Saya sudah sering menulis tentang perpisahan yang selalu menyakitkan. Entah sudah berapa kali saya bercerita banyak tentang perpisahan dan saya meyakini bahwa hidup itu adalah pertemuan untuk berpisah. setiap detail dalam kehidupan kita akan dipertemukan dengan hal yang baru namun secara bersamaan pun kita kehilangan bagian-bagian yang lain.
tepat setahun yang lalu, saya masuk di kantor ini dan terdaftar sebagai salah satu staff yang mengharuskan saya duduk manis di kantor mengerjakan tetek bengek adminstrasi di kantor ini. tepat setahun yang lalu pula saat pertama kali ke kantor ini, saya bertemu dengan kacab. kesan pertama saat itu masih biasa saja karena toh saya belum ngeh kalau dia seorang kacab. baru kemudian di hari kedua, saya memperkenalkan diri dan saat itu, babe Muslim, sapaan akrab beliau, hanya berbicara sedikit hal kepada saya. kalimat yang saya ingat saat itu adalah " engkau harus punya gelar AAAIK." itu saja kata-kata pertama yang masih tersimpan dalam memoriku dalam interaksi pertamaku dengannya.
kemudian hari berlalu dengan normal, saya mulai memahami setiap karakter manusia di kantor ini termasuk beliau. saya mungkin tidak akan terlalu banyak untuk kembali menulis apa saja tentangnya karena dulu saya sudah menulis banyak hikmah yang beliau tawarkan padaku. banyak hal memang yang tidak bisa saya rinci satu persatu, saya merasa dihargai karena beliau mempercayakan pekerjaan yang dibebankan kepada saya meskipun masih baru namun beliau tidak perlu mengintimidasi masalah pekerjaan.
dalam beberapa masalah pun, beliau tidak pernah terikat pada hal yang materiil bahkan beliau mengajarkanku bagaimana memperlakukan uang bahwa uang itu tidak boleh dilihat dengan nafsu karena tidak akan ada puasnya maka ambillah secukupnya kemudian berbagi dengan setiap orang.
tidak terasa waktu kemudian berlari mengejar esok hari dan meninggalkan hari yang berlalu kemudian sampailah pada saat ini ketika babe Muslim dimutasi ke cabang kebayoran. kemarin adalah pelepasan beliau di Jagakarsa. seingat saya, sudah terlalu lama saya tidak sentimental dalam menghadapi setiap perpisahan entah dengan siapapun juga namun saya sama sekali tidak mengerti, hari kemarin semua perasaan sesak saya tumpah ruah, tibalah ketika saya harus bersalaman dengan babe Muslim, saya tidak sanggup menahan onak dan kata-kata pun hanya sampai di tenggorokanku kemudian yang kulakukan hanya merangkulnya.
ah. mungkin hati saya tahu siapa yang harus ditangisi ketika berpisah karena tidak semua orang ditangisi dalam perpisahan bahkan ada yang dirayakan dalam kebahagiaan namun babe Muslim pantas untuk ditangisi dengan segala kebaikannya.
Jagakarsa, 080815
No comments:
Post a Comment