March 26, 2015

Perempuan di Kelokan Cipinang

Sudah beberapa minggu ini aku sering lewat di depan LP Cipinang ketika pulang dari kuningan. Sebelumnya aku lebih memilih jalur cawang kemudian belok kanan melewati belakang UNJ namun setelah beberapa kali melintasi cipinang, kurasa jalur ini yang paling cepat. tepat di seberang LP Cipinang, saat melintas diatas jam 8, beberapa wanita dengan dandanan menor dan pakaian seksi berdiri sambil mengisap rokok di sepanjang jalan tersebut. mungkin pula ada waria diantara mereka jika saja pandanganku tidak salah.

Entah apa yang berkecamuk di pikiranku ketika melihat fenomena tersebut. Mungkin saja hal biasa karena kesenjangan sosial di kota ini yang semakin menggila sehingga setiap orang menempuh caranya masing-masing untuk mengisi perut, namun pemaklumanku tersebut bukan berarti aku mengamini profesi yang sedang dijalani oleh mereka yang dengan sabarnya berdiri di pinggir jalan menunggu setiap pengendara yang lewat dan sudi menikmati tubuh mereka dengan bayaran seadanya.

Mungkin juga aku khilaf karena beberapa kali aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka hanya untuk sebuah tulisan bahkan semalam, aku membunyikan klakson tepat di depan mereka hanya menguji bagaimana reaksi mereka ketika dibunyikan klakson. senyum ramah tersungging di bibir perempuan tersebut ketika aku memperlambat motor dan membunyikan klakson bahkan melambaikan tangan sebagai bahasa tubuh untuk memintaku berhenti.

Mengatakan mereka sebagai penyakit sosial mungkin keliru meski ada benarnya karena sejatinya, akar dari tindakan mereka memilih menjadi perempuan yang mengeksploitasi dirinya karena masalah perut. Pemerintah sudah terlalu acuh dan lebih asyik dengan obrolan kosong mereka di gedung-gedung yang sejuk dengan AC yang tidak pernah dimatikan. persoalan masyarakat dan bacotan mereka tentang kepedulian terhadap masyarakat hanyalah tameng agar mereka tetap bertahan sebagai pemerintah. Masyarakat tetap harus berjuang sendiri mengisi perut.

Aku harus sadari bahwa mungkin saja aku adalah bagian dari mereka yang tidak peduli sama sekali dengan persoalan masyarakat atau tepatnya aku hanya berpura-pura peduli tanpa ada tindakan nyata yang kuperbuat.semua hanyalah hampa yang tak ada gunanya.

Ah, sudah terlalu penat jariku menulis tentang setiap persoalan yang kujumpai. Bahkan mulutku berbusa untuk mengkritik pemerintah bahkan menghakimi setiap orang yang kuanggap berada di jalan yang keliru namun aku sendiri masih tetap diam dan lebih berhasrat memenuhi setiap keinginan-keinginanku yang tidak pernah ada habisnya.

Malam semakin menampakkan tubuhnya tanpa ada setitik cahaya. akupun harus menyudahi semua lakonku yang kupertontonkan kepada dunia. semua hanyalah palsu dan lebih baik aku memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Hati adalah kuncinya dan mengenali diri adalah jalannya.

260315

Sembuhlah

kudengar engkau sakit
mual dan lemas hingga tak masuk kerja hari ini
lekaslah sembuh
kita bercerita lagi

260315

March 25, 2015

Seorang Ibu dan One Direction

Hari ini tepat tanggal 25 maret, kami dan segenap staff teknik lembur karena tutup buku. memang di kantorku, tutup buku setiap tanggal 25 dan selalu saja kami harus lembur sampai malam mengejar target produksi. Sebenarnya aku sendiri tidak begitu sibuk karena divisi kerjaku adalah staf klaim namun tetap saja bahwa ketika tutup buku, aku harus membantu sesama staf yang mempunyai tugas lebih menginput polis. Semenjak bergelut di bidang perusahaan ini, rasanya aku seperti terjebak dalam rutinitas harian yang dulunya hanya bisa kusaksikan di sinetron ataupun kubaca di cerpen yang menggambarkan betapa sibuknya karyawan di ibu kota.

Di tengah pekerjaan yang menumpuk, kami terkadang bercanda untuk lemeskan otot yang tegang karena pekerjaan. seorang teman kantor yang memang sudah mempunyai anak tiba-tiba berujar bahwa kasihan anaknya tidak bisa menonton konser one direction hari ini di GBK. Oh yah, memang hari ini bertepatan dengan konser salah satu boyband dari London yang sedang digandrungi oleh ABG-ABG tanggung. Teman tersebut dengan nada yang memelas benar-benar kasihan anaknya yang ngefans one direction dan menjadi salah satu Directioners tidak bisa menonton bahkan kemudian dia berujar "sabar nak, suatu saat nanti kita nonton, untung-untung bisa jadi MC supaya ngomong langsung."

Aku tidak ingin menjustifikasi bahkan menyalahkan teman tadi karena dengan sayangnya kepada anaknya ingin membahagiakan anaknya dengan menonton konser, tidak sama sekali. meski aku harus mengelus dada bahwa begitu banyak dari orang tua yang menuruti anaknya meski dengan hal yang mungkin hanya sebagai kesenangan namun pembelajaran yang minim bahkan lebih kearah membuat si anak terjerumus dalam hal yang membuat perkembangan mentalnya menjadi pemuja kemewahan.

Aku mungkin terlalu membual ataupun mungkin pula aku belum mempunyai anak sehingga perasaan untuk membahagiakan anak sama sekali belum aku rasakan namun disisi lain, tulisan ini hanya kuperuntukkan untuk menjadi pengingatku kelak bahwa ketika mempunyai anak, maka membahagiakan anak adalah kewajiban namun cara membahagiakan tersebut yang berbeda-beda diantara semua orang. Mengikuti semua kemauan anak menurutku bukan cara terbaik dalam mendidik dan membahagiakan anak.

Orangtua adalah figur yang akan diikuti oleh anaknya bahkan mayoritas anak terbentuk bagaimana mereka dibesarkan oleh orang tuanya. Mengidolakan artis bahkan menonton konsernya pun bukan sebuah hal yang salah namun dalam memenuhi keinginan seorang anak, selalu saja ada nilai yang mengikutinya, tidak sekedar mengikuti kemauan anak. misalnya saja membelikan seorang anak motor yang belum cukup umur bahkan belum mempunyai SIM mungkin saja disatu sisi membuat anak bahagia namun disisi lain menjerumuskan anak ke hal yang salah bahkan melanggar aturan. pastinya melanggar aturan ketika seorang anak mengendarai motor tanpa SIM. Pun begitu adanya dengan mengikuti kemauan anak yang menonton konser dengan harga mahal dan ditengah kerumunan banyak orang. disatu sisi, anak akan merasa senang menonton idolanya namun disisi lain, dia diajarkan tentang kemewahan, belum lagi jika ada kerusuhan di tengah-tengah konser.

Kembali lagi bahwa mungkin aku yang terlalu idealis atau bahkan belum punya anak yang disayangi dan harus dipenuhi semua permintaannya.

rawamangun.250315

Diamlah

Aku ingin berkata sesuatu tentangku
tentang kalian yang sering kutemui dan bahkan tentang siapa saja yang kuanggap dekat
namun tidak
mereka adalah ego yang terselip
aku tahu
ada kalanya aku harus diam dan kemudian menata hati

tidak perlu untuk berkoar-koar
memang aku tidak ada masalah dan sama sekali tidak ada urusana
hanya saja telingaku muak ketika kalian memakan bangkai daging teman sendiri
gibah maksudku kalau masih belum jelas penjelasanku

aku malas ikut nimbrung dengan kalian ketika bergosip
aku hanya ingin berbagi kebahagiaan
bukan cerita buruk rekan-rekan kalian yang mungkin saja tidak lebih buruk

aku ingin mengingatkan
namun ikut tidak ingin dijustifikasi sok bijak
lebih baik aku diam

diamlah
250315

Mobil atau Mobil-Mobilan

Sehari kemarin, saya menghabiskan 6 jam survei penutupan mobil PT. Andrinusa Utama Indah yang jumlahnya begitu banyak. Memang sebelumnya perusahaan ini sudah menjadi nasabah di kantor dengan kontribusi yang lumayan gede. namun dalam perjalanan kerjasama yang dijalin dengan perusahaan tersebut, ada kesalahpahaman yang menyebabkan perusahaan tersebut menarik produksinya. Entahlah siapa yang salah namun memang perjanjiannya, perusahaan tersebut tidak menggunakan kendaraannya sesuai yang dijamin polis.

Permasalahan tersebut muncul setelah ada salah satu mobil PT. Andrinusa Utama Indah yang hilang. Seingatku kejadiannya sekitar akhir tahun lalu. Saya dan seorang kawan yang survei kehilangan kendaraan tersebut di sekitar jln Tipar Cakung, Jakarta Timur. Saat di lokasi kejadian, ada beberapa kejanggalan yang kami temui ketika melihat lokasi dan bertanya ke warga sekitar tentang kehilangan mobil di daerah tersebut. Kejanggalan pertama adalah akses untuk masuk ke lokasi kehilangan mobil sangat sempit dan sedang ada galian got. Kedua bahwa warga sekitar tidak tahu-menahu tentang kejadian kehilangan tersebut bahkan satpam yang ditanyakan tentang kehilangan tersebut pun tidak tahu. Ketiga bahwa ketika saya menanyakan langsung ke ketua RT, dia pun tidak tahu tentang kejadian tersebut, hanya saja si sopir datang dan meminta surat pengantar kehilangan mobil.

Dari beberapa kejanggalan tersebut, kami kemudian melaporkan ke kantor kemudian meminta jasa Surveyor independen untuk melakukan survey ulang yang lebih valid. Beberapa hari kemudian, hasil survey dari tim independen keluar hasilnya dan ternyata mobil tersebut hilang saat disewakan ke orang kedua. PT. Andrinusa kemudian mengklaim namun ditolak karena sesuai dengan polis, kendaraan hanya diperuntukkan untuk pribadi dan dinas bukan untuk komersil. polemik ini kemudian berlarut-larut bahkan Pak Ridwan selaku pemilik PT. Andrinusa tersebut beberapa kali datang di kantor mengajukan keberatannya karena klaim kehilangan kendaraannya tidak bisa diakomodasi. Pernah sekali dia bicara dengan kasie teknik dengan amat sangat keras.alhasil Pak Ridwan tersebut menarik semua produksinya dan meminta refund premi.

Awal maret ini, saya tidak tahu bagaimana awalnya atau mungkin agen dari PT. Andrinusa sehingga ada kesepakatan bahwa mobil-mobil tersebut yang jumlahnya ratusan kembali menjadi produksi namun dengan syarat diubah penggunaannya menjadi komersil dengan konsekuensi ratenya dinaikkan.

Tidak mau melakukan kesalahan yang sama, saya dan E bertugas untuk melakukan survei semua kondisi kendaraan tersebut. Alhasil kami kemudian melakukan survei semua kondisi fisik kendaraan.

Sebenarnya bukan tentang kronologis semua apa yang telah saya ceritakan di atas yang ingin kusampaikan disini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa betapa seorang mempunyai mobil begitu banyak bahkan seperti mobil-mobilan yang bertebaran dimana-mana. Entahlah apa yang ada dipikiran si pemilik namun saya sendiri ketika melakukan survei di beberapa tempat, saya melihat mobil tersebut seperti tidak terawat dan dibiarkan begitu saja. ada 4 mobil yang masih di belakang gedung auto 2000 pramuka dan dibiarkan begitu saja.

