August 6, 2015

Sore Kemarin

Pertemanan bagi saya adalah salah satu unsur yang penting dalam kehidupan saya namun jenis pertemanan pun bervariasi sehingga jika dianggap sebagai seseorang yang memilah-milah teman maka mungkin iya. Saya sebenarnya cepat akrab dengan setiap orang namun dalam perjalanan waktu pertemanan yang dijalani, ada ukuran-ukuran yang saya terapkan sehingga jika pada akhirnya, kuputuskan untuk tidak terlalu dekat dengan beberapa teman lama karena ada ketidaksesuaian dengan ukuran yang saya terapkan namun ada juga teman yang akan kuakrabi bahkan ada teman yang mungkin intensitas pertemuan yang membuat saya mau tidak mau akan selalu bergurau meski pada kenyataannya dia sudah tidak masuk dalam ukuran yang saya terapkan.

Salah seorang teman kuliah berangkat ke Norwegia melanjutkan pendidikannya. dia hanya transit di bandara Soetta selama 3 jam. saya berangkat ke sana pukul 17:30 dari terminal Rawamangun. Damri berjalan begitu pelan karena bertepatan dengan jam pulang kantor yang berarti bahwa jalan-jalan protokol di Jakarta pastinya amat sangat padat. 

Pintu Tol Cengkareng
Perjalanan sore kemarin bertemu dengan teman di Bandara memberikanku ruang untuk memperhatikan pola kehidupan di kota ini. Dulu saat masih belum bekerja, saya menyelami jiwa para kaum di kota ini saat tergesa-gesa pada pagi hari berangkat ke kantor dalam kepadatan lalu lintas kemudian saat pulang kantor dengan cucuran keringat berdesak-desakan dalam kereta, busway dan kendaraan umum lainnya. Saya selalu berpikir apa yang ada dalam pikiran mereka menjalani rutinitas seperti itu. namun kemudian setelah bekerja dalam bergabung dengan pola seperti itu, saya sepertinya tidak punya lagi waktu memperhatikan pola-pola seperti itu karena saya menjadi bagian dalam mereka. namun sore kemarin, pola kehidupan di kota ini kembali menjadi perhatianku.

Saya menyelami pikiran mereka ketika sedang tergesa-gesa menunggu angkutan, dengan masker hijau, headseat terpasang di telinga dan tas ransel yang posisinya diletakkan di depan untuk mengantisipasi copet dan wajah yang datar. Saya mencoba mereka pikiran mereka yang sudah sampai di kantor meski tubuh mereka masih berada dalam kemacetan begitupun ketika sore mejelang, dalam kepadatan pun, pikiran mereka sudah melesat sampai di rumah bercengkerama dengan keluarga namun masih saja jasad mereka masih berjibaku dengan macet.

Saya sampai di Bandara terminal 2 sekitar pukul 18:20 WIB. Saya selalu mengarahkan pandangan kepada mereka yang akan berpisah di bandara, ada pasangan muda-mudi yang dengan eratnya berpelukan tanpa tidak memikirkan lagi orang disampingnya, bagi mereka, perpisahan adalah sembilu yang mencabik luka. si wanita menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang pria dengan mata terpejam seakan tidak ingin berpisah. Ada sekumpulan keluarga yang saling mengusap air mata dan banyak pemandangan yang sentimental bagi mereka yang sedang ingin melepas kepergian sanak saudara.

Sampailah saya bertemu dengan kawan yang akan melancong ke norwegia sebagai seorang mahasiswa S2. Saya mengamati dalam-dalam wajahnya namun yang kutemukan adalah wajah yang tulus meski masih ada sisa haru di sudut matanya. Dia bercerita bahwa saat akan berpisah dengan orang tuanya di Bandara Hasanuddin, derai air mata dari kedua orang tuanya sudah tidak tertahankan lagi. Dari situ saya menyimpulkan bahwa energi kesedihannya sudah habis untuk keluarganya.

Aneka ragam perasaan saat berpisah yang kutemui kemarin mengajarkanku betapa sebuah perpisahan adalah airmata bahkan perpisahan seperti itu adalah perpisahan semu yang masih menyisakan 50-50 kesempatan untuk bertemu kembali. bagaimana jika perpisahan maut yang memisahkan ketika sudah tidak ada lagi harapan untuk bertemu.? Entah, hidup memang adalah pertemuan untuk berpisah, selalu begitu.

Rawamangun, 060815


No comments: