Tiga jam perjalanan di atas Pesawat benar-benar meremukkan badanku apatahlagi Pesawat Batik Air yang biasanya menyediakan media tontonan namun Pesawat ini ternyata tidak memiliki fasilitas tv kecil yang dilekatkan pada kursi depan penumpang. untungnya saya sudah mendownload film yang saya simpan di HP sehingga ada hiburan membunuh waktu di Pesawat. sebenarnya saya juga membawa buku namun entah kenapa, akhir-akhir ini, saya begitu malas menyelami kata demi kata. saya sedang gandrung menonton film berjam-jam lamanya.
Sesaat sebelum mendarat di kota yang berbatasan dengan Timur Leste, saya sempat mengambil vidio dari atas dan berpikiran bahwa kota ini masih sejuk karena ditumbuhi oleh pepohonan yang rindang meski pada akhirnya saya mendapat cerita bahwa sebenarnya daerah ini kering hanya saja sekarang musim hujan sehingga sedikit hijau. wilayah ini didominasi oleh karang dan bebatuan yang keras. hasil pertanian tidak terlalu maksimal di daerah ini.
Tak terasa, saya kembali menginjakkan kaki di bagian lagi negeri ini. saya merasa bahwa hari demi hari, kaki saya sudah melangkah semakin jauh. saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya akan menjejaki banyak tempat di negeri ini namun kenyataannya, saya diberi kesempatan untuk lebih melebarkan pandangan saya. sejatinya saya harusnya mengambil langkah yang lebih berani untuk meninggalkan jejak di belahan bumi lain selain negeri ini semata-mata demi melihat bahwa luasnya hidup ini maka pandangan kita seharusnya jangan terlalu picik.
Wilayah yang kembali kujejak ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah di bagian timur yang sebelumnya jarang mendapatkan perhatian. entah kenapa, saya selalu merasa pulang kampung setiap kali bertandang ke wilayah yang masuk kategori bagian timur, mulai dari Papua, Sulawesi, NTT, NTB dan wilayah timur lainnya. saya merasa ada kesamaan diantara kami yang mengalami diskriminasi dan dianggap kasta kedua di negeri ini. saya suka penuturan Ari Kriting yang pernah membawakan materi stand up terkait orang timur yang selalu dianggap kurang pintar, kuat berkelahi dan masalah lainnya yang akrab dengan kelas bawah.
Daerah ini lumayan kering. tanahnya dari tekstur bebatuan yang keras meski pada salah satu penelitian yang belum saya verifikasi bahwa meskipun kontur tanah di wilayah ini batuan karang namun ada rongga di bawah yang menyebabkan wilayah ini rawan gempa.
Saya sudah empat hari di kota ini dan merasa bahwa kota ini layaknya seluas kabupaten di kota lain di Jawa. bisa ditelusuri kurang lebih sejam. hal yang paling sulit menurut saya adalah mencari warung makan. mayoritas masyarakat di daerah ini mengkonsumsi daging babi sehingga di beberapa titik jalan, berdiri warung yang menyediakan daging babi sehingga saya harus selektif untuk melihat warung yang tidak menyediakan daging yang dilarang oleh agama yang saya anut. alhasil alternatif paling aman adalah mencari resto di mall misal KFC, Solaria, CFC, Pizza Hut, D'Cost dan restoran sejenisnya yang bisa diyakini tidak menyediakan daging babi.
Spot untuk mengabadikan jejak di wilayah ini juga terbilang jarang. tidak ditemukan taman yang biasanya disediakan di tengah kota sebagai salah satu simbol khas suatu daerah bahkan daerah ini memiliki pantai namun tidak dikelola dengan baik. alhasil saya terpaksa mengabadikan jejak digital di kota ini dengan mengambil gambar berlatar kantor Gubernur yang didisain seperti alat musik Sasando.
Sebenarnya saya sangat tertarik ingin mengunjungi daerah di perbatasan dengan Timur Leste namun menurut informasi bahwa butuh waktu paling cepat 8 jam ke Atambua dengan medan jalanan yang bisa membuat kepala pusing berminggu-minggu.
Setidaknya saya sudah menghirup udara di daerah yang baru dan meminum airnya sehingga saya bisa lebih respek pada setiap perbedaan yang kutemui karena jejakku sudah jauh dan seharusnya paradigmaku terhadap perbedaan seharusnya sejauh langkahku sudah berjalan.
Hotel Sylvia Premier, 17 1 19
Tak terasa, saya kembali menginjakkan kaki di bagian lagi negeri ini. saya merasa bahwa hari demi hari, kaki saya sudah melangkah semakin jauh. saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya akan menjejaki banyak tempat di negeri ini namun kenyataannya, saya diberi kesempatan untuk lebih melebarkan pandangan saya. sejatinya saya harusnya mengambil langkah yang lebih berani untuk meninggalkan jejak di belahan bumi lain selain negeri ini semata-mata demi melihat bahwa luasnya hidup ini maka pandangan kita seharusnya jangan terlalu picik.
Wilayah yang kembali kujejak ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah di bagian timur yang sebelumnya jarang mendapatkan perhatian. entah kenapa, saya selalu merasa pulang kampung setiap kali bertandang ke wilayah yang masuk kategori bagian timur, mulai dari Papua, Sulawesi, NTT, NTB dan wilayah timur lainnya. saya merasa ada kesamaan diantara kami yang mengalami diskriminasi dan dianggap kasta kedua di negeri ini. saya suka penuturan Ari Kriting yang pernah membawakan materi stand up terkait orang timur yang selalu dianggap kurang pintar, kuat berkelahi dan masalah lainnya yang akrab dengan kelas bawah.
Daerah ini lumayan kering. tanahnya dari tekstur bebatuan yang keras meski pada salah satu penelitian yang belum saya verifikasi bahwa meskipun kontur tanah di wilayah ini batuan karang namun ada rongga di bawah yang menyebabkan wilayah ini rawan gempa.
Saya sudah empat hari di kota ini dan merasa bahwa kota ini layaknya seluas kabupaten di kota lain di Jawa. bisa ditelusuri kurang lebih sejam. hal yang paling sulit menurut saya adalah mencari warung makan. mayoritas masyarakat di daerah ini mengkonsumsi daging babi sehingga di beberapa titik jalan, berdiri warung yang menyediakan daging babi sehingga saya harus selektif untuk melihat warung yang tidak menyediakan daging yang dilarang oleh agama yang saya anut. alhasil alternatif paling aman adalah mencari resto di mall misal KFC, Solaria, CFC, Pizza Hut, D'Cost dan restoran sejenisnya yang bisa diyakini tidak menyediakan daging babi.
Spot untuk mengabadikan jejak di wilayah ini juga terbilang jarang. tidak ditemukan taman yang biasanya disediakan di tengah kota sebagai salah satu simbol khas suatu daerah bahkan daerah ini memiliki pantai namun tidak dikelola dengan baik. alhasil saya terpaksa mengabadikan jejak digital di kota ini dengan mengambil gambar berlatar kantor Gubernur yang didisain seperti alat musik Sasando.
Sebenarnya saya sangat tertarik ingin mengunjungi daerah di perbatasan dengan Timur Leste namun menurut informasi bahwa butuh waktu paling cepat 8 jam ke Atambua dengan medan jalanan yang bisa membuat kepala pusing berminggu-minggu.
Setidaknya saya sudah menghirup udara di daerah yang baru dan meminum airnya sehingga saya bisa lebih respek pada setiap perbedaan yang kutemui karena jejakku sudah jauh dan seharusnya paradigmaku terhadap perbedaan seharusnya sejauh langkahku sudah berjalan.
Hotel Sylvia Premier, 17 1 19