Saya harus katakan bahwa kesenjangan di kota ini memang begitu curam. Seorang bisa saja mempunyai ratusan mobil kemudian di lain tempat, seorang bocah yang seperti kutulis. harus berjuang keras demi sebungkus nasi.

Saya pun tidak berpretensi untuk mengatakan bahwa mereka yang punya kekayaan begitu banyak tidak peduli dengan mereka yang kurang beruntung namun kenyataan yang saya temui selama saya di kota ini benar-benar membuka mata saya bahwa bagaimana kesenjangan tersebut nyata dan benar adanya.

disaat lagi capek pulang survei. 240315

March 24, 2015

Kita Berdua di Bukit

ingin sesekali kuajak dirimu ke sebuah puncak gunung
ataupun setidaknya bukit
dimana pandangan kita bebas menerawang alam semesta

ingin sekali aku duduk berdua denganmu di puncak bukit
membunuh semua ego kita bersama
menyatukan hati dalam diam

aku ingin mendogeng
tentang semua hal yang menyenangkan kita

 membangun sebuah gubuk di sudut lembah
memelihara sapi dan kerbau
kita minum dari air sungai yang jernih

ah, hidup memang penuh anganangan dek.
tapi bersamamu kita kuat
240315

March 23, 2015

Percakapan Tentang Bocah

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi”  (HR. Bukhari) 

Sebenarnya cerita ini sudah kutulis dalam bentuk puisi namun aku merasa sayang kalau cuma dalam barisan puisi yang tak beraturan. Aku ingin bercerita panjang tentang percakapan kami di sudut warung daerah cikini suatu malam saat hujan deras. Percakapan ringan tentang bocah yang menantang getirnya hidup dengan teman-temannya.

Kebiasaan saya dengan W memang sering mengamati apa saja yang ada di sekitar kami. Jakarta yang berbeda jauh dengan kehidupan di Surabaya membuat kami sering menemukan fenomena yang nampaknya tidak bisa dicerna dengan akal sehat bahkan semua hal ekstrim ada di kota ini. Kita hanya butuh sedikit memicingkan mata untuk peka terhadap fenomena meski saya sendiri tidak mengklaim diriku sebagai seorang yang peka sosial namun setidaknya ada rasa miris yang menggelayut di ruang nuraniku ketika tragedi kehidupan orang lain diperlihatkan kepadaku.

Minggu malam saat kami pulang dari TIM, kami mampir di sebuah warung daerah Cikini. saat itu hujan deras dan perut kami pun sudah meminta untuk diisi. Warung tersebut sangat ramai oleh pengunjung sehingga lumayan berdesakan saat akan mengambil makanan. Kami menikmati makanan dengan lahap. Hujan pun tak henti mengguyur bumi. kami butuh sekitar 30 menit duduk di warung tersebut kemudian keluar dan berdiri di beranda warung untuk menanti hujan reda.

Salah satu suasana yang paling kunikmati adalah ketika hujan deras pada malam hari. selalu saja ada kenangan yang membuncah di rongga dadaku menyaksikan butiran demi butiran jatuh di jalanan, di sudut atap, di dedaunan dan disetiap sisi bumi. Malam itupun begitu adanya. kubiarkan W diam terpaku di sampingku sementara saya sibuk dengan pikiran-pikiranku yang memungut semua kenangan tentang hujan dan malam. Kami tidak terganggu sama sekali dengan riuhnya para manusia yang juga sedang berteduh menanti hujan reda.

