October 23, 2015

Selamat

Seharusnya ucapan selamat ini kutulis saat engkau sedang merayakan euforia sebagai seorang sarjana. aku pernah merasakan saat-saat itu dimana semua energi di penghujung sebagai Mahasiswa benar-benar lepas terbang ke angkasa. berbagai rasa memang bercampuk aduk saat memakai toga dan menyandang predikat sebagai seorang sarjana. ada perasaan lega telah menyelesaikan amanah dari orang tua, ada perasaan senang saat titel di belakang nama bertambah namun ada pula perasaan tidak tega meninggalkan dunia kampus yang menurutku amat sangat menyenangkan, entah menurutmu menyenangkan atau tidak.

Momen tersebut engkau rayakan 4 hari sebelum hari pernikahanku. aku yakin engkau berbahagia dengan gelarmu tersebut dan sepantasnya aku mengucapkan selamat untukmu, selamat atas segala pencapaianmu namun yang terpenting menurutku dari semua itu adalah selamat telah menunaikan amanah dari Ibu dan Bapak yang menurutku itulah tanggung jawab terberat saat kuliah, bukan tugas ataupun kegiatan organisasi.

Sekarang jangan terlalu lama merayakan euforia kelulusanmu. tidak ada waktu untuk berhenti sejenak meski melepas penat untuk sementara waktu pun perlu dalam mengumpulkan energimu namun satu hal bahwa belajar harus tetap berlanjut, jangan pernah menyimpan buku-bukumu di dalam rak kemudian menguncinya rapat-rapat karena belajar itu inheren dalam hidup, bukan sekedar baca buku, noted.

Engkau rencana ke Kediri untuk belajar bahasa Inggris, okelah itu tidak masalah dan aku tetap akan mendukungmu meski aku sendiri selalu menganggap bahwa belajar bahasa inggris adalah hal yang kesekian, saat engkau keluar dari zonamu maka banyak hal yang engkau akan pelajari, mulai dari bertemu dengan orang-orang yang berbeda kebudayaan sampai pada hal yang akan membuka paradigmamu bahwa semesta ini luas, tidak melulu enrekang ke makassar. banyak hal tercecer yang mesti dipelajari.

Bertemu banyak orang akan membuat kita percaya bahwa kebenaran yang selama ini kita anggap mutlak ternyata relatif, kita akan belajar untuk lebih toleran dan menghargai orang lain. kepala akan lebih enteng untuk menerima perbedaan yang sering kita jumpai karena percayalah, hidup ini adalah aneka perbedaan yang ada.

Aku bercerita sedikit tentang perjalananku pertama kali merantau ke pulau Jawa. sebelum menginjakkan kaki di Pulau ini, kepalaku dipenuhi dengan paradigma yang tertanam sejak kecil bahkan pada hal yang bersifat syariat, aku lebih condong ke budaya Muhammdiyah karena memang kita dididik keras mengikuti semua tradisi Muhammadiyah namun apa yang terjadi ketika aku berada di pulau yang Mayoritas Masyarakatnya adalah Penganut NU bahkan sebagian besar dari mereka adalah Pengikut Garis Keras? 

Perlahan-lahan aku mengikuti dan berdiskusi dengan  mereka, mengamati kehidupan sehari-hari dan kemudian meluangkan waktuku untuk berbicara ke dalam diriku tentang perbedaan ini, pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa perbedaan yang ada adalah hidup itu sendiri dan kita hanya perlu sedikit mengerti dan bertoleran dengan apa-apa yang berbeda dengan isi kepala kita. tetapi tolong dicatat bahwa diantara beribu banyak perbedaan yang nantinya akan engkau temui, wajib engkau memiliki prinsip dalam hidup, nilai yang seharusnya engkau pegang terus sebagai identitas sehingga tidak terombang ambing, sekali lagi hal itu adalah hal yang prinsipil dalam hidup, sesuatu yang tidak boleh dimoderasi oleh apapun.

Aku hanya ingin sedikit meningalkan pesan untuk setiap langkah yang engkau tempuh disetiap langkah hidupmu bahwa ada amanah besar dari seorang Perempuan yang mulai memasuki usia senja. Perempuan yang tidak pernah letih melafalkan doa untuk kebaikan-kebaikan kita berenam, tentang tangannya yang tidak pernah letih menengadah disetiap akhir shalatnya kemudian mengais rejeki dengan keahliannya menjual aneka jajanan di pasar kampung sebelah. 

Perempuan yang tidak pernah memperlihatkan air matanya di depan kita namun selalu saja Dia menyimpannya yang pada tengah malam baru diteteskan seiring doa-doanya. Perempuan yang tangguh dan tak pernah kutemukan sedikit pun kurangnya kasih sayang sejak aku kecil sampai pada saat aku mempunyai keluarga sendiri. aku hanya mengingatkan engkau bahwa ada doa-doanya yang mengiringi langkahmu.

ah, terlalu banyak hal yang kuceritakan kepadamu padahal aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kelulusanmu sebagai Mahasiswa UIN Makassar.

tetaplah belajar, belajar dari apa dan siapa saja, belajar dari kehidupan. sedikit menundukkan kepala untuk menerima pelajaran-pelajaran hidup

Rawamangun, 23 Oktober 2015 16:42

Susu di Samudera Tuba

Masih banyak orang lain di kota ini. aku selalu meyakini hal itu. kemarin saat pulang kantor, tepat di perempatan Mampang, depan sevel menuju kontrakan, saat di tengah kemacetan yang super duper padat, seorang anak sekolah yang mengendarai motor matic di depanku tiba-tiba terjatuh karena dari arah berlawanan diserempet oleh mobil warna hitam. kontan beberapa pengendara di depannya berteriak kepada sang pengemudi motor untuk berhenti supaya tidak melindas anak sekolah, kemudian beberapa dari mereka turun dari motor membantu anak sekolah tersebut berdiri. aku hanya berjarak sekitar 5 meter namun padatnya kendaraan membuatku sulit untuk turut berhenti.

Aku yakin bahwa memang di kota ini, masih begitu banyak manusia yang peduli meski terkadang seringkali pula kita menemukan manusia disini yang keras kepala dan sok jagoan. ingatanku berjalan mundur setahun yang lalu sekitar akhir agustus 2014, ketika itu aku berangkat tes di sebuah perusahaan. 

Saat berada di bilangan jln Ampera, seoang ibu yang juga mengendarai matic terperosok ke selokan karena motornya tergelincir, seingatku, ada beberapa orang yang tanpa aba-aba berhenti membantu ibu paruh baya tersebut dan mengangkat motornya dari dalam selokan. meski mereka sedang berkejaran dengan waktu untuk sampai di kantor, namun mereka tetap menyempatkan waktu membantu orang yang mengalami kecelakaan. kota ini memang belum habis manusia baiknya.

Beberapa waktu yang lalu, di sebuah negeri yang katanya sudah maju, seorang bocah terlindas di tengah jalan sementara orang yang lalu lalang tidak perduli, kemudian apa yang dibanggakan dari sikap seperti itu?

masih masih orang baik di kota ini...!!!

Mampang Prapatan, 22 Oktober 2015 18:23

October 22, 2015

Ada Cinta di Oktober

Kita memulai romansa ini, di oktober yang menyisakan banyak perih untuk negeri namun tidakkah ketika berkeyakinan bahwa selalu saja kita kuat dari kondisi yang sulit tetapi ini bukan kita yang sedang sulit dek, mereka yang berada di pulau seberang bahkan bernafas pun mereka harus berkelahi dengan asap.

Di oktober yang menyisakan banyak kelabu di negeri ini, kita bahkan melangsungkan momen untuk mensakralkan hubungan kita namun tidakkah kita sedikit meluangkan waktu untuk bercerita tentang kesusahan mereka yang berjuang dengan derita sementara kita hanya asyik bercumbu di kamar yang dingin tanpa harus terganggu dengan kepulan asap.

Aku takut dek, kita berbahagia diatas semua derita negeri ini. Aku ingin berbahagia dan sedikit membagikan bahagia itu kepada mereka yang ada disamping kita meski hanya sebuah senyuman.

Namun oktober benar-benar ironi dek. Aku dan kau merayakan hubungan kita namun mereka sedang merayakan tragedi hidup. ataukah kita hanya perlu sedikit waktu untuk menertawakan hidup hidup?

Kita merayakan oktober dengan sisa cinta yang masih ada. namun dia selalu ada dan abadi dengan segala kekurangannya. Kita merayakan cinta di kontrakan mini tanpa perabotan, kita merayakan cinta oktober dengan motor butut yang sudah 10 tahun usianya, kita merayakan cinta oktober di warteg langganan dengan lauk tempe, kita merayakan cinta oktober dengan segala kesederhanaannya, namun bukankah kita telah berikrar bahwa kesederhanaan yang akan menguatkan tali cinta di antara kita.

Tetapi sekali lagi, jangan pernah kita lupa untuk merayakan kebahagiaan dengan yang lain, bersama penghuni semesta karena bahagia itu bukanlah kebahagiaan jika dirayakan sendiri.

Ada cinta kita di oktober dalam riuh negeri yang penuh tragedi.

Mampang, 22 Oktober 2015

October 20, 2015

Pengantin Baru, Sepertinya

Aku masih berusaha mengingat peristiwa-peristiwa kecil yang kita lalui semenjak resmi serumah, namun entahlah ingatanku yang lemah atau kurang pekanya diriku terhadap hal-hal kecil sehingga aku merasa bahwa belum ada hal yang signifikan selain pada beberapa kesalahpahaman yang membuatmu sedikit kesal kepadaku, hal aneh yang kita lalukan semenjak menjadi keluarga kecil adalah kebiasaan kita menghitung berapa kali kita kesal terhadap pasangan.

Akulah yang terlalu sering membuatmu kesal. sampai pada hari ini, engkau pernah berujar bahwa telah 3 kali kesal kepadaku. betapa gagalnya aku menyayangimu sehingga diwaktu yang baru selangkah yang kita lalui ini, aku telah membuatmu kesal 3 kali, ah rasanya aku benar-benar belum siap mendekapmu dalam setiap rasamu sebagai perempuan yang lebih sering menggunakan perasaan dalam setiap hal.

Dalam tiga kasus itu bahkan baru berjalan dua hari kebersamaan kita. pertama saat aku ke surabaya dalam suatu urusan kemudian kukirimi engkau sms bahwa aku berniat menginap semalam di rumah sejawat namun betapa aku memang tidak peka terhadap perasaanmu, bagaimana tidak seorang suami dengan entengnya meninggalkan isterinya semalam hanya demi bernostalgia dengan kota masa lalu, ah aku memang suami yang payah. kasus kedua saat malam itu aku tidur sebelum engkau tidur namun kebiasaanku menutup kunci membuatmu tidak bisa masuk kamar.

Begitulah aku dek. terlalu banyak hal kecil yang membuatku terlupa

October 17, 2015

Tentang Doa

Aku tidak bisa berkata apa lagi tentang hal yang kulewati hari ini. Mungkin untuk sebagian orang, hal yang terjadi kepada kita adalah hasil dari upaya yang kita lakukan namun aku sendiri percaya bahwa hasil adalah kolaborasi antara usaha dan doa, aku bahkan percaya bahwa doa mengambil porsi paling banyak terhadap hasil yang diperoleh.

Bagaimana hari ini, hal yang kualami menguatkan kepercayaanku terhadap manjurnya sebuah doa dalam mencapai apa yang kita inginkan.

Ceritanya begini, seminggu yang lalu, aku kehilangan sepatu sehingga mengharuskanku untuk mencari sepatu baru.

Rabu kemarin saat libur 1 Muharram, aku dan isteri menyambangi 3 tempat untuk berburu sepatu, mulai dari pasar baru, pasar rumput sampai Mall Ambassador namun tidak ada sepatu yang sesuai dengan keinginanku, mulai dari harganya yang terlalu mahal sampai pada model sepatu yang tidak terlalu kusukai. Kami bahkan sampai malam namun hasilnya tetap saja nihil. Aku memutuskan untuk melanjutkan perburuan membeli sepatu baru pada sabtu.

Tadi pagi Setelah bebersih rumah, aku beranjak ke bilangan pasar senen, waktu sudah beranjak siang dan perutku sudah mulai lapar, aku memutuskan mampir di pendurenan makan dan shalat dhuhur. Setelah shalat, aku menyempatkan melafalkan doa supaya dipermudah membeli sepatu yang sesuai harga dan model yang kuinginkan. Aku kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar senen. Butub waktu sekitar 30 menit untuk sampai disana. Setelah mengitari beberapa penjual sepatu, mataku melihat sepasang sepasang yang persis dengan sepatuku yang hilang. Kutawar sepatu tersebut seharga 180 ribu setelah dia memberiku harga awal 270. Sang penjual tidak bergeming kemudian kami sepakat diharga 200 ribu. Aku kemudian membayar dan bergegas pulang
Sepatu baru seharga Rp. 200,000
Sesampai di rumah, aku berpikir apa yang membuatku begitu mudah mendapatkan sepatu tersebut sedangkan hari rabu kemarin, aku sudah bersusah payah mendatangi 3 tempat namun tak kunjung kutemukan sepatu yang sesuai keinginanku. Aku yakin haqqul yakin bahwa doa yang memberi hasil yang berbeda, meski pada hari rabu, aku bersusah payah sampai malam namun tidak jua mendapat hasil yang sesuai keinginanku karena aku tidak menyelipkan doa disetiap langkahku sedangkan tadi, meski tidak terlalu keras mencari, namun ada doa yang mengiringi sehingga dengan mudah aku memperoleh hasil yang kuinginkan.

Sampai saat ini, aku percaya bahwa dalam setiap apa yang kita usahakan, seyogyanya kita menyelipkan doa yang ikhlas, sebenarnya bukan supaya semua keinginan kita terpenuhi namun lebih kepada kita melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas kita, bahkan apapun hasilnya, itulah yang terbaik ketika dalam prosesnya, ada doa dan pelibatan Tuhan dalam usaha kita.

Begitulah doa bekerja. Ada banyak tafsiran tentang doa namun bagiku, doa adalah bentuk nyata bagi kita melibatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Mampang, 17 Oktober 2015 15:22


October 16, 2015

wajah di Setiap Tidurmu

Jika katanya orang-orang yang produktif akan selalu melakukan ritual khusus sebelum tidur seperti membaca buku, kemudian kontemplasi namun aku tidak, cuma butuh memang wajahmu yang sayu nan letih ketika pulas dalam mimpi

aku menemukan semua semangat hidup di wajahmu. teduh saat engkau tertidur disampingku dan berkali-kali menghembuskan nafas tepat di wajahku.

Aku mengecup keningmu lembut sebelum ku ikut memejamkan mata dan inginku ritual ini selalu seperti apa adanya sampai saat usia kita menua

 

October 12, 2015

Sakitmu Adalah Sabarku

Sungguh hati ini hancur melihatmu sakit. mungkin aku bukan lelaki yang terlalu memperlihatkan kekhawatiranku namun aku sendiri tahu betapa sedihnya hatiku melihatmu harus pelan-pelan melangkahkan kaki setiap berjalan karena menahan sakit.

Aku tak tahan melihatmu meringis menahan sakit. inginku berbagi namun yang kulakukan hanya bisa mendekapmu dengan erat sambil berharap bisa mengurangi rasa sakitmu meski kutahu itu naif tapi tak apalah, toh kita sama-sama percaya bahwa kasih sayang bisa bermakna apa saja bahkan bisa berubah menjadi obat.

Klise memang untuk menulis kegelisahanku tentang apa yang engkau rasakan saat ini namun begitulah diriku yang tidak bisa menunjukkan empati secara langsung namun diam-diam perasaan lirih menyelimutiku setiap kali memandangmu menahan sakit, aku menahan perasaan sedih dan tidak menampakkan di depanmu karena aku lelaki yang sok kuat dan ingin terlihat tegar di depanmu dan di depan anak-anak kita kelak meski rasanya aku yang paling berduka atas semua kesedihan yang engkau rasakan.

Kita telah menjadi sepasang jiwa yang saling melengkapi dan aku harap perasaan ini tidak luntur oleh waktu dan mungkin nantinya riak-riak dalam kehidupan kita, aku hanya berharap bahwa semua itu akan menguatkan genggaman tangan kita untuk tetap melaju sampai pada tujuan yang ingin kita raih.

Jika sampai pada hari ini aku harus berusah hati, maka kesedihanku ini hanyalah karena engkau sedang tidak enak badan. setidaknya kita masih bisa bersama dan menghabiskan malam menikmati kopi sambil mendengarkan radio. mendengarkan radio memang alternatif paling rasional bagi kita karena tidak mempunyai tv. 

Alasan untuk tidak mempunyai tv pun beragam, mulai dari kita yang memang sama-sama tidak terlalu doyan menonton tv, atau rumah kontrakan kita yang masih sempit sekedar untuk diisi tv dan sampai pada alasanku sendiri untuk membiasakan waktu keluarga kita tidak terkuras oleh aktivitas menonton tv selain itu karena aku merasa bahwa menonton tv sudah tidak sehat lagi bahkan untuk perkembangan anak-anak kita kelak. ah alasanku mengada-ada mungkin karena kita memang tidak cukup banyak uang untuk membeli tv namun tidak apa-apa lah, toh tivi tidak berpengaruh apa-apa di kehidupan kita.

Aku selalu mendoakanmu semoga sehat selalu isteriku. kita baru saja berlabuh dari pelabuhan untuk berlayar di tengah samudera yang luas dan penuh tantangan. semoga saja kita tidak saling meninggalkan sampai diseberang lautan.

Jakarta Timur, 13 Oktober 2015

Belajar Tentang Kehilangan

Aku menikmati masa-masa bahagia di kontrakan super mini bersama isteriku. Kontrakan yang hanya terbagi dalam dua ruangan, satu ruang dapur dan juga ruangan utama. kurang luasnya kontrakan yang kami sewa memaksa kami untuk menaruh sendal dan sepatu di teras kontrakan.

Pagi-pagi, isteriku sudah siap berangkat sedangkan aku baru saja selesai mandi. Aku bergegas untuk berangkat ke kantor bareng isteri. saat aku mencari sepatu kerja yang kutaruh dengan sembrono di teras kontrakan, aku terperangah ketika sepatu yang kucari tidak ada di tempat. Aku menanyakan perihal sepatuku ke pada isteriku namun dia pun tidak tahu menahu. aku sadar bahwa sepatu tersebut telah hilang, entah hilang karena dicuri ataupun sebab lainnya. 

Meski bukan sepatu mahal namun setidaknya sepatu tersebut lumayan settle di kaki ku yang jarang sekali cocok dengan sepatu, entah karena kegedean atau mungkin kekecilan. Sepatu tersebut kubeli di pasar senen saat baru saja tiba dari surabaya dengan harga 200 ribu. mungkin sepatu tersebut menjadi saksi betapa kerasnya aku pontang panting di kota ini mencari pekerjaan, memasukkan lamaran di kantor-kantor kemudian mengikuti seabrek tes dan kebanyakan gagal.

Kehilangan sepatu mungkin bukan hal yang perlu disesali namun setidaknya dalam setiap peristiwa selalu saja tersirat pelajaran. aku terlalu ceroboh dan menggampangkan hal-hal yang mungkin kelihatannya sederhana atau mungkin peristiwa tersebut mengajarkanku untuk sedikit lebih waspada karena tidak semua orang seperti anggapan kita. atau bahkan hilangnya sepatu tersebut adalah sebuah peringatan mungkin saja aku terlalu pelit dalam membagi rejeki.

Rawamangun, 12 Oktober 2015

October 9, 2015

Perjalanan Madiun-Jakarta

Bersama isteriku, mbak dan Meisya
@Alun-alun Madiun

Perjalanan kali ini amat menyenangkan karena berkesempatan mengajakan ponakanku naik kereta bahkan sejak kereta mulai berangkat, tidak henti-hentinya dia tertawa renyah dan terlihat dari raut wajahnya yang amat sangat menikmati perjalanan ini, mungkin juga karena ini adalah sensasi pertama baginya bepergian dengan kereta api.
@Stasiun
tangisannya kemudian pecah saat akan sampai di stasiun Cirebon ketika isteriku menggodanya alhasil karena tak kuat menahan malu, dia menangis sejadi-jadinya di dalam kereta.


tepat di Stasiun Cirebon saat Sepur berhenti 30 menit, Meisya menyempatkan turun dan berfoto ria di Stasiun sekedar menginjakkan telapak kaki bahwa dia pernah menjejak di tanah Cirebon. setidaknya dia mengukir selembar kenangan di perjalanannya yang mungkin saat beranjak dewasa, dia berpikir bahwa betapa luasnya bumi ini yang perlu untuk dipelajari sehingga paraadigmanya tidak sempit


Sepasang Merpati, Kapan Bertemu?

Aku pulang ke kontrakan super mini yang kita sewa di bilangan Mampang, namun tak kudapati dirimu berdiri menyambutku. baru lima hari memang hubungan ini kita semai sehingga masih prematur untuk menguji kesabaran kita dalam setiap kondisi apapun yang akan dilalui namun bukankah sebelum memutuskan untuk hidup bersama, kita telah sepakat untuk saling mengerti, engkau mengerti pekerjaanku ketika harus pulang malam dan mendapati dirimu sudah tertidur pulas begitupun aku yang aku selalu berusaha untuk memahami pekerjaanmu yang seringkali harus ke luar kota dan meninggalkanku dalam kesendirian di kamar kos.

Sejatinya, belum banyak hal yang ingin kuceritakan sejak kita resmi menjadi sepasang merpati yang akan selalu menjaga. aku bahkan masih harus belajar banyak hal untuk hidup menjadi bagian dari dirimu. namun entah kenapa, sejak memutuskan untuk hidup bersama, hidupku kembali bergairah dalam setiap hal apatahlagi tentangmu.

Kita memang sudah hidup di sebuah kontrakan namun aku selalu sadar bahwa kediaman itu hanya akan menjadi tempat bercengkerama bersama karena sesungguhnya sebagian besar waktu kita habiskan di kantor masing-masing.

Kita terlalu penat untuk mengumpat keadaan yang mengharuskan kita bertemu cuma 2 kali seminggu dan sejujurnya, kita menyenangi kondisi seperti ini karena selalu akan mengeratkan kasih diantara kita berdua.

Perjalanan waktu yang akan menguji kesabaran kita sampai dimana batasnya meski selalu kita melafalkan bahwa hubungan ini akan baik-baik saja sampai pada titik penghujung suatu saat nanti. kita hanya perlu sedikit bersabar dan banyak bersyukur untuk menikmati dinamika hubungan yang sedang kita jalani karena disetiap perjalanan, selalu terselip kondisi yang paradoks. disatu sisi kita berbahagia namun disisi lain, kita sedang berduka tetapi hal terpenting bagi kita adalah berbahagia dengan berbagi kebahgiaan dengan orang lain.

October 8, 2015

Mengawali Hidup Baru

Sudah lima hari sejak aku mengucapkan ijab kabul untuk mengingatmu menjadi seorang pendampingku dan sampai pada saat ini, kita berjalan beriringan. aku dan engkau sudah yakin bahwa selalu saja ada kemungkinan perbedaan pendapat diantara kita dalam perjalanan kebersamaan namun diatas semua perbedaan yang akan kita jumpai, kita telah berirkar untuk tetap mengeratkan pegangan tangan dan tidak akan pernah saling meninggalkan.

Aku sadar masih belum mampu untuk bersabar dalam beberapa hal dan nampaknya engkau tahu itu namun tidaklah adil jika aku mengumbar amarahku sedangkan aku selalu menuntutmu untuk mengerti diriku maka setiap hari dan setiap saat, aku melatih diriku untuk tidak membebani hari-hari kita dengan emosiku yang masih terkadang meledak-ledak.

Lima hari kebersamaan kita seperti start di titik nol untuk memulai perjalanan panjang. kita telah sepakat untuk saling menjaga dan saling berangkulan di setiap tikungan yang akan dilewati. aku dan engkau tidak ingin lagi menjejali pikiran kita dengan teori tentang pernikahan karena sederhana saja rumus kita ketika hendak memutuskan bersama yaitu kita akan selalu berusaha untuk saling mengalah dan saling mengerti. Ketika engkau marah maka waktunya aku yang akan mendengarkan dan begitupun sebaliknya.

Kita sadar bahwa di pundak kita yang tidak seberapa kuat ini, tertumpuk begitu banyak tanggung jawab dan kepercayaan dari orang-orang yang kita sayangi. ibumu tidak henti-hentinya mengingatkan kita untuk saling menyayangi dan akur dalam setiap hal begitu pun adanya dengan bapakku. Beribu doa mengiringi langkah kita dalam perjalanan ini namun aku dan engkau sadar bahwa semua ada di genggaman kita.

Aku membawa sejuta kecemasan saat mengikatmu menjadi isteriku. kecemasan tentang pekerjaan dan kecemasan tentang penghidupanmu. dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sama sekali tidak ingin melihatmu sengsara. aku ingin memberimu apa yang engkau mau namun kembali lagi pada prinsip yang kita sepakati bahwa kita tidak akan bermewah-mewahan meski mungkin suatu saat nantinya, kita diberikan rezeki yang sedikit berlebih. 

Kita banyak belajar dari orang-orang yang kita jumpai, tentang mereka yang sudah bergelimang harta namun tetap saja merasa tidak cukup dan tentang orang-orang yang serba kekurangan namun bahagia dengan hidupnya. kita hanya butuh hati dan pikiran untuk menentukan pilihan-pilihan tersebut.

dek, pernikahan ini bukan sesuatu lelucon namun sesungguhnya kita membutuhkan banyak energi untuk tetap menegakkan layar rumah tangga kita bahkan ketika ombak begitu derasnya menghantam. Selama tangan kita bepegangan dengan penuh kasih dan sayang yang tulus maka aku selalu percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Hanya perlu hati untuk tetap berdoa kepadaNya untuk mengiringi pelayaran hidup kita.

Seharusnya kutulis di Madiun setelah resepsi pernikahan kita
Min & Win
03 Oktober 2015

October 7, 2015

Masalah Hidup Adalah Semangat

Sudah empat hari di kota kecil ini. Kota yang dulunya menjadi tempat perantauanku namun sekarang sudah menjadi kota sendiri. Yah, jodohku ada di kota ini dan kami sudah menyatukan ikrar untuk hidup bersama 4 hari yang lalu.

Dua tahun kebersamaan kami menjalin kasih kuakhiri dengan akad hari sabtu kemarin. Sebelumnya, aku selalu berdoa semoga momen ini dipermudah datangnya karena keinginanku untuk menjaga martabat kami dari maksiat dan setelah ini sudah terwujud, ada lagi kekhawatiran yang menyelimuti alam pikiranku.

Yah tentang pekerjaan. Aku sama sekali tidak ingin hanya berpangku tangan sedangkan isteriku yang banting tulang. Semoga saja kekhawatiran itu tidak pernah nyata adanya.

October 1, 2015

Ini Oktober

Selamat datang Oktober

Selamat di bulan yang kupilih sebagai momen terindah dalam hidupku. ah, sok sekali aku mengatakan bahwa momen itu terindah karena di dalamnya banyak tanggung jawab yang menanti. indah dan bahagia mungkin hanya sensasi dalam pikiran untuk orang sepertiku yang sedang merayakan euforia menjelang pernikahan tetapi sejatinya bahwa momen itu menandakan bahwa aku harus lebih banyak lagi belajar, belajar untuk bertanggung jawab. perasaan bahagia sejenak ingin kusimpan dan biarlah tersirat dalam perjalanan waktu dengan seorang gadis yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupku.

Selamat datang Oktober
Aku sejenak melupakan setiap mimpi berbahagia di bulan ini sebelum kupantaskan diriku merengkuhnya karena bahagai bukan tujuan namun sesuatu yang inheren dalam setiap proses kita memantaskan diri dan bertanggung jawab terhadap setiap hal. aku bertanggung jawab terhadap perempuan yang kupilih maka aku akan merengkuh bahagia itu sampai pada hal-hal terkecil pun yang membuat gadis itu betah disampingku maka bahagia itu ada disana namun ketika hal yang kuperbuat membuatnya murka maka bahagia hanyalah sesuatu yang utopis.

Selamat datang Oktober.
Jika September mengingatkanku beberapa tahun lalu hadir bumi dari rahim seorang ibu maka oktober akan menjadi bulan yang kukenang sebagai momen meleburkan diriku dalam diri seorang gadis. pikiranku berkecamuk dan sedikit prihatin dengan gadis tersebut karena kesialannya mendapatkan jodoh sepertiku, pribadi yang sampai sekarang tidak pernah pintar dan masih saja belajar tentang semua hal. 

Gadis itu bertemu dengan jodoh yang sama sekali tidak mapan namun berani-beraninya meminta gadis kepada orang tuanya. namun atas keprihatinanku terhadap kesialan gadis itu mendapatkan jodoh sepertiku, maka aku bertekad untuk melakukan hal kecil yang membuatnya selalu tersenyum. aku bertekad untuk sedikit mengeluarkan katakata yang hanya menguras air matanya.

Selamat datang Oktober
Harimu telah kupilih untuk mengabadikan kenangan kami mengikrarkan janji. sesungguhnya setelah ini, aku akan selalu mengingatku oktober tentang awal-awalmu yang akan mengingatkanku selalu betapa