August 28, 2015

Sejenak Bercerita

Kemarin mungkin perbincanganku paling sentimental di Kantor. Meski sebenarnya aku adalah pribadi yang termasuk introvert di kantor dan lebih memilih untuk tidak terlalu bicara hal-hal yang prinsipil namun ada saat dimana hasratku untuk mengutarakan apa yang menjadi nilai kehidupanku pun kuutarakan.

Kemarin, kasie teknik memanggil untuk berdiskusi masalah kontrak kerja. Memang sih ada sedikit makna dibalik nasehatnya bahwa seharusnya aku tidak terlalu kecewa dengan perpanjangan kontrak. Aku sedikit menangkap lirih dalam setiap kalimatnya bahwa mungkin saja dia khawatir jika aku beranggapan dia tidak mengusahakan supaya aku diangkat jadi karyawan. Dia mengatakan bahwa sudah berusaha maksimal untuk mendesak SDM supaya ada pengangkatan karyawan namun kebijakan manajemen tahun ini bahwa tidak ada pengangkatan.

Aku kemudian menjelaskan apa yang ada di kepalaku bahwa dalam hati yang paling dalam, mungkin kecewa ada sedikit namun untuk menyesali bahkan harus memendam perasaan kekecawaan yang mendalam mungkin tidak. aku sudah berikrar bahwa dalam bekera, aku sedapat mungkin untuk menunaikan tugasku tanpa harus terbebani dengan berbagai macam embel-embel entah itu pengangkatan atau bonus lainnya.

Mungkin terdengar klise ataupun sedikit hipokrit namun seperti itulah yang coba aku terapkan dalam bekerja dan bahkan dalam hidupku secara keseluruhan. aku tidak mau setiap hal yang material maupun hal-hal yang tidak prinsipil mereduksi kebahagiaanku atau bahkan merubah arah hidupku. Semua mungkin hanyalah ilusi yang akan terlewati dan menjadi coretan-coretan perjalanan hidup namun bukan menjadi aral yang berarti.

Aku tidak menampik bahwa aku masih butuh penghasilan untuk sekedar memenuhi kebutuhan biologisku maupun sebagai tanggung jawab terhadap keluargaku kelak namun setidaknya aku selalu mencoba supaya hal seperti itu tidak malah merendahkan derajatku sebagai manusia terlebih nilai-nilai yang sudah kusepakati untuk tetap kujunjung dalam keadaan bagaimanapun.

Hidup memang serba paradoks meski terkadang kita pun harus tegas sisi mana yang kita pilih. Untuk berjalan mengikuti semua arah jelas adalah sebuah hal yang mustahil, kita hanya butuh untuk mengambil keputusan jalan mana yang akan dijejak berdasarkan nilai kehidupan yang diyakini.

Rawamangun, 27 Agustus 2015

No comments: