January 5, 2023
Divorce (5)
January 4, 2023
Kantin Kampus (4)
Hari ini saya memutuskan untuk mengambil cuti karena sisa jatah cuti tahunan masih sekitar lima belas hari. Sebenarnya saya memutuskan cuti karena ada janji dengan teman kuliah yang akan mengajukan jadwal sidang. Dia teman yang lumayan banyak membantu ketika saya menghadapi ujian akhir sehingga salah satu bentuk balas budi saya adalah menemaninya menghadap dosen pembimbing.
Selain itu, saya juga janjian dengan seorang teman dari pulau yang sama. Saya belum pernah bertatap muka dengannya karena interaksi kami selama ini melalui diskusi buku online. Dia salah satu anggota organisasi yang dulunya saya pernah menjadi ketua harian namun dia bergabung setelah satu sudah merantau, alhasil kami belum sempat bertatap muka.
Saya berangkat ke kampus setelah menikmati segelas kopi hitam dan beberapa potong kue. Selayaknya kebiasaan di pagi hari, saya lumayan sulit beraktivitas jika belum menyeruput segelas kopi hitam. Saya tiba di kampus lebih dulu karena teman saya masih harus mengurus dokumen untuk urusan sidang.
Perpustakaan adalah spot paling asik untuk membunuh waktu di kampus jika tidak ada kegiatan. Selain bisa menikmati aneka buku, juga bisa menenangkan diri karena suasana perpustakaan pada umumnya hening. Semua pengunjung larut dalam samudera ide yang tertara dalam setiap lembaran buku.
Ternyata saya menunggu cukup lama karena teman saya baru tiba dua jam kemudian. Kami memutuskan untuk mengobrol di kantin samping fakultas. Obrolan kami tenggelam dalam suara obrolan mahasiswa lain yang sedang bercengkerama di kampus karena sedang jam istirahat. Kami bertiga karena salah seorang teman yang juga sudah wisuda, datang memberikan motivasi.
Saya selalu menikmati suasana di kampus bahkan sejak kuliah di kampus terdahulu. Entah kenapa setiap berada di lingkungan kampus, ada perasaan bahagia dan tenang memandang semua sudut kampus baik gerembolan mahasiswa maupun gedung-gedung kampus, entah itu perpustakaan, ruang kelas, fakultas bahkan kantin sekalipun.
Butuh waktu sekitar sejam kemudian dosen pembimbing teman saya muncul di kantin. Dia disuruh menunggu sampai selesai makan siang. Setelah agak lama menunggu, kami menyusulnya ke ruang fakultas, ternyata dia sedang bercengkerama dengan koleganya. Teman saya disuruh masuk ruangan kemudian saya juga pamit karena sudah janjian dengan teman lain yang dari kampung.
Saya menembus hujan deras menuju cikini karena sudah terlanjur janjian dengan teman yang dari kampung dan dia sudah menunggu di sana. Hujan yang cukup deras memaksaku mencopot sepatu supaya tidak basah. Tas kecil saya simpan di dalam baju karena berhubungan saya hanya punya jas hujan plastik tanpa celana.
Setiba di cikini, saya mengiriminya pesan melalui wa untuk janjian di perpustakaan. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung namun tidak ada perasaan canggung karena kami sudah terbiasa mengobrol via zoom.
Ada banyak hal yang kami perbincangkan termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang remeh namun saya baru mengetahui dari ceritanya bahwa salah satu teman karib saya di kota asal, ternyata sudah cerai dengan isterinya empat tahun lalu. Dia cerai tidak lama setelah anak bungsunya lahir.
Saya benar-benar kaget mendengar beritanya karena sepengetahuan saya, dia salah seorang kawan yang sangat baik dan rendah hati meskipun dikenal sebagai salah satu orang yang cerdas. Saya ingat sepuluh tahun lalu ketika anak sulungnya lahir, dia sedang berada di luar negeri bahkan kelahiran anaknya saya abadikan di blog ini.
Mendengar cerita perceraian teman saya, sejurus kemudian muncul berbagai kesimpulan di kepala saya bahwa memang hidup tidak bisa diukur secara kalkulatif pada setiap orang. Semua orang punya persoalan masing-masing. Ada orang yang mampu menyimpan masalahnya namun ada pula orang yang sangat ekspresif ketika punya masalah. Hidup adalah pertarungan masing-masing manusia untuk mencapai garis finis. Kita tidak bisa memaksakan standar kita dengan kehidupan orang lain.
#4 2023
January 3, 2023
Sentimental (3)
This week is going to be one of the most sentimental weeks of my life. How could be, early next week, I will start my new job as lecturer and move to the other cities which require me to be away from my wife and child. A condition that was previously unimaginable would leave my son, who was going through his childhood. I can only go home on weekend.
This decision must have gone through careful and long consideration. The decision I made with the consent of my wife for the sake of a dream and a better possible future. There is no result of life that is not fought for and no struggle that does not result in at least some.
This afternoon while at the office, my wife sent me a photo of my son who was at school. His innocent face is able to make my heart touched because imagining that soon I can only kiss him once a week. It very a sentimental moment. I came in to rest room and started crying.
These challenges did not make me down but on the contrary, strengthened my desire to be even more active for them. It's a cliché to say that but that's how it is, they are the reason to survive in the hustle and bustle of this city, in the crazy world.
While on the motorbike from my office to home, my wife confirmed that she intended to move to a city that was a little quieter. He named two cities that he thought were pretty peaceful and they weren't cities I would be going to any minute. This means that I must have a big picture for the future to make my dreams come true, at least I have tried.
Arriving home, I found my son who was crying for some reason. I took him out to buy ice cream. I really want to leave a good impression before I leave him for another city.
I ask him a more times to know what his thinking about my decision. He said okay give me a permission move to another city for the future. He is trying to understand my decision even I don't really know that he understand what will happen or not in the next.
#3 2023
January 2, 2023
Senin Terakhir (2)
January 1, 2023
First Step (1)
I woke up in early morning exactly 02.30. I went to pick up my mother-in-law. She arrived from village by train and get off at senen. There was something trouble because of rain so that the train came late.
I had to wait about an hour before the train came. The time for the dawn prayer was approaching when my mother-in-laws got off the station, so we decided to took a pray before going home. Shortly before finishing the prayer, it rained quite heavily, forcing us to wait a while on the mosque's porch. Several train passengers who had just arrived were seen taking a rest in the mosque.
It's about 15 minutes passed, we decided to go home because the rain started to let up even though there was still a drizzle that was quite wet. There was a raincoat on the motorbike seat but because there was only one so my mother-in-law wore it while I was wearing a jacket made of thick material so that it held the rain water pretty well if it was just a drizzle.
The chilly dawn wind blows to the bone with the weather that is cold because of the drizzle that doesn't stop. Along the way, I put close attention to see if there were any potholes because the roads were quite slippery, especially because I was riding with my mother-in-law who are so old already. Several times it was hit by water splashes from speeding vehicles.
It took about an hour to get home. The distance from the house to Senen Station is quite far. The distance is one hour in quiet conditions, for example at night, but if it is during the day when the roads are busy, it is likely that the distance can take about 2 hours.
When I got home, I decided to continue sleeping because it was still raining. In my opinion, the most pleasant sleep is in the morning when it is raining. Such as like romantic condition that accompanies and makes sleep more soundly. I woke up about two hours later to continue drinking my coffee with some slices of toast.
At noon, we went out to deliver packages as well as buy the food for lunch. When passing through the road in front of the Ragunan Zoo, We can see vehicles waiting in line for quite a long time, maybe because today is the last day of school holidays, that's why most of the parents took their children spending time in public sphere like Ragunan. Some views that attract attention are seen passing by parents carrying their children or holding their hands towards the entrance to Ragunan.
The first day of the year, there is nothing special other than repeating the routines of the previous days. The euphoria of humans celebrating the new year is over with all the stories then returning to normal thinking about each strategy to continue life. There are many who write down their resolutions this year even though in the end, humans just need to survive and live life happily. Dreams are just tomorrow that hasn't happened yet so it becomes a mystery that shouldn't ruin today's happiness.
I myself have high hopes for this year. Unlike previous years, this year has become a momentum to determine my steps forward because at the beginning of the year, I decided to change jobs that required greater attention and effort. Of course there are two possibilities, whether I succeed or fail to live it.
That's why at this New Year's moment, I full attention keep my finger up for a prayer by bowing my head with hope, the Almighty accompanies my steps and strengthens me through the process that I will go through. The process is still a mystery because it is really a new thing for my life journey.
That's it, I can only try my best and will see the results a few months later.
#1 2023
December 31, 2022
2023
December 30, 2022
Being Human
A Piece of life in Bumida
I never thought this moment would arrive in my life. Less than a week, I’m gonna out of my routine as an employee in this company. How is it hardly to imagine this moment after long time working here, but hope so my decision better than I thought. The universe more bigger than this space. But anyway, working here is my piece of life and I’m so grateful being here, but life must go on. I have so many things to do.
I remember when the first time I came to this company. It is about 9 years ago. I joined this company as a beginner; full of theoretical knowledge and energy made me somewhat over-confident. Thankfully, my job role threw enormous challenges at me that not only taught me practical lessons of work and life but also made me compassionate and grounded. I am thankful to my respected manager who gave me several projects because of which I acquired vast knowledge and experience. I was a claim officer who did some jobs like survey, underwrite and so on. It was, of course I really enjoyed all of it until the management made a decision mutated me in to internal audit division. A new chapter of my journey was started at that time.
In early year, I spend so much time to stand on my job, try to understood all the detail of my job description. Being auditor means that I ensured the regulation of company running well. Here’s a particular example of my job in supporting the company namely consulting all the employee, checking their job, and evaluating.
After having in this position for almost seven years, finally the moment of farewell will make me go away, exactly the end of 2022. I had to take this difficult decision to leave this organization and pursuing something good ahead.
But not about farewell is obvious enough. It’s really hard because of some things, including I put about tomorrow. But I always keep what Dale Carnegie said “ Remember, today is the tomorrow you worried about yesterday.” I have been prepared what happens this moment from all sides. I have drawn on my earlier writing that it is hardly to think this moment. Life gives everyone several opportunities and it’s up to us to grab or leave that.
But anyway, I’m going to write some remarkables experience in this company. I am leaving with a wealth of knowledge that I’ll always treasure. Working with this organization has been an incredible learning expedition and I am thankful to everyone I met in this journey as each one of you have played a very important role in my life. I met so many marvelous people who working with me. Being a part of them not only as a colleagues but also as a family. It gives me all the more reasons to believe that a successful family life is also the result of good team-work. I am all set to accept the new and unforeseen challenges of my new life now.
There are so many lessons that I had learned here while I was an employee including things about life, being human, wisdom, controlling my emotion, enjoyed life with friends and so on. There were three things that I owe to this company, firstly, I get married. Secondly having a son and last, I completed my study as a master of IR.
Needless to say, I learned various skills being associated with this organization. I was not very good at time-management and decision-making abilities, but having associated with the company and the projects I was assigned, I became confident and a good decision-maker. I manage my time well and have always met my deliverables on time. I am certain that these skills would help me in my future endeavors too. I’ve also learned to take and give feedback with open-mindedness, to respect other’s opinions and to value other ideas too.
So, why I should resign when I have so many things here? I will answer it in some words even a classical reason and the other variable reason.
It’s not all about money because money will never solve everything. I’m thinking about my future and I can’t imagine what will happen when I will staying here in a long time. I always think my future as an academics one, conducting research, discussing with students, being lecturer, and so on. I will pursue it even I actually don’t know what will happen.
Then life values. I have some life values that I fight for it. It driving me on the way to out of this place. By having its values doesn’t mean I fell more better than others. It’s just about privacy and I quite believe that every single person has their own values that they living for that. On the other hand, my mind is always encourage me to do a great things. That’s why I couldn’t hold in.
Last but not least, is changing. Seven years isn’t a short time staying in one condition. I have to move in finding some lesson of life even if out of my comfort zone. It always hard to start something new but I have to.
