi dengan banyak hal di lingkaran sekitarnya. idealisme yang tertanam kuat tanpa dipengaruhi oleh faktor X adalah idealisme sejatinya sedangkan yang masih terpengaruh oleh variabel-variabel lain adalah idealisme yang masih rapuh,

dan saya masih dalam kategori idealisme yang rapuh.

6 Juli 2020

July 5, 2020

Jualan Teman

Dalam beberapa kali kesempatan saat ditawari jualan oleh teman yang sedang mencoba membuka usaha, entah itu makanan, usaha baju atau usaha apapun, saya selalu berusaha untuk membeli meskipun tidak dalam jumlah banyak. saya tidak terlalu memusingkan motif saya membeli namun paling tidak, saya memberi semangat kepada mereka untuk mengembangkan usahanya.

bukan pula ingin membanggakan diri bahwa saya telah membantu teman namun lebih pada perasaan yang sama. maksudnya bahwa saya juga sedang berada pada posisi yang sedang meraba apa yang harus saya lakukan untuk usaha sampingan yang membutuhkan kreatifitas bukan melulu mengharapkan gaji bulanan. juga bahwa usaha baju online yang sudah beberapa tahun belakang ini dirintis oleh isterinya saya pun pada awalnya ditawarkan ke teman-temannya.

selain itu, saya juga berusaha untuk memantapkan hati bahwa jika teman bahagia maka saya juga harus ikut berbahagia. hati kita sebagai manusia seringkali diisi oleh perasaan iri  bahwa ketika melihat teman sedang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, seringkali muncul dalam hati kita untuk mencoba mematahkan semangatnya dal bentuk apapun, dan itu yang saya tidak inginkan.

5 Juli 2020

July 4, 2020

Korek Kuping

Kebiasaan kecil apa dalam hidupmu sehari-hari yang kau sadari bahwa hal tersebut tidak baik bagi kesehatanmu namun kau tidak pernah berhasil untuk menghindarinya?
kalau saya yang ditanya demikian, tidak terlalu lama berpikir untuk menjawab,

"mengorek kuping"

Ya, mengorek-ngorek kuping menjadi kebiasaan sampingan yang disenangi oleh bahkan semua orang. ketika kuping mulai gatal dan tidak terpuaskan jika hanya mengoreknya dengan jari kelingking atau jari telunjuk, maka kita akan mulai mencari media apa saja yang bisa digunakan untuk menusuk kuping dan memutar seperti mengaduk kopi, entah searah jarum jam maupun berlawanan dengan jarum jam. saya hakkul yakin bahwa tidak cukup untuk memenuhi nafsu mengorek kuping hanya dengan 1 kali korekan. saya yang notabene adalah penganut mazhab mengorek kuping dengan gulungan kertas bahkan bisa menghabiskan 4-5 gulungan kertas sebelum sensasinya terpuaskan. seseorang yang sudah dalam tahap kencanduan tidak akan pernah puas mengorek kuping sebelum ada rasa nyeri di dalam gendang telingan.

kebiasaan yang sampai sekarang tidak mampu saya hentikan yang anehnya bahwa setiap kali saya mengorek kuping saya dengan gulungan kertas - bahkan bukan dengan cotton buds - saya selalu menyadari bahwa saya sedang menzalimi diri saya sendiri dan selalu berjanji bahwa tidak akan mengulanginya, namun ternyata, menghentikan kebiasaan mengorek kuping itu lebih sulit dari pada menahan boker ketika sedang mengendarai motor. entah kenapa, saya malah tidak suka mengorek kuping dengan cotton buds, mungkin karena trauma di awal-awal kebiasaan mengorek kuping ketika beberapa kali kapas di ujung cotton buds tertinggal di dalam kupingku.

Saya selalu gagal menghentikan kebiasaan buruk tersebut karena sensasi geli-geli enak ketika gulungan kertas mengenai gendang telinga yang hampir menyamai sensasi orgasme, apatahlagi ketika cairan bening yang kemudian menempel di gulungan kertas yang baunya membuat candu - entah kenapa orang menyenangi bau mereka (cairan telinga, bau cantengan) namun tidak pernah suka mencium bau dari orang lain.

Entah sudah berapa kali kuping saya bengkak dan sakitnya naujubillah ketika keseringan dikorek-korek dan setiap kali hal tersebut terjadi. tidur pun sangat tidak menyenangkan karena bagian kuping yang sakit tidak bisa ditindih bahkan setiap saat kuping berdenging dan menimbulkan rasa sakit di sekujur kepala. saya selalu bersumpah untuk meninggalkan kebiasaan yang serupa mengkonsumsi narkoba. ketika kuping saya bengkak, butuh 4 hari untuk sembuh. anehnya setelah sembuh, ada begitu banyak cairan yang menggumpal yang mungkin sisa dari bengkak dan saya kembali menyenangi sensasi baunya. bau ini seperti mantan yang tidak pernah sirna dari pikiran.

Saya mencoba mengingat lagi sejak kapan kebiasaan jahannam yang mengasikkan ini mulai saya gemari.
Juli 2020, saya berniat untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

July 3, 2020

Main Handphone

Mungkin ini ada kaitannya dengan renungan sebelumnya tentang wasting time namun lebih spesifik. sesuatu yang menurut saya terkadang sudah keterlaluan yang selalu diniatkan untuk dibatasi namun tetap saja kembali seperti pola sebelumnya. setelah melalukan, sadar kemudian berjanji akan membatasi namun momen berikutnya berulang lagi, main dalam waktu yang lama, sadar kemudian berjanji lagi dalam hati. entah seberapa sering saya mengingkari ikrar saya terhadap diri saya sendiri. 

Kebiasaan itu adalah memegang hp. entah berapa jam dalam sehari saya menghabiskan waktu memelototi layar HP. saya baru berhenti ketika mata saya sudah lelah dan lebih parahnya lagi, saya tidak tahu tujuannya, kenapa saya menghabiskan berjam-jam hanya untuk benda kecil tersebut dan anehnya, setiap kali ada dorongan untuk itu, saya tidak kuasa melawannya. saya menghabiskan waktu menonton youtube dan sesekali berselancar di media sosial. sebuah kebiasaan toxic yang anehnya saya selalu tidak kuasa melawannya. 

Beberapa kali saya mencoba tips untuk menghentikan kebiasaan tersebut seperti mematikan paket data atau pernah juga ketika paket data saya sudah habis, saya sengaja tidak mengisinya dalam jangka beberapa waktu, namun apa? it doesn't works at all. 

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa tujuan saya sudah melenceng dengan waktu yang terbuang percuma. jika untuk sebuah pembelajaran, kadang saya tidak menyesal namun realitanya bahwa saya hanya menghabiskan tontonan-tontonan yang tidak berfaedah sama sekali, youtube prank, lucu-lucuan dan komedi-komedi yang sering saya tonton berkali-kali. 

Pada akhirnya, semua ini tidak boleh berlanjut terus menerus sampai usia saya dimakan waktu. saya harus sekuat tenaga untuk kemudian memantapkan hati bagaimana fokus pada tujuan hidup. jika kecanduan terhadap benda kecil saja saya sudah kalah, bagaimana saya bisa menang dalam pertarungan lebih besar. 

Saya mengkhawatirkan diri saya yang sudah dalam tahap meratapi masa lalu tanpa menyadari bahwa saya masih hidup sampai sekarang. saya menyesali banyak hal yang menurut saya terbuang percuma sedangkan pada dasarnya saya masih bisa perbaiki dari sekarang. saya membenci diri saya yang sangat kurang berjuang dalam mencari ilmu namun sebenarnya saya bisa memulai dari sekarang meski dengan kondisi berbeda, dan ratapan-ratapan lainnya yang tidak perlu yang hanya semakin memojokkan saya dalam penyesalan yang sia-sia

3 Juli 2020

July 2, 2020

Tentang Waktu

sebenarnya sudah sangat klise untuk mengatakan bahwa "gunakan waktumu sebaik-baiknya karena waktu laksana busur panah yang melesat tak terkendali dan tiba-tiba kita akan sadar sudah berada di ruang yang sudah sangat jauh terbawa waktu, kemudian kita menyesali apa yang sudah terlewat"

iya sangat klise mendengar hal seperti itu karena setelah momen perenungan berlalu, saya kembali ke rutinitas menunda - nunda dan membuang waktu secara percuma.

hingga kemarin, saya menyadari bahwa staf baru yang direkrut kantorku dengan posisi yang sama denganku ternyata selisih 11 tahun lebih muda denganku. sebuah tamparan yang lebih keras bahwa harta berupa waktu yang selama ini kupunya, tercecer tak bersisa. jika saya bandingkan dengan rekan kerja yang seumuran denganku di kantor, mayoritas mereka telah menduduki jabatan yang berarti bahwa sebelumnya, mereka menggunakan waktu untuk menambah kapasitas diri mereka sedangkan saya hanyalah seorang pelamun bodoh yang terdampar di pinggir laut memandangi semua orang sudah berlayar ke tengah samudera.

saya kemudian mengingat ingat, kemana semua waktuku terbuang. saya melempar kenangan ke beberapa tahun silam. ketika tamat SMA, saya menganggur setahun tanpa melakuka  sesuatu yang berarti sehingga waktu saya setahun terbuang. tahun berikutnya saya kuliah selama empat tahun. anggaplah saya menggunakan waktu empat tahun itu meskipun dalam proses perjalanan kuliah saya, banyak sekali waktu yang hanya berlalu. kemudian setelah kuliah, saya menganggur dua tahun tanpa mengerti ke mana arah yang harus kujejak. sudah total 3 tahun terbuang percuma. 

Saya kemudian memutuskan merantau dan bekerja di Perusahaan. dua perusahaan saya lewati sebelum memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang sekarang. kurang 3 bulan lagi saya genap 6 tahun di perusahaan ini. lumayan panjang dengan kondisi yang tidak terlalu berubah. 6 tahun terakhir saya jalani dengan rutinitas yang sama. senin sampai jumat berangkat kantor jam 7, di perjalanan sejam kemudian pulang kantor jam 5, tiba di rumah ketika Maghrib berlalu. sabtu minggu saya habiskan random, kadang tidur sesekali keluyuran. 

Waktu saya habis dalam rutinitas tersebut tanpa ada prioritas ke depan, atau paling tidak, saya menyisihkan beberapa jam dalam seminggu untuk memperdalam ilmu kearifan. 

Saat ini saya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. saya menetapkan prioritas untuk bergelut di bidang akademisi setelah menyelesaikan pendidikan meski kadang pesimis dengan usia yang sudah tidak muda lagi namun baru memulai tetapi tak apalah

Semoga Semesta menakdirkan saya dalam impian yang sesuai dengan misi saya dihadirkan di bumi ini.

2 Juli 2020

July 1, 2020

Jalanan Jakarta

Saya sudah terlalu sering menulis tentang dinamika di jalanan Jakarta. sebuah fenomena yang menurut saya menjadi gambaran betapa manusia mempertontonkan dirinya bahkan termasuk saya. kalimat yang beberapa tahun saya katakan bahwa jika ingin menguji kesabaranmu pada level berapa maka hiduplah di jalanan Jakarta dan rasakan sensasinya. jika dalam sebulan atau beberapa bulan, kau mendapati dirimu mampu memaklumi dan bersabar atas semua yang terjadi di jalan Ibu kota ini maka kau termasuk orang yang sabar. saya yang sudah 6 tahun lalu lalang di jalanan Ibu kota dengan kendaraan motor, tidak sepenuhnya mampu menahan diri atas apa yang saya saksikan meskipun di beberapa kesempatan mungkin saya juga yang masuk dalam kubangan ketidakaturan tersebut misal menerobos lampu merah atau masuk jalur Busway.

Dua hari yang lalu, saya berangkat bersama isteri ke kantor seperti biasanya. setelah menurunkan isteri di bilangan Rasuna Said, saya putar balik ke arah Kebayoran baru. sebelum masuk ke terowongan Kuningan Timur, saya mengambil jalur kanan supaya memudahkan saya untuk mengambil jalur terowongan dan tidak menghalangi kendaraan yang akan mengambil jalur ke Gatot Subroto. sepersekian detik, saya merasa ada yang aneh karena bunyi klakson mobil di belakang saya beberapa kali terdengar, saya tidak bergeming karena merasa tidak ada yang salah dengan jalur yang saya lewati, kemudian saya disalip oleh mobil Yaris yang hendak belok kiri. saat tepat di samping saya, si sopir memperlambat laju mobilnya sambil mendongak ke arah saya dengan mimik muka yang kesal. saya berpikir keras apa yang salah dengan jalur yang saya lewati. saya memutuskan untuk melaju tanpa merespon si pengendara mobil.  

Tadi saat berangkat ke kantor, saat melintas di warung buncit yang lampu merah penyeberangan, seorang ibu sudah memencet lampu merah kemudian menyebang namun pemandangan yang saya lihat adalah kendaraan tidak peduli sama sekali, mereka mungkin berpikir bahwa lampu merah hanya di persimpangan itupun masih sering diterobos. 

Jalanan Jakarta memang menawarkan banyak hal dan satu yang pasti tentang bagaimana kita menguji kesabaran.

1 Juli 2020

June 26, 2020

Neighborhoods

One of the most important thing in deciding where we live is neigborhoods and perhaps it's a main considering in it. iniatially, we forget it as a main thing despite it determines our daily life ahead. Neigbor is someting like coin that has two sides, we need them despite we don't. when we are having some trouble with them, they always bring it up when we aren't. ocasionally, the problem bring on by misunderstanding. 

when I wanted to buy my house, I almost call off by considering the surrounding.  I'm the kind a person who getting difficult to going easy with the new one so my wife does. at that time, we still rent a small house at Cilandak by 20 million and then I and my wife came up with the idea to bought a house despite rent a house with the same cost.

Finally we bought this house. saya sama sekali tidak menyesali keputusan yang sudah saya ambil meskipun dengan beberapa event yang sedikit membuat saya menganulir beberapa pertimbangan sebelumnya. kendala yang paling berarti adalah surrounding. kami sangat sulit for getting respect karena beberapa hal, bahkan akhirnya my wife believe the mitos bahwa her tribes has a big different with them sehingga hal tersebut yang sedikit menghambat closing with them.

Mungkin begitulah dinamikanya dengan perasaan yang masih aneh dan tetap berharap bahwa ada chance untuk mencari lingkungan baru dengan kenyamanan yang mendukung. hidup memang tidak menawarkan kemudahan-kemudahan yang jatuh tiba-tiba dari langit namun semua yang ada di tangan didapatkan melalui effort yang tidak mudah. 

Jangan pernah membenci dan jangan pernah menyesali takdir. ikuti iramanya dan enjoy it.

26 6 20