July 15, 2022

Ketika Berjalan di depan Kampus

Saya melupakan banyak prinsip yang selama ini kupeluk erat dalam perjalananku. salah satunya adalah "semua akan baik baik saja ketika niat kita baik." Saya tidak mengatahui dengan pasti kenapa semua keyakinan itu sirna dikala saya sebenarnya baik-baik saja. 

Salah satunya karena tawaran kemewahan yang tersaji setiap hari di depanku. Kemewahan yang mewujud dalam berbagai perlombaan untuk memiliki dan untuk dipamerkan karena setiap kali saya merenungkan, sebagaian besar dari apa yang menjadi keinginan pada dasarnya tidak benar-benar saya butuhkan, hanya sekedar untuk bisa menjadi seperti yang lain.

Seringkali saya memperoleh sesuatu yang ternyata tidak bermanfaat dan hanya berakhir pada kepuasan jasmani. Sejatinya, kemewahan tersebut hanya tirai yang memisahkan kita dari diri sejatinya. Tirai yang mungkin saja mudah untuk disingkap dan seringkali menjadi begitu sulit. Kuncinya ada di diri yang harus terus berusaha memantapkan hati bahwa sesuatu yang terlihat dan menawarkan kemewahan seringkali bencana yang menghancurkan nurani melemahkan hati.

Jika hati sudah lemah dan tidak mempunyai sandaran yang sejatinya, maka hidup menjadi gersang dan seperti meneguk air laut yang sama sekali tidak meredakan dahaga setitik pun. Dunia akan terlihat seperti sebuah perlombaan demi perlombaan yang harus dimenangkan namun ketika sudah digenggam, dia menjadi dan mengharuskan kita untuk kembali mengejarnya. Pada akhirnya, kita akan berada di sebuah titik yang mempertemukan kita dengan tanduk kehidupan dan tidak bisa mundur untuk mengulang waktu yang dihabiskan untuk menghamba terhadap kepuasan jasmani.

Lalu seperti apa kemudian yang seharusnya dijalani. Setidaknya luangkan waktu untuk merenungi setiap jejak yang ditapaki, apakah sudah berada di sebuah jalan yang akan membawa kita pada perjalanan yang tidak akan disesali di ujung waktu atau mungkin kita sedang menapaki jalan berbatu yang akan kita tangisi di kemudian hari.

Hati selalu menawarkan ruang dan waktu untuk bercengkerama. tinggal bagaimana kita menyambutnya untuk meluruskan setiap langkah kaki. Jika semua hal yang indrawi menjadi ukuran kesenangan maka semua hanya akan berakhir pada benda yang tak berhati. 

Seminggu ini, saya melewati dua kampus besar di daerah Depok kemudian kampus di ujung perbatasan Jakarta. Saya menikmati pemandangan mahasiswa-mahasiswi dengan berbagai kegiatan menjelang sore hari. Beberapa dari mereka sedang main basket, latihan karate dan olahraga lainnya serta sebagian dari mereka bercengkerama di bangku taman. 

Pemandangan yang melemparkan saya pada situasi yang sama beberapa tahun yang lalu ketika masih kuliah. Saya membayangkan bahwa salah satu momen menyenangkan dalam hidupku adalah masa kuliah yang tidak terperdaya dengan kemewahan duniawi. Saya membayangkan bahwa hidupku sedang berada di fase ketika saya ingin kembali memeluk erat kondisi yang tidak mengharuskan saya untuk terlalu keras pada diri mencari kemewahan.

Kemudian saya membayangkan bahwa saya masih memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan kembali duniaku di dunia yang penuh dengan hal-hal memungkinkan saya menegakkan prinsipku. Menurunkan tensi kehidupan yang digerus dengan industri sampai melupakan hal-hal fundamental yang seharusnya saya sanjung.

Kesempatan itu akan datang dan saya akan menjalani hari-hariku dalam dunia yang saya nikmati, belajar dan terus belajar dalam kehidupan pendidikan dan tidak menghempaskan prinsipku dalam selokan kehidupan yang terlalu pekat.

15 7 22

No comments: