Dua bulan lagi, jika semesta meridhai, aku akan melakukan perubahan dalam hidupku. titik balik dari setiap apa yang hendak kujalani karena sejatinya apa yang akan kuhadapi adalah menentukan seorang partner hidup yang akan menjadi siapa dan apa saja di setiap langkah hidupku berikutnya. seorang yang akan menjadi teman diskusi, musuh bertengkar, teman tidur dan apa saja yang akan kulakukan.
periode dalam hidupku yang sebenarnya bagian dari drama semesta meski jujur dan amat kusadari bahwa drama hidup yang harus kujalani dengan serius. aku harus menjadi seorang pemimpin sekaligus temannya dan satu hal bahwa tujuan hidup kami seharusnya sudah menyatu menjadi tujuan yang satu karena hidup kami akan menyatu.
kecemasan melanda hatiku menghadapi momen tersebut. ada banyak alasan yang membuat hatiku goyah dan keder. selain karena ketakutan konvensial menjadi seorang pemimpin dalam keluarga juga karena ketakutan tidak bisa menafkahi anak isteri, terlebih lagi adanya kenyataan mengenai karirku di kantor yang kemungkinan belum diangkat menjadi karyawan tetap. semua menyatu dalam kecemasan yang tak terkira bahkan ketika aku membayangkan kenyataan suatu nanti, isteriku harus bangun subuh hari kemudian bersiap ke kantor dan disisi lain aku masih berpikir kerja apa hari ini sedangkan aku sebagai kepala keluarga yang harusnya banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. aku tidak bisa menahan ironi kehidupan seperti itu.
entah seperti apa drama hidup yang kembali harus kujalani. aku sebenarnya tidak menuntut hal yang lebih kepada Sang Pemilik Skenario, hanya saja bahwa aku bekerja tetap di pekerjaan yang halal dan toyyib jangan sampai terjadi kenyataan aku menumpang hidup pada isteriku.
berbagai kecemasan-kecemasan yang tidak kunjung hilang dari kepalaku. selama menjadi manusia dalam derajat paling rendah dalam meyakini Tuhanku maka ketakutan dan kecemasan seperti itu akan selalu ada dalam diriku.
Kantor Rawamangun. 030815
No comments:
Post a Comment