Kami baru memalingkan pikiran kami dari syahdunya hujan setelah segerombolan bocah yang kira-kira berumur dibawah 10 tahun lewat di hadapan kami masuk ke warung menawarkan tisue seharga 3 ribu rupiah. Ada rasa lirih saat mereka kedinginan dengan melipatkan tangan di dada namun tetap semangat dengan beberapa bungkus tissue menawarkannya kepada para pengunjung warung. Saat lewat tepat di hadapan kami, kudengar secara samar-samar mereka bercakap dalam bahasa jawa kasar. Hal tersebut sedikit membuat saya dan W kaget bahwa ternyata mereka bukan bocah asli Jakarta.

Berbagai pikiran macam-macam mulai merasuki pikiran kami. Menerka bahwa mereka disuruh oleh seseorang untuk berjualan, menerka bahwa mereka dibawa dari ujung pulau ini untuk dieksploitasi di Jakarta menjadi pengamen, penjual, pengemis dan apapun yang bisa menghasilkan uang buat mereka yang memanfaatkan keluguan mereka.

Kami kemudian bersepakat bahwa mereka melakukan hal tersebut bukan karena keinginan mereka. Aku dan w yakin akan hal tersebut. kami melempar jauh memori kami ke masa lampau saat masih seumuran mereka. tak setitik pun kami jumpai perasaan apa artinya mencari uang, berjualan bahkan apapun yang mungkin berkaitan dengan hal mencari sesuatu untuk perut. Kami hanya menemui perasaan kami masa itu tentang indahnya bermain, bercanda dan apa saja tentang kesenangan hati. Lalu ketika hal tersebut lumrah kepada semua anak seusia dibawah umur 10 tahun, kenapa bocah-bocah malam itu begitu giatnya berjualan, mengamen dan bahkan pernah kutemui yang menjadi kernet?

Jawaban dari pikiran kami sendiri adalah mereka dibiasakan. meski bukan keinginan mereka namun mereka dipaksa dalam keadaan seperti itu, entah dibawah ancaman atau bahkan dipaksa "menikmati" profesi yang sedang mereka jalani. Bocah-bocah seumuran mereka tak sedikitpun berpikir untuk bekerja, mendapatkan uang kemudian kaya. masa menjadi bocah hanyalah bermain dan seperti itulah hidup mereka. mungkin sesekali mereka melayangkan hidup mereka ke masa tua namun seringkali yang mereka bayangkan adalah hal yang imajinatif dan tak terduga. Tak sekalipun mereka berpikir tentang masa depan yang orientasinya adalah kekayaan. aku yakin itu.

Begitulah ibukota menawarkan tragedi kehidupan bagi sebagian anak-anak yang terlahir dari orang tua yang tidak "bertanggung jawab". Ibu kota seringkali menghadirkan fenomena yang menebalkan empati bagi siapa saaja yang masih memilikinya namun juga menebalkan keegoan bagi mereka yang sama sekali tidak peduli terhadap apa yang dihadirkan di sekitar mereka. Terlalu berat memang untuk menjadi bocah yang tidak beruntung di kota ini. amat sangat berat.

Saya percaya pada hadits di awal tulisan ini bahwa orang tua mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan anak. mereka setidaknya punya andil dalam membentuk karakter seorang anak sehingga tidak heran bahwa menjadi orang tua adalah menjadi teladan bagi anak. Aku bukan sok tahu namun dari beberapa pengamatan melihat fenomena anak maka tidak terlepas dari bagaimana cara orang tua membesarkannya. Lingkungan hanyalah variabel kecil pembentuk karakter seorang anak.

Saat berteman, saya selalu ingin mengenali orang tua teman-temanku. saya terkadang ingin membuktikan hipotesaku tentang hubungan orangtua dengan anak.

suatu waktu di Cikini. 220315

Anak Itu

Aku berbisik padamu malam itu
Tentang anakanak yang harus berjuang melawan getir

Engkau mengusap muka
Membayangkan betapa mereka tidak seharusnya di tempat itu
Di lampu merah mengamen,
Di warung menjajakan tissue
Bahkan di kopaja menjadi kernet

Kita bersepakat
Bukan keinginan mereka untuk itu
Mana ada bocah seumuran mereka yang mengerti tentang kerja keras

Kita kemudian sepaham
Mereka dipaksa keadaan menjalani semua

Ah, rasa sesak menghampiri
Tak kuasa menahan tragedi hidup yang sedang mereka hadapi.

Aku memelukmu
Membenamkan wajahmu di dalam dekapanku

Kemudian sisa airmatamu membasahi baju kemeja.

Puligadung,230315

Berjalanlah

hingga katakata tak lagi memaknai sesuatu
hanya sekedar sampah yang keluar dari bualan para pengobral janji

aku ingin tetap membawamu ke taman bunga
dengan puisipuisiku yang tertinggal di sudut kenangan

aku bukanlah pemuja sastra
bukan pula siapasiapa
karena memang kataku hanya untukmu
yah, untukmu yang selalu tetap berjalan di sampingku meniti bebatuan kota ini

aku ingin menceritakanmu tentang semua yang ada
inginku meramu semua patahan rindu yang tak jua pudar dari hati kita
entahlah namun tak pernah habis inginku tentangmu
tentang kasih yang masih bergentayangan

serpihan rindu itu
patahan kasihmu untukku
tak jua kumengerti begitu relanya engkau mempercayakan sekeping hatimu untukku

dan disaat yang lain
sanggupkah aku merawat kepercayaan yang engkau berikan

ah sudahlah
kita bukan manusia paripurna
mari kita berjalan saja
sampai waktu menyempurnakan asa kita

rawamangun.230315

Cikini Dalam Basah

Di sudut Cikini yang hening.
kita menghempaskan diri di warung makan
hujan membunuh hasrat kita untuk tetap melaju
hujan pula memperparah perut yang minta diisi

kubiarkan semua titik air membasahi ujung rambutmu
aku menatapmu dengan semua perasaan yang kumiliki
engkau sesekali merajuk dalam hujan
entah mengapa
engkau seberani ini bersamaku

menantang malam bahkan hujan
yang sekalipun tak kau lakukan saat sendiri

rawamangun. 230315

Asean Literary Festival

Aku tidak mengikrarkan diriku sebagai penyuka Sastra namun selalu saja ada bagian dari sastra yang membuatku menikmatinya. aku suka menulis puisi tetapi mungkin tergolong penulis puisi yang hanya main-main tanpa pola yang jelas. Aku suka menulis cerpen namun seringkali cerpenku yang tak mempunyai ending yang bermakna. Aku suka menulis setiap perjalanan waktu yang kulalui namun sekedar mengabadikan kenanganku bukan untuk sebuah hal yang berkaitan dengan sastra. begitulah sastra.

kemarin ada ASEAN LITERARY FESTIVAL 2015 di TIM. mungkin secara kebetulan aku disana karena memang setiap akhir pekan aku dan windi sering berkunjung ke TIM hanya untuk menghabiskan weekend. sesampai disana, aku melihat banyak penikmat sastra yang sedang berada disana, ada yang sedang asyik melihat-lihat buku pameran, ada yang sedang mengikuti diskusi dan banyak diantara mereka yang bercengkerama dengan teman. mungkin mereka lama tidak bertemu dan kemudian bertemu lagi di tempat tersebut.

aku dan windi sekedar melihat buku pameran. lumayan banyak buku bagus disana namun duit sudah menipis. kami memilih untuk mengikuti sebuah diskusi yang diadakan di panggung utama. diskusi tentang sastra yang panelisnya mahasiswa sastra UNJ dan pihak Diva Press. 

Kami datang pas sudah sesi tanya jawab sehingga kami tidak terlalu memahami materi diskusi yang dibahas meski sepintas dari sesi tanya jawab, aku menangkap bahwa bahasan tersebut tentang sastra yang mulai pudar. seorang panelis dari UNJ yang juga pengurus buletin Stomata dengan lugas memaparkan harapan-harapannya tentang sastra.

kami kemudian beranjak dan mengikuti sebuah diskusi berbahasa inggris. tidak banyak yang kudengar dari diskusi tersebut karena kami ikut saat diskusi akan berakhir. hingga maghrib menjelang, kami memutuskan untuk shalat maghrib di Basement dan memilih untuk pulang. ada kekecewaan yang menggelayut di hati karena baru mengetahui ada acara keren di TIM pada saat hari terakhir.

hujan mengguyur dengan derasnya saat kami akan meninggalkan TIM. kami nekat menerobos hujan dan memilih berteduh di sebuah warung makan sekaligus mengisi perut yang mulai keroncongan.

kami pulang ke kos masing-masing dengan weekend yang basah.


pulogadung220315

March 21, 2015

DITILANG

Pernah beberapa waktu lalu, aku menulis tentang seorang polisi yang kutemui di polsek metro kelapa gading.aku menulis tentang polisi yang lumayan baik diantara beberapa oknum yang pernah kutemui sebelumnya. entahlah apa yang selalu terlintas di benakku ketika mendengar kata polisi  namun yang jelasnya bahwa banyak keluargaku yang memilih profesi tersebut bahkan kedua kakakku pernah beberapa kali ikut seleksi polisi namun tidak lulus.

ketika aku kemudian tidak bersepakat dengan profesi tersebut, bukan karena kekecewaan kedua kakakku tidak lulus seleksi namun ada hal prinsipil yang membuatku tidak bersepakat. pertama aku ingin mengatakan bahwa aku bahkan malah  bersyukur kedua kakakku tidak lulus seleksi karena dengan begitu, orang tuaku lepas dari perbuatan menyogok. aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana saat kakakku sudah sampai pada tes terakhir dan dari seorang petingi polisi yang juga sekampung denganku menjadi backing dan disediakan sejumlah uang. memang pada saat itu aku tidak tahu sama sekali namun jujur sampai sekarang, aku bersyukur kedua kakakku tidak lulus seleksi.

mungkin ini terletak pada apa yang disebut prinsip namun aku pun menyadari bahwa masih ada diantara oknum polisi yang lulus tanpa menyogok, aku masih percaya itu meski perbandingannya jauh lebih kecil dari yang menyogok. hal kedua adalah banyak diantara oknum polisi yang bahkan menerima suap ketika sudah menjadi polisi apatahlagi ketika menjadi seorang petugas lalu lintas. hal lain bahwa banyak diantara mereka yang kemudian menjadi arogan.

diluar dari semua itu, aku percaya bahwa selalu saja ada orang baik diantara setiap orang yang kurang baik. kemarin aku menemukan seorang polisi yang kuanggap baik. mungkin kesannya subjektif namun begitulah adanya. ceritanya seperti ini. hari sabtu pagi, aku sudah bersiap ke arah karet pendurenan. ada dua jalur sebenarnya ke arah tersebut dari rawamangun. pertama melalui jalan pemuda ke arah pramuka-manggarai kemudian sampai di rasuna said namun menurutku jalur tersebut terlalu jauh. jalur yang kuanggap dekat melalui Cipinang kearah Casablanca. aku memilih aternatif kedua. sesampai di Jln Basuki Rakhmat, ada putaran yang memang sebenarnya dilarang namun karena putaran tersebut sebagai jalan kompas dan aku sudah sering melewatinya sehingga tanpa ragu aku memutar di jalan itu, apesnya pada saat itu ternyata ada 6 polisi yang sedang swipping. dengan pasrah, aku berhenti ketika seorang polisi memberhentikan motorku dan memberitahu bahwa aku melanggar rambu lalu lintas. sebelum dia menyuruh memperlihatkan SIM dan STNK, aku langsung berinisiatif mengeluarkan dan memperlihatkan kepadaku. saat itu aku sudah membatin harus kembali berurusan dengan pengadilan untuk mengambil SIM namun diluar dugaan, sang polisi mengatakan bahwa ini teguran pertama dan kemudian membiarkanku melanjutkan perjalanan.

yah, memang subjektif jika aku mengatataka bahwa dia seorang polisi yang baik namun aku pun beralasan bahwa 1 diantara 10 orang polisi yang mau berbaik hati seperti itu ketika kita sudah melanggar, yang ada bahwa ketika kita sudah jelas-jelas melanggar maka harus pasrah apakah damai di tempat atau bahkan harus ke pengadilan mengambil SIM.

terkadang kita menjumpai orang baik diantara mereka yang kurang baik.

pulogadung.210315

March 20, 2015

Nasabah yang Legowo

Genap sudah 7 bulan aku bekerja di kantor ini. Divisi kerja yang menurutku harus banyak berinteraksi dengan para nasabah yang mengajukan klaim. Sudah terlalu banyak karakter orang yang kutemui dan mayoritas dari mereka tidak sabar dan bahkan harus dibayarkan sekarang juga klaimnya apatahlagi ketika klaim yang ditolak, sudah tidak terbayangkan kata-kata yang akan keluar dari mulut mereka. Sumpah serapah laksana peluru yang keluar dari mulut mereka yang klaimnya ditolak bahkan menyumpahi setiap karyawan yang bekerja di kantor.

Aku pernah menulis seorang nasabah bernama ibu fitriana, umurnya sekitar 30 tahun. Hal yang kuingat saat dia melengkapi berkas adalah bertepatan dengan tutup buku sehingga kasie keuangan belum bisa membayarkan klaim dan ditunda sekitar 2 minggu. Berawal dari situ, dia begitu geram dan menyumpahiku dengan kata-kata bahkan dengan ancaman bahwa dia akan menulis tentang perusahaan kantorku ke koran.

Sejujurnya dalam hati yang paling dalam, aku sama sekali tidak gentar dengan setiap ancaman seperti itu namun ada hal yang harus kujaga dalam setiap berinteraksi dengan nasabah. mereka adalah nyawa dari perusahaan. Sering pula aku menempatkan diriku sebagai nasabah dan aku berpikir mungkin saja ketika aku yang diposisi mereka, aku mungkin juga tidak bisa bersabar seperti beberapa diantara mereka.

Ketika ditelepon oleh N bahwa ada tamu namanya Zuharudin. Pikiranku sudah berkecamuk untuk menguatkan hati mendengarkan sumpah serapah karena dia datang untuk mengambil surat penolakannya. berbekal rasa tanggung jawab, aku menemuinya di ruang tamu kantor. Kujelaskan bahwa  tidak bisa diakseptasi karena kasus Hipnotis dan pengemudinya tidak ada surat. 

Saat sedang menjelaskan, kuperhatikan setiap perubahan rona di wajahnya namun sampai pada kalimat bahwa ditolak, tak sedikitpun perubahan rona memerah di wajahnya bahkan ketika aku sudah selesai menjelaskan semua, dia kemudian menimpali dengan bijak bahwa ketika peraturannya seperti itu, dia tidak bisa berbuat banyak. tak lupa saat dia pamit pulang, dia mengucapkan terima kasih dan salam. 

Ah, begitulah kita manusia, selalu tidak bisa ditebak.

Aku tidak tahu apakah dia akan datang lagi memprotes keputusan ditolaknya tersebut namun setidaknya dia telah menunjukkan sebuah sikap tenang meski sesuatu tidak sesuai dengan harapannya. aku bahkan membandingkan dengan nasabah yang suka mengeluarkan sumpah serapah.

Beginilah hari-hariku di kantor ini. berinteraksi dengan setiap orang yang mengajukan klaim. bertemu dengan bermacam karakter manusia. Setidaknya bahwa semua dari mereka menjadi pelajaran hidup untukku supaya lebih tenang dan sabar.

pulogadung, 200315