August 4, 2015

Aku Sedang Ateis

"Ketika aku sedang mencemaskan masa depanku maka saat itu aku sedang atheis." 

Pernyataan ini murni kurangkai sendiri dan kujadikan sebagai status BBM pagi ini. Sebenarnya kata-kata itu adalah klimaks dari kecemasan-kecemasanku tentang apa yang akan terjadi pada diriku esok lusa. aku merasa bahwa unsur Tuhan menghilang dari dalam diriku ketika semua pikiran tersebut kembali berseliweran dalam relung kepalaku kemudian terlintas dari pikiranku tentang kata-kata tersebut. 

Beberapa waktu yang lalu, Sudjiwo Tedjo pun pernah berkata bahwa "paling gampang menghina Tuhan, ketika khawatir makan apa besok maka engkau telah menghina Tuhan." memang benar bahwa hidup selalu paradoks antara senang dan susah dan itu sunnatullah maka seseorang yang mengerti hidup tersebut maka bolak balik keadaan tersebut adalah pola dari Tuhan dan menikmatinya sedangkan orang yang hanya ingin senang dalam hidupnya, mungkin termasuk aku,  adalah orang yang belum memahami tentang pola kehidupan ini.

Sebelum terlalu jauh ngalor kidul, sebenarnya tulisan ini adalah antitesa dari tulisanku kemarin yang mereduksi kebesaran Tuhan dalam hidupku karena terlalu cemas dengan apa yang akan menimpaku esok lusa dan bahkan masa depanku. betapa aku begitu risau dengan setiap hal yang akan kulalui sedangkan semua itu hanyalah ilusi dari buah pikiran yang sebenarnya semu. Aku selalu alpa menghadirkan Tuhan dalam diriku tentang keyakinan bahwa Dia yang melebihi segala tidak akan pernah membiarkan semua yang ada dalam genggamannya menanggung cobaan diluar kemampuannya.

Semalam aku memikirkan kecemasan-kecemasan tersebut, meski pada pagi harinya aku memutuskan untuk meneguhkan hati bahwa semua kekhawatiran hanyalah ilusi fiktif yang dimunculkan oleh nafsu dengan berbagai alasannya dan pada akhirnya semua tidak terbukti.

Dalam perenunganku semalam, ada beberapa faktor yang memunculkan kecemasan tentang masa depanku. pertama ketika aku cemas pada saat menikah nanti, kemungkinan aku tidak punya penghasilan yang terlalu banyak maka kecemasan itu berdasarkan alasan karena ada kekhawatiran dalam hatiku bagaimana aku memberikan nafkah kepada keluarga, alasan berikutnya adalah bagaimana bisa seorang pria yang juga sebagai seorang suami tidak punya pekerjaan disisi yang lain istrinya yang banting tulang mencari nafkah kemudian berikutnya aku masih memikirkan pandangan orang lain tentang aku yang kemudian harus menganggur dan menumpang hidup pada istri.

Begitulah semua energi negatif yang merasuk dalam pikiranku membuatku mereduksi kebesaran Tuhan. Aku masih terus belajar bagaimana memahami kekuasaannya yang sublim sehingga tidak harus dikorelasikan dengan logika manusia yang terbatas hanya pada pengamatan empiris.

Demikianlah usahaku kembali menemukan Tuhan dalam diriku

Jakarta Timur, 040815

No comments: