Awal pekan lalu tepatnya hari senin (29/8/2022), sesaat setelah jam kantor dimulai mungkin sekitar jam setengah 9, saya dipanggil pimpinan ke ruangannya. Saya mengira bahwa panggilan tersebut hanya sekadar mendiskusikan soal pekerjaan harian yang masih pending dan menanyakan seputar progress pekerjaan yang akan dilakukan karena mengingat saat itu akhir bulan dan biasanya, 5 hari di akhir bulan, lumayan banyak laporan yang harus diselesaikan.
Perkiraan saya salah karena sepersekian detik setelah duduk di depannya, pertanyaannya menjurus ke persoalan kesiapan saya untuk dimutasi ke daerah lain. Sebuah persoalan yang pada dasarnya sangat umum dalam dunia pekerjaan dan tentunya semua karyawan pernah merasakan hal yang sama.
Mengapa saya menulis ini kalau ternyata merupakan fenomena lazim? oleh sebab ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan setidaknya menurutku dan sudah sejak lama saya pikirkan.
Pertama saya ditanya keluarga berdomisili di mana dan apakah isteri saya bekerja? saya menjawab dengan sedikit diplomatis namun menurutku jawaban yang memang seharusnya saya lontarkan.
"Isteri saya bekerja di kota yang sama dengan saya namun tentunya saya sama sekali tidak pernah menjadikan keluarga sebagai alasan untuk menolak kebijakan Perusahaan untuk melakukan mutasi, pertimbangan keluarga murni pertimbangan pribadi saya dan seharusnya bukan merupakan pertimbangan Perusahaan untuk menerapkan kebijakan mutasi" Saya benar-benar mengatakan hal tersebut di depan pimpinan tanpa rasa khawatir.
Kemudian pimpinan saya melanjutkan dengan menarik kesimpulan "berarti saya menyimpulkan sampeyan siap? katanya secara singkat
"pernyataan saya bukan sebagai jawaban kesiapan namun sebuah sikap bahwa Perusahaan punya pertimbangan sendiri namun saya juga punya preferensi pribadi dalam keputusan saya. siap tidaknya saya akan saya pertimbangan ketika sudah ada keputusan dari Perusahaan di mana saya ditempatkan. saya sama sekali tidak mau mengintervensi keputusan Perusahaan karena toh dulu waktu saya mendaftar di Perusahaan ini, tidak ada yang menyuruh saya."
Saya lumayan sedikit lebih lebih karena telah mengungkap prinsip saya yang selama ini saya dianggap menolak karena pertimbangan keluarga.
setelah itu, pimpinan saya kemudian melanjutkan dengan motivasi yang umum nan klise karena sudah sangat sering didengar misalnya untuk mencapai sesuatu harus berubah dan pada dasarnya perubahan itu seringkali tidak mengenakkan.
Saya mengamini pernyataannya namun dalam hati saya juga berkata bahwa semua orang punya preferensi masing-masing dan persepsi terhadap perubahan tersebut. ada banyak prefensi untuk menyetujui keputusan Perusahaan, mungkin salah satunya adalah keluarga namun selain itu, ada banyak prinsip yang setiap orang anut.
Pada dasarnya, saya prefer pada prinsip Perusahaan yang tidak terlalu banyak pertimbangan personal karyawannya untuk menerapkan keputusan. Lebih baik menganut sistem "take it or leave it.
Mengapa demikian?
Karena saya percaya bahwa basa basi tentang sebuah perusahaan yang menerapkan sistem kekeluargaan adalah sebuah slogan yang usang dan terkadang melenakan karena saya hakkul yakin bahwa setiap Perusahaan itu punya tujuan akhir yaitu profit. budaya perusahaan atau etika dan segala tetek bengek yang dibangun di dalamnya semuanya bermuara pada satu kata,
"PROFIT."
Saya mengenal banyak karyawan di Perusahaan ini yang awalnya saya anggap mereka punya kapasitas kecerdasaan di atas karyawan yang lain dan loyal terhadap Perusahaan namun pada akhirnya mereka juga resign karena berbagai alasan dan salah satunya karena prinsip, tidak setuju dengan manajemen yang dianggap tidak mendengar aspirasi mereka.
Jika mereka yang sudah punya posisi dan dikenal cerdas, bahkan tidak didengar oleh Manajemen, apalagi dengan saya yang cuma karyawan tingkat paling rendah. itulah mengapa saya lebih suka dengan kebijakan take it or leave it. Perusahaan mungkin memperhatikanmu namun tidak benar-benar memperhatikanmu sebagai seorang pribadi namun sebagai seorang yang dianggap mungkin bisa menjadi tools untuk mencapai goals yaitu profit.
Tidak salah memang karena logika Perusahaan itu dalam sistem kapitalisme memang mencapai keuntungan dan menekan biaya. semua source termasuk SDM hanyalah merupakan instrumen untuk mencapai tujuan. Tidak heran jika sebagai instrumen, karyawan diharuskan untuk menunduk dan patuh terhadap otoritas Perusahaan dan harus patuh apapun keputusan Perusahaan termasuk mutasi bahkan ke daerah yang cukup jauh. Jika instrumen itu dianggap tidak jalan, maka akan dikeluarkan dari lingkup organisasi.
Kemudian pertanyaannya, siapa yang punya pengaruh dalam Perusahaan?
Tentunya manajemen yaitu karyawan yang menduduki jabatan tertentu misalnya kepala divisi dan struktur di atasnya. kenapa saya tidak menyebut kepala bagian? karena posisi tersebut masih lemah dan terkadang tidak cukup kuat untuk mempengaruhi keputusan Perusahaan.
Hakekat Perusahaan menurut persepsi saya tersebut menjadi dasar bagi saya untuk belajar memegang prinsip bahwa keputusan tetap ada di tangan saya. Perusahaan adalah lembaga yang diset up untuk mengejar profit sehingga jika memang tidak sejalan maka saya punya kuasa untuk hidupku.
Kenapa saya masih ada di sini? jawaban klisenya adalah karena pertimbangan finansial. Saya masih butuh pendapatan sebagai sebuah wujud tanggung jawab saya bagi keluarga namun sekali lagi saya berharap bahwa ini tidak menjadikan saya kerdil di dunia yang hanya memikirkan profit.
Saya selalu menolak ditempatkan di bidang penjualan karena saya selalu membayangkan, betapa mengerikannya hidup yang hanya dihabiskan untuk memikirkan target penjualan hari demi hari bahkan mungkin tidak tersisa waktu untuk memikirkan hidup ini sebenarnya untuk apa?
Materi memang sangat penting namun saya tidak membayangkan sebuah hidup yang didominasi oleh pikiran terhadap materi. semua energi dihabiskan untuk memenuhi pencapaian materi.
Sangat mengerikan bagiku namun entah bagi orang lain.
5 Sept 2022