Special thanks to Internal audit team for togetherness not only as a team but also as a family and friends. All the team know each other because being auditor isn’t about just working with colleagues in office but in we are conducting audit on the spot once in a month, it means that we always keep in touch 24 hours. According to Umar bin Khattab ra that you haven’t already known someone before three things, going on a journey in several days, having business together, and you give them trust in something. We always doing all three things in internal audit that’s why we know each other.
Maybe some misunderstandings occur in our interactions but it should be a dynamics of life and bring us very closer together. But life is about journey and it impossible to stay forever in this sphere, I have a dream that I wanna make it come true. There will be a farewell and continuing the life in the other story.
Finally, I don’t know how to use the words in closing my writing. Lots of things that I gonna write about the piece of life here. I’m so grateful having a chance to know all the person in this company. They gave me lots of positive energy. I couldn’t count one by one all the person that I met and having me grow in this company.
It’s been a wonderful experience working here and I am going to miss you all very much. I am taking along with me fond memories and I request all of you to stay connected with me.
Thank you once again for this wonderful moment and I hope Bumida being a great one in the future!
December 24, 2022
Sebuah Keputusan
Saya sudah berniat menulis tentang ini sejak seminggu lalu ketika sebuah keputusan hidup yang akhirnya saya ambil. Sebuah keputusa yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa saja namun bagi saya, keputusan ini lumayan krusial karena menyangkut beberapa hal dalam hidupku termasuk hidup keluargaku. Meskipun pada dasarnya, saya sudah membayangkan bahwa momen ini dari beberapa tahun yang lalu.
Yah, saya memutuskan untuk mengundurkan dari dari sebuah perusahaan tempatku bekerja selama lebih dari 8 tahun lamanya. Keputusan ini saya ambil dengan berbagai macam pertimbangan meskipun mungkin sebagian orang menganggap bahwa keputusan saya terlalu terburu-buru.
Sebenarnya, bekerja di perusahaan ini sudah membuatku dalam zona nyaman. Gaji yang meskipun tidak belum dua digit namun sudah mencukupi untuk bayar cicilan dan kebutuhan lain, tinggal satu kota dengan keluarga dan jarak rumah ke kantor yang tidak terlalu jauh, pekerjaan yang sudah saya kuasai dan berbagai kondisi yang sudah stabil. Semua itu tentunya menjadi kenyamanan tersendiri yang harus saya tinggalkan setelah memutuskan untuk resign.
Lalu kemudian kenapa saya memutuskan untuk berani-beraninya keluar dari perusahaan dan melangkah ke bidang yang sangat berbeda dengan gaji yang jauhhhhh lebih kecil dari yang sudah saya dapatkan sekarang?
Life Values
Saya sedang tidak sok-sok an untuk mendeklarasikan bahwa alasan saya resign karena alasan prinsip, namun begitulah adanya. Salah satu alasan utama karena nilai yang mungkin saya anut namun saya tekankan bahwa bukan berarti saya merasa sok suci karena memutuskan keluar dengan alasan nilai hidup. Saya percaya bahwa semua orang mempunyai masing-masing prinsip dan tentunya bekerja di mana pun bukan menjadi soal karena semua manusia memiliki alasan dan jalan hidup masing-masing.
Alasan yang saya ceritakan di sini murni pertimbangan pribadi karena meskipun sudah stabil dalam beberapa hal namun adalah setitik nilai tidak menenangkan dan seringkali menghantui saya. Bekerja dengan hati yang tidak tenang akan mempengaruhi banyak aspek yang ujung-ujungnya menurunkan kualitas hidup.
Nilai yang saya anut bukan sesuatu yang given namun terbentuk secara sistematis dengan berbagai faktor misalnya lingkungan, relasi, bacaan, dan sumber ilmu lain yang mengristalkan menjadi sebuah nilai yang diyakini. Demikianlah nilai itu lahir dalam diri yang pada akhirnya menjadi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan.
