October 12, 2015

Sakitmu Adalah Sabarku

Sungguh hati ini hancur melihatmu sakit. mungkin aku bukan lelaki yang terlalu memperlihatkan kekhawatiranku namun aku sendiri tahu betapa sedihnya hatiku melihatmu harus pelan-pelan melangkahkan kaki setiap berjalan karena menahan sakit.

Aku tak tahan melihatmu meringis menahan sakit. inginku berbagi namun yang kulakukan hanya bisa mendekapmu dengan erat sambil berharap bisa mengurangi rasa sakitmu meski kutahu itu naif tapi tak apalah, toh kita sama-sama percaya bahwa kasih sayang bisa bermakna apa saja bahkan bisa berubah menjadi obat.

Klise memang untuk menulis kegelisahanku tentang apa yang engkau rasakan saat ini namun begitulah diriku yang tidak bisa menunjukkan empati secara langsung namun diam-diam perasaan lirih menyelimutiku setiap kali memandangmu menahan sakit, aku menahan perasaan sedih dan tidak menampakkan di depanmu karena aku lelaki yang sok kuat dan ingin terlihat tegar di depanmu dan di depan anak-anak kita kelak meski rasanya aku yang paling berduka atas semua kesedihan yang engkau rasakan.

Kita telah menjadi sepasang jiwa yang saling melengkapi dan aku harap perasaan ini tidak luntur oleh waktu dan mungkin nantinya riak-riak dalam kehidupan kita, aku hanya berharap bahwa semua itu akan menguatkan genggaman tangan kita untuk tetap melaju sampai pada tujuan yang ingin kita raih.

Jika sampai pada hari ini aku harus berusah hati, maka kesedihanku ini hanyalah karena engkau sedang tidak enak badan. setidaknya kita masih bisa bersama dan menghabiskan malam menikmati kopi sambil mendengarkan radio. mendengarkan radio memang alternatif paling rasional bagi kita karena tidak mempunyai tv. 

Alasan untuk tidak mempunyai tv pun beragam, mulai dari kita yang memang sama-sama tidak terlalu doyan menonton tv, atau rumah kontrakan kita yang masih sempit sekedar untuk diisi tv dan sampai pada alasanku sendiri untuk membiasakan waktu keluarga kita tidak terkuras oleh aktivitas menonton tv selain itu karena aku merasa bahwa menonton tv sudah tidak sehat lagi bahkan untuk perkembangan anak-anak kita kelak. ah alasanku mengada-ada mungkin karena kita memang tidak cukup banyak uang untuk membeli tv namun tidak apa-apa lah, toh tivi tidak berpengaruh apa-apa di kehidupan kita.

Aku selalu mendoakanmu semoga sehat selalu isteriku. kita baru saja berlabuh dari pelabuhan untuk berlayar di tengah samudera yang luas dan penuh tantangan. semoga saja kita tidak saling meninggalkan sampai diseberang lautan.

Jakarta Timur, 13 Oktober 2015

No comments: