November 20, 2018

#OTS 14

Akhirnya sampai juga di ujung barat Negeri ini. sebelumnya di awal tahun ini, saya sudah mendaratkan kaki saya di pulau paling timur. sensasinya bahwa negeri ini sudah kujejak dari timur ke barat. saya bisa membandingkan bahwa tidak ada perbedaan mencolok yang harus dipertentangkan di setiap daerah yang berbeda, kita satu negeri yang seharusnya menjaga persaudaraan.

tiga jam perjalanan via udara membawaku dari Cengkareng ke bandara Sultan Iskandar Muda. saya melihat bandara di kota ini jauh lebih kecil daripada bandara di kota asalku. saya menyewa taxi bandara ke hotel di pinggir kota. sekitar satu jam perjalanan menelusuri pinggir kota, pemandangan sudah terlihat lebih lengang karena malam sudah menjelang. saya lebih banyak membunuh waktu perjalanan sambil mengobrol dengan sang sopir taxi mengenai kejadian tsunami beberapa tahun lalu. dia bercerita banyak tentang tsunami yang memporakporandakan kota serambi mekah. sambil mengingat masa kelam, dia bercerita bahwa tempat tinggalnya tidak terkena dampak bencana dan pada saat tsunami, dia sedang berada di Bandara. sesekali obrolan kami kuselipkan terkait sepak terjang GAM di masa lalu.

Ada dua hal yang membuat saya sangat tertarik ketika memasuki kota ini, pertama tentunya fenomena bencana tsunami yang maha dahsyat dan menarik perhatian seluruh dunia dan yang kedua adalah perjalanan panjang konflik GAM yang ingin melepaskan diri dari NKRI.

Pertama saya akan bercerita tentang tsunami. saya menyempatkan mengunjungi beberapa spot yang memang sangat kental dengan sejarah bencana tsunami diantaranya monumen tsunami yang dibangun menyerupai kapal. memasuki monumen tersebut, kita seolah berada saat kejadian, suara air yang berdengung dengan lampu yang dimatikan dan desain tetesan air yang menambah suasana menjadi lebih menyeramkan. memasuki ruangan demi ruangan, kengerian benar-benar sangat terasa dengan begitu banyaknya nama korban yang tercatat itu pun yang bisa diindentifikasi. ada begitu banyak cerita yang bertebaran. spot selanjutnya yang saya kunjungi adalah kapal apung milik PLTD. kapal yang terdampar di tengah kota ini sudah dijadikan monumen dan pengunjung bisa memasuki ruangan kapal yang sudah didesain dengan dokumentasi pasca bencana. tidak ketinggalan juga mengunjungi masjid Baiturrahman. Masjid yang sangat fenomenal karena pada saat kejadian, masjid tersebut tidak terdampak bencana tsunami sementara di sekitarnya sudah hancur lebur.

kengerian tsunami di tahun 2004 memang tak terkira. salah seorang sopir grab yang kutumpangi bercerita bahwa anak isterinya menjadi korban. wajahnya begitu sedih mengingat kejadian tersebut. sebelum kembali ke kota, dia mengungsi selama 1 tahun.

Selain fenomena tsunami, saya juga banyak memungut cerita tentang GAM. konflik yang berkepanjangan di wilayah ini yang membuat trauma. ada yang menarik dari benang merah antara bencana tsunami dengan konfik GAM. jadi salah seorang guide yang membawa turis dari Malaysia di museum tsunami menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari tsunami karena konflik dengan GAM berakhir. dia sempat mengisahkan bahwa ketika konflik dengan GAM, kengerian yang dimunculkan lebih parah karena seringkali setiap pagi, warga menemukan mayat yang dibunuh dan ditaruh begitu saja di depan rumah. setelah tsunami, konflik sudah aman dan wilayah ini berangsur damai meskipun beberapa kali terjadi riak kecil dari sisa para combatan GAM.

Saya sempat diajak oleh rekan kerja makan siang di perkampungan yang lumayan sudah agak jauh dari kota. menurutnya bahwa perkampungan tersebut adalah salah satu basis dari gerakan GAM. wliayahnya masih tergolong hutan dan jalananan masih dalam tahapan pengaspalan. saya berpikir bahwa pastiny beberapa tahun silam, daerah ini menjadi daerah yang menyeramkan.

Saya menyempatkan juga bertandang ke pulau ujung paling barat, titik 0. spot yang sangat ingin saya kunjungi karena merupakan tepian bagian paling barat negeri ini. butuh waktu sekitar 45 menit menyeberang via kapal Feri cepat untuk menjangkau pulau ini, kemudian dari pelabuhan sekitar dua jam menuju titik 0. di Senja yang mulai menua saat itu, saya memandangi samudera yang membatasi negeri ini.

oh iya, ada fenomena menarik di kota ini. kita tidak akan menjumpai pusat belanja Mall dan Bioskop, sama sekali tidak ada namun jika ingin warung kopi maka kota ini adalah surganya. setiap deretan jalanan dipenuhi oleh warung kopi dan anehnya, setiap warung kopi tersebut dipenuhi oleh pengunjung, aneh kan? ya begitulah adanya.

November 18

No comments: