August 12, 2015

Hidup Memang Paradoks

Saya tidak sedang mencoba untuk menulis contoh hidup yang paradoks menurut Sudjiwo Tedjo misalnya demontrasi dibutuhkan supaya angkutan Kopaja mendapatkan penghasilan. Sebenarnya hidup ini memang adalah paradoks yang tidak akan pernah terhitung jadi setiap hal akan mendapatkan sisi yang berbeda. 

Hari sabtu kemarin, kantor saya mengadakan lomba mancing sebagai bagian dari acara pelepasan kepala cabang yang dimutasi ke kebayoran. saya baru mengerti seperti apa mancing di perkotaan. Ternyata untuk memancing ikan di kota ini, orang harus membeli ikan kira-kira seharga 25 ribu untuk sekilo kemudian ikan tersebut dilepas di empang lalu kemudian ikan-ikan dipancing kembali. Ketika ikat tidak bisa diangkat dari empang dengan cara dipancing dalam durasi waktu yang ditentukan oleh pemilik empang maka ikan tersebut diambil oleh pemilik empang. 

Hal yang lucu karena sepertinya kegiatan memancing di kota hanya memuaskan hasrat sensasi memancing atau dalam artian, orang kota hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pemancing sedangkan di desa, kegiatan memancing biasanya dilakukan di laut ataupun di sungai dan dijadikan sebagai profesi bukan hiburan.

Sama halnya ketika orang kota ingin merasakan suasana pedesaan maka mereka harus membayar mahal untuk berkunjung ke daerah wisata yang di design seperti suasana pedesaan sedang orang desa sendiri setiap harinya merasakan suasana seperti itu. maka berbahagialah orang yang tinggal di desa karena tidak perlu membayar mahal untuk mengisi kehampaan jiwa mereka merasakan alam seperti yang mayoritas orang kota lakukan.

Hidup memang paradoks. saling tindih antara fenomena yang satu dengan yang lainnya. Di satu sisi orang mendapatkan duka namun disisi lain, ada orang yang bersuka atas duka orang lain. itu yang terlihat secara indrawi meski pada dasarnya, hal yang indrawi seringkali menipu. Ketika melihat orang berduka namun sebenarnya hatinya tetap tenang. hidup hakekatnya seperti itu. perpindahan dari satu kondisi ke kondisi  yang lain.

Jakarta, 120815

No comments: