August 12, 2015

Hidup Memang Paradoks

Saya tidak sedang mencoba untuk menulis contoh hidup yang paradoks menurut Sudjiwo Tedjo misalnya demontrasi dibutuhkan supaya angkutan Kopaja mendapatkan penghasilan. Sebenarnya hidup ini memang adalah paradoks yang tidak akan pernah terhitung jadi setiap hal akan mendapatkan sisi yang berbeda. 

Hari sabtu kemarin, kantor saya mengadakan lomba mancing sebagai bagian dari acara pelepasan kepala cabang yang dimutasi ke kebayoran. saya baru mengerti seperti apa mancing di perkotaan. Ternyata untuk memancing ikan di kota ini, orang harus membeli ikan kira-kira seharga 25 ribu untuk sekilo kemudian ikan tersebut dilepas di empang lalu kemudian ikan-ikan dipancing kembali. Ketika ikat tidak bisa diangkat dari empang dengan cara dipancing dalam durasi waktu yang ditentukan oleh pemilik empang maka ikan tersebut diambil oleh pemilik empang. 

Hal yang lucu karena sepertinya kegiatan memancing di kota hanya memuaskan hasrat sensasi memancing atau dalam artian, orang kota hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pemancing sedangkan di desa, kegiatan memancing biasanya dilakukan di laut ataupun di sungai dan dijadikan sebagai profesi bukan hiburan.

Sama halnya ketika orang kota ingin merasakan suasana pedesaan maka mereka harus membayar mahal untuk berkunjung ke daerah wisata yang di design seperti suasana pedesaan sedang orang desa sendiri setiap harinya merasakan suasana seperti itu. maka berbahagialah orang yang tinggal di desa karena tidak perlu membayar mahal untuk mengisi kehampaan jiwa mereka merasakan alam seperti yang mayoritas orang kota lakukan.

Hidup memang paradoks. saling tindih antara fenomena yang satu dengan yang lainnya. Di satu sisi orang mendapatkan duka namun disisi lain, ada orang yang bersuka atas duka orang lain. itu yang terlihat secara indrawi meski pada dasarnya, hal yang indrawi seringkali menipu. Ketika melihat orang berduka namun sebenarnya hatinya tetap tenang. hidup hakekatnya seperti itu. perpindahan dari satu kondisi ke kondisi  yang lain.

Jakarta, 120815

August 11, 2015

Tragedi Kehidupan

Tragedi hidup ini, Tuhanku
menimpaku saat ini dalam perjalanan waktu yang semakin menyempit
menyesakkan

apa-apa yang ada di alam pikirku adalah realitas semu
saat terjadi di mataku
dan oleh tanganku sendiri
bahwa memang hidup ada pertempuran melawan diri

aku kalah
dalam beberapa babak
sekali lagi kumulai
berdiri dan menantang
namun entah besok atau lusa
akankah akan terulang atau aku memenangkan laga
namun yang kutahu
selama raga masih dikandung
perang melawan diri akan terus berlangsung

Rawamangun. 110815

August 10, 2015

Surat Maafku

Aku memilih untuk menjauh darimu untuk sementara waktu demi menjaga sebuah kesucian niat. Aku tahu memang berat melepas interaksi kita bahkan perhatianmu sekecil pun seakan menjadi kerinduan yang paling dalam di setiap langkah.

Aku pasti merindukan chat darimu yang menanyakan setiap hal yang remeh temeh tentangku, apakah aku lembur? Apakah sudah makan? Apakah sudah shalat subuh? Dan sederet perhatianmu yang membuatku harus mengelus dada disaat aku memutuskan untuk tidak menjalin komunikasi denganmu.

Mungkin engkau akan menganggapku pria paling egois karena disetiap perjumpaan kita, aku yang selalu memulai nista yang membuatku jera menemuimu. Engkau mungkin merasa dipermainkan.

Namun aku yakin ketika engkau diberi kesempatan menjadi seorang lelaki yang mencintai  wanita maka engkau akan merasakan betapa sangat sulitnya mengendalikan syahwat karena terkadang cinta dan syahwat itu tidak bisa dibedakan.

Aku memilih untuk tidak menjumpaimu dalam beberapa waktu semata-mata pilihan terakhir untuk menjaga diriku dari murka Tuhanku. Biarlah cemohaan menyerangku ketika hatiku kian tenang

Untukmu gadis yang tidak akan kuhubungi beberapa saat. Biarkanlah hatimu tenang dalam keheningan sejenak karena  seperti itu pula yang sedang kulakukan. Aku ingin merawat hatiku yang sedang terpenjara oleh syahwatku

Surat ini mungkin tidak akan sampai kepadamu namun semoga saja engkau merasakan melalui resapan perasaan kita yang menyatu.

kos rawamangun. 100815

Langkah

satu langkah usai
kembali mengayun langkah lain
sering kukatakan
tetaplah melangkah sepanjang kaki kita tidak menginjakkan kaki orang lain

langkah adalah penanda sejauh mana kita hidup
memberikan jiwa pesan yang dalam,
bahwa jejakmu adalah riwayatmu

tinggalkanlah jejak langkah yang sesuai arah
luruskan setiap langkah yang belok

Tinggalkanlah

Dalam setiap hal yang tersisa maupun terlupa
seharusnya dibiarkan layu
atau tinggalkan saja
karena berjalan itu maju
bukan mundur

August 9, 2015

Bekerja di Hari Libur yang Semestinya

Saya terkadang merasa sok mengartikan setiap detail kejadian yang saya alami, merasa tahu hikmah yang ada namun biarkanlah daripada tidak ada pelajaran yang saya dapatkan dari kehidupan. Saya mengakui sedang dalam proses untuk belajar apa saja dari kehidupan karena membaca teks book hanyalah memenuhi ruang kosong dalam kepala yang kemudian membasi lalu tidak berarti apa-apa.

Kemarin saya acara perpisahan dengan bos di daerah Depok. Sore hari baru bisa ketemu dengan teman dekat saya di sebuah taman kota tepatnya taman menteng. Setengah jam kami menikmati pola kehidupan di taman tersebut, ada yang asyik main bola, bocah yang bersepatu roda ria, beberapa pasang kekasih yang duduk di bangku taman dan kesibukan lainnya, tiba-tiba win ditelpon bosnya untuk mengantar surat ke kantor Lemhanas. Saya kemudian mengantarnya ke warnet lalu menuju ke kantor Lemhanas.

Malamnya saya kemudian mereka-reka hidup ini, kok ya kayak cerita yang diskenariokan, bahwa win disuruh ke kantor Lemhanas setelah bersama saya..? Bagaimana jadinya seandainya dia disuruh siang hari saat saya masih di Depok..? Dia harus jalan kaki ke warnet kemudian naik taxi ke kantor Lemhanas. Kan repot bahkan ongkos lebih banyak.. memang Tuhan punya rencana di hidup ini. Semoga saja bukan karena Tuhan mempermudah sehingga saya berpikir begini, semoga dalam setiap kejadian susah maupun senang.

Hidup memang adalah perkiraan sepersekian dari apa yang ada dipikiran dan selalu kita merasa sok paling menderita meski pada akhirnya cerita Tuhanlah yang akan berjalan. Saya selalu mengulangi dalam hati bahwa hidup akan berjalan sesuai sunnahtullah dan kita tidak perlu mengkhawatirkan terlalu banyak terhadap setiap detail esok hari sepanjang kaki kita masih berpijak pada jalan yang lurus dan tidak mengingkari apa yang sudah digariskan.

Setelah itu, kita hanya butuh berjalan terus dan sesekali menepi jika penat kemudian jangan merasa paling menderita ketika ada kerikil di setiap tikungan karena hidup memang adalah lika-liku kemudian pada akhirnya ketika kita sudah sampai pada ujung jalan dan menengok ke setiap langkah yang telah dilalui, kita akan menertawakan semua tanpa sebab dan tanpa kecuali.

Ah, saya mungkin sok tau lagi.
#sudahlah 

PERPISAHAN

Saya sudah sering menulis tentang perpisahan yang selalu menyakitkan. Entah sudah berapa kali saya bercerita banyak tentang perpisahan dan saya meyakini bahwa hidup itu adalah pertemuan untuk berpisah. setiap detail dalam kehidupan kita akan dipertemukan dengan hal yang baru namun secara bersamaan pun kita kehilangan bagian-bagian yang lain.

tepat setahun yang lalu, saya masuk di kantor ini dan terdaftar sebagai salah satu staff yang mengharuskan saya duduk manis di kantor mengerjakan tetek bengek adminstrasi di kantor ini. tepat setahun yang lalu pula saat pertama kali ke kantor ini, saya bertemu dengan kacab. kesan pertama saat itu masih biasa saja karena toh saya belum ngeh kalau dia seorang kacab. baru kemudian di hari kedua, saya memperkenalkan diri dan saat itu, babe Muslim, sapaan akrab beliau, hanya berbicara sedikit hal kepada saya. kalimat yang saya ingat saat itu adalah " engkau harus punya gelar AAAIK." itu saja kata-kata pertama yang masih tersimpan dalam memoriku dalam interaksi pertamaku dengannya.

kemudian hari berlalu dengan normal, saya mulai memahami setiap karakter manusia di kantor ini termasuk beliau. saya mungkin tidak akan terlalu banyak untuk kembali menulis apa saja tentangnya karena dulu saya sudah menulis banyak hikmah yang beliau tawarkan padaku. banyak hal memang yang tidak bisa saya rinci satu persatu, saya merasa dihargai karena beliau mempercayakan pekerjaan yang dibebankan kepada saya meskipun masih baru namun beliau tidak perlu mengintimidasi masalah pekerjaan. 

dalam beberapa masalah pun, beliau tidak pernah terikat pada hal yang materiil bahkan beliau mengajarkanku bagaimana memperlakukan uang bahwa uang itu tidak boleh dilihat dengan nafsu karena tidak akan ada puasnya maka ambillah secukupnya kemudian berbagi dengan setiap orang.

tidak terasa waktu kemudian berlari mengejar esok hari dan meninggalkan hari yang berlalu kemudian sampailah pada saat ini ketika babe Muslim dimutasi ke cabang kebayoran. kemarin adalah pelepasan beliau di Jagakarsa. seingat saya, sudah terlalu lama saya tidak sentimental dalam menghadapi setiap perpisahan entah dengan siapapun juga namun saya sama sekali tidak mengerti, hari kemarin semua perasaan sesak saya tumpah ruah, tibalah ketika saya harus bersalaman dengan babe Muslim, saya tidak sanggup menahan onak dan kata-kata pun hanya sampai di tenggorokanku kemudian yang kulakukan hanya merangkulnya.

ah. mungkin hati saya tahu siapa yang harus ditangisi ketika berpisah karena tidak semua orang ditangisi dalam perpisahan bahkan ada yang dirayakan dalam kebahagiaan namun babe Muslim pantas untuk ditangisi dengan segala kebaikannya.

Jagakarsa, 080815

August 7, 2015

KHUTBAH JUMAT

saya memutuskan untuk shalat jumat di lorong dekat warteg Enggal. berhubung saya berniat membeli makan di warteg Enggal setelah Jumatan maka saya shalat di Mesjid Nurul meski jaraknya lumayan jauh dari kantor.

Saya harus mengelus dada ketika mendengar khutbah Jumat di mesjid Nurul. entah mungkin saya yang tidak bisa mengambil pelajaran dari khutbah jumat tersebut namun terus terang, khutbah jumat ini benar-benar adalah salah satu khutbah jumat yang amat sangat tidak kusepakati bahkan seandainya saya gegabah, mungkin saya sudah mencari mesjid lain untuk shalat jumat.

pembukaan khutbah dimulai dengan mengajak masyarakat untuk puasa shawal dimana bulan syawal tinggal 8 hari lagi kemudian Khatib menjelaskan keutamaan Puasa tersebut setelah itu, khatib membicarakan masalah konflik Tolikara yang terjadi bertepatan dengan 1 syawal 1436 H ketika umat Islam melaksanakan shalat Ied. nada yang meninggi ditambah dengan dalil-dalil memperlihatkan bahwa sang khatib sedangkan menanamkan kebencian terhadap umat lain terutama Nasrani. khatib kemudian ngalor kidul mejelaskan dan mencocok-cocokkan dalil yang mengatakan bahwa kita lebih baik berdiri 40 tahun daripada berjalan di depan orang shalat. 

di pertengahan Khutbahnya, khatib mengeluarkan HP dan membacakan surat yang masih menjadi perdebatan keasliannya bahwa tidak boleh mendirikan rumah ibadah di Tolikara selain gereja Gidi. dia dengan menggebu-gebu mengajak jamaah untuk memerangi orang kafir. saya membayangkan khatib tersebut berangkat ke daerah konflik di Timur Tengah dan apa yang akan dia lalukan.

khatib kemudian mengatakan bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum syetan. dia mengatakan bahwa dia tidak bisa memotong tangan pencuri dan menerapkan hukum Islam lainnya. kemudian melanjutkan bahwa di Indonesia, dia sudah bayar pajak, namun tidak ada yang dia dapatkan di negeri ini. katanya dia tidak bisa memotong tangan orang yang mencuri. dia membanding dengan pemerintahan khilafah , yang entah negara mana referensinya, bahwa dibawah hukum khilafah, orang akan sejahtera dan tidak ada pencuri. rumah dibuka begitu saja dan umat agama lain aman dibawah lindungan pemerintahan khilafah.

masih banyak lagi yang dia sampaikan namun saya tidak bisa mengingat setiap detail khutbahnya karena sudah tidak sepakat. pada intinya bahwa dia benar-benar adalah penganut paham keagamaan "Radikal." dia ingin hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum Khilafah. 

entah kenapa, saya sekarang memasuki fase tidak terlalu suka dengan paradigma yang radikal bahkan menjurus fasis entah apapun itu agama atau pahamnya. kita seakan masih terkurung dalam dogma agama yang membuat kita harus membenci manusia atas nama agama meski pada dasarnya bahwa Tuhan sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menumbuhkan sifat kebencian dalam hati.

atau mungkin kita ingin terlihat seperti para pejuang agama yang rela mati demi kesucian agama tetapi seringkali kita melupakan atau bahkan memang tidak mencari atau sebenarnya apa yang sedang kita perjuangkan. atas nama dogma agama, semua dilakukan begitu saja demi iming-iming syurga dan sekarang, saya sampai pada keyakinan bahwa syurga dan neraka adalah ilusi karena tujuan kita adalah bertemu dan menyatu dengan Tuhan. syurga dan neraka selalu kita korelasikan dengan kenikmatan dunia dan seringkali kita melupakan pertemuan dengan Ilahi.

saya suka dengan analogi ketika kita merantau dan ingin pulang kampung, satu hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah bertemu dengan orang tua yang kita kasihi tanpa memikirkan lagi apa yang akan diperoleh ketika di kampung. begitu pula seharusnya ketika menuju Tuhan, sejatinya yang ada dipikiran adalah pertemuan denganNya bukan malah syurga dan neraka karena Dia melebihi dari apa saja.

entahlah, semoga saya tidak sok tahu
saya hanya tidak sepakat dengan khutbah tadi
kesannya terlalu provokatif
"Astagfirullah"

Rawamangun, 070815

August 6, 2015

Sore Kemarin

Pertemanan bagi saya adalah salah satu unsur yang penting dalam kehidupan saya namun jenis pertemanan pun bervariasi sehingga jika dianggap sebagai seseorang yang memilah-milah teman maka mungkin iya. Saya sebenarnya cepat akrab dengan setiap orang namun dalam perjalanan waktu pertemanan yang dijalani, ada ukuran-ukuran yang saya terapkan sehingga jika pada akhirnya, kuputuskan untuk tidak terlalu dekat dengan beberapa teman lama karena ada ketidaksesuaian dengan ukuran yang saya terapkan namun ada juga teman yang akan kuakrabi bahkan ada teman yang mungkin intensitas pertemuan yang membuat saya mau tidak mau akan selalu bergurau meski pada kenyataannya dia sudah tidak masuk dalam ukuran yang saya terapkan.

Salah seorang teman kuliah berangkat ke Norwegia melanjutkan pendidikannya. dia hanya transit di bandara Soetta selama 3 jam. saya berangkat ke sana pukul 17:30 dari terminal Rawamangun. Damri berjalan begitu pelan karena bertepatan dengan jam pulang kantor yang berarti bahwa jalan-jalan protokol di Jakarta pastinya amat sangat padat. 

Pintu Tol Cengkareng
Perjalanan sore kemarin bertemu dengan teman di Bandara memberikanku ruang untuk memperhatikan pola kehidupan di kota ini. Dulu saat masih belum bekerja, saya menyelami jiwa para kaum di kota ini saat tergesa-gesa pada pagi hari berangkat ke kantor dalam kepadatan lalu lintas kemudian saat pulang kantor dengan cucuran keringat berdesak-desakan dalam kereta, busway dan kendaraan umum lainnya. Saya selalu berpikir apa yang ada dalam pikiran mereka menjalani rutinitas seperti itu. namun kemudian setelah bekerja dalam bergabung dengan pola seperti itu, saya sepertinya tidak punya lagi waktu memperhatikan pola-pola seperti itu karena saya menjadi bagian dalam mereka. namun sore kemarin, pola kehidupan di kota ini kembali menjadi perhatianku.

Saya menyelami pikiran mereka ketika sedang tergesa-gesa menunggu angkutan, dengan masker hijau, headseat terpasang di telinga dan tas ransel yang posisinya diletakkan di depan untuk mengantisipasi copet dan wajah yang datar. Saya mencoba mereka pikiran mereka yang sudah sampai di kantor meski tubuh mereka masih berada dalam kemacetan begitupun ketika sore mejelang, dalam kepadatan pun, pikiran mereka sudah melesat sampai di rumah bercengkerama dengan keluarga namun masih saja jasad mereka masih berjibaku dengan macet.

Saya sampai di Bandara terminal 2 sekitar pukul 18:20 WIB. Saya selalu mengarahkan pandangan kepada mereka yang akan berpisah di bandara, ada pasangan muda-mudi yang dengan eratnya berpelukan tanpa tidak memikirkan lagi orang disampingnya, bagi mereka, perpisahan adalah sembilu yang mencabik luka. si wanita menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang pria dengan mata terpejam seakan tidak ingin berpisah. Ada sekumpulan keluarga yang saling mengusap air mata dan banyak pemandangan yang sentimental bagi mereka yang sedang ingin melepas kepergian sanak saudara.

Sampailah saya bertemu dengan kawan yang akan melancong ke norwegia sebagai seorang mahasiswa S2. Saya mengamati dalam-dalam wajahnya namun yang kutemukan adalah wajah yang tulus meski masih ada sisa haru di sudut matanya. Dia bercerita bahwa saat akan berpisah dengan orang tuanya di Bandara Hasanuddin, derai air mata dari kedua orang tuanya sudah tidak tertahankan lagi. Dari situ saya menyimpulkan bahwa energi kesedihannya sudah habis untuk keluarganya.

Aneka ragam perasaan saat berpisah yang kutemui kemarin mengajarkanku betapa sebuah perpisahan adalah airmata bahkan perpisahan seperti itu adalah perpisahan semu yang masih menyisakan 50-50 kesempatan untuk bertemu kembali. bagaimana jika perpisahan maut yang memisahkan ketika sudah tidak ada lagi harapan untuk bertemu.? Entah, hidup memang adalah pertemuan untuk berpisah, selalu begitu.

Rawamangun, 060815


August 4, 2015

Aku Sedang Ateis

"Ketika aku sedang mencemaskan masa depanku maka saat itu aku sedang atheis." 

Pernyataan ini murni kurangkai sendiri dan kujadikan sebagai status BBM pagi ini. Sebenarnya kata-kata itu adalah klimaks dari kecemasan-kecemasanku tentang apa yang akan terjadi pada diriku esok lusa. aku merasa bahwa unsur Tuhan menghilang dari dalam diriku ketika semua pikiran tersebut kembali berseliweran dalam relung kepalaku kemudian terlintas dari pikiranku tentang kata-kata tersebut. 

Beberapa waktu yang lalu, Sudjiwo Tedjo pun pernah berkata bahwa "paling gampang menghina Tuhan, ketika khawatir makan apa besok maka engkau telah menghina Tuhan." memang benar bahwa hidup selalu paradoks antara senang dan susah dan itu sunnatullah maka seseorang yang mengerti hidup tersebut maka bolak balik keadaan tersebut adalah pola dari Tuhan dan menikmatinya sedangkan orang yang hanya ingin senang dalam hidupnya, mungkin termasuk aku,  adalah orang yang belum memahami tentang pola kehidupan ini.

Sebelum terlalu jauh ngalor kidul, sebenarnya tulisan ini adalah antitesa dari tulisanku kemarin yang mereduksi kebesaran Tuhan dalam hidupku karena terlalu cemas dengan apa yang akan menimpaku esok lusa dan bahkan masa depanku. betapa aku begitu risau dengan setiap hal yang akan kulalui sedangkan semua itu hanyalah ilusi dari buah pikiran yang sebenarnya semu. Aku selalu alpa menghadirkan Tuhan dalam diriku tentang keyakinan bahwa Dia yang melebihi segala tidak akan pernah membiarkan semua yang ada dalam genggamannya menanggung cobaan diluar kemampuannya.

Semalam aku memikirkan kecemasan-kecemasan tersebut, meski pada pagi harinya aku memutuskan untuk meneguhkan hati bahwa semua kekhawatiran hanyalah ilusi fiktif yang dimunculkan oleh nafsu dengan berbagai alasannya dan pada akhirnya semua tidak terbukti.

Dalam perenunganku semalam, ada beberapa faktor yang memunculkan kecemasan tentang masa depanku. pertama ketika aku cemas pada saat menikah nanti, kemungkinan aku tidak punya penghasilan yang terlalu banyak maka kecemasan itu berdasarkan alasan karena ada kekhawatiran dalam hatiku bagaimana aku memberikan nafkah kepada keluarga, alasan berikutnya adalah bagaimana bisa seorang pria yang juga sebagai seorang suami tidak punya pekerjaan disisi yang lain istrinya yang banting tulang mencari nafkah kemudian berikutnya aku masih memikirkan pandangan orang lain tentang aku yang kemudian harus menganggur dan menumpang hidup pada istri.

Begitulah semua energi negatif yang merasuk dalam pikiranku membuatku mereduksi kebesaran Tuhan. Aku masih terus belajar bagaimana memahami kekuasaannya yang sublim sehingga tidak harus dikorelasikan dengan logika manusia yang terbatas hanya pada pengamatan empiris.

Demikianlah usahaku kembali menemukan Tuhan dalam diriku

Jakarta Timur, 040815

August 3, 2015

KECEMASAN YANG SEMAKIN NYATA

Dua bulan lagi, jika semesta meridhai, aku akan melakukan perubahan dalam hidupku. titik balik dari setiap apa yang hendak kujalani karena sejatinya apa yang akan kuhadapi adalah menentukan seorang partner hidup yang akan menjadi siapa dan apa saja di setiap langkah hidupku berikutnya. seorang yang akan menjadi teman diskusi, musuh bertengkar, teman tidur dan apa saja yang akan kulakukan.

periode dalam hidupku yang sebenarnya bagian dari drama semesta meski jujur dan amat kusadari bahwa drama hidup yang harus kujalani dengan serius. aku harus menjadi seorang pemimpin sekaligus temannya dan satu hal bahwa tujuan hidup kami seharusnya sudah menyatu menjadi tujuan yang satu karena hidup kami akan menyatu.

kecemasan melanda hatiku menghadapi momen tersebut. ada banyak alasan yang membuat hatiku goyah dan keder. selain karena ketakutan konvensial menjadi seorang pemimpin dalam keluarga juga karena ketakutan tidak bisa menafkahi anak isteri, terlebih lagi adanya kenyataan mengenai karirku di kantor yang kemungkinan belum diangkat menjadi karyawan tetap. semua menyatu dalam kecemasan yang tak terkira bahkan ketika aku membayangkan kenyataan suatu nanti, isteriku harus bangun subuh hari kemudian bersiap ke kantor dan disisi lain aku masih berpikir kerja apa hari ini sedangkan aku sebagai kepala keluarga yang harusnya banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. aku tidak bisa menahan ironi kehidupan seperti itu.

entah seperti apa drama hidup yang kembali harus kujalani. aku sebenarnya tidak menuntut hal yang lebih kepada Sang Pemilik Skenario, hanya saja bahwa aku bekerja tetap di pekerjaan yang halal dan toyyib jangan sampai terjadi kenyataan aku menumpang hidup pada isteriku.

berbagai kecemasan-kecemasan yang tidak kunjung hilang dari kepalaku. selama menjadi manusia dalam derajat paling rendah dalam meyakini Tuhanku maka ketakutan dan kecemasan seperti itu akan selalu ada dalam diriku.

Kantor Rawamangun. 030815

August 2, 2015

move on

Tak ada artinya menyimpan luka
jika saja semakin membunuhmu
kuburlah ia di masa lalu

August 1, 2015

Tentang Agustus Yang Menyapa

Tidak ada yang spesial dari datangnya bulan agustus selain euforia masyarakat yang sebentar lagi menyambut hari kemerdekaan. Bagi saya pun bulan ini akan menjadi seperti biasa layaknya pengulangan bulan sebelumnya. Namun Setidaknya di akhir bulan ini, saya menunggu kepastian dari kantor tentang status karyawanku. Entah akan tetap dperpanjang, dipermanenkan atau bahkan diputus kontrak. 

Layaknya manusia biasa, saya tetap cemas saja menunggu status di kantor ini apatahlagi ada rencana besar dalam kehidupan saya yang akan saya wujudkan dua bulan kedepannya. Itu saja yang membuat sedikit kecemasan selalu menghantui saya dalam setiap kesendirian meski di lain waktu saya hati saya tenang, saya kemudian tidak mengkorelasikan rencana saya tersebut dengan pekerjaan karena sejatinya semua akan berjalan sesuai takdirnya.

Sebenarnya bagiku, semua hal tersebut tidak masalah sama sekali hanya saja bahwa rencana saya akan sedikit membebani saya dengan keputusan di kantorku. Bagaimanapun saya adalah lelaki dan bertanggung jawab terhadap keluarga meski sering kuakui bahwa rejeki tidak akan pernah tertukar namun tetap saja bahwa kecemasan meliputi segenap ragaku.

Entahlah apa yang akan menjadi sebuah wujud nyata dari semesta namun setidaknya semua telah saya bicarakan secara terbuka dengan calon partner hidup saya dan dengan amat legowo, dia tidak mempermasalahkan apapun tentang keputusan pekerjaanku.

Ah, saya akan biarkan semesta ini yang mengaturlah, biarlah saya seperti debu yang akan terbang kemana saja sesuka angin dan biar pula saya menjadi air yang rela dibawa kemana saja oleh arah sungai karena sejatinya saya tidak punya kekuatan apa-apa sekarang selain keteguhan hati untuk berdamai dengan hidup yang hanyalah sebuah banyolan nyata.
 
Jakarta, 1 Agustus 2015