Gambaran Masa Depan
Sebagai manusia pada umumnya yang selalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi, saya pun seringkali melakukan hal yang sama. Salah satu hal yang sangat sering saya pikirkan adalah gambaran saya di masa depan, seperti apa saya ketika sudah berumur sekian dan sekian. Ketika saya memikirkan potret kehidupan masa depan, saya selalu membayangkan berada di lingkungan akademisi yang tenggelam dalam bidang keilmuan, bergelut dengan hal-hal ideal. Itu gambaran saya meskipun mungkin bergelut di dunia akademisi pun akan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya pragmatis.
Usia saya yang sudah tidak muda lagi mengharuskan saya untuk segera mengambil keputusan jika ingin tetap menghidupkan impian masa depan yang hidup di lingkungan akademisi. Dunia yang selama ini saya impikan sebagai salah satu ruang kehidupan yang masih mampu memanusiakan manusia, tidak semua memang namun minimal kita bisa memilih menjadi manusia.
Apa yang kemudian membedakan jika saya tetap berada di perusahaan? aktualisasi diri, ya sangat klise namun begitulah adanya. Di manapun berada, semua orang bisa mengaktualisasikan diri namun tentunya ada perbedaan yang curam ketika berada di lingkungan perusahaan yang tentunya sangat terbatas.
Challenges
Salah satu tantangan terberat pindah bidang di usia yang sudah tidak muda tentunya seputar kekhawatiran akan banyak hal termasuk gaji dan karir yang tidak pasti. Selain itu, khawatir tidak mampu menjalani bidang yang baru dengan berbagai tantangan yang akan dihadapi dan begitu banyak lagi kekhawatiran lain yang silih berganti datang menghampiri selama proses peralihan yang sedang saya jalani.
Pertama, tentunya persoalan pendapatan. Saya masih punya cicilan rumah yang harus dilunasi sedangkan gaji yang ditawarkan di tempat baru cukup signifikan penurunannya dibandingkan di perusahaan yang lama.
Kedua, proses adaptasi di tempat baru yang belum pasti. Bagaimana kemudian saya harus menguasai teknik presentasi yang mungkin selama ini jarang saya asah karena keterbatasan ruang ditambah lagi dengan faktor non-teknis lainnya yang tentunya semakin menambah tantangan menjadi cukup berat.
Ketiga, karir yang masih menjadi misteri. Beberapa kisah tentang orang yang mencoba terjun di dunia yang akan saya hadapi, ternyata menelan pil pahit karena kenyataan jauh lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan, selain ini ada desas desus di tempat lain yang ternyata hanya dijadikan syarat administrasi. Selain itu keberlanjutan karir juga belum pasti seperti apa karena jurusan yang saya pilih tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Apalagi baru terbentuk dua tahun lalu yang tentunya masih sangat belia.
Expectations
Selain kekhawatiran yang menghampiri, saya juga menyimpan harapan agar semuanya bejalan sebagaimana adanya. Harapan yang akan menghidupkan semangat untuk memulai sesuatu yang baru di usia yang tentunya tidak muda.
November 29, 2022
Perkara Makanan
October 9, 2022
Bandara Kulon Progo
Saya sedang duduk di ruang tunggu kereta bandara di Kulon Progo. Kereta yang akan membawa saya ke Tugu masih sejam lagi sehingga saya punya banyak waktu untuk memandangi tanah kosong di depan saya yang masih dalam proses pembangunan.
Bandara ini cukup luas namun nampaknya belum selesai karena masih terlihat jejak pembangunan.
Setiap kali ada pembangunan bandara atau fasilitas umum dengan luas tanah yang besar, saya selalu membayangkan, apakah ada hak hak masyarakat yang belum ditunaikan atas pembebasan lahan?
Tanah menjadi hak dasar bagi bangsa yang hidup dalam negeri yang agraris. Akan menjadi persoalan jika akses terhadap tanah terbatasi dan dirampas oleh otoritas yang seharusnya menyediakan tanah untuk memenuhi hak dasar masyarakatnya.
Di kampung saya, Pemda dan PTPN merampas tanah masyarakat untuk lahan kelapa sawit.
Negeri ini memang seringkali menyisakan sejarah yang cukup kelam atas land grabbing dan itu sangat memilukan karena tanah adalah hak yang cukup mendasar apalagi bagi negeri yang mayoritas penduduknya adalah petani.
Oh iya, perjalanan saya kali ini ke kota pelajar karena ada tugas dari kantor. Terakhir kali saya keluar kota untuk tugas kantor pada Juni empat bulan yang lalu.
Perjalanan seperti ini sudah saya jalani sejak enam tahun yang lalu. Saya seringkali memikirkan, kapan waktunya saya kemudian harus melangkah?
Hidup memang adalah usaha untuk mensyukuri banyak hal.
September 5, 2022
Being Sane
Awal pekan lalu tepatnya hari senin (29/8/2022), sesaat setelah jam kantor dimulai mungkin sekitar jam setengah 9, saya dipanggil pimpinan ke ruangannya. Saya mengira bahwa panggilan tersebut hanya sekadar mendiskusikan soal pekerjaan harian yang masih pending dan menanyakan seputar progress pekerjaan yang akan dilakukan karena mengingat saat itu akhir bulan dan biasanya, 5 hari di akhir bulan, lumayan banyak laporan yang harus diselesaikan.
Perkiraan saya salah karena sepersekian detik setelah duduk di depannya, pertanyaannya menjurus ke persoalan kesiapan saya untuk dimutasi ke daerah lain. Sebuah persoalan yang pada dasarnya sangat umum dalam dunia pekerjaan dan tentunya semua karyawan pernah merasakan hal yang sama.
Mengapa saya menulis ini kalau ternyata merupakan fenomena lazim? oleh sebab ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan setidaknya menurutku dan sudah sejak lama saya pikirkan.
Pertama saya ditanya keluarga berdomisili di mana dan apakah isteri saya bekerja? saya menjawab dengan sedikit diplomatis namun menurutku jawaban yang memang seharusnya saya lontarkan.
"Isteri saya bekerja di kota yang sama dengan saya namun tentunya saya sama sekali tidak pernah menjadikan keluarga sebagai alasan untuk menolak kebijakan Perusahaan untuk melakukan mutasi, pertimbangan keluarga murni pertimbangan pribadi saya dan seharusnya bukan merupakan pertimbangan Perusahaan untuk menerapkan kebijakan mutasi" Saya benar-benar mengatakan hal tersebut di depan pimpinan tanpa rasa khawatir.
Kemudian pimpinan saya melanjutkan dengan menarik kesimpulan "berarti saya menyimpulkan sampeyan siap? katanya secara singkat
"pernyataan saya bukan sebagai jawaban kesiapan namun sebuah sikap bahwa Perusahaan punya pertimbangan sendiri namun saya juga punya preferensi pribadi dalam keputusan saya. siap tidaknya saya akan saya pertimbangan ketika sudah ada keputusan dari Perusahaan di mana saya ditempatkan. saya sama sekali tidak mau mengintervensi keputusan Perusahaan karena toh dulu waktu saya mendaftar di Perusahaan ini, tidak ada yang menyuruh saya."
Saya lumayan sedikit lebih lebih karena telah mengungkap prinsip saya yang selama ini saya dianggap menolak karena pertimbangan keluarga.
setelah itu, pimpinan saya kemudian melanjutkan dengan motivasi yang umum nan klise karena sudah sangat sering didengar misalnya untuk mencapai sesuatu harus berubah dan pada dasarnya perubahan itu seringkali tidak mengenakkan.
Saya mengamini pernyataannya namun dalam hati saya juga berkata bahwa semua orang punya preferensi masing-masing dan persepsi terhadap perubahan tersebut. ada banyak prefensi untuk menyetujui keputusan Perusahaan, mungkin salah satunya adalah keluarga namun selain itu, ada banyak prinsip yang setiap orang anut.
Pada dasarnya, saya prefer pada prinsip Perusahaan yang tidak terlalu banyak pertimbangan personal karyawannya untuk menerapkan keputusan. Lebih baik menganut sistem "take it or leave it.
Mengapa demikian?
Karena saya percaya bahwa basa basi tentang sebuah perusahaan yang menerapkan sistem kekeluargaan adalah sebuah slogan yang usang dan terkadang melenakan karena saya hakkul yakin bahwa setiap Perusahaan itu punya tujuan akhir yaitu profit. budaya perusahaan atau etika dan segala tetek bengek yang dibangun di dalamnya semuanya bermuara pada satu kata,
"PROFIT."
Saya mengenal banyak karyawan di Perusahaan ini yang awalnya saya anggap mereka punya kapasitas kecerdasaan di atas karyawan yang lain dan loyal terhadap Perusahaan namun pada akhirnya mereka juga resign karena berbagai alasan dan salah satunya karena prinsip, tidak setuju dengan manajemen yang dianggap tidak mendengar aspirasi mereka.
Jika mereka yang sudah punya posisi dan dikenal cerdas, bahkan tidak didengar oleh Manajemen, apalagi dengan saya yang cuma karyawan tingkat paling rendah. itulah mengapa saya lebih suka dengan kebijakan take it or leave it. Perusahaan mungkin memperhatikanmu namun tidak benar-benar memperhatikanmu sebagai seorang pribadi namun sebagai seorang yang dianggap mungkin bisa menjadi tools untuk mencapai goals yaitu profit.
Tidak salah memang karena logika Perusahaan itu dalam sistem kapitalisme memang mencapai keuntungan dan menekan biaya. semua source termasuk SDM hanyalah merupakan instrumen untuk mencapai tujuan. Tidak heran jika sebagai instrumen, karyawan diharuskan untuk menunduk dan patuh terhadap otoritas Perusahaan dan harus patuh apapun keputusan Perusahaan termasuk mutasi bahkan ke daerah yang cukup jauh. Jika instrumen itu dianggap tidak jalan, maka akan dikeluarkan dari lingkup organisasi.
Kemudian pertanyaannya, siapa yang punya pengaruh dalam Perusahaan?
Tentunya manajemen yaitu karyawan yang menduduki jabatan tertentu misalnya kepala divisi dan struktur di atasnya. kenapa saya tidak menyebut kepala bagian? karena posisi tersebut masih lemah dan terkadang tidak cukup kuat untuk mempengaruhi keputusan Perusahaan.
Hakekat Perusahaan menurut persepsi saya tersebut menjadi dasar bagi saya untuk belajar memegang prinsip bahwa keputusan tetap ada di tangan saya. Perusahaan adalah lembaga yang diset up untuk mengejar profit sehingga jika memang tidak sejalan maka saya punya kuasa untuk hidupku.
Kenapa saya masih ada di sini? jawaban klisenya adalah karena pertimbangan finansial. Saya masih butuh pendapatan sebagai sebuah wujud tanggung jawab saya bagi keluarga namun sekali lagi saya berharap bahwa ini tidak menjadikan saya kerdil di dunia yang hanya memikirkan profit.
Saya selalu menolak ditempatkan di bidang penjualan karena saya selalu membayangkan, betapa mengerikannya hidup yang hanya dihabiskan untuk memikirkan target penjualan hari demi hari bahkan mungkin tidak tersisa waktu untuk memikirkan hidup ini sebenarnya untuk apa?
Materi memang sangat penting namun saya tidak membayangkan sebuah hidup yang didominasi oleh pikiran terhadap materi. semua energi dihabiskan untuk memenuhi pencapaian materi.
Sangat mengerikan bagiku namun entah bagi orang lain.
5 Sept 2022
August 28, 2022
Agustus
Agustus terlalu cepat berlalu, sebentar lagi menjelang September yang artinya bahwa ada momentum berarti yang akan saya lewati. saya semakin menyadari bahwa saya sudah setua ini dan masih kebingungan dalam rimba ketidakpastian. masih terlalu banyak yang harus kubuktikan dan entah dibuktikan kepada siapa?
Saya mengingat-ingat apa saja yang sudah saya lakukan di bulan agustus selain rutinitas mekanis yang saban hari saya jalani. nampaknya tidak ada pergerakan yang berarti selain mengais rezeki sebagaimana biasanya.
Saya sedang berusaha mengubah haluan hidup pada bidang akademisi dengan segala konsekuensi yang akan saya hadapi namun sepertinya belum ada sinyal positif dari semesta, semua masih kabur dalam pandangan dan stagnan dalam kondisi yang sudah saya jalani hampir 8 tahun.
Saya terkadang berpikir mengerikan menjalani rutinitas yang menjemukan dan melelahkan karena motif gaji semata. hidup dalam kekeringan jiwa yang membuat hidup itu sendiri seperti ruang yang tak memiliki pintu keluar.
Selain itu, terlalu banyak distraksi yang tidak mampu saya singkirkan dan kedisiplinan diri yang kurang keras. Akhirnya di beberapa bulan belakangan, saya merasa bahwa hidup ini memang absurd dan dijalani apa adanya karena tidak ada lagi pilihan.
Sekeras apapun bermimpi dan mengejar mimpi ketika semesta tidak mengizinkan maka semua hanya akan berakhir pada kekecewaan. Saya teringat tulisan Morgan Housel bahwa luck and risk are siblings dan sialnya ada bagian tertentu yang diluar kuasa kita dalam menentukan apakah kita dekat dengan luck atau risk, hal yang bisa kita lakukan mungkin hanya usaha namun tetap saja semesta yang akhirnya menentukan apakah kita berhak pada luck atau risk.
Aneh memang jika memikirkan betapa hidup ini memang seringkali absurd.
July 16, 2022
Renungan #1
Akhir-akhir ini saya sedang menimbang dalam alam pikiran saya tentang apa yang harus kulakukan di sepanjang hidupku. Apa yang seharusnya kutekuni sebagai sebuah profesi yang tentunya akan saya habiskan di sisa hidupku. Saya membayangkan aktivitas di dunia pendidikan dan sedang berusaha untuk menggapainya. namun apakah benar saya menginginkannya dan apakah benar itu adalah sebuah pilihan bijak untuk menjalani hidupku.
Dalam kalkulasi yang kubayangkan, hal tersebut tentunya sesuatu yang baik karena keberpihakan nilai yang menurutku tidak hanya terbatas pada pengejaran gaji namun ada nilai yang ingin saya sampaikan. namun sekali lagi apakah saya telah bersiap untuk itu, mempersiapkan remeh temeh dan meneguhkan niat yang benar untuk menjalaninya, atau jangan sampai itu hanya menjadi jalan lain sebagai sebuah eksistensi untuk kebanggaan diri, bukan sejatinya untuk niat yang ingin hidup yang lebih bernilai.
Permenungan tersebut mengitari pikiranku ketika saya masih terjebak dalam dunia industri. Dunia yang mengharuskanku untuk terus berproduksi secara materi jika ingin dihargai dan atau jika ingin diberikan imbalan setiap bulan, imbalan materi tentunya.
Hati saya mengatakan bahwa hidup tidak harus terlalu keras terhadap diri untuk hal-hal yang indrawi karena ada aspek transenden yang seharusnya lebih bernilai atau ada sesuatu metafisik yang seharusnya lebih bernilai.
Beberapa kali saya menjumpai dan mengobrol dengan hatiku bahwa di sisa hidupku yang entah berapa lama ini, saya harus hidup dalam kondisi seperti apa dan apa yang seharunya saya lakukan, selain tentunya alasan klise berjuang untuk anak isteri.
Jika saya tetap dalam dunia industri yang berproduksi hari demi hari, satu hal yang kudapatkan hanya sebatas imbalan setiap bulan yang juga terkadang tidak terlihat. Sejatinya kekhawatiran terhadap hal duniawi yang membuat saya tidak benar-benar melangkah lebih jauh lagi.
Saya mencoba memantapkan diri bahwa ilmu adalah bagian terpenting dalam hidup dan meskipun sudah begitu terlambat, ilmu akan tetap menjadi prioritasku.
Begitulah ke depannya saya akan menjalani hidupku dalam lingkungan yang haus ilmu dan nilai serta prinsip yang tetap ditempatkan di depan.
16 7 22