October 8, 2015

Mengawali Hidup Baru

Sudah lima hari sejak aku mengucapkan ijab kabul untuk mengingatmu menjadi seorang pendampingku dan sampai pada saat ini, kita berjalan beriringan. aku dan engkau sudah yakin bahwa selalu saja ada kemungkinan perbedaan pendapat diantara kita dalam perjalanan kebersamaan namun diatas semua perbedaan yang akan kita jumpai, kita telah berirkar untuk tetap mengeratkan pegangan tangan dan tidak akan pernah saling meninggalkan.

Aku sadar masih belum mampu untuk bersabar dalam beberapa hal dan nampaknya engkau tahu itu namun tidaklah adil jika aku mengumbar amarahku sedangkan aku selalu menuntutmu untuk mengerti diriku maka setiap hari dan setiap saat, aku melatih diriku untuk tidak membebani hari-hari kita dengan emosiku yang masih terkadang meledak-ledak.

Lima hari kebersamaan kita seperti start di titik nol untuk memulai perjalanan panjang. kita telah sepakat untuk saling menjaga dan saling berangkulan di setiap tikungan yang akan dilewati. aku dan engkau tidak ingin lagi menjejali pikiran kita dengan teori tentang pernikahan karena sederhana saja rumus kita ketika hendak memutuskan bersama yaitu kita akan selalu berusaha untuk saling mengalah dan saling mengerti. Ketika engkau marah maka waktunya aku yang akan mendengarkan dan begitupun sebaliknya.

Kita sadar bahwa di pundak kita yang tidak seberapa kuat ini, tertumpuk begitu banyak tanggung jawab dan kepercayaan dari orang-orang yang kita sayangi. ibumu tidak henti-hentinya mengingatkan kita untuk saling menyayangi dan akur dalam setiap hal begitu pun adanya dengan bapakku. Beribu doa mengiringi langkah kita dalam perjalanan ini namun aku dan engkau sadar bahwa semua ada di genggaman kita.

Aku membawa sejuta kecemasan saat mengikatmu menjadi isteriku. kecemasan tentang pekerjaan dan kecemasan tentang penghidupanmu. dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sama sekali tidak ingin melihatmu sengsara. aku ingin memberimu apa yang engkau mau namun kembali lagi pada prinsip yang kita sepakati bahwa kita tidak akan bermewah-mewahan meski mungkin suatu saat nantinya, kita diberikan rezeki yang sedikit berlebih. 

Kita banyak belajar dari orang-orang yang kita jumpai, tentang mereka yang sudah bergelimang harta namun tetap saja merasa tidak cukup dan tentang orang-orang yang serba kekurangan namun bahagia dengan hidupnya. kita hanya butuh hati dan pikiran untuk menentukan pilihan-pilihan tersebut.

dek, pernikahan ini bukan sesuatu lelucon namun sesungguhnya kita membutuhkan banyak energi untuk tetap menegakkan layar rumah tangga kita bahkan ketika ombak begitu derasnya menghantam. Selama tangan kita bepegangan dengan penuh kasih dan sayang yang tulus maka aku selalu percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Hanya perlu hati untuk tetap berdoa kepadaNya untuk mengiringi pelayaran hidup kita.

Seharusnya kutulis di Madiun setelah resepsi pernikahan kita
Min & Win
03 Oktober 2015

No comments: