August 7, 2015

KHUTBAH JUMAT

saya memutuskan untuk shalat jumat di lorong dekat warteg Enggal. berhubung saya berniat membeli makan di warteg Enggal setelah Jumatan maka saya shalat di Mesjid Nurul meski jaraknya lumayan jauh dari kantor.

Saya harus mengelus dada ketika mendengar khutbah Jumat di mesjid Nurul. entah mungkin saya yang tidak bisa mengambil pelajaran dari khutbah jumat tersebut namun terus terang, khutbah jumat ini benar-benar adalah salah satu khutbah jumat yang amat sangat tidak kusepakati bahkan seandainya saya gegabah, mungkin saya sudah mencari mesjid lain untuk shalat jumat.

pembukaan khutbah dimulai dengan mengajak masyarakat untuk puasa shawal dimana bulan syawal tinggal 8 hari lagi kemudian Khatib menjelaskan keutamaan Puasa tersebut setelah itu, khatib membicarakan masalah konflik Tolikara yang terjadi bertepatan dengan 1 syawal 1436 H ketika umat Islam melaksanakan shalat Ied. nada yang meninggi ditambah dengan dalil-dalil memperlihatkan bahwa sang khatib sedangkan menanamkan kebencian terhadap umat lain terutama Nasrani. khatib kemudian ngalor kidul mejelaskan dan mencocok-cocokkan dalil yang mengatakan bahwa kita lebih baik berdiri 40 tahun daripada berjalan di depan orang shalat. 

di pertengahan Khutbahnya, khatib mengeluarkan HP dan membacakan surat yang masih menjadi perdebatan keasliannya bahwa tidak boleh mendirikan rumah ibadah di Tolikara selain gereja Gidi. dia dengan menggebu-gebu mengajak jamaah untuk memerangi orang kafir. saya membayangkan khatib tersebut berangkat ke daerah konflik di Timur Tengah dan apa yang akan dia lalukan.

khatib kemudian mengatakan bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum syetan. dia mengatakan bahwa dia tidak bisa memotong tangan pencuri dan menerapkan hukum Islam lainnya. kemudian melanjutkan bahwa di Indonesia, dia sudah bayar pajak, namun tidak ada yang dia dapatkan di negeri ini. katanya dia tidak bisa memotong tangan orang yang mencuri. dia membanding dengan pemerintahan khilafah , yang entah negara mana referensinya, bahwa dibawah hukum khilafah, orang akan sejahtera dan tidak ada pencuri. rumah dibuka begitu saja dan umat agama lain aman dibawah lindungan pemerintahan khilafah.

masih banyak lagi yang dia sampaikan namun saya tidak bisa mengingat setiap detail khutbahnya karena sudah tidak sepakat. pada intinya bahwa dia benar-benar adalah penganut paham keagamaan "Radikal." dia ingin hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum Khilafah. 

entah kenapa, saya sekarang memasuki fase tidak terlalu suka dengan paradigma yang radikal bahkan menjurus fasis entah apapun itu agama atau pahamnya. kita seakan masih terkurung dalam dogma agama yang membuat kita harus membenci manusia atas nama agama meski pada dasarnya bahwa Tuhan sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menumbuhkan sifat kebencian dalam hati.

atau mungkin kita ingin terlihat seperti para pejuang agama yang rela mati demi kesucian agama tetapi seringkali kita melupakan atau bahkan memang tidak mencari atau sebenarnya apa yang sedang kita perjuangkan. atas nama dogma agama, semua dilakukan begitu saja demi iming-iming syurga dan sekarang, saya sampai pada keyakinan bahwa syurga dan neraka adalah ilusi karena tujuan kita adalah bertemu dan menyatu dengan Tuhan. syurga dan neraka selalu kita korelasikan dengan kenikmatan dunia dan seringkali kita melupakan pertemuan dengan Ilahi.

saya suka dengan analogi ketika kita merantau dan ingin pulang kampung, satu hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah bertemu dengan orang tua yang kita kasihi tanpa memikirkan lagi apa yang akan diperoleh ketika di kampung. begitu pula seharusnya ketika menuju Tuhan, sejatinya yang ada dipikiran adalah pertemuan denganNya bukan malah syurga dan neraka karena Dia melebihi dari apa saja.

entahlah, semoga saya tidak sok tahu
saya hanya tidak sepakat dengan khutbah tadi
kesannya terlalu provokatif
"Astagfirullah"

Rawamangun, 070815

No comments: