Pagi kemarin sebagaimana biasanya, saya duduk di depan komputer sebelum memulai rutinitas kantor sambil memegang hp dan melihat satu persatu update status wa teman-teman. setelah beberapa status teman terlewati, samar-samar saya melihat status teman kampus yang mengcapture tulisan twitter, setelah saya baca dengan seksama, hati saya langsung terkesiap. dia mengupdate status tentang wafatnya mantan ketua Muhammadiyah sekaligus seorang bapak bangsa yang terkenal dengan kesederhanaannya, Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif.
Perlahan serasa ada butiran air yang mengalir dari sudut mata saya. Saya terisak dalam diam mendengar wafatnya salah satu tokoh yang akhir-akhir ini saya ikut perjalanan hidupnya, seingat saya ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, beliau mengeluarkan statement yang intinya menganggap bahwa Ahok tidak sedang melakukan penistaan agama. kelompok keagamaan yang tidak sepakat dengan pandangan beliau kemudian melancarkan berbagai cacian yang saya sendiri tidak mampu membaca maupun mendengarkan bahkan yang lebih sedih karena beberapa teman saya di kantor pun melakukan hal yang sama.
Bagaimana rasanya mendengar seorang figur Buya Syafii yang dicaci setiap hari oleh teman yang harus ketemu tiap harinya. Saat itu saya sama sekali tidak berarguman bahkan cenderung diam sekalipun diam saya juga dianggap sebagai partisipan yang tidak pro terhadap mereka. Teman-teman saya yang dulu ikut merisak Buya Syafii tidak pernah benar-benar menjadi teman ideologi saya, bahkan hanya sekedarnya sebagai teman biasa untuk menyambung silaturrahim.
Begitulah caci maki yang diterima oleh Buya Syafii karena berpendapat sesuai kapasitas keilmuannya sedangkan orang-orang yang mencaci pun mungkin sama sekali tidak konsisten dalam mencari landasan ilmu untuk sekedar menyanggah apa yang disampaikan oleh Buya.
Seiring berjalannya waktu, kasus tersebut kemudian mereda dan sorotan terhadap Buya Syafii perlahan ikut mereda namun demikian, Buya Syafii tetaplah menjadi seorang panutan. Beberapa kali dia diberitakan naik KRL tanpa dibantu oleh siapapun, mengendarai sepeda ontel, dan rutinitas harian beliau yang sama sekali jauh dari kebiasaan manusia yang mempunyai privilege sedangkan kita ketahui bahwa sebagai mantan pemimpin tertinggi Muhammadiyah, tentunya beliau bisa mendapatkan kemudahan dalam hal apapun, namun beliau memilih untuk menjadi manusia pada umumnya dan mencampakkan semua privilege yang bisa diperoleh.
Saya tidak terlalu banyak membaca karya beliau namun satu buku karangan beliau yang sangat berkesan adalah buku yang berjudul "Krisis Arab dan Masa Depan Islam." selain karena tentunya buku tersebuat memberikan pengetahuan tentang pertanyaan orang-orang tentang geopolitik Timur Tengah, buku tersebut juga menjadi rujukan primer saya dalam menyusun tugas akhir tahun lalu. Salah satu argumen beliau dalam bukunya yang saya kutip dalam tugas akhir saya adalah;
"Ada tiga bentuk malapetaka yang pernah dan sedang menimpa dunia Arab; perang saudara, serbuan pasukan luar dan gabungan antara keduanya"
Beberapa tahun belakang, saya seringkali mengkhawatirkan jika para bapak bangsa sudah berpulang. ada kekhawatiran yang tersimpan di benak saya bahwa akan muncul banyak orang yang merisak kedamaian karena tidak ada lagi figur yang disegani. Tokoh yang masih tersisa di benak saya seperti Prof Quraish Shihab, Gus Mus, Cak Nun dan mungkin adalah tokoh bapak bangsa lain yang tidak saya ikuti perjalanan hidupnya.
Buya Syafii telah berpulang, kesahajaan yang bernama Buya telah pergi meninggalkan serpihan memori bagi semua orang. Tidak terlihat lagi seorang mantan pimpinan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang naik KRL sendirian, naik ontel dan rutinitas harian yang umum dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada lagi tokoh besar yang tetap mengajar pada tingkat S1 sementara professor lain gengsi untuk melakukannya. Buya pulang di hari Jum'at yang umumnya dikenal sebagai hari baik oleh umat Islam.
Demikianlah kematian yang tentu saja menghampiri siapa pun. Kematian yang tentunya bukan sebagai sebuah kepunahan namun sebuah perjalanan pulang setelah bergelut dengan duniawi yang melenakan.
27 Mei 2022
No comments:
Post a Comment