August 9, 2015

Bekerja di Hari Libur yang Semestinya

Saya terkadang merasa sok mengartikan setiap detail kejadian yang saya alami, merasa tahu hikmah yang ada namun biarkanlah daripada tidak ada pelajaran yang saya dapatkan dari kehidupan. Saya mengakui sedang dalam proses untuk belajar apa saja dari kehidupan karena membaca teks book hanyalah memenuhi ruang kosong dalam kepala yang kemudian membasi lalu tidak berarti apa-apa.

Kemarin saya acara perpisahan dengan bos di daerah Depok. Sore hari baru bisa ketemu dengan teman dekat saya di sebuah taman kota tepatnya taman menteng. Setengah jam kami menikmati pola kehidupan di taman tersebut, ada yang asyik main bola, bocah yang bersepatu roda ria, beberapa pasang kekasih yang duduk di bangku taman dan kesibukan lainnya, tiba-tiba win ditelpon bosnya untuk mengantar surat ke kantor Lemhanas. Saya kemudian mengantarnya ke warnet lalu menuju ke kantor Lemhanas.

Malamnya saya kemudian mereka-reka hidup ini, kok ya kayak cerita yang diskenariokan, bahwa win disuruh ke kantor Lemhanas setelah bersama saya..? Bagaimana jadinya seandainya dia disuruh siang hari saat saya masih di Depok..? Dia harus jalan kaki ke warnet kemudian naik taxi ke kantor Lemhanas. Kan repot bahkan ongkos lebih banyak.. memang Tuhan punya rencana di hidup ini. Semoga saja bukan karena Tuhan mempermudah sehingga saya berpikir begini, semoga dalam setiap kejadian susah maupun senang.

Hidup memang adalah perkiraan sepersekian dari apa yang ada dipikiran dan selalu kita merasa sok paling menderita meski pada akhirnya cerita Tuhanlah yang akan berjalan. Saya selalu mengulangi dalam hati bahwa hidup akan berjalan sesuai sunnahtullah dan kita tidak perlu mengkhawatirkan terlalu banyak terhadap setiap detail esok hari sepanjang kaki kita masih berpijak pada jalan yang lurus dan tidak mengingkari apa yang sudah digariskan.

Setelah itu, kita hanya butuh berjalan terus dan sesekali menepi jika penat kemudian jangan merasa paling menderita ketika ada kerikil di setiap tikungan karena hidup memang adalah lika-liku kemudian pada akhirnya ketika kita sudah sampai pada ujung jalan dan menengok ke setiap langkah yang telah dilalui, kita akan menertawakan semua tanpa sebab dan tanpa kecuali.

Ah, saya mungkin sok tau lagi.
#sudahlah 

No comments: