Merantau seperti menghitung hari dalam setahun untuk mudik, menandai hari libur dan hari berburu tiket. Bukan tak mungkin bahwa momen mudik inilah yang menjadi kekuatan bagi para perantau untuk tetap bertahan di tanah rantau. Bagaimana tidak, hidup di kampung halaman beribu kali lipat menyenangkan dibandingkan dengan harus hidup di rantau namun urusan perut seringkali memaksa seseorang untuk tetap bertahanan.
Saya dan keluarga sudah berburu tiket 4 bulan sebelum momen mudik. ini harus dilakukan untuk mengantisipasi melonjaknya harga tiket menjelang mudik. dugaan kami benar. saat membeli tiket pesawat 4 bulan lalu, kami masih bisa mendapatkan tiket seharga 700 ribu an namun beberapa hari menjelang mudik, harga tiket pesawat yang sama sudah mencapai 2 juta.
Mudik serupa oase bagi perantau. dia datang sekali dalam setahun membasuh dahaga perantau untuk memulihkan energi yang habis dimakan duniawi.
Terlalu banyak cerita di luar nalar tentang mudik. bagaimana pemudik berdesak-desakan di kapal laut, di mobil maupun di pesawat dengan biaya yang tidak murah. namun apakah itu mengurungkan niat para pemudik? Tidak, sama sekali tidak malah bahkan sebaliknya, semua kisah tersebut menjadi lelucon di kemudian hari.
Mudik memang secara indrawi hanya layaknya para perantau yang pulang kampung melepas kangen, melintasi kembali serpihan masa lalu, namun lebih dari itu, mudik punya sisi spritual. pulang memeluk orang tua, melepas energi negatif dan mengganti dengan energi positif untuk selanjutnya mengarungi kembali kehidupan rantau yang durjana.
No comments:
Post a Comment