Senin kemarin saat sedang bersantai di ruang tunggu pool travel, ada salah seorang anak muda dengan berpakaian baju boneka dengan membawa ember sambil beberapa kali mengucap salam. Setelah itu, dia memohon untuk diberikan sedikit uang untuk sekadar makan.
Setelah beberapa saat, tidak ada calon penumpang yang sedang duduk di ruang tunggu, memberinya sesen uang sehingga dengan muka kesal, dia berlalu. Sebelum menutup pintu, dia mengucap salam sekali lagi dengan nada kesal namun tidak ada yang menjawab. "susah banget sih semua menjawab salam." Umpatan keluar dari mulutnya sambil tangannya menutup pintu ruang tunggu.
Saya yakin bahwa ucapannya itu bukan benar-benar karena kesal tidak ada yang menjawab salamnya namun lebih karena tidak ada yang menyodorkannya uang kertas. Awal dia masuk ruang tunggu pun sudah memberi salam dengan nada yang keras dan tidak selayaknya orang memberi salam.
Fenomena seperti ini seringkali saya jumpai di pool travel. Lain lagi cerita pool travel di Bandung. Anak muda yang perkiraan saya usianya belum genap 20-an tahun, masuk ke ruang tunggu sambil membawa beberapa amplop. Semua calon penumpang dibagikan amplop tersebut kemudian dia menunggu beberapa saat sebelum mengambil kembali amplop dengan harapan ada yang menyisihkan uang di amplop. Untungnya, saya tidak pernah melihat reaksi marah jika tidak ada yang memberinya, selebihnya dia hanya menampakkan muka memelas.
Serba salah untuk memahami apa yang terjadi karena harus dilihat dari berbagai perspektif agar apa yang dipahami lebih utuh. Dari kemiskinan struktural, tentu negara punya peran penting dalam hal ini karena mereka adalah bagian dari negara yang harus diurus dan diperhatikan tanpa mendiskriminasi mereka sebagai masyarakat termarginalisasi. Negara harus memikirkan solusi yang tepat sebagai proses mitigasi bagi mereka tidak sekadar menganggap mereka sebagai beban negara.
Dari perspektif agama, tentu meminta-minta bukan hina tetapi sebisa mungkin dihindari karena pekerjaan seperti itu menghilangkan atau mengurangi kedaulatan diri seseorang. Jika mereka sudah berusaha dengan maksimal untuk mencari nafkah dengan berbagai cara namun tetap tidak mencukupi, mungkin itu menjadi pilihan lain tetapi seringkali ditemui fakta bahwa, profesi tersebut didesain oleh sebagian orang karena sangat menguntungkan.
Seringkali ditemui pengemis yang membawa uang dalam jumlah besar atau beberapa di antara mereka yang sebenarnya punya pilihan lain untuk berusaha namun memilih untuk menjadi pengemis karena uang yang dihasilkan lebih banyak dan tidak membutuhkan energi yang besar.
Begitulah adanya. Terlalu rumit untuk memikirkan semua yang berada di luar kontrol kita.
#24 2023
No comments:
Post a Comment