Serasa mimpi ataukah memang saya sedang hidup dalam mimpi karena hidup bukan realitas hanya sebuah mimpi panjang yang nantinya akan menemui realitas pertama yaitu ajal namun lupakan dulu persoalan mengenai hidup.
Saya ingin bercerita bahwa dua minggu terakhir, saya amat rutin mengikuti kenduri cinta, kyai kanjeng asuhan Cak nun. Mungkin saya sudah bisa dikategorikan sebagai jamaah youtube katena setiap ada kesempatan lowong di kantor, saya selalu menyempatkan menonton video-video Kyai kanjeng. Sejak saat itu, saya berniat mengikuti pengajian Kyai Kanjeng jika diadakan di sini. Gayung bersambut, ternyata kenduri cinta rutin diadakan jumat malam kedua tiap bulan, alhasil keinginanku tersebut tercapai kemarin malam.
Sepulang kerja, saya meluncur ke bilangan kuningan menjemput teman dekat yang juga berniat ikut menemani saya mengikuti acara Kyai Kanjeng. Berhubung karena dia mendapat tiket gratis menonton acara HUT FKM UI yang bertema " Sekarang atau 50 tahun lagi" maka sebelumnya kami beranjak ke Gedung kesenian Jakarta yang berlokasi di Jln Pasar Baru tempat diadakannya acara FKM UI.
Sesampai di sana, acaranya tidak semeriah dengan yang ada di kepala saya. Mungkin ekspektasi saya tentang acara serupa mengambil standar acara yang sering diadakan oleh mahasiswa Makassar yang ternyata berbeda. Bahkan acara tersebut saya anggap sepi dan terlalu elitis. Alumni FKM UI yang datang mayoritas yang sudah berumur. Item acaranya mungkin sedikit serupa dengan acara inaugurasi yang setiap tahun diadakan di fakultas saya namun perbedaannya mungkin spirit yang membedakan.
Kemudian untuk masalah teknis acara, ada hal lain yang mungkin terlalu monoton dan membosankan. Awal acara mungkin dibuka dengan lumayan baik oleh dua Mahasiswa FKM UI yang menyanyikan lagu duet ditambah dengan MC nya yang sedikit lucu dan tidak garing-garing amat. Item acara berikutnya yang membuat saya serasa ingin cepat beranjak, mulai dari tari-tarian yang menceritakan seorang perempuan yang dulunya tomboy berlagak laki-laki kemudian sadar dan kembali menjadi feminim. durasi waktunya terlalu lama membuat penonton bosan.
Item berikutnya malah makin membosankan lagi. acara teater dari kelompok Teater Trotoar Mahasiswa FKM UI. Untuk spriritnya memang amat sangat gamblang diceritakan dimana mereka mencoba untuk mengangkat tema masalah bidang ilmu FKM yang masih berada di bayang-bayang kedokteran. Sekali lagi durasi waktu yang terlalu lama membuat teater tersebut amat sangat garing dan lumayan membosankan alhasil teaternya belum kelar kemudian saya dan pacar saya beranjak ke Taman Ismail Marzuki mengikuti acara kyai kanjeng.
Saya dan teman dekat saya menyempatkan makan di warung pinggir jalan. Lumayan untuk mengisi perut sebelum nimbrung di acara kenduri cinta. Setelah itu, kami memasuki area TIM yang ternyata acaranya diadakan di samping parkiran. Orang sudah banyak yang lesehan sambil menikmati aneka jajanan. Kami mengambil posisi di tengah-tengah. setelah itu, ustadz Widjayanto membawakan tauziyah dan lebih banyak melontarkan banyolan sehingga membuat jamaah kenduri cinta tidak mengantuk. Setelaah itu, berturut-turut beberapa pengisi acara yang benar-benar membuat mata terpejam bahkan salah satu pemateri yang bernama andri... sepertinya ingin mengimbangi ustadz widjayanto malahan garing dan terlalu lama sehingga 2 kali diinterupsi oleh moderator.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 24:00 WIB, pemateri selanjutnya Sabrang dan ustadz subkhi. Entah kenapa ketika Sabrang (Noe Letto) yang membawakan materi, semua hadirin kembali melek dan sama sekali tidak mengantuk. Ada satu pelajaran yang paling utama dari materi sabrang bahwa segala sesuatunya jangan dilihat benar salah, sebelum menjustifikasi sesuatu maka harus dilihat secara komprehensif. dia lalu bercerita ketika mengikuti muktamar NU. Salah seorang peserta dari Madura mengobrol dengannya dan memperdengarkan lagu Indonesia raya yang sudah dirubah liriknya. "16 agustus tahun 45, besoknya hari kemerdekaan Indonesia" Sambil melagukan lirik tersebut, semua hadirin tertawa dengan melihat lagak Sabrang. Dia kemudian melanjutkan hikmah dari kejadian tersebut bahwa seandainya saja sabrang buru-buru menilai orang madura tersebut salah dalam lagu maka kemungkinan sebelum selesai liriknya, dia sudah menyalahkan namun sabrang mencoba untuk mendengarkan secara keseluruhan ternyata orang madura tersebut tidak salah. itulah pentingnya melihat kasus secara komprehensif.
Saya memutuskan untuk beranjak pulang sebelum sabrang selesai memaparkan materinya karena pacar saya sudah tidak tahan ngantuk apalagi Cak Nun ternyata tidak hadir.
Banyak hikmah yang diperoleh dari acara tersebut bahwa yang namanya kharisma tidak bisa dipelajari mungkin ketulusan hati saja yang bisa kita asah. Terlihat dari beberapa pemateri di kenduri cinta, hanya ustadz Widjayanto dan Sabrang yang membuat orang mendengarkan materi sedangkan yang lainnya hanya sebagai selingan meski mereka berusaha untuk mengimbangi namun tetap saja tidak bisa karena ketulusan hati yang utama. saya selalu percaya sesuatu yang disampaikan dari dalam hati akan didengarkan dengan hati oleh yang mendengarkan.
jakarta, 15 Agustus 2015
Sepulang kerja, saya meluncur ke bilangan kuningan menjemput teman dekat yang juga berniat ikut menemani saya mengikuti acara Kyai Kanjeng. Berhubung karena dia mendapat tiket gratis menonton acara HUT FKM UI yang bertema " Sekarang atau 50 tahun lagi" maka sebelumnya kami beranjak ke Gedung kesenian Jakarta yang berlokasi di Jln Pasar Baru tempat diadakannya acara FKM UI.
Sesampai di sana, acaranya tidak semeriah dengan yang ada di kepala saya. Mungkin ekspektasi saya tentang acara serupa mengambil standar acara yang sering diadakan oleh mahasiswa Makassar yang ternyata berbeda. Bahkan acara tersebut saya anggap sepi dan terlalu elitis. Alumni FKM UI yang datang mayoritas yang sudah berumur. Item acaranya mungkin sedikit serupa dengan acara inaugurasi yang setiap tahun diadakan di fakultas saya namun perbedaannya mungkin spirit yang membedakan.
Kemudian untuk masalah teknis acara, ada hal lain yang mungkin terlalu monoton dan membosankan. Awal acara mungkin dibuka dengan lumayan baik oleh dua Mahasiswa FKM UI yang menyanyikan lagu duet ditambah dengan MC nya yang sedikit lucu dan tidak garing-garing amat. Item acara berikutnya yang membuat saya serasa ingin cepat beranjak, mulai dari tari-tarian yang menceritakan seorang perempuan yang dulunya tomboy berlagak laki-laki kemudian sadar dan kembali menjadi feminim. durasi waktunya terlalu lama membuat penonton bosan.
Item berikutnya malah makin membosankan lagi. acara teater dari kelompok Teater Trotoar Mahasiswa FKM UI. Untuk spriritnya memang amat sangat gamblang diceritakan dimana mereka mencoba untuk mengangkat tema masalah bidang ilmu FKM yang masih berada di bayang-bayang kedokteran. Sekali lagi durasi waktu yang terlalu lama membuat teater tersebut amat sangat garing dan lumayan membosankan alhasil teaternya belum kelar kemudian saya dan pacar saya beranjak ke Taman Ismail Marzuki mengikuti acara kyai kanjeng.
Saya dan teman dekat saya menyempatkan makan di warung pinggir jalan. Lumayan untuk mengisi perut sebelum nimbrung di acara kenduri cinta. Setelah itu, kami memasuki area TIM yang ternyata acaranya diadakan di samping parkiran. Orang sudah banyak yang lesehan sambil menikmati aneka jajanan. Kami mengambil posisi di tengah-tengah. setelah itu, ustadz Widjayanto membawakan tauziyah dan lebih banyak melontarkan banyolan sehingga membuat jamaah kenduri cinta tidak mengantuk. Setelaah itu, berturut-turut beberapa pengisi acara yang benar-benar membuat mata terpejam bahkan salah satu pemateri yang bernama andri... sepertinya ingin mengimbangi ustadz widjayanto malahan garing dan terlalu lama sehingga 2 kali diinterupsi oleh moderator.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 24:00 WIB, pemateri selanjutnya Sabrang dan ustadz subkhi. Entah kenapa ketika Sabrang (Noe Letto) yang membawakan materi, semua hadirin kembali melek dan sama sekali tidak mengantuk. Ada satu pelajaran yang paling utama dari materi sabrang bahwa segala sesuatunya jangan dilihat benar salah, sebelum menjustifikasi sesuatu maka harus dilihat secara komprehensif. dia lalu bercerita ketika mengikuti muktamar NU. Salah seorang peserta dari Madura mengobrol dengannya dan memperdengarkan lagu Indonesia raya yang sudah dirubah liriknya. "16 agustus tahun 45, besoknya hari kemerdekaan Indonesia" Sambil melagukan lirik tersebut, semua hadirin tertawa dengan melihat lagak Sabrang. Dia kemudian melanjutkan hikmah dari kejadian tersebut bahwa seandainya saja sabrang buru-buru menilai orang madura tersebut salah dalam lagu maka kemungkinan sebelum selesai liriknya, dia sudah menyalahkan namun sabrang mencoba untuk mendengarkan secara keseluruhan ternyata orang madura tersebut tidak salah. itulah pentingnya melihat kasus secara komprehensif.
Saya memutuskan untuk beranjak pulang sebelum sabrang selesai memaparkan materinya karena pacar saya sudah tidak tahan ngantuk apalagi Cak Nun ternyata tidak hadir.
Banyak hikmah yang diperoleh dari acara tersebut bahwa yang namanya kharisma tidak bisa dipelajari mungkin ketulusan hati saja yang bisa kita asah. Terlihat dari beberapa pemateri di kenduri cinta, hanya ustadz Widjayanto dan Sabrang yang membuat orang mendengarkan materi sedangkan yang lainnya hanya sebagai selingan meski mereka berusaha untuk mengimbangi namun tetap saja tidak bisa karena ketulusan hati yang utama. saya selalu percaya sesuatu yang disampaikan dari dalam hati akan didengarkan dengan hati oleh yang mendengarkan.
jakarta, 15 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment