Cerita tentang survei motor yang melelahkan. Tentang setiap pribadi manusia yang tak tertebak dari tampilan luarnya. Terkadang memang kita terlalu menjustifikasi orang dari pakaian luar padahal di dalamnnya menyimpan sejuta misteri. Aku mulai menerka bahwa mungkin saja, sekali lagi ini hanya hipotesa awal bahwa mungkin saja tampilan luar itu berkebalikan dengan hati yang tersimpan rapi di dalam diri.
08:00
Aku sudah bersiap dengan peralatan lengkap untuk melakukan survei kehilangan motor. Ada 6 lokasi survei yang akan kudatangi meski satu diantara lokasi tersebut adalah survei tutupan rumah. Aku terpaksa menjemput seseorang yang ngebet ikut survei meski kutahu bahwa ini adalah hari yang melelahkan namun dia tetap bersikeras untuk ikut.
Lokasi pertama yang kutuju adalah perumahan Graha Ifi di Jatiasih namun ternyata di dalam perjalan sekitar daerah kalimalang, seorang nasabah yang bernama Tony Priyanto Djayadi menelepon dan menanyakan jam berapa melakukan survei di rumahnya. Aku menjawab dengan tegas bahwa tidak bisa memastikan karena aku harus ke jatiasih sebelum ke rumahnya.
Tak disangka, jawaban dari Tony begini " bisakah saya diprioritaskan karena saya bukan anak SD yang hanya duduk manis di rumah sedangkan saya pun punya banyak urusan yang lain." Aku sama sekali tidak menyangka dia bertanya seperti itu di lain sisi aku sudah janji dengan ibu Evi untuk ke rumahnya terlebih dahulu. Kemudian aku jelaskan lewat telepon dengan baik-baik bahwa aku sudah janjian lebih dahulu dengan ibu Evi namun tetap saja dia berkeras bahkan kemudian dengan tidak sopannya menutup telepon tanpa menunggu aku selesai bicara.
Tony, yang notabene sudah seorang bapak-bapak sangat mendahulukan egonya atau mungkin dia merasa jago karena bekerja di "Bappenas." Setelah kupikir, tidak apalah ke rumahnya terlebih dahulu. Setelah sampai di rumahnya, aku menemui Pak RT kemudian menuju ke rumah Tony. Dia menemuiku dengan muka datar dan aku pun tidak menunjukkan ekspresi berlebih. Terlihat memang di raut mukanya yang menampakkan sedikit keangkuhan. Setelah berbincang di rumahnya, dia menceritakan bagaimana dia di kepolisian dan disuruh melengkapi kunci kontak namun dia tidak mau. Di akhir pembicaraan, aku menjelaskan bahwa sebelum proses pencairan, dia harus melengkapi surat blokir dan keterangan kehilangan namun sekali lagi dia menampakkan muka sinis. Aku hampir saja terbahak ketika aku menanyakan apakah dia membaca klausula polis dijawab dengan singkat " aku bukan sarjana hukum yang harus mengerti semua tentang klausula." Dalam hatiku, ternyata dia picik juga sedangkan dia merasa sudah high kelas dengan bekerja sebagai "PNS," ternyata pikirannya masih sebatas tentang pendikotomian masalah bidang kuliah.
Aku meninggalkan lokasi rumahnya dengan perasaan sedikit dongkol bertemu dengan nasabah seperti dia. Motor lalu kuarahkan ke rumah ibu yang berada di Tambun selatan. Seorang ibu yang bernama Yatinah. Aku menemui ibu yang amat kontras dengan sikap Tony. Keluarga yang kelihatannya sederhana namun aku disambut dengan sangat ramah. Hatiku kemudian adem lalu diantar ke lokasi toko ibu ponco tempat kehilangan motornya. Setiap perkataannya begitu menghargai sesama meski terlihat hidup sederhana sekali lagi tidak seperti bapak Tony yang mungkin merasa high kelas dan merasa ingin dihormati.
Setelah menemui dua sosok manusia yang kontras, aku menuju aren jaya dimana kehilangan kendaraan motor berada di parkiran AlfaMart. Aku menemui monica dan mengecek kejadian kehilangan tersebut, menanyakan ke pegawai toko tentang kehilangan motor. Setelah itu, barulah aku menuju ke rumah ibu Evi di Jatirasa.
Sesampai di rumah ibu Evi, tidak banyak yang aku tanyakan karena sebelumnya sudah kutanyakan bagaimana mengasuransikan rumah. Sebelumnya memang ibu Evi juga sudah klaim motornya yang hilang dan pada saat klaim, dia sedikit merasa seperti di "ping-pong" kemudian aku jelaskan bahwa prosesnya memang seperti itu. Aku sedikit was-was tentang rumah yang diasuransikan oleh ibu Evi karena dia juga sedikit ngeyel masalah uang. Biasalah orang yang berduit akan ngeyel ketika urusannya dengan duit.
Aku kemudian beranjak ke daerah cakung ketika waktu ashar sudah tiba. Meski badan sudah tidak terlalu fit namun kurasa tanggung untuk tidak kesana. Tidak terlalu sudah menemukan lokasi klinik gigi di daerah cakung. proses survei nya pun sedikit lebih mudah karena pencurian kendaraan tertangkap oleh kamera CCTV klinik.
Kami baru pulang ketika waktu ashar sudah menua. Aku mengantar seseorang ke kosnya lalu kemudian pulang ke kosku memberi hak tubuhku untuk istirahat. Banyak hikmah yang kuperoleh hari ini tentang orang-orang yang merasa harus dihormati dan tentang orang-orang yang merasa harus menghormati orang lain. Alangkah kontrasnya hidup manusia. kita seharusnya tidak memandang orang lain dari tampilan luarnya karena seringkali menipu.
Rawamangun. 230815
Aku kemudian beranjak ke daerah cakung ketika waktu ashar sudah tiba. Meski badan sudah tidak terlalu fit namun kurasa tanggung untuk tidak kesana. Tidak terlalu sudah menemukan lokasi klinik gigi di daerah cakung. proses survei nya pun sedikit lebih mudah karena pencurian kendaraan tertangkap oleh kamera CCTV klinik.
Kami baru pulang ketika waktu ashar sudah menua. Aku mengantar seseorang ke kosnya lalu kemudian pulang ke kosku memberi hak tubuhku untuk istirahat. Banyak hikmah yang kuperoleh hari ini tentang orang-orang yang merasa harus dihormati dan tentang orang-orang yang merasa harus menghormati orang lain. Alangkah kontrasnya hidup manusia. kita seharusnya tidak memandang orang lain dari tampilan luarnya karena seringkali menipu.
Rawamangun. 230815
No comments:
Post